#1 Ramadhan

Berhasil menikmati bulan ramadhan rasanya selalu melegakan bagi saya. Apa pasal? Entah sudah berapa tahun, tiap menjelang ramadhan saya seolah punya firasat sedikit lagi akan mati. Jadi bulan rajab dan sya’ban saya jalani dengan ketar-ketir apakah tahun ini berkesempatan jumpa kembali dengan bulan mulia ini. AlhamduliLLAH tahun ini masih diberi.

Kalau diingat-ingat, saya memang sering sekali merasa ajal kian dekat. Firasat pertama saya rasakan ketika masih duduk di bangku SMA. Waktu itu saya pernah cerita perasaan saya itu pada Atikah. Tidak jauh berselang, secara tidak sengaja saya menghela nafas panjang dan terdengar oleh Pak Riefdhal. Beliaupun menanggapi “orang yang suka menghela nafas umurnya pendek lho”.
Continue reading

Advertisements

demi menjaga

saya: eh liat deh, hari ini kan gw pake rok pramuka. orang-orang ko ga pada ngeh sih?

pria X: iya gw ngeh ko. yang sebelumnya lo pake rok pramuka juga gw ngeh kan?

saya: eh iya bener. lo kan salah 1 orang yang ngeh waktu itu

pria X: sebenernya gw udah ngeh dari tadi kalo lo pake rok pramuka, tapi karena yang waktu dulu gw negor lo jadi ngerasa ga enak gitu, makanya hari ini gw diem aja

darinya saya belajar, menahan bicara demi menjaga perasaan orang lain

sekedar info, di sini semua orang punya baju pramuka, dan sejauh ini saya baru ketemu 3 orang (termasuk saya) yang pernah menggunakan seragam pramukanya selama di sini, entah itu hanya rok, kemeja, celana, atau setelannya. alasannya memakai baju pramuka pada hari biasa adalah kehabisan pakaian bersih. waktu sebelumnya saya pakai rok pramuka juga karena rok bersih saya yang bisa dipadupadankan dengan baju dan jilbab bersih tidak ada, kecuali rok pramuka. terlihat menggunakan pakaian pramuka di hari biasa memang agak menggelikan, karena selain "salah kostum" juga bisa disimpulkan sedang kehabisan pakaian bersih.

waktu pertama saya pakai rok pramuka itu, hanya 3 orang yang menyadarinya, salah satunya pria X. dan saat itu agak malu juga menggunakan rok pramuka, karena saya adalah orang pertama yang mengenakannya di keadaan sehari-hari, dan saat itu kondisi saya terpaksa. tapi hari ini, saya punya pilihan lain dan saya sengaja memilih rok coklat tua tsb. jadi ketahuan memakai rok pramuka hari ini tidak terasa agak menggelikan seperti ketika pertama kali saya memakainya.

karantina hari ke-30

(belum) puncak, bogor

~akhirnya ada yang dipost di mp juga

[ikatan makna 270311] Kalo sadar dia gangguan jiwa, berarti sebenarnya dia waras


Seperti yang sudah saya ungkapkan sebelumnya, bahwa menurut Hernowo baiknya membuat catatan harian. Nah, catatan hari ini saya ingin muati dengan ikatan mengenai peristiwa yang hari ini saya alami, perasaan, hikmah, pelajaran, atau kata-kata orang lain yang saya dapati. Tentu saja, yang saya share disini sudah disaring sehingga hanya yang layak dibagi pada khalayak ramai saja.

Pelajaran pertama

Pagi ini agenda agak tidak jelas, karena awalnya ada satu agenda yang sudah dijadwalkan beberapa hari lalu, tiba-tiba dibatalkan karena ada agenda lain yang lebih besar. Singkat ceritalah, saya niatnya janjian sama seseorang untuk transaksi bisnis (hehe) saat zuhur. Tapi orangnya ga bales-bales sms saya sampai 1 jam kemudian dia bilang mau berangkat ke tempat janjian kami. Padahal saat itu saya sudah dalam perjalanan ke tempat lain. Mengingat henpon agak kurang beres dalam menerima sms, dan waktunya mepet, langsung saja saya telpon. Sambil jalan, nanjak, ngos-ngosan saya telpon. Tidak diangkat, padahal barusan saja dia sms. sayapun berpikir âduh jangan-jangan dia pikir gw miskol makanya ga diangkatâ?, panggilan kedua saya terhubung dengan mailbox, duh saya semakin ketar-ketir takut dia keburu berangkat. Saya coba telpon terus, mulailah mikir yang lain âjangan-jangan ga diangkat gara-gara gw cewekâ?. Duh, padahal ini udah mendesak, saya nelpon beneran ada perlu. Dan akhirnya telepon diangkat tepat saat saya sedang menyeberang jalan. Kata âhaloâ? terdengar tepat saat saya sedang buru-buru melangkah masuk ke jalan raya dan ada mobil bergerak cepat. Pelajaran untuk saya hari ini âhentikanlah panggilan sebelum mulai menyeberang jalanâ?. Soalnya ribet banget euy. Orang seberang sana udah halo-halo saya cuma bisa bilang âeh..â? âah…â? dan ujung-ujungnya âentar duluâ?. Sayang-sayangin pulsa aja.

Pelajaran kedua

Waktu di atas trans jakarta, liat emir ganteng lucu banget, saya jadi pengen moto. Saya keluarkanlah kamera dari dalam tas. Dan alangkah hancurnya hati saya (lebay) manakala membaca kalimat âno memory cardâ? di layarnya. Aaggh. Memory cardnya kan tadi pagi dikeluarin buat transfer foto-foto walimah diah kemarin *garuk-garuk tembok*. Tapi saya teringat satu hal bagus, ada satu lagi memory card yang untungnya belum pernah saya keluarkan dari tas sejak aisha mengembalikan. Kapasitasnya kecil banget, tapi lumayanlah, bisa 10 foto lebih dikit. Sayapun ambil gambar emir satu. Begitu sampai tujuan saya ambil gambar lagi, dan tulisan âmemory fullâ? pun muncul. Loh, ko cuma 2 foto penuh? Penuh ya penuh, gabisa memuat foto lain lagi. Saya buka display-nya, Cuma ada 2 foto yang barusan saya ambil, tidak ada lain. jadi mungkin memang cuma bisa memuat 2 (2? Dikit amat!) Pas saya cek di rumah, ternyatanya di dalam kamera masih banyak foto lain, foto yang saya masukin buat dicopy si aish. Foto-foto itu ga muncul di kamera, makanya gabisa dihapus, makanya bikin penuh *garuk-garuk tembok lagi*. Penting sekali, kalau bawa kamera, jangan cuma pastikan batrenya ada, tapi juga penyimpan memorynya. Penting sekali.

Pelajaran ketiga

Berjalan sejauh belasan kilometer (longmarch, berapa kilo ya tadi?) bagi anda yang sendirian dan terasa berat, sungguh tidak ada apa-apanya dibanding para ibu, yang sambil berjalan menggendong anak mereka. Saya bener-bener semakin kagum dengan para ibu. Bunda emir gendong emir sepanjang perjalanan. Ummu zalfa juga. Anak-anaknya tidak lepas dari gendongannya. Emir sempet jalan, tapi malah lama, soalnya tiap ada lubang dia berhenti, penasaran pengen masukin kakinya ke lubang tsb. Sayapun menawarkan untuk menggantikan menggendong emir, barulah sedikit saya jalan, pinggan udah pegel banget. Posisinya ga enak, ga ergonomis. Saya lebih suka pake gendongan yang cuma ke satu bahu itu, ketimbang gendongan yang kaya tas, anaknya di tengah. Tapi kata bunda emir kalau yang cuma 1 bahu, pegelnya di satu bahu doang. Tapi gendongan yang kaya tas itu bikin posisi saya sangat tidak ergonomis, pinggang sakit banget euy. Luar biasa para ibu. Kekuatan fisiknya itu lho. Betapa banyak sudah beban yang kita sampirkan ke bahu mereka? Kawan, merekalah para ibu, sebanyak apapun kau balas, tak akan cukup.

Pelajaran keempat

Udah sering banget nih, menjaga lisan. Huff. Terutama untuk orang yang sensi, gampang sakit hati. Pikir, pikir, pikir, dan pikir lagi sebelum kita mengeluarkan kata-kata. karena mereka bisa berubah perasaan dan moodnya, hanya karena hal sepele, atau hal yang tidak kita maksudkan jelek. Belajar. Belajar.

Pelajaran kelima

Tentang hubungan sosial, sesuatu yang mengganggu saya malam ini. Seorang teman menanggapi âsulaiman aja yang diberi kekuasaan super luas dan bala tentara yang bukan manusia doang, tetap ngebutuhin manusiaâ?. Dan kalau ada orang yang tergoda untuk menarik diri, sebuah jenis gangguan jiwa, maka katanya âorang yang menyadari kalau dia mengalami gangguan kejiwaan, maka sebenarnya dia tak terganggu jiwanyaâ?. Horeee :p

Pelajaran keenam

Sebenernya ga pantes disebut pelajaran sih *malu*. Ini kata-kata saya sendiri, dalam rangka ngingetin diri sendiri juga, ditulis aja disini biar saya juga senantiasa ingat âuntuk bersyukur ga perlu menunggu melihat kemalangan orang lain. untuk peduli, ga harus menunggu dibayang-bayangi kesulitan hidup orang lainâ?. Ayolah, semangat bermanfaat. Mariiii.

Sip. Sekian untuk ikatan makna hari in. alhamduliLLAH

Di Balik Layar QN ala Pemikirulung

Siapa yang belum tau lomba QN ala Tobie? Atau siapa yang belum tahu kalau saya ikutan lomba QN ala tobie? Atau (yang paling penting) siapa yang belum baca QN ala tobie saya? Hehe.

Saya tidak sedang ingin menjelaskan apa itu QN ala tobie. Lebih lengkapnya berusahalah sendiri dengan membacanya
disini. Saya ingin bercerita tentang pengalaman pribadi saya (tentu saja) dalam mengikuti lomba ini.

Dimulai dari penasaran akhirnya tertarik dengan hadiah yang ditawarkan. Hehe. Akhirnya saya ikutan. Sensasi post QN pertama adalah palpitasi! Hoho. Deg-degan ampun-ampunan euy. Akhirnya setelah QN ke-3 udah bisa tenang pas posting. Tapi tetap saja, sampai posting QN ke-7, QN ala tobie adalah postingan yang membuat saya membaca basmaLLAH berkali-kali sampai postingan itu sukses

Saat memulai QN saya sedang berminat banget nulis tentang kesehatan. Ditambah saya kurang suka membagi memoar terlalu banyak (garis bawah kata terlalu banyak) di MP. Saya juga pecinta kekhasan, saya ingin ada hal yang berbeda di QN tobie saya. Saya ingin QN tobie saya bermanfaat buat pembaca. Akibatnya saya memutuskan untuk menambahkan tema sendiri di QN Tobie saya, yaitu tema kesehatan. Meskipun mungkin tidak sarat dengan ilmu kesehatan atau ilmiah, yang penting bagi saya nyerempet-nyerempet kesana. Ada ilmu yang saya sisipkan di QN ala tobie itu.

Dan sepertinya saat itu saya sedang linglung. Haha. Karena tema QN tobie sendiri adalah kegiatan sehari-hari. Dengan berkomitmen menambahkannya tema kesehatan sungguh itu menyulitkan diri sendiri. Ada berapa banyak kegiatan saya sehari-hari yang ada hubungannya dengan kesehatan? Wuaa..susah bener dah. Makanya saya selalu kesulitan untuk menulis QN berikutnya, kegiatan apa lagi, kegiatan apa lagi yang bisa disambung-sambungin? Pikiran sayapun diajak bekerja keras.

Kalau diibaratkan dengan sebuah padang rumput, maka QN tobie saya berada di pagar pembatasnya, ada di sekitar situ saja, dan kalau saya kepleset sedikit, plung! Saya keluar dari padang tersebut. Begitulah nyarisnya isi QN tobie saya, nyaris tidak sesuai tema juri. Haha.

Tapi setelah membuat 7 QN ini saya merasakan manfaatnya. Meski seseorang bilang ini hanyalah sekedar permainan, yah memang permainan, tapi permainan yang banyak manfaatnya buat saya. Saya bersyukur dan tidak menyesal pernah membuat keputusan sepihak dan mengikat untuk menulis tentang kesehatan. Karena semua ini benar-benar menantang saya, tidak ada 1 QNpun yang saya tulis sebelum (atau sambil) saya membaca. Membaca apa saja, buku, catatan, atau artikel di internet. Untuk memperkaya bahasan, untuk memvalidasi ingatan, untuk mencari jawaban, dll. Sungguh sebuah proses belajar yang asik.

Setelah 7 QN selesai, saya pengen bikin lagi. Hehe. Saya ingin menantang diri sendiri lagi. Tentu dengan tema lainnya. Atau bahkan beneran kegiatan sehari-hari saja mengingat waktu yang sangat mepet. Boleh ikut dilombain ga si? (soalnya beberapa QN yang sebelumnya ditulis dengan âsenang-senangâ?, ga mikirin lomba, hehe)

berikut 7 QN ala Tobie saya..silakan mampir..semoga bermanfaat

QN 1 Mau Pingsan Pun Pilih-pilih

QN 2 Kurus Itu Luka

QN 3 Dari Hollywood Sampai Masjid SMA

QN 4 Mas Adjie said

QN 5 Teman Akrab kita, Nyeri

QN 6 Pemikirulung=Kuda Nil?

QN 7 Perempuan Dilarang Sendawa?

~oya meski menekuni (halah bahasanya) QN Tobie, saya tetap menulis journal..silakan mampir juga