Dalam Cinta dan Benci

Saya lahir dan besar di Jakarta, pun tinggal di Jakarta sekarang. Puluhan tahun tinggal di sini membuat saya cukup merasa layak untuk mengaku Jakarta. Bahkan saya lebih berani mengaku Jakarta ketimbang Jawa. Padahal dalam tubuh saya mengalir darah jawa, cirebon, dan madura, tidak betawi.

Puluhan tahun (kesannya gw tua banget yah) berada di kota ini membentuk sikap dan perilaku saya sekarang. Beberapa teman meyakini bahwa saya ini asli Jakarta, betawi. Ada yang heran mendengar abang saya bernama “Handoko”, orang jakarta mana yang namanya Handoko? Dia mungkin akan lebih kaget kalau tahu kakak saya perempuan bernama Eko. Karena mereka sama sekali tidak menyangka kalau saya ini berdarah Jawa dan terbiasa menjawab “dalem” bila dipanggil.

Puluhan tahun cukup membuat saya menyukai kota ini. Cukup membuat sense of belonging saya terhadap kota ini tumbuh dan mengurat mengakar. Saya merasa kota ini cukup menyenangkan dan nyaman untuk ditinggali. Suatu hari saya berdiskusi dengan teman lama yang dari jakarta pindah ke jogja. Dia bilang tidak enak tinggal di jakarta. Continue reading

Advertisements