[catatan #1] Ahad Ramadhan

Memasuki ramadhan, saya selalu merasakan hal yang sama, lega dan bersyukur karena masih diberi usia dan berkesempatan setidaknya sekali lagi untuk menjalani Ramadhan.  Tapi hal ini sudah saya bahas di catatan harian Ramadhan tahun kemarin,  kan ga enak kalau dibahas lagi. hehe.

Hari pertama Ramadhan tahun ini, saya ikut keputusan yang tanggal 29 Juni, jatuh pada  hari ahad. Hari ahad adalah hari penimbangan bagi seorang Ludi. Saya ceritanya sedang diet, dan memantau berat badan tiap pekan dan hari terpilih itu adalah ahad. Dan oleh sebab itulah di hari ahad hampir selalu saya tidak bahagia, tanya kenapa,  haha.

Maka Ramadhan kali ini juga bermakna kesempatan untuk saya untuk membuat ahad lebih memuaskan.  Karena di bulan ini seharusnya berat badan bisa sukses berkurang. Bukan karena niat diet sambil puasa, tapi karena bulan inilah harusnya kita belajar menahan diri dalam urusan perut.

Meskipun kenyataannya banyak orang justru tambah gendut saat Ramadhan.  Meja makan semakin sempit dan anggaran belanja makanan yang membengkak berlipat.  Maka ahad-ahad di bulan Ramadhan ini juga berarti pembuktian,  adakah saya berhasil menerapkan kesederhanaan dalam makanan selama Ramadhan,  seperti pesan di broadcast taujih yang tersebar beberapa hari sebelum Ramadhan kemarin.

“Sedikit makan adalah tanda orang mukmin. Orang mukmin itu makan untuk  satu usus, sementara orang kafir makan untuk mengisi tujuh usus. (HR Bukhari)

Advertisements

Hari Kemenangan Anak Berpuasa

Ada yang menarik dari lebaran tahun ini di rumah. Kemarin kami membuat perayaan kecil-kecilan. Perayaan unik yang dihadiri hanya anggota keluarga saja. Perayaan kecil sekali tapi kami senang menyelenggarakannya.

Ide awalnya dari kakak keempat saya, dia ingin mengapresiasi Zaki dan Afaf yang tahun ini puasa penuh sebulan. Zaki masih berusia 5,5 tahun. Afaf 7 tahun. Tapi tidak seperti anak-anak seusia mereka, kedua anak ini berpuasa seperti kita orang dewasa, dari subuh hingga maghrib tiba. Puasanya juga sebulan penuh. Kecuali Zaki yang satu hari dia buka siang hari, waktu itu dia sakit.

Kami melihat tidak banyak anak-anak yang bisa seperti mereka. anak-anak di sekitar rumah, anak-anak di sekolah tempat kakak saya mengajar, anak-anak yang kami temui entah dimana, apalagi anak-anak di aceh, jarang sekali yang dari usia segitu sudah berpuasa sampai maghrib, sebulan penuh pula. Kakak keempat saya agak kecewa karena Zaki kurang diapresiasi di sekolahnya, padahal TK nya TK islam. Maksudnya diapresiasi secara spesial gitu. Jadilah kami membuat perayaan sendiri.

Kami semua diminta sumbangan untuk kasih hadiah mereka berdua. Di luar hadiah lebaran yang biasanya, ini hadiah khusus karena berpuasa. Ada makanan ringan yang dibuat parsel dan ada duitnya (tetep yah).

Saya juga tidak menyangka acaranya akan dibuat seperti itu. Lucu aja karena baru kali ini ada acara begituan di rumah. Kami berkumpul di ruang tamu. Sayangnya minus keluarga kakak saya yang kedua. Acaranya dibuka sama abang ipar keempat (artinya suami kakak keempat saya ya?). Agak geli karena kok kayanya ini acara serius amat pakai ada pembukaannya segala. Heu.

Habis poci-poci dari abang ipar, sambutan pertama oleh akung (bapak saya-red). Akung juga kasih sambutannya pakai salam terlebih dahulu. Hiyah. Beneran sambutan ini. Habis akung kasih sambutan giliran uti (ibu saya). Tapi uti malu-malu dan gatau mau ngomong apa, jadilah dia bilang udah sama aja sama akung (loh?). Giliran berikutnya ummi (kakak pertama). Nah ummi ini wejangannya agak panjang, gayanya udah kaya kasih taujih ke binaan aja awalnya. Hahah. Tapi untungnya tidak ko, akhirnya ya kaya ummi lagi bilangin anak kecilnya. Pokoknya semua kasih sambutan yang isinya harapan dan pesan-pesan untuk Zaki dan Afaf. Ditambah ada pesan juga untuk aqila. Meskipun aqila sebenarnya bukan artis malam itu karena dia tidak berpuasa. Tapi biarlah mumpung ada momennya. Hehe.

Setelah sambutan selesai lalu acara pemberian hadiah. Diserahkan oleh akung ke zaki dan afaf. Lalu kami berfoto-foto. Hehe, lucu kan? Apalagi karena itu acara spontan aja, gada script apalagi susunan acara. Lha wong ayah (abang saya, anak ketiga) aja baru ikutan acara di tengah-tengah dan diajak masuk begitu saja setelah dia terlihat muncul di jendela kok. Dan pas mau foto si uti kabur dulu ke dalam buat ambil jilbab. Haha. Habis itu parsel dibuka, yang tidak sabar mau buka parselnya justru aqila, dia ngiler ngeliat susu ult*a di dalam parsel. Dari awal Afaf dan Zaki sudah diwanti-wanti untuk berbagi, karena memang cuma mereka berdua yang dapat hadiah tapi yang kepengen ada aqila dan zalfa. Zaki berbagi ke adiknya, zalfa. Afaf berbagi ke Aqila. Mungkin ini untungnya pula kakak kedua saya ngga datang, soalnya kalau dia datang nanti Emir (anaknya) dibagi sama siapa? Hehehe.

Well, ingatan saya jadi melayang ke taujih ustadz Abdul Aziz Abdul Rauf beberapa waktu silam. Di sebuah acara bertemakan menghapal Qur’an ustadz bercerita kepada kami tentang pengalaman dia menghapal, juga pengalaman masa kanak-kanaknya yang begitu bersuasana Qur’ani. Ustadz berkisah, betapa kondisi keluarga juga membangun kedekatan dengan qur’an. Dulu waktu ustadz masih kecil, ada familinya (kalau ga salah pamannya) yang punya kebiasaan kalau khatam qur’an akan mengundang semua keponakan untuk khataman di rumahnya. Habis khataman ada acara makan bersama. Jadi kira-kira setiap bulan mereka berkumpul buat khataman lalu makan-makan. untuk ustadz yang masih anak-anak pengalaman itu berkesan, momen itu dirasa menyenangkan dan dinantikan. Meskipun bukan karena khatamannya tapi makan-makannya, tapi acara itu berpengaruh pula dalam membangun pondasi kedekatan dengan qur’an.

Saya sempat ingin meniru, tapi keponakan saya masih kecil-kecil sekali. Dan yang bisa baca Qur’an baru Afaf. Sepertinya tidak kondusif kalau mengundang anak-anak itu khataman. Kemarin saja selama acara si zalfa mah ngga ngerti apa-apa, dan itu membuat saya dan kakak pertama geli sendiri melihat kelakuannya. Tapi insya ALLAH suatu hari saya akan menghidupkannya. Kita bisa bikin acara yang membuat ibadah terasa menyenangkan. Ada yang punya ide? Atau ada yang sudah memulai bahkan?

Mudah-mudahan acara kemarin juga begitu, bisa menjadi awalan untuk menyemangati mereka mengerjakan ibadah, khususnya puasa.

 

Tambahan sedikit:
Yang juga lucu adalah komentar Afaf kemarin waktu dibilang mereka hebat, masih kecil sudah berpuasa, orang dewasa saja banyak yang ngga berpuasa. Afaf bilang “ammah pemi aja ngga puasa”. Hahaha. Kena deh.

Nikmatnya Ramadhan Pagi Ini

Paru-parumu masih dapat mengembang dan terisi udara lagi

Otot jantungmu masih dapat memompa darah ke seluruh arteri

Batang otakmu masih berfungsi sehingga kau tidak di vonis mati

Rejekimu masih mengalir sehingga kau masih mendapatkan santap sahur tadi pagi

Sarafmu masih berfungsi sehingga kau bisa mempersepsikan berbagai sensori

Maka..


Masih pantaskah kau berkeluh kesah hari ini?

Dengan kesempatan yang ALLOH berikan untuk menikmati jamuan Ramadhan tahun ini?

Bersyukurlah saudaraku, dan tersenyumlah

Jangan buat Ramadhan kita kecewa lagi

(apakah gaya tulisan gw udah kaya Om Aidh Al Qorni?))