Berhenti Jadi Buruh

bu·ruh n orang yg bekerja untuk orang lain dng mendapat upah (KBBI)

Hari ini adalah hari buruh. Hari ini juga saya resmi tidak lagi menjadi buruh. Berhenti dari segala aktivitas bekerja pada orang lain dan mendapat upah.

Kemarin, hari terakhir menjadi buruh, 99% orang yang saya pamiti bertanya “setelah ini ke mana?”, “setelah ini kerja di mana?”. Pertanyaan macam itu dari dulu susah saya jawab. Karena saya tidak terlalu bagus peruntungannya dalam hal pekerjaan sebagai pegawai. Setiap resign atau habis kontrak, saya tidak dalam keadaan sudah mendapat pekerjaan apalagi sudah ditawari kerjaan baru.

Saya cukup berpengalaman jadi pengangguran. Hehe. Pengangguran menurut term yang dipahami orang kebanyakan. Meskipun saya sendiri tidak merasa menganggur, bagaimana tidak, toh cucian pasti selalu ada dan menunggu dikerjakan. Krik.

Kemarin, ketika berpamitan dengan orang-orang di kantor, saya akhirnya capek juga menjawab pertanyaan mainstream tsb. Kemudian terpikir sebuah jawaban singkat “usaha”. Meskipun jawaban ini seringkali mengundang pertanyaan lebih lanjut dan penjelasan lebih panjang.

Usaha. Itu memang selalu dilakukan. Meskipun tidak berstatus buruh, usaha mah kudu tetap jalan. Makanya dari dulu isian pekerjaan di profile Facebook tidak berubah “bukan bekerja tetap, tapi tetap bekerja”, jabatannya bos, dari dulu hingga sekarang. Hehe.

Hari ini resmi tidak lagi punya atasan dan tidak perlu menunggu tanggal 25 untuk gajian. Hari ini resmi berhenti dari kerja di kubikal dalam ruangan cantik berpendingin ruangan. Tapi hari ini saya tetap harus jadi atasan untuk diri sendiri dan alhamdulillah, ada transferan masuk ke rekening padahal bukan tanggal 25. Juga tetap kerja meskipun tidak di belakang meja dan memungkinkan sambil rebahan. Karena berhenti jadi buruh, bukan berarti berhenti usaha.

Selamat hari buruh untuk semua orang yang masuk dalam definisi hari buruh menurut KBBI. Selamat hari buruh untuk mereka yang tidak merasa buruh padahal sebenarnya mereka juga buruh. Selamat hari buruh buat mereka yang suka nyinyir pada buruh yang lagi demo padahal kl UMP naik mereka juga menikmati imbasnya. Selamat hari buruh untuk mereka yang berpeluh bekerja, berusaha, demi menafkahkan diri sendiri dan orang-orang yang menjadi amanah mereka.

Advertisements

Utang dan Penindasan

Tahukah kamu, diantara doa dan dzikir harian Rasul saw, terdapat doa “Ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kesusahan, kesedihan, kelemahan dan kemalasan, serta dari kepengecutan, kebakhilan, himpitan hutang dan dari penindasan orang.” (HR Bukhari)”

Bahkan Rasul saw berdoa agar terhindar dari himpitan utang setiap pagi dan petang. Jadi bisa disimpulkan betapa Islam menganggap utang adalah sesuatu yang banyak menimbulkan hal negatif.

Yang menarik adalah Ibnu Qayyim menjelaskan bahwa delapan perkara yang disebut dalam doa ini memiliki makna yang saling berdekatan. Pertama, Al-Hamm (kegelisahan) dan al-Hazan (kesedihan). Kedua, Al-‘Ajz (lemah) dan al-Kasaal (malas). Ketiga, Al-Jubnu (penakut) dan al-Bukhlu (bakhil).
Dan terakhir, Ghalabatid Dain (hutang yang melilit) ternyata disandingkan dengan
.
.
.
Qahrur Rijal alias PENGUASAAN ATAU PENINDASAN ORANG LAIN!

penindasan oh, penindasan

penindasan oh, penindasan

Karena orang yang terlilit utangnya, maka secara otomatis dia dibawah pengawasan dan kekuasaan orang yang menghutangkannya. Serem kan? Dan ini kejadian sama saya kemarin, bahkan disaat saya belum terima uangnya.
Jadi ceritanya saya pengen utang uang ke seorang teman buat modal usaha, saya kirim whatsapp minta pinjam uang sekian dibayar tanggal sekian. Teman saya balas, bisa. Trus dia curhat sesuatu yang ternyata ga puas kalau dibahas via whatsapp, diapun bilang

“telp gw lah.
Mau share.
Lu ada pulsa?”

Saya jawab kl saat itu ga bisa telepon karena mau nyuci. Diapun bales lagi

“ntar kita ngobrol.
Mau duit ga lu?”

Aseeeeem. Belum juga itu duit di tangan, bahkan saya udah berada di qahrur rijal. Mestinya saya juga begitu ya ke orang-orang yang punya utang ke saya? Hoho.

~nulis iseng saking udah lama ga update blog

sumber gambar :

synapses[dot]co[dot]za/uploads/2012/10/oppression1.jpg

Air Putih dan Simbol Pengiritan

tulisan ini isinya curhat

tiba-tiba kepikiran, mana yang lebih banyak ada di masyarakat Indonesia, pura-pura miskin atau pura-pura kaya? saya tidak tahu jawabannya. tapi yang pasti kedua golongan itu nyata ada.

ironis memang. ketika si miskin berusaha terlihat kaya dan ketika si kaya mengaku miskin. dulu ada tetangga saya, jaman baru-baru ngehits orang punya telepon genggam. dia tidak punya, tidak mampu beli, tapi demi terlihat mampu, dia jalan-jalan ke mall dengan casing henpon di kalungnya. hanya casing-nya!

contoh ini memang cukup ekstrim. tapi banyak lagi contoh pura-pura kaya di masyarakat Indonesia. sebutlah orang yang memaksakan diri membeli henpon mahal, pakaian branded, atau motor racing, hanya demi gaya. demi terlihat “mampu” oleh orang lain.

si kaya mengaku miskin juga banyak. sebutlah mahasiswa kaya yang berusaha manipulasi data demi mendapat beasiswa untuk mahasiswa tidak mampu. atau kalangan menengah yang cari jaminan kesehatan dari pemerintah agar bisa berobat gratis. atau, yang paling miris, orang-orang tidak berhak yang berusaha agar dapat BLT, dana kompensasi bbm, dan sejenisnya, dengan memanfaatkan koneksi dengan kepala desa.

saya sendiri kadang terjebak dalam kepuraan itu. sedih memang. dan tulisan ini adalah pengingat untuk diri sendiri.

kalau dari pakaian juga kendaraan, saya tidak pernah berusaha terlihat kaya. saya suka memakai baju dan sepatu yang nyaman plus murah, tak peduli merknya. pun dengan motor, saya dengan senang hati bawa si smash kemana-mana meskipun terlihat butut. bahkan setelah mahasiswa saya menyindir “gaji dosen ga cukup untuk beli motor baru bu?”, saya ga peduli.

tapi rasa tidak ingin terlihat kere ini muncul ketika makan di warteg. hehe. padahal memilih warteg saja sudah bisa menunjukkan status sosial ya?

adalah minuman yang sering membuat saya ragu. Continue reading

Agar Semua Orang Bisa Terbang

kejadian kecelakaan pesawat Air Asia pekan lalu memberi banyak berita yang sampai di telinga kita. mulai dari kronologi hilangnya pesawat, kisah pencarian, kisah para korban, tidak empatinya beberapa netizen, dan akhir-akhir ini, kemarahan si menteri perhubungan. beritanya mulai dari yang penting sampai yang tidak, dari yang informatif sampai mengganggu kenyamanan. tapi kali ini yang ingin saya bahas adalah komentar seorang netizen yang sama sekali tidak empati.

beredar di sebuah jejaring sosial, ada pria menulis bahwa dia berharap semua pesawat-pesawat murah jatuh saja sehingga hanya ada satu maskapai favorit dia yang mengudara, Garuda Indonesia. saya terganggu baca ocehan macam itu, karena bagi saya maskapai murah sangat membantu orang dengan budget terbatas yang ingin berpergian, seperti saya. orang ini, dengan sombongnya hanya mau naik GI dan berharap pesawat lain jatuh semua, mungkin tidak tahu asbabun nuzul Tony Fernandes membuat low-cost airline, Air Asia.

beberapa tahun lalu saya menonton sebuah tayangan dokumentasi di TV tentang Tony Fernandes (lupa program apa judulnya). di situ diceritakan kejadian apa yang membuat Tony Fernandes bermimpi memiliki maskapai dengan harga yang murah. sayang, sekarang saya Googling tidak ketemu artikel yang menguatkan. jadi terpaksa saya bercerita sesuai dengan ingatan saja, mohon dikoreksi jika salah.

Fernandes lahir di Kuala Lumpur tahun 1964 dari ayah India dan campuran Portugis-Asia. Pada usia 12 tahun, dia bersekolah di Epsom College, boarding school di Inggris. suatu hari ketika dia sedang bersekolah di Inggris, kabar duka datang, ibu Tony Fernandes di Malaysia meninggal. Continue reading

[Review] Afwan Jakarta

Assalamualaikum Indonesia!

Akhirnya saya nonton juga film yang beberapa hari ini banyak dibahas di beranda Facebook. Sebenarnya saya sudah dengar akan tayang film ini dari awal Desember, tapi akhirnya tertarik untuk nonton karena ada surat terbuka yang disebarkan asma nadia dan beredar di grup whatsapp. Hehe. Jadi nonton ini terpengaruh sama permintaan nya mbak Asma (pakai mbak biar kesannya dekat), katanya biar film bernilai islami jadi trend dan investor mau berinvestasi di film-film macam ini.

Namun saya yang belum sempat menonton di bioskop ini sudah keburu terpapar dengan review teman-teman yang sudah pada nonton. Rata-rata pada bilang bagus pakai banget, recommended, mesti ditonton, pokoknya tinggi lah pujiannya. Dan ternyata ini adalah kesalahan saya yang pertama, memiliki high expectation terhadap film ini.

Lalu di hari lain, saya nonton tonight show net tv yang tayang di siang hari (iye kl siang namanya bukan tonight show, tapi gw lupa apa) yang mengundang pemain film Assalamualaikum Beijing (AB). Yang diundang ada Morgan, Laudya, Ridho Roma, dan ada Desta yang meskipun tidak diundang sebagai bintang tamu, dia kan host acara itu, makanya ada juga. Ini kesalahan kedua, sering menonton tonight show dan menonton pula yang edisi AB.

Ah, sudahlah, mari masuk langsung ke review filmnya. Fyi, saya akan buat dengan gaya review saya seperti biasa.

– Setelah agak kurang sreg dengan film 99 cahaya yang menceritakan tentang orang Pakistan dan orang barat (lupa kebangsaan nya apa) tapi mengobrol pakai bahasa Indonesia di Eropa, alhamdulillah film ini ga begitu. Orang Tiongkok ya ngomong mandarin, dan kalaupun dia berbahasa Indonesia, itu ceritanya emang mereka bisa bahasa Indonesia. Bagus lah. Jadi lebih natural.

– Kebanyakan orang bilang film ini tentang moving on, apalagi soundtracknya juga begitu liriknya. Tapi saya ga terlalu merasakan feel itu. Tadinya karena dibilang tema move on, saya pikir Asma akan galau untuk memilih Zhung Wen karena masih belum bisa melupakan Dewa. Eh ternyata kagak. Dari masih di Indonesia juga dia udah move on kok. Mestinya bukan tentang move on kata saya mah. Ini film tentang kesempurnaan cinta  (apah?!)

– Laudya menurut saya terlalu lebay. Apa memang mau digambarkan kalau pecinta drama Korea jadi lebay gitu ya? ah tapi teman saya ga gitu ko.

– Morgan lumayan bagus aktingnya. Dan berhubung karakternya di film ini dewasa dan manly gitu, segenap penonton (maaf saya mengatasnamakan kalian para penonton) jadi lupa kalau si Zhung Wen ini Morgan SM*SH yang nyanyi-nyanyi sambil dance “you know me so weeell”. Iya! ini Morgan yang itu!

– Saya sama dengan Asma, ga percaya cinta kilat. Hehe. Saya ga yakin sama love from the first sight, apalagi ke orang yang beda budaya, beda agama, beda kebiasaan, ketemu di bis pula. Jadi saya agak risih dengar si Zhung Wen minta maaf karena lama menemukan Asma kembali setelah pertemuan pertama mereka. Alih-alih terhanyut, dengar si Zhung Wen ngomong gitu sama malah bilang dalam hati “yaelah, masa iya lo udah niat mau ngejar nih cewek sejak sebelum turun bis?”

– Teknik pengambilan gambar nya bagus ya, angle nya itu lho. Bagi saya orang awam yang ga ngerti bikin film, keren aja lihat kamera ambil gambar si Asma dari bawah air (pas dia melihat ke dalam akuarium). 2x adegan ini, rasanya tetap menarik. Atau pas Asma dan Zhung Wen ke tempat patung ashima, angle diambil dari bawah, jadi yang terlihat muka mereka, puncak bukit batu, dan langit yang bersih. Cakep banget. Ini pasti teknik lain dari teknik jadul “buang kamera ke langit” kalau mau ganti adegan, haha.

– Kesalahan pertama adalah membawa ekspektasi tinggi ke dalam ruang bioskop, jadinya kecewa. Menurut saya film ini lumayan bagus. Ga sampai bagus pakai banget. Iya sih, islami, ada adegan si Asma gamau salaman sentuhan dengan bukan mahram, itu keren. Tapi selebihnya biasa aja. Lebih banyak bahas cinta. Mungkin Ludi lelah nonton film roman.

– Ko rasanya aneh yah lihat pasien udah di icu gitu jilbabnya ga dibuka? iya sih aurat. Tapi pengalaman di icu rscm semua pasien gada yang pakai jilbab, pakai baju aja ga (ditutup selimut aja).

– Kalian tahu apa adegan yang paling saya sebel? waktu Asma dan Dewa berantem dan mereka pergi meninggalkan makanan yang belum habis dimakan. Aduh mak, saya sebagai anggota kehormatan pasukan anti mubazir merasa gemes mes mes!

– Saya paling suka justru bukan quote si Zhung Wen tentang cinta sempurna atau quote mas ridwan tentang iman mendahului romantisme. Saya suka ketika Zhung Wen bilang bahwa ketika pertama kali dia mengucapkan syahadat, di situlah dia sadar kita ini harus pasrah sama Allah. Karena semua yang terjadi adalah kehendakNya (maaf saya ketinggalan mencatat percakapan ini, jadi lupa redaksi persisnya, kl ada yang belum nonton, tolong cacatkan dong, Hehe). Lah saya yang udah bersyahadat ribuan kali, udah sampai di mana tawakal dan ridha atas semua ketentuanNya?!

– Meskipun Morgan akting nya bagus, bahagianya kurang lepas. Masa dengar istri hamil ekspresinya gitu doang? Kaku banget ke istri sendiri.

– Dan, kesalahan kedua karena kerap menonton talkshow si Desta adalah saya jadi merasa kehadiran Desta di film itu jadi merusak kesyahduan film. Mas Ridwan yang kalem tapi dalem jadi selalu terlihat kocak bahkan ketika dia diam saja. Racun banget Desta ada di situ, image kocaknya terlanjur melekat.

– Pembahasan tentang Islam di cina nya menarik. Disampaikan dengan luwes. Pemandangan tembok cina, tarian tradisional, kebudayaan islam di sana, makin menguatkan saya untuk kuliah ke Cina.

– oiya, satu lagi, ternyata di Beijing ada juga yang melanggar lampu merah ya? pas Asma menyeberang, pas lagi lampu merah, eh di belakangnya ada motor menerobos (dan kalian pasti heran ko saya bisa ngeh, hoho). tapi jalur sepedanya Beijing bikin ngiler banget ya!

Secara keseluruhan, film ini punya nilai-nilai yang bagus. Beda, bersih, aman, bermakna tapi juga menghibur. Mungkin Anda akan suka.

Apalagi kalau Anda jomblo. Bisa jadi setelah film ini Anda akan yakin bahwa cinta akan menemukan Anda. Menarik banget kalau itu bentuknya muslim ganteng dengan tampang oriental (hihihi).

Sampai ketemu di Beijing!

~ langsung ditulis begitu pulang nonton

2014 in review

Akhirnya bikin juga, meski sebenarnya malu, huhu. Dan takut menghadapi kenyataan bahwa pengunjung blog ini sedikit banget. Tapi yah, lumayanlah buat mecut diri sendiri untuk lebih serius lagi ngeblog. Tahun ini memang sangat tidak produktif sekali dalam menulis (juga membaca, juga yang lainnya *curhat). Semoga 2015 lebih baik.

Terima kasih buat teman-teman yang sudi mampir bahkan sampai berkomentar. Semoga blog ini bermanfaat ya

The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2014 annual report for this blog.

Here's an excerpt:

A New York City subway train holds 1,200 people. This blog was viewed about 4,200 times in 2014. If it were a NYC subway train, it would take about 4 trips to carry that many people.

Click here to see the complete report.

Banjir di Utara

aceh utara banjir.

adakah yang tau kl aceh utara sekarang sedang banjir? saya yakin tidak banyak. atau mungkin bahkan tidak ada. beritanya memang tidak seksi untuk dibahas, makanya sejauh ini saya tidak lihat ada yang share di timeline. tapi sebenarnya banyak media online yang sudah memberitakan (tidak tahu kl berita di TV, saya sudah lama ga nonton TV soalnya).

langkahan banjir.

waktu pertama kali dengar dari pengajar muda yang sedang bertugas di langkahan, saya kaget. desa tempat saya tinggal dulu dilanda banjir. penduduk desa mengungsi. kalut. itu yang saya tangkap dari si penyampai berita.

geudumbak banjir.

geudumbak adalah nama desa tempat saya tinggal dulu. kecamatan langkahan, kabupaten aceh utara. dulu, waktu saya tinggal di sana, banjir menjadi salah satu ancaman yang saya takutkan.

saya masih ingat betul suatu hari di musim hujan, saya sedang berada di kota lhokseumawe. hari itu ada urusan di kota dan rencananya besok masih ada. tapi kemudian adik (angkat) saya menelepon “kak Ludi pulang! kata muhadir sungai udah tinggi. takutnya banjir kak. barang kak Ludi banyak banget”. mendengar berita itu saya panik sekali (bahkan lebih panik ketimbang waktu dengar berita ada penembakan di langkahan, hahaha). saya membayangkan semua barang-barang saya di kamar diletakkan di atas lantai, karena tidak ada meja, dan lemari tidak cukup. kalau sampai pakaian, buku-buku, dokumen dan berbagai media pembelajaran harus terendam banjir, itu seremnya bukan main bagi saya saat itu. maka, meskipun sedang di kota, dan ada kemungkinan besok masih ada keperluan jadi lebih efisien jika bermalam di kota, sayapun segera menempuh jarak 70 km, pulang saat itu juga.

kemudian saya tahu, banjir terakhir di desa itu sudah beberapa tahun lalu. tidak seperti orang kampung Melayu, Jakarta yang kena banjir setiap musim hujan, orang geudumbak kena banjir mungkin 5 tahunan. jadi saya pikir kepanikan saya tentang banjir berlebihan.

dan ketakutan itu terjadi di tahun ini.

aceh banjir.

dari situs berita online yang saya baca, jangkauan banjirnya meluas. kini 21 dari 24 kecamatan terendam. Kecamatan Langkahan termasuk yang terparah dengan banjir di empat desa dan masing-masing ketinggian air antara satu hingga dua meter, serta sebanyak 305 orang mengungsi.

saya yang sudah tidak tinggal di aceh utara hanya bisa berdoa. semoga Allah senantiasa melindungi dan memberi pertolongan.

Selamat Hari Djasita

(tulisan ini mengandung cerita-cerita tidak terlalu penting. awas, anda sudah diperingatkan)

Baru 3 hari ini saya punya aplikasi “timehop”. Saya lagi gandrung dengan aplikasi ini. Bagaimana tidak, aplikasi ini menyuguhkan apa yang kita share di social media pada tanggal hari ini di 1, 2, 3, dst tahun yang lalu. Cocok sekali untuk orang yang menggilai kenangan semacam saya, kalau boleh tidak bilang susah move on. Ehm.

Timehop hari ini agak banyak isinya. Ternyata saya cukup banyak berkicau di tanggal 22 desember tahun lalu. Tapi isinya membuat saya tertawa-tawa, gendeng soalnya. Namun demi menjaga perasaan saudara-saudara sekalian yang secara beruntung kemasukan postingan saya di fb dalam beranda-nya, saya menahan diri untuk membagi kicauan tahun lalu itu.

Tahun lalu saya berkicau tentang #PesanIbu. ini dia (saya aja udah lupa)

~ setelah dipikir-pikir, emak saya ga pernah berpesan yang filosofis atau berhubungan dengan nilai-nilai. semua pesannya bersifat teknis

~ mungkin beliau ga berpesan semacam itu karena percaya bahwa saya anak baik-baik nan solehah yang ga akan berbuat asusila dsb 😀

~ mumpung lagi hari ibu saya akan twit #PesanIbu saya yang saya inget. semuanya berhubungan dengan urusan domestik rumah tangga. hahaha

~ tadi udah dibilang #PesanIbu saya kalau nyuci piring gelasnya didahulukan ketimbang yang lain. biar gelasnya ga bau amis. ini terbukti lho

~ waktu mau merantau #PesanIbu saya fenomenal sekali “jangan numpuk cucian” hahaha

~ #PesanIbu yang lain “kl ga sempat nyuci ga usah merendam” 😀

~ oiya waktu di rantauan juga #PesanIbu pada saya “jajan yang enak”. ini beneran lho. emak saya nyuruh saya jajan bukannya menabung 😀

~ emak saya berpesan untuk jajan enak karena dia sangat paham anaknya ini irit rit tit. hehe #PesanIbu

~ lanjut lagi #PesanIbu, sepatu yang udah ga dipakai, cuci bersih dan disimpan, jangan ditaruh gitu aja di rak luar 😀

Tahun ini, saya juga menulis status facebook yang tidak kalah penting dari kicauan twitter tahun kemarin. Juga mengunggah foto ibu saya di facebook dengan bertuliskan doa yang saya buat sendiri.

Namun, saya dapat ilmu lain dari status seorang teman, bunyinya “selamat memperingati hari ibu, para perempuan indonesia. ibu sebagaimana didefinisikan pada kongres perempuan 22 desember 1938 lalu yaitu ibu bangsa, bagi semua perempuan, menikah ataupun lajang, punya anak ataupun tidak. semua perempuan sebagai ibu bangsa, tanpa terkecuali

selamat berkarya dan berkarya bagi sesama perempuan, keluarga, bangsa, dan negara”

Saya baru tahu, kalau hari ibu ternyata sejarahnya seperti itu. Sementara selama ini, bagi saya, hari ibu adalah Hari Djasita (nama emak saya, red). 22 Desember adalah tanggal lahir ibu saya. Maka, ketika orang memberi selamat pada ibunya, kami (anak ibu Djasita) juga sekalian memberi kado ulang tahun (kalau ada). Dipikir-pikir ini sungguh ekonomis dan efisien, ulang tahun yang bertepatan dengan hari ibu membuat kami tidak perlu memberi hadiah 2 kali, hehe.

Namun sebenarnya selama ini saya menaruh curiga kenapa tanggal lahir beliau bisa bertepatan dengan hari ibu. Berhubung ibu saya lahir puluhan tahun silam, bukan di keluarga berada, saya yakin beliau tidak punya akta kelahiran. Saya curiga, ibu saya adalah sejenis dengan orang-orang yang tidak tahu sebenarnya tanggal lahir mereka dan berada di keluarga yang menghubungkan kelahiran anak dengan tumbuhnya pohon. Iya, semacam engkong-engkong yang kalau ditanya kapan lahirnya akan jawab “seumuran dengan pohon kecapi ini ditanam”.

Apalagi, ibu saya sudah jadi yatim piatu sejak kecil. Maka wajar jika sampai sekarang saya tidak yakin bahwa tanggal 22 desember adalah benar-benar tanggal lahirnya. Demi memuaskan kecurigaan saya, tadi sayapun bertanya padanya
“mah, emang beneran mama lahir tanggal 22 desember? tahu dari mana?”

Mudah-mudahan ke depan, saya akan lebih memaknai hari ibu dengan baik sesuai dengan latar belakang ditetapkannya hari ini. 22 Desember tidak melulu Hari Djasita, tapi juga Hari Cut Nyak Dien, Hari Dewi Sartika, Hari Kristina Marta, Hari Malahayati, Hari Pemi Ludi (ho oh, saya juga perempuan pejuang ko), tapi bukan Hari Kartini, karena ibu kartini sudah punya harinya sendiri.

~dan status serta foto hari ini, biarlah ia jadi hiasan timehop di tahun-tahun ke depan
~selamat hari ibu, duhai perempuan pejuang