[CatharRamadan] Adakah Ayat Go Green Dalam Qur’an?

Saya baru tahu bahwa ada juga ternyata hari internasional macam ini. Hari ini, 3 Juli adalah international plastic bag free day, alias hari tanpa kantong plastik sedunia.

Qadarullah tadi siang ngobrol  dengan seorang reseller tadi siang tentang kantong plastik. Seperti yang sudah diketahui bersama (haha) saya ini agen kaos anak muslim afrakids. Nah, kl dari afrakids pusat setiap pembelian kaos akan mendapatkan 1 kantong plastik. Berhubung saya tidak menggunakan kantong dengan perbandingan sebanyak itu, kantong plastik afrakids menumpuk di rumah. Kantong tahun kemarin saja belum habis, sudah dapat kantong baru.

image

Lama kelamaan saya sadar, ini apa-apaan sih, pemborosan plastik banget, kami kan sebagian besar jualan online, rasanya tidak perlu kantong plastik sebanyak ini. Akhirnya saya coba mewacanakan di grup untuk pengurangan jatah kantong plastik ini, karena toh belum tentu orang pakai 1 plastik untuk 1 kaos, apalagi  sebenarnya 1 plastik cukup untuk 4 kaos. Ditambah lagi kalau kami kirim dropship, kaos langsung dikirim ke end user, untuk apa dia dikasih kantong kl kaosnya diterima di rumah? Tapi tanggapan agen beda-beda, ada yang setuju, ada yang menolak, banyak yang diam aja. Yaudah, dari dulu gaining commitment saya emang jelek, hehe, yang penting dari diri sendiri saja lah.

Sudah lama saya kl order kaos ke pusat, bilang ke adminnya “mba, ga usah dikasih shopping bag”. Alhamdulillah akhir-akhir ini udah ga bilang gitu lagi, orang yang packing mengerti, orderan saya ga pernah dikasih kantong plastik lagi. Yeay!

Kalaupun ga bisa memengaruhi agen lain, saya pengaruhi reseller sendiri. Maksa juga sih, hehe. Sekarang belum bisa 100% free plastic bag, tapi dikurangi aja, ga dikasih 1:1. Kadang juga lupa ga dikasih, reseller protes, ko ga dikasih plastik? saya jawab aja, yang kemarin juga belum habis kan? dia jawab “iya sih”. Untungnya afrakids pakai kantong plastik yang lebih cepat terurai dari kenangan masa lalu kamu, haha. Plastiknya terurai dalam 2 tahun katanya, eh kamu udah bertahun2 belum move on juga.

Soal kantong plastik ini memang bikin geregetan kl orang Indonesia ya, soalnya belum terbiasa. Saya akhirnya mulai dari lingkungan terdekat aja, ke ibu misalnya. Kalau antar belanja, saya bawakan goodie bag, sambil diingatkan ga usah minta kantong plastik. Ke reseller sendiri. Atau ke agen yang titip belanja ke saya. Saya bilang aja “aku minta shopping bag ya ke pusat, diet kantong plastik.”

Entah kenapa kl alasannya go green orang lebih cepat menangkap dan menerima. Padahal sebenarnya gagasan menjaga lingkungan dan tidak berbuat kerusakan sudah disampaikan dalam Qur’an 1400an tahun lalu. Jadi sejatinya meminimalkan kerusakan lingkungan dengan membatasi penggunaan kantong plastik adalah bagian dari pengamalan Qur’an.

Al-Baqarah (2): 205

“Dan apabila ia berpaling (dari mukamu), ia berjalan di bumi untuk mengadakan kerusakan padanya, dan merusak tanam-tanaman dan binatang ternak, dan Allah tidak menyukai kebinasaan”

Rasulullah bersabda:
“Tidak seorang muslim pun yang menanam tanaman atau menaburkan benih, kemudian dimakan oleh burung atau manusia, melainkan dia itu baginya merupakan sedekah.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Kl kamu setuju dengan saya, daftar jadi reseller afrakids saya yuk? hahaha #ujungujungnyadagang

Advertisements

Tak Kunjung Dicinta Karena Buruk Rupa

Apakah sama-sama memiliki kecantikan atau ketampanan fisik menjamin kelanggengan sebuah pasangan? Apakah orang yang cantik dan tampan lebih mudah dicintai dibandingkan dengan orang yang tidak demikian? Jawabannya mungkin belum tentu. Tapi tidak bisa dipungkiri bahwa penampilan fisik menjadi salah satu alasan untuk tertarik pada orang lain (baca: lawan jenis). Tertarik dengan kecantikan atau ketampanan juga menjadi salah satu alasan untuk mencintai orang lain.

Tapi apakah cinta karena dirinya cantik atau tampan akan berlangsung terus menerus? sepanjang masa (kalau akhirnya) hidup bersama? Lagi-lagi jawabannya tidak juga. Seorang teman pernah bilang pada saya, memang ketertarikan pada penampilan fisik itu diperlukan, bisa menumbuhkan rasa suka, tapi itu hanya di awal hubungan karena nati hal itu akan berubah, semua itu akan menjadi nomor sekian setelah sikap, prilaku, dll. Seorang istri yang amat cantik tidak akan lagi dianggap begitu jika perilakunya tidak menyenangkan suaminya. Atau seorang suami tampan tidak akan lagi terlihat tampan jika sikapnya tidak menyejukkan dan begitu berkenan di hati kita.

Tapi lagi-lagi saya ingin bertanya, apakah teori ini terjadi pada semua pasangan? jawabannya pun lagi-lagi tidak. Di buku catatan hati sorang istri, Asma Nadia bercerita ada seorang suami yang masih tidak bisa mencintai istrinya setelah bertahun-tahun menikah dan memiliki 4 orang anak karena istrinya sama sekali tidak cantik. Hidup selama bertahun-tahun bersama dan saya yakin sudah banyak kebaikan pada istrinya yang dia lihat tidak kunjung membuatnya jatuh cinta, hanya karena, sekali lagi, istrinya sama sekali tidak cantik. Di akhir cerita Asma Nadia menulis ingin sekali meninju pria itu.


Beberapa pekan lalu Ust Abdul Azis menceritakan kisah serupa, tapi kali ini diangkat dengan sudut pandang berbeda sungguh luar biasa. dalam kajian yang bertemakan “Hidup di Bawah Naungan Qur’an”, ustadz berkisah tentang seorang pria. Dulu, hiduplah seorang pria. Pria ini memiliki kedudukan yang baik di masyarakatnya, da’wahnya begitu mudah diterima, kata-katanya begitu didengar, pendapatnya begitu diperhatikan, saran-sarannya diminta, bahasa sederhananya “dekat di hati masyarakat”. Sampai-sampai ada seseorang penasaran apa rahasianya sehingga dia memiliki keistimewaan demikian. Akhirnya ditanyakanlah pada orang tersebut, tapi setiap kali ditanya, setiap kali pula orang tersebut tidak mau memberitahukan rahasianya. Namun setelah berkali-kali ditanya, akhirnya diapun luluh dan mau menjawab “baiklah saya beritahu, tapi ini rahasia, jangan diberitahukan kepada orang lain, kau baru boleh memberitahukannya setelah aku meninggal” begitu syaratnya. Orang tersebut bercerita bahwa dia memiliki seorang istri, tapi dia tidak suka pada istrinya karena rupa istrinya yang amat tidak cantik, bahkan setelah 19 tahun menikah, perasaannya tetap tidak berubah. Tapi kemudian dirinya bersabar karena semata-mata mengingat firman ALLAH SWT dalam QS 4:19 “Dan bergaullah dengan mereka menurut cara yang patut. Jika kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal ALLAH menjadikan kebaikan yang banyak padanya.” Begitulah, karena motivasi pria ini adalah menjalankan perintah ALLAH dalam Al Qur’an, maka ALLAH pun memberi balasan kebaikan untuknya.

Meskipun dalam kapasitas kita sebagai manusia, besar kemungkinan kita akan kesal mendapati pria (atau mungkin juga wanita macam ini). Adik kelas saya, yang saya tunjukkan tulisan ini saja berkata dengan wajah sedihnya “ga kebayang gimana perasaan istrinya kalau tahu”. Atau mungkin saya akan memilih membantu Mba Asma meninju pria macam ini. Tapi apalah artinya penilaian kita sebagai manusia kalau ALLAH saja begitu menghargai pria ini (pria dalam kasus ke-2) yang menyimpan rapat-rapat perasaannya, menjaga perasaan istrinya dan mengembalikannya pada ALLAH saja. Ternyata benarlah, jika kita hidup di bawah naungan Qur’an, semuanya pasti lebih indah.

Back To Markaz, Back To Qur’an

Beberapa waktu yang lalu seorang teman membagikan pada kami sebuah brosur sederhana. Beberapa dari kami yang membacanya tersentak kaget dan sejurus kemudian jadi bersedih. Bosur itu dari LTQ (Lembaga Tahfizh Qur’an) Markazul Qur’an berisi tentang pemberitahuan pembukaan pendaftaran gelombang baru. “Masya Allah udah dibuka pendaftaran baru lagi”, kira-kira itu yang ada di otak kami dan kemudian kami menyadari “berarti udah 1 semester (atau lebih) ya, kita meninggalkan markaz”

 

Saya masih ingat taujih Ust Abdul Azis Abdul Rouf, Al Hafidz ketika kuliah perdana (entah pada gelombang berapa) tentang istiqomah. Beliau bilang bahwa salah satu akar kata dari istiqomah artinya lurus. Jadi, beliau bilang, ketika kita berbelok, tidak melanjutkan belajar karena suatu hal misalnya nikah, maka ketika kita balik lagi itu namanya istiqomah. Hal itu pula yang saya jadikan alasan ketika teman-teman bertanya apakah saya masih di markaz, “aku lagi belok dulu nih, nanti balik lagi.”

 

Brosur sederhana itu mengingatkan saya lagi sudah berapa lama saya berbelok, mengingatkan saya lagi akan sebuah cita-cita yang optimisme akan ketercapaiaannya seringkali naik dan turun. Dan mengingatkan saya lagi akan momen-momen sabtu pagi saya, ketika berangkat ke markaz adalah agenda utama sebelum menunaikan agenda-agenda lain. Mengingatkan pada sebuah kelompok kecil dimana beberapa wanita berkumpul tapi tidak ada yang mengobrol, semua sibuk dengan Qur’an masing-masing, hal yang tidak saya temui di forum-forum lain. Ah, sungguh saya rindu dengan itu semua.

 

Memang benarlah, semakin jauh kita berbelok, semakin sulit untuk kita kembali. Semakin lama kita mengambil jeda, semakin berat untuk kembali memulai. Dan semakin lama otak ini tidak digunakan untuk menghafal, semakin susah untuk diisi kembali, bahkan hanya dengan satu ayat pun.

 

Salah satu sarana penunjang dalam menghafal Al Qur’an adalah bergaul dengan orang yang sedang atau sudah hafal Qu’an. Kembali ke Markazul Qur’an berarti menuju ke sarana itu. Berkumpul dengan halaqoh Qur’an, bertemu dengan ibu-ibu yang anak-anak balitanya lebih dari satu tapi begitu semangat dalam menambah hafalan, terkagum-kagum dengan semangat mereka yang setoran sambil ditarik-tarik anaknya yang merengek minta sesuatu.

 

Dan kenapa saya menulis ini semua? Untuk menambah daftar orang yang akan mengingatkan saya ketika suatu hari berbelok lagi dan untuk mempengaruhi orang-orang untuk ikut melestarikan budaya tahfizh qur’an, budaya para salafush shalih ini.

 

Allahummarhamna bil qur’an. Ya Allah rahmatilah kami dengan Qur’an.