[NulisRandomDay7] Bujang Bulan Juni

Bujang Bulan Juni
-Pemi Ludi

tak ada yang lebih tabah
dari bujang bulan Juni
dirahasiakannya getir galaunya
kepada doa dalam sujud itu

tak ada yang lebih bijak
dari bujang bulan Juni
dihapuskannya kesal mangkal hatinya
yang dipicu pembully itu

tak ada yang lebih arif
dari bujang bulan Juni
dipahaminya takdir baik Tuhan
diserap hatinya yang bukan batu

PS: ini kali kedua saya bikin parodi puisi Om SDD (sebelumnya adalah puisi “Aku Ingin”), tiba2 saya mikir, melanggar hukum ga sih?

PS: tapi saya juga suka banget dengan parodi sebelumnya

Advertisements

[catatan #7 ramadhan] Tolak Cinta Sederhana!

Agaknya Om Sapardi Djoko Damono-lah yang telah membuat frase “mencintai dengan sederhana” menjadi begitu tren di indonesia. Tapi maaf, membaca sebuah tulisan romantis pengantin baru di fb hari ini tentang “mencintai dengan sederhana” membuat saya bosan. Maka-sungkem dulu sama Om Sapardi-saya memutuskan untuk membuat arus berbeda.

“aku ingin mencintaimu dengan kompleks;
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada gergaji yang menjadikannya tripleks

aku ingin mencintaimu dengan kompleks;
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan

kulit kepada herpesviridae yang menjadikannya herpes simpleks”

 

“aku ingin mencintaimu dengan rumit;
seperti mantra yang diucapkan mbah dukun

ketika mulutnya komat kamit

 

aku ingin mencintaimu dengan rumit;
seperti yang dialami anak-anak di rumah kakeknya

saat ia hendak pamit”

 

“aku ingin mencintaimu dengan mewah;
dengan hati yang membuncah

menahan rasa yang melimpah

 

aku ingin mencintaimu dengan mewah;

bukan cinta yang diobral murah

ditambah dusta yang membuat gerah”

 

“aku tidak ingin mencintaimu dengan sederhana

karena kini cinta sederhana sudah begitu biasa

aku ingin cintaku istimewa

meninggalkan ke-umum-an di belakang kita”

 

 

 

~agaknya ke-geje-an catatan ini mengalahkan catatan #4. hehe. maaf kalau bikin sakit mata

singgah

dalam perjalanan panjang kehidupan

ada yang pernah singgah

ditemani pahitnya kopi

juga nafas yang terhela

 

dalam perjalanan panjang kehidupan

ada yang pernah singgah

duduk sebelah menyebelah

mengucurkan cerita singkat tentang keluarga

kira-kira apa hubungan gambar dengan puisinya?

 

dalam perjalanan panjang kehidupan

ada yang pernah singgah

melewati setengah tiap-tiap hari

bersama bersiap untuk masa nanti

 

dalam perjalanan panjang kehidupan

dia pernah singgah

membagi pesan hangat

gandengan tangan yang

mengendur dan mengerat

bergantian

 

dalam perjalanan panjang kehidupan

kau pernah singgah

mengiringi langkah

meninggalkan jejak

menambah dan mengurangi kesedihan

berbagi dan menyimpan kebahagiaan

juga bergantian

 

dalam perjalanan panjang kehidupan

akupun singgah

membagi hati dan jiwa

pada mereka, dia,

juga kau

 

dalam perjalanan panjang kehidupan

ada banyak persinggahan

dan hatiku tak pernah lagi sama

 

Cijantung, 12 12 12

 

~rasanya “gatel” kalau blog lama ga update, jadi pindahin tulisan lama kesini deh, for the sake of updating blog -_-

Lapang Si Daun

daun maple jatuh itu buat saya "sesuatu"

daun maple jatuh itu buat saya “sesuatu”

selama ini kita dekat

berdampingan

berpegangan

tapi tidak saling berbalasan

 

aku yang senantiasa berpegangan padamu

sementara kau bergeming

 

selama ini kita hidup bersama-sama

kau telah lebih dulu ada

aku sesudahnya

 

sesekali angin membuat kita bersentuhan

sesekali angin membuat kita bergesekan

tapi kau tetaplah kau

berdiri dalam diam

 

hidup yang mempertemukan kita

hidup yang membuat kita bersama

dan hidup pula yang memberiku kesempatan tak lama

 

kau masih gagah berdiri

sementara peganganku tak erat lagi

 

hingga angin kembali

untuk mengeksekusi

 

dalam usaha terakhir aku masih berpegangan

tapi kita memang tak pernah berbalasan

dan angin merenggut usaha terakhirku

 

pada angin aku tak benci

pada dirimu aku tak benci

pada hidup, ah, apalagi padanya, bagaimana aku bisa benci

yang meski memisahkan

ia juga yang mempertemukan

 

pada pucuk yang kini mengisi tempatku

aku juga tak benci

 

dalam sendu kupandang pucuk itu

kelak akan senasib denganku

tapi biar kubisikan kabar baik ini untukmu,

 

dia juga tak memilih untuk membenci

 

cijantung, 13 12 12

 

 

*pada tau ga ini terinspirasi dari novel apa? hehehe

mirabilis jalapa

Siang itu kita jalan bersama

Dan melewati sebuah padang rumput luas

 

Aku berdecak “ih bagus ya..”

Aku terkagum melihat bunga-bunga manis yang menyembul diantara ilalang

 

Kau menampik “euh..ga juga”

Persepsimu tentang keindahan terganggu dengan rumput liar tak terurus

 

Dan kitapun berdebat tentang keindahan dan sebaliknya

Tapi kemudian kita pula yang menyudahinya

 

Karena aku tetap tak peduli dengan apa yang kau bilang

Sambil terus berseru riang, tiap menemukan kembali bunga yang mengintip

Diantara semak yang menghimpit

 

Dan kau juga tak peduli dengan keceriaanku

Sambil menekuri bagaimana caranya merapikan belukar itu

 

 

Kulihat kerut masih menghuni dahimu

Akupun berbisik “mari kita kesini lagi”

“tapi nanti

sekitar pukul 4 sore hari”

Dengan enggan kaupun menyanggupi

 

Maka sore itu kita kembali

Dan menemukan Mirabilis jalapa bermekaran disana sini

 

Kulirik wajahmu

Kali ini kau tersenyum sedikit

 

Semak hijau yang tadi siang kita lihat

Kini terkembang menjadi bunga

 

Di perjalanan pulang, hatiku merekah seperti Mirabilis jalapa

Kau bergumam dalam hati

“andai rumput liarnya tidak ada, pasti lebih indah lagi”

 

Muara Enim, 18 April 2012

Dialog 1 Hati

Karena kau mendapat perlakuan berbeda

Maka kau bertanya-tanya

Karena kau ditunjukkan jalan lainnya

Maka kau sulit menerima

Dia bilang kau diberi hal yang spesial

Tapi itu hanya membuatmu tak henti menganalisa

Dia bilang kelak kau akan diajak kembali bersama

Tapi itu hanya membuatmu semakin berprasangka

 

Ah, cukup

Janganlah kau sibuk dengan segala tanya

Janganlah kau lelah dengan segala analisa

Janganlah kau penuh dengan segala prasangka

 

Bertanya-tanya hanya akan membuatmu semakin resah

Ber-analisa hanya akan membuatmu semakin getir

Berprasangka hanya akan membuatmu semakin terluka

 

Ingatkah tentang sejumput garam?

Ia mengasinkan segelas air

Tapi ia tak terasa

Ketika dihadapkan pada danau

 

Tentang hati, kenapa tidak begitu juga

Kenapa ia tidak dijadikan luas seperti danau

Agar asin tak dapat terkecap

Agar sejumput garam kehilangan daya

 

Tentang hatimu, kenapa tidak diperluas saja

Agar ia tidak sedih karena usikan kecil

Agar ia tidak kecewa dengan penyisihan

Agar ia tidak marah dan lapang menerima

 

omong-omong,

tentang ikhlas, ridho, dan tawakal, masihkah kau mengingatnya?

gambar diambil dari corbisimage.com

kisah air dan danau “berhentilah menjadi gelas”

Menurutku Kamu Jahat

Aku tahu kau punya maksud

Aku juga tahu maksudmu baik

Aku lihat kau punya cara

Tapi aku tak pernah sepakat dengannya

Jauh panggang dari api

Itu kataku selalu

Tak mau dengar

Itu kau berlaku

Kau konsisten dengan manuvermu

Aku hanya menonton

Kau tunjukkan performamu

Aku masih jadi penonton

Kau keras kepala, aku juga

Kau tetap pada pendapatmu, aku juga

Kau memasukkanku dalam permainanmu

Aku tahu

Kau berniat baik di balik permainanmu

Aku tahu

Apa sesungguhnya maksudmu

Aku tahu

Ternyata tahuku harimauku

Kutak lagi jadi penonton

Kutak lagi hanya menonton

Aku, jadi peserta permainanmu

Dan

aku rela, karena aku pikir, aku tahu udangmu wahai batu

Aku biarkan, karena aku pikir, ku takkan terbawa arusmu

Ternyata aku benar,

Aku tidak hanyut bersamamu

Bagiku, kau tetap seorang pemain yang jauh panggang dari api

Bagiku, kau tetap seorang baik dengan cara jahat

Lebih dalam ku memandang

Ternyata aku hanyut juga

Bukan sebagai peserta permainan

Ternyata, aku yang sekarang, adalah lakon sebuah permainan

Aku, si pemain utama

Dalam permainanku sendiri

Aku, si pembelajar

Belajar darimu

Ah,

Bukan,

Aku bukan belajar

Aku hanya terbiasa, aku hanya terbawa suasana

Sampai di titik ini aku sadar

Kau bukanlah sekedar batu dengan udang dibaliknya

Kau bukanlah sekedar pitung dengan harta kompeni curiannya

Kau menularkanku warna permainanmu, tapi tidak dengan maksudnya

Maka bagiku,

Kaulah penjahatnya

23 Oktober 2010

Mual dan Muak Tingkat Tinggi

Lagi, hidangan itu dihidangkan
Sama pedasnya, sama kecutnya
Dengan hidangan lama

Lidahku masih kesat
dengan cerita dari Pati
tentang pelajar wanita sok hebat
tampar sana tampar sini

Dipaksa lagi mencicipi
Makanan kecut dari kupang
Tidak beda jauh dengan Pati
Wanita berkelakuan binatang

Ampun!
Lambungku meronta
Asamnya bergelora
Lihat demonstran setengah gila
Hingga wakil rakyat meregang nyawa

Sudah terlalu banyak
Sampah itu tertelan
Boro-boro bikin sehat
Cuma picu sakit perut

Mau warteg atau restoran
Pilih kedai atau kantin
Semua menunya sama

Tak peduli terhormat karena dipilih rakyat
Atau memang keparat musuh masyarakat
Bukan hanya dirumah tempat bersandar
Atau di sekolah tempat belajar
Tapi di semua lini, bikin sakit hati!

Mual
Dengan calon lurah bajingan yang dimasak di IPDN
Dengan pengemudi bedebah yang diramu di jalan raya
Dengan pelajar tukang tawuran dan gencet junior yang digodok di lingkungan sekolah
Dengan suami biadab bakar istri yang digoreng di rumah-rumah penduduk
Dan
Makan malamku tadi..
Dengan calon polisi keparat yang diramu di asrama kepolisian Riau

Mualku dengan itu semua
Maaf, aku sudah tidak tahan
Maaf, jika aku terpaksa muntah di muka mereka

Baca Juga:
Kekerasan dan Jalan Raya
Aku Anak Jujur, Terus Terang Bila Bertutur, Aku Anak Jujur Mohon Maaf Bila Ngelantur