Sampai Di Mana Batas Usaha?

picsource: abilashpraveen.com

picsource: abilashpraveen.com

Alkisah ada sepasang suami istri. Mereka berdua sangat berbeda dalam banyak hal, tapi mereka bisa mengatasi perbedaan itu dan akhirnya menikah. Sang istri lebih tua setahun dari suaminya, berasal dari keluarga kaya. Si istri tipikal perempuan yang polos, kutu buku, pintar secara akademik, akhirnya jadi dokter gigi, dan sebagaimana kebanyakan perempuan macam itu, secara tampilan fisik ga terlalu menarik. Haha. Si perempuan ini wajahnya biasa aja (ga cantik). Sementara sang suami yang lebih muda, ganteng banget, badannya bagus, tapi nakal, playboy, waktu muda kerjanya main, gonta-ganti pacar, cuma lulusan sma, berasal dari keluarga miskin pula. Sebelum menikah, si perempuan biasa jadi “dompet” cowoknya, kalau belanja atau makan, dia yang bayar. Si cowok ini berhubung dia ganteng dan badannya bagus, dia tertarik menjadi model dan ikut sekolah modeling. Itupun pakai uang pinjaman.

Meskipun ditentang keluarga dari kedua belah pihak, akhirnya mereka menikah. Kawin lari. Si cowok yang biasa hidup semaunya tiba-tiba memiliki tanggung jawab untuk menghidupi anak orang. Si cewek yang biasa hidup enak, rumah mewah, duit banyak, rela meninggalkan semuanya dan tinggal di kontrakan murah. Karena harus menafkahi diri sendiri dan istrinya, si cowok berhenti sekolah modeling (yang memang belum menghasilkan duit) dan kerja di pabrik. Tiap pagi berangkat pakai jas dan dasi, padahal kerjanya di pabrik, cuma demi istrinya bangga melihat suaminya jadi sallary man yang bertanggung jawab pada keluarga. Di pabrik dia tidak disukai teman kerjanya karena selain kerjanya ga becus, dia juga diterima di situ karena dimasukkan oleh pemilik pabriknya yang kebetulan pacar kakaknya. Akhirnya karena tidak cocok kerja di pabrik, dia beralih jadi supir taksi. Seorang anak badung yang kalau kepepet suka nyolong duit emaknya, kerjanya main-main waktu muda, menjadi seorang pekerja kasar meskipun terpaksa, demi cari nafkah keluarga.

Suatu hari ada kesempatan lagi untuk jadi model. Dia ditelepon oleh temannya di sekolah modeling dulu, ada tawaran khusus untuknya untuk menjadi model katalog. Tapi dia sudah bertekad untuk keluar dari dunia modeling karena istrinya ga setuju. Istrinya melihat modeling tidak memberikan prospek yang bagus untuknya. Tanpa disangka, suatu malam, sambil mijetin kakinya, istrinya bilang

“aku membuat keputusan yang salah. Aku melakukan hal yang aku suka, tapi kamu tidak. Rasanya kejam kalau aku tidak membiarkan kau melakukan hal yang kau inginkan.

Aku tidak bisa menunggu selamanya, tapi aku akan menunggumu selama satu tahun. Berusahalah semaksimal mungkin sebagai seorang model selama satu tahun. Tapi jika kau tidak sukses juga, maka berhentilah tanpa ada penyesalan.”

Akhirnya si suami kembali menjadi model dan ternyata sukses. Dia bisa menghidupi keluarganya dari pekerjaannya sebagai model. Dan dengan itikad yang baik dan tanggung jawabnya yang sudah terbukti, akhirnya mereka mendapat restu dari orang tua mereka.

Sesungguhnya kisah ini hanya pendahuluan saja, belum masuk ke pembahasan utama, hahaha. Kisah suami istri ini hanyalah cerita di drama korea (pasti udah pada bisa nebak). Saya tonton drama ini hampir 10 tahun lalu, tapi kisah pasangan ini membekas banget, bahkan lebih menarik daripada kisahnya pemeran utama.

Saya merasa gagasan “tidak bisa menunggu selamanya, tapi memberi kesempatan setahun” menarik sekali. Satu pertanyaan muncul dan sampai sekarang saya tidak tahu jawabannya “adakah usaha itu berbatas waktu?”. Mungkin ada sebagian dari kita yang pernah mengalami, berusaha untuk mendapatkan sesuatu tapi tidak kunjung berhasil. Kalau anda tidak pernah, saya sering. Hehe. Pilihannya cuma 2, meneruskan usaha, atau menyerah dan mengambil jalan lain.

Sering orang bilang, sukses adalah gagal + 1. Kalau gagal, usaha lagi, karena bisa jadi sukses hadir tepat setelahnya. Tapi pernahkah anda, usaha lagi, tapi ga ketemu sukses juga? Maka, mungkin sukses adalah gagal + tak hingga. Pertanyaan saya, sampai di mana kita berusaha? Jika sidang pembaca tahu jawabannya, sudilah menjawab di kolom komentar di bawah.

Saya jadi berpikir memberi batasan waktu pada sebuah usaha rasanya lebih masuk akal. Usaha mati-matian jadi model selama setahun, kalau masih ga berhasil juga, mending cari pekerjaan lain saja, contohnya. Apakah ini jalan yang ditempuh orang-orang yang berputus asa?

Ketika saya bilang memberi batasan waktu untuk sebuah usaha, bukan berarti ketika sampai pada batas waktu yang ditentukan kemudian kita cuma leha-leha dan putus asa. Tapi yang dilakukan setelahnya adalah mengalihkan usaha pada bentuk yang lainnya. Misal usaha di bisnis kuliner, tapi bangkruuuuut terus. Mau terus-terusan bisnis kuliner? Atau memilih untuk berhenti dan melakoni bisnis yang lain? Atau misalnya ikut spmb ambil kedokteran tapi gagaaaaal terus. Mau terus-terusan pilih kedokteran atau berhenti pada satu titik dan pilih jurusan lain?

Serius ini mah tulisan isinya pertanyaan. Silakan bantu dijawab.

Advertisements

[NulisRandomDay2] Tukang Kaos (juga pengen) Naik Haji

“Ada yang bertanya pada Nabi shallallahu ‘alaihiwa sallam: “Wahai Rasulullah, mata pencaharian apakah yang paling baik?” Beliau bersabda, “Pekerjaan seorang laki-laki dengan tangannya sendiri dan setiap jual beli yang mabrur (diberkahi).” (HR. Ahmad, Ath Thobroni, dan Al Hakim. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Barusan saya baca caption foto seseorang di Facebook. Isinya bercerita bahwa orang tuanya telah melunasi biaya haji, tinggal menunggu jadwal keberangkatan saja. Yang menjadi semakin spesial adalah biaya haji ini didapat dari hasil berdagang sayuran.

Berdagang memang demikian spesial dalam Islam, bisa dilihat dari hadis yang saya kutip di atas. Bahkan Rasulullah saw pun seorang pedagang.

Tadi ada tetangga datang ke rumah mau beli kaos. Sambil pilih-pilih dia bilang minta dibantu carikan pekerjaan. Saya bilang, saya aja kerjanya begini ko, jualan kaos. Sehari-hari di rumah, whatsappan, BBMan, IGan, sambil rebahan. Dia tidak percaya.

Jadi tukang kaos memang tidak terdengar seksi bagi orang kebanyakan. Beda kalau dibilang “pe en es”, orang menyambut dengan mata berbinar dan memberi selamat. Padahal kata Rasul saw pekerjaan yang baik adalah jual beli yang mabrur.

Membaca caption foto tadi membuat saya teringat lagi dengan cita-cita berhaji. Beberapa waktu terakhir sempat tereduksi menjadi umrah karena memperhitungkan biaya dan lamanya masa tunggu. Bukan dihilangkan, tapi dinomorduakan, umrah dulu saja yang penting, begitu.

Sekarang rencana itu kembali pejal. Haji itu niscaya. Tinggal dikuatkan niat, disempurnakan ikhtiar, dimantapkan doanya. Mungkin jalannya dari hasil jualan kaos yang mabrur. Ini sekaligus mengingatkan agar senantiasa memperhatikan rambu-rambu dalam berdagang agar barakah Allah karuniakan.

Bismillah. Labbaik Allahumma Labbaik.

#tukangkaosnaikhaji

Ps: Sengaja saya kutip hadis yang ini, bukan yang populer bahwa berdagang membuka 9 dari 10 pintu rezeki karena ternyata hadis tsb dhoif. ALLAHUa’lam

[NulisRandomDay1] Kepo Bikin Mark Zuckerberg Tambah Kaya

Kepo

Indonesian slang, which is comes from Hokkien language (usually used by some communities in Medan, Palembang, and Pekanbaru) and then become a loanwords in Singlish (Singaporean-English)”Kaypoh” which means “really curious” defines a condition when a person is wanna know about everything.

Yet Kepo stands for “Knowing Every Particular Object”, defines the same like what “Kaypoh” means.

It’s a different language, but has the same definition at the same time.

Entah atas dasar apa awalnya yang membuat saya meyakini bahwa sepanjang orang Indonesia masih memiliki kepo yang tinggi, social media akan terus banyak digunakan. Saya semakin menyadarinya ketika berita online banyak membicarakan isi social media orang yang baru meninggal dalam sebuah tragedi.

Sebut saja korban pesawat Air Asia yang jatuh. Di berita online dibahas tentang foto yang diunggah seorang pramugari di IG nya beberapa hari sebelum meninggal. Atau cerita korban lainnya yang didapat dari social media.

Sayapun begitu. Ketika mendengar kabar mahasiswa UI meninggal tertabrak kereta, saya (yang sebelumnya padahal tidak tahu siapa anak itu) mengunjungi Facebooknya dan mencoba menelusur timelinenya sebelum meninggal. Masih mending ini anak UI, bahkan saya pernah menelusur twitter seseorang yang saya tahu baru saja meninggal karena tabrakan motor di Kaliurang, tidak kenal, bukan kerabat, pun bukan satu almamater. Kepo, mungkin itu alasan utamanya.

Tapi saya pikir, yang begini bukan saya doang, melainkan juga orang Indonesia kebanyakan. Mohon maaf kalau saya jadi songong men-generalisir. Ah, siapa di sini yang sempat lihat-lihat akun twitter tatta chubby setelah dengar berita pembunuhannya? Pasti banyak, hehe. Alasannya? Kepo!

Apa sarana yang bisa digunakan untuk memenuhi nafsu kepo kita tentang hidup orang lain? Yang paling gampang adalah social media. Makanya tadi saya bilang di awal, selama kepo masih ada, social media akan terus dibuka.

Akhir-akhir ini saya juga sedang kepo lagi di instagram. Setelah dulu sempat kepo dengan akun Bu Ani karena pengen lihat Bu Ani marah-marah dan Ibas yang selalu pakai lengan panjang. Haha. Kali ini saya kepo terhadap seorang seleb karena melihat berita online. Isi beritanya adalah si seleb habis marah-marah di instagram dan bilang mau berhenti pakai IG lagi, tapi keesokan harinya dia mengunggah foto di IGnya.

Sungguh berita tidak penting yang sukses membangunkan kekepoan saya. Lalu apa yang saya dapat dari kekepoan ini? Hanya kuota yang berkurang, waktu sia-sia, serta ingatan soal mania dan lithium.

Dari tadi pikiran saya terganggu dengan sebuah pertanyaan “trus apa yang ingin lo sampaikan dengan tulisan ini Ludi? Apa pelajaran yang ingin lo bagi?” Sayangnya saya juga tidak bisa jawab.

Well, ini memang tulisan geje, anggaplah pemanasan untuk memulai challenge 30 hari menulis random yang dimulai hari ini. Selamat menjaga kekepoan terhadap note Facebook saya selama sebulan ke depan untuk dapat tulisan random setiap harinya. Hehehe.

#KoJadiGeje
#Biarin

Ps: apakah ada yang ngeh apa yang beda dengan tulisan saya biasanya? 

Jengkol Teman Ludi, Ludi Tidak Makan Teman

Apa yang menentukan sesuatu bahan adalah makanan atau bukan? Persepsi. Dengan ketersediaan hayati yang sama, bahan makanan suatu kelompok penduduk dengan kelompok lainnya belum tentu sama karena persepsi mereka terhadap bahan tersebut berbeda. Contoh, di indonesia ada kalajengking, di Kamboja juga ada kalajengking. Tapi orang Indonesia tidak makan kalajengking, sementara mereka iya. Kenapa? Sederhana, karena menurut orang Indonesia kalajengking bukan makanan, sementara mereka sebaliknya.

Jangankan beda negara, beda kota saja bisa beda. Sebelum tahun 2011, saya tidak pernah melihat masakan dari bunga pepaya. Di rumah, bagian dari pohon pepaya yang bisa dimakan adalah buah dan daunnya saja, bunga tidak. Tapi waktu saya ke aceh, banyak masakan bunga pepaya. Saya bilang ke orang sana di jakarta bunga pepaya tidak dimasak. Mereka kaget “jadi langsung dimakan? Tidak dimasak dulu?!”. Hehe. Padahal maksud saya bunga pepaya tidak dimasak, tidak pula dijadikan makanan. (fyi, di muara enim teman saya pernah makan sayur tawon, hehe).

Pada dasarnya, asalkan tidak beracun dan berbahaya bagi tubuh serta sepanjang bisa dicerna, semua bisa dimakan. Persepsilah yang menentukan itu makanan atau bukan. Persepsi juga dipengaruhi oleh nilai dan keyakinan. Katanya daging babi itu enak sekali, tapi muslim tidak menganggap babi sebagai makanan, bahkan memakannya adalah dosa. Ada sebuah suku di indonesia yang suka sekali makan anjing, kabarnya, anjing liar yang lewat di depan mereka harus berhati-hati karena akan segera dijadikan santapan. Tapi di amerika sana, ramai dikampanyekan bahwa anjing bukanlah makanan. Mereka yang menganggap anjing sebagai keluarga, pasti sulit membayangkan dagingnya dihidangkan di atas meja.

Makanan adalah urusan persepsi, bagi saya ditunjukkan jelas di Fear Factor. Di segmen kedua kontestan selalu diberi tantangan yang menjijikan, sebagian besarnya adalah makan. Sajian makanannya variasinya tidak jauh dari belatung (yang lainnya lupa, udah belasan tahun lalu euy nontonnya). Tapi hampir semua kontestan bisa memakan makanan menjijikan yang pasti tidak pernah mereka makan sebelumnya. Memang sih mereka melakukan itu untuk 50.000 dollar. Tapi menonton Fear Factor selalu membuat saya berpikir, bisa atau tidak makan sesuatu itu tergantung otak kita.

Makanya, kalau ada orang yang tidak mau makan makanan tertentu yang padahal jelas-jelas halal dan sehat karena alasan “tidak suka”, saya tegas bilang “itu mah persepsi. Kalau mau, bisa”. Karena rasanya gemesin banget kalau ketemu teman yang tidak mau makan sayur dengan alasan “tidak suka”, apalagi kalau itu adalah orang dewasa, apalagi kalau itu ibu hamil. Padahal, sepanjang itu halal, sepanjang itu sehat, sebetulnya kamu bisa makan, yang penting otakmu bilang itu adalah makanan.

~ditulis karena baca status ai makan jengkol hari ini, haha

[catatan #16] Mencampuri Hati

Hari ini saya bertanya-tanya, apa batasan antara ikut campur dengan peduli. Mana yang masih wajar karena peduli, mana yang sudah berlebihan sehingga masuk dalam turut campur urusan pribadi orang lain.

Jadi ceritanya, salah seorang teman saya sedang jatuh cinta, yah sebutlah begitu. Dia kelihatan tidak seperti biasanya. Dia terlihat lebih ceria, centil, senyum-senyum sendiri, dan berbagai tanda lain dari seorang gadis yang sedang jatuh cinta.

Saya tahu dia naksir siapa dan saya juga kenal dengan cowok yang dia taksir. Masalahnya, saya juga teman-teman yang lain tahu kalau cowok yang ditaksir ini sebenarnya tidak suka dengan teman saya. Kami tahu bahwa sebenarnya cowok ini suka dengan perempuan lain, tapi teman saya ini tidak tahu. Dan dengan menyebalkannya, cowok ini kadang bercanda flirty-flirty dengan teman saya meskipun sebenarnya dia tidak suka. Makanya teman saya jadi luluh hatinya. Begitulah wanita. Dan begitulah pria.

Saya merasa kasihan dengan teman saya ini. Kasihan karena dia sedang mengalami one side love tanpa dia ketahui. Saya kasihan jika membayangkan suatu hari teman saya tahu bahwa cowok yang disukainya, yang kadang suka flirting itu sebenarnya hanya bercanda. Saya kasihan karena saya tahu betapa pahitnya suka
dengan seseorang yang tidak suka dengan kita, rasanya pahit banget, lebih pahit dari daun pepaya *tutup muka*

Waktu saya tanya ke teman yang lain, apakah saya perlu memberitahukan kepadanya untuk menjaga perasaannya, untuk tidak berharap, agar dia nanti tidak kecewa. Teman saya bilang tidak perlu, karena itu berarti saya sudah mencampuri urusan pribadinya. Karenanya saya berpikir, apakah ini sudah masuk ranah turut campur? Padahal saya hanya peduli. Tidak lebih.

Lalu saya berpikir lebih lanjut. Ah iya, urusan perasaan tidaklah pernah mudah. Kalaupun saya
bilang bahwa sebenarnya cowo itu tidak suka padanya, dan agar dia mengendalikan rasa sukanya. Memangnya itu mudah saja dia lakukan? Urusan perasaan tidak mudah dikendalikan seperti mengendarai motor yang tinggal di-gas, rem, dan ganti gigi. Urusan perasaan, sudah dikendalikan habis-habisan pun tetap saja berjalan dengan arahnya sendiri. Maka, saya peringatkanpun rasanya sia-sia.

Lalu, bukankah pengalaman-pengalaman meskipun buruk juga guru dalam kehidupan. Bukankah bisa jadi, pengalaman patah hati ini akan memberi pelajaran bagi teman saya? Maka, sayapun memutuskan untuk tetap diam dan hanya mengamati. Pada si gadis yang sedang jatuh hati.

Meskipun saya tetap belum mendapat jawaban, apa batasan antara turut campur urusan orang dengan peduli.

[randomthoughts] Dont Be Good To Me

Lagi rapi-rapi hard disk dan nemu tulisan random thoughts lama, jadi pengen nulis random thoughts lagi. Dan saya baru ngeh kalau tulisan-tulisan random thoughts saya jarang diunggah di blog, biasanya cuma di fb. Biarlah kali ini saya share di sini juga.

Jakku jalhae juji mayo

Ini judul lagunya Kim Jong Kook yang kalau di-inggris-in kira-kira artinya “dont be good to me”. Liriknya menarik. [Fyi, saya sudah cari artinya dan dari 2 website yang saya buka ternyata agak beda sedikit lalu saya pilihlah salah satunya. Mohon maaf kalau ada salah].  Menurut pemahaman saya, yang sering ga bisa memahami lirik lagu berbahasa asing ini, pesannya mirip dengan tulisan jadul saya yang berjudul “manis-manis srigala”.

Menurut saya sepertinya lagu ini lebih cocok dinyanyikan perempuan. Di lagu ini Jong Kook bilang “Stop being good to me. Don’t be good to me anymore. I don’t have the confidence to kneel my knees and be hurt by love”. Nah, ini beneran membuat saya teringat tulisan itu, Continue reading

Benar-benarkah Menerima?

tiba-tiba saja saya terpikir bahwa “acceptance” pada grieving theory Kubler Ross mungkin sama dengan “ridho”. bagi yang tidak tahu apa itu Kubler Ross model tentang stage of grief atau grieving theory, silakan googling saja. saya tidak berminat menjelaskannya. tidak untuk saat ini. mungkin acceptance sama dengan ridho dengan takdir yang Allah tentukan dalam hidup kita.

acceptance, apakah ia selalu sebagai akhir? mungkinkah ketika kita sudah sampai pada fase itu ternyata kita kembali ke fase-fase sebelumnya? jika benar begitu, berarti bukan acceptance namanya.

seringkali kita mengira sudah bisa menerima kehilangan, kesedihan atau kekecewaan itu. tapi beberapa saat kemudian kita menyesalinya lagi.

“kupikir aku udah move on Ludi. kupikir aku sudah menerima. tapi … “. kata kawan saya suatu hari. “aku belum sampai ke tahap itu ternyata” kata kawan yang lainnya.

acceptance, saya pikir-pikir ko seperti ikhlas. katanya, ikhlas itu ada di awal, tengah, juga akhir. bisa jadi kita melakukan sesuatu dengan niat ikhlas, tapi setelah dikerjakan, dilihat orang, ko kayanya menarik juga kalau dipamerkan. ikhlas di awal, tapi belok di tengah, bukan ikhlas namanya. bisa jadi kita melakukan sesuatu dengan ikhlas, hingga ia selesai dikerjakan. jauh setelahnya berselang, ada situasi dan kondisi berbeda, ko rasanya menyesal telah melakukan itu sebelumnya. ikhlas di awal dan tengah, belok di akhir. bukan ikhlas namanya.

begitupun dengan acceptance. awalnya sudah menerima. tapi kemudian bertemu fakta lain. maka kita kembali pada fase denial, anger, bargain atau depression. bukan acceptance namanya.

buat saya fase acceptance itu misteri. tak pernah bisa dipastikan apakah kita benar-benar sepenuhnya berada di dalamnya. buat saya acceptance itu sering rapuh. karenanya saya sering terpeleset keluar darinya. buat saya fase acceptance itu sebuah pencapaian besar. karenanya kita harus sekuat tenaga berusaha mencapainya.

acceptance, mungkin berbanding lurus dengan keimanan.

~sebuah lintasan pikiran, langsung diketik aja pakai henpon

kamar belakang,
25082013

[catatan #15 Ramadhan] Jomblo Sayang, Jomblo Malang

Beberapa episode Para Pencari Tuhan (PPT) belakangan, muncul tokoh baru, anaknya Om Wijoyo namanya Fahri. Pemuda ganteng (banget, ehm) berstatus jomblo. Untuk pertama kalinya Fahri bertemu dengan Kalila untuk membicarakn pesta pernikahan ayahnya. Perbincangan tidak berlangsung hangat, Kalila marah-marah waktu itu, setelah Kalila pergi meninggalkan mereka, Fahri bertanya pada Udin dan Trio Bajaj, “siapa dia?”, maksudnya bertanya tentang Kalila. Dijawab oleh Trio Bajaj, “JOMBLO KAYAK LO!”

Adakah yang bisa melihat keganjilan dari jawaban tsb? Iya memang aneh, Fahri bertanya “siapa” bukan “statusnya apa”. Tapi bagi para jomblo mungkin mengerti dengan keadaan ini. Mungkin pula sering mengalaminya juga.

Bagi kami para jomblo, apapun konteks pembicaraan kami seringkali dihubungkan dengan konteks kejombloan oleh lawan bicara, padahal bukan itu yang kami inginkan. Continue reading