Air Putih dan Simbol Pengiritan

tulisan ini isinya curhat

tiba-tiba kepikiran, mana yang lebih banyak ada di masyarakat Indonesia, pura-pura miskin atau pura-pura kaya? saya tidak tahu jawabannya. tapi yang pasti kedua golongan itu nyata ada.

ironis memang. ketika si miskin berusaha terlihat kaya dan ketika si kaya mengaku miskin. dulu ada tetangga saya, jaman baru-baru ngehits orang punya telepon genggam. dia tidak punya, tidak mampu beli, tapi demi terlihat mampu, dia jalan-jalan ke mall dengan casing henpon di kalungnya. hanya casing-nya!

contoh ini memang cukup ekstrim. tapi banyak lagi contoh pura-pura kaya di masyarakat Indonesia. sebutlah orang yang memaksakan diri membeli henpon mahal, pakaian branded, atau motor racing, hanya demi gaya. demi terlihat “mampu” oleh orang lain.

si kaya mengaku miskin juga banyak. sebutlah mahasiswa kaya yang berusaha manipulasi data demi mendapat beasiswa untuk mahasiswa tidak mampu. atau kalangan menengah yang cari jaminan kesehatan dari pemerintah agar bisa berobat gratis. atau, yang paling miris, orang-orang tidak berhak yang berusaha agar dapat BLT, dana kompensasi bbm, dan sejenisnya, dengan memanfaatkan koneksi dengan kepala desa.

saya sendiri kadang terjebak dalam kepuraan itu. sedih memang. dan tulisan ini adalah pengingat untuk diri sendiri.

kalau dari pakaian juga kendaraan, saya tidak pernah berusaha terlihat kaya. saya suka memakai baju dan sepatu yang nyaman plus murah, tak peduli merknya. pun dengan motor, saya dengan senang hati bawa si smash kemana-mana meskipun terlihat butut. bahkan setelah mahasiswa saya menyindir “gaji dosen ga cukup untuk beli motor baru bu?”, saya ga peduli.

tapi rasa tidak ingin terlihat kere ini muncul ketika makan di warteg. hehe. padahal memilih warteg saja sudah bisa menunjukkan status sosial ya?

adalah minuman yang sering membuat saya ragu. Continue reading

Advertisements