Jengkol Teman Ludi, Ludi Tidak Makan Teman

Apa yang menentukan sesuatu bahan adalah makanan atau bukan? Persepsi. Dengan ketersediaan hayati yang sama, bahan makanan suatu kelompok penduduk dengan kelompok lainnya belum tentu sama karena persepsi mereka terhadap bahan tersebut berbeda. Contoh, di indonesia ada kalajengking, di Kamboja juga ada kalajengking. Tapi orang Indonesia tidak makan kalajengking, sementara mereka iya. Kenapa? Sederhana, karena menurut orang Indonesia kalajengking bukan makanan, sementara mereka sebaliknya.

Jangankan beda negara, beda kota saja bisa beda. Sebelum tahun 2011, saya tidak pernah melihat masakan dari bunga pepaya. Di rumah, bagian dari pohon pepaya yang bisa dimakan adalah buah dan daunnya saja, bunga tidak. Tapi waktu saya ke aceh, banyak masakan bunga pepaya. Saya bilang ke orang sana di jakarta bunga pepaya tidak dimasak. Mereka kaget “jadi langsung dimakan? Tidak dimasak dulu?!”. Hehe. Padahal maksud saya bunga pepaya tidak dimasak, tidak pula dijadikan makanan. (fyi, di muara enim teman saya pernah makan sayur tawon, hehe).

Pada dasarnya, asalkan tidak beracun dan berbahaya bagi tubuh serta sepanjang bisa dicerna, semua bisa dimakan. Persepsilah yang menentukan itu makanan atau bukan. Persepsi juga dipengaruhi oleh nilai dan keyakinan. Katanya daging babi itu enak sekali, tapi muslim tidak menganggap babi sebagai makanan, bahkan memakannya adalah dosa. Ada sebuah suku di indonesia yang suka sekali makan anjing, kabarnya, anjing liar yang lewat di depan mereka harus berhati-hati karena akan segera dijadikan santapan. Tapi di amerika sana, ramai dikampanyekan bahwa anjing bukanlah makanan. Mereka yang menganggap anjing sebagai keluarga, pasti sulit membayangkan dagingnya dihidangkan di atas meja.

Makanan adalah urusan persepsi, bagi saya ditunjukkan jelas di Fear Factor. Di segmen kedua kontestan selalu diberi tantangan yang menjijikan, sebagian besarnya adalah makan. Sajian makanannya variasinya tidak jauh dari belatung (yang lainnya lupa, udah belasan tahun lalu euy nontonnya). Tapi hampir semua kontestan bisa memakan makanan menjijikan yang pasti tidak pernah mereka makan sebelumnya. Memang sih mereka melakukan itu untuk 50.000 dollar. Tapi menonton Fear Factor selalu membuat saya berpikir, bisa atau tidak makan sesuatu itu tergantung otak kita.

Makanya, kalau ada orang yang tidak mau makan makanan tertentu yang padahal jelas-jelas halal dan sehat karena alasan “tidak suka”, saya tegas bilang “itu mah persepsi. Kalau mau, bisa”. Karena rasanya gemesin banget kalau ketemu teman yang tidak mau makan sayur dengan alasan “tidak suka”, apalagi kalau itu adalah orang dewasa, apalagi kalau itu ibu hamil. Padahal, sepanjang itu halal, sepanjang itu sehat, sebetulnya kamu bisa makan, yang penting otakmu bilang itu adalah makanan.

~ditulis karena baca status ai makan jengkol hari ini, haha

Advertisements

[catatan #1] Ahad Ramadhan

Memasuki ramadhan, saya selalu merasakan hal yang sama, lega dan bersyukur karena masih diberi usia dan berkesempatan setidaknya sekali lagi untuk menjalani Ramadhan.  Tapi hal ini sudah saya bahas di catatan harian Ramadhan tahun kemarin,  kan ga enak kalau dibahas lagi. hehe.

Hari pertama Ramadhan tahun ini, saya ikut keputusan yang tanggal 29 Juni, jatuh pada  hari ahad. Hari ahad adalah hari penimbangan bagi seorang Ludi. Saya ceritanya sedang diet, dan memantau berat badan tiap pekan dan hari terpilih itu adalah ahad. Dan oleh sebab itulah di hari ahad hampir selalu saya tidak bahagia, tanya kenapa,  haha.

Maka Ramadhan kali ini juga bermakna kesempatan untuk saya untuk membuat ahad lebih memuaskan.  Karena di bulan ini seharusnya berat badan bisa sukses berkurang. Bukan karena niat diet sambil puasa, tapi karena bulan inilah harusnya kita belajar menahan diri dalam urusan perut.

Meskipun kenyataannya banyak orang justru tambah gendut saat Ramadhan.  Meja makan semakin sempit dan anggaran belanja makanan yang membengkak berlipat.  Maka ahad-ahad di bulan Ramadhan ini juga berarti pembuktian,  adakah saya berhasil menerapkan kesederhanaan dalam makanan selama Ramadhan,  seperti pesan di broadcast taujih yang tersebar beberapa hari sebelum Ramadhan kemarin.

“Sedikit makan adalah tanda orang mukmin. Orang mukmin itu makan untuk  satu usus, sementara orang kafir makan untuk mengisi tujuh usus. (HR Bukhari)