[NulisRandomDay8] Karni Ilyas vs Andi Noya Menang Siapa?

Saya masih ingat di satu episode ILC -yang langka saya tonton- ada pemirsa mengkritik Karni Ilyas. Dia bilang, kenapa sih Karni bikin acara yang seperti itu, kenapa tidak seperti Andy Noya dengan program Kick Andy nya. Menurut si pemirsa tsb Kick Andy lebih bermanfaat dan inspiratif ketimbang ILC, sehingga dia menyarankan lebih baik Karni membuat program serupa saja.

Saya lupa bagaimana persisnya jawaban Karni Ilyas, yang saya ingat adalah saya suka sekali jawabannya. Hehe. Intinya dia bilang biarlah Andy Noya punya  program Kick Andy dan dia punya program ILC, ga bisa semua program seragam menjadi semacam Kick Andy semua, masing-masing orang punya caranya sendiri.

Saya sendiri juga ga suka ILC, tapi saya sependapat dengan beliau. Bayangkan jika semua stasiun TV hanya menayangkan kick Andy dan sejenisnya sepanjang hari sepanjang tahun, manfaat?

Pada hemat saya, kadang kita suka terjebak dengan hal-hal demikian. Menganggap yang ini manfaat, yang lain tidak, yang ini kontributif yang lain tidak, dst. Padahal tiap orang mungkin berjuang dengan metodenya masing-masing.

Ada yang menganggap, mahasiswa yang baik itu yang IPK bagus, ikut lomba keluar negeri, pulang bawa medali. Sementara mahasiswa yang turun ke jalan dan mendemo pemerintah, hanya berbuat kerusakan saja. Padahal sejatinya keduanya berjuang. Ada yang pikir berkarya itu yang mengajar di pelosok, yang lain pikir yang mengabdi itu yang jadi tentara di perbatasan, padahal ada mereka yang duduk di ruang ber-AC perkotaan mampu membuka lapangan usaha untuk masyarakat miskin. Ada yang menganggap kelompok yang menginisiasi gerakan sosial adalah yang paling gagah, padahal ada pula politisi di ruang dewan sedang berjibaku memperjuangkan undang-undang yang membawa maslahat untuk umat.

Allah sendiri membuat 8 pintu surga untuk 8 spesialisasi amal. Yang unggul puasa, masuk surga lewat pintu puasa. Yang berjihad dipanggil pintu jihad. Saya yakin, di surga nanti mujahid ahli surga ga akan songong bilang “heh, badan lo mulus ga ada tebasan pedang, orang kaya lo ko bisa masuk surga?” di depan ahli surga dari pintu taubat. Tidak akan ada yang seperti itu.

Jadi, janganlah merasa paling kontributif sendiri. Atau kalaupun tidak, janganlah mengecilkan amal orang lain, karena kita tidak tahu. Bahkan, ketika ada orang yang tidak jadi pengusaha yang memberdayakan umat, tidak mendidik generasi, tidak pergi ke penjuru negeri untuk berbagi, kerjanya hanya di rumah, dari lahir sampai dewasa tidak pernah pisah dari orang tua. Bisa jadi di rumahnya ia sedang merawat orang tuanya yang sudah renta, sesungguhnya ia sedang mengetuk pintu surganya sendiri.

ALLAHUa’lam

Advertisements

[NulisRandomDay3] Never Too Old To Start

“You are never too old to set another goal, or to dream a new dream” (CS Lewis)

Bermula dari sharing link seorang teman di Facebook, isinya info grafis (bener ga yah ini info grafis?) tentang beberapa pesohor di dunia ini yang baru memulai atau menemukan usaha nya di usia yang tidak lagu muda. Contoh gampangnya adalah Kolonel Sanders yang mulai KFC di usia 65 tahun!

Saya baru sadar, ternyata saya lebih termotivasi dengan fakta-fakta semacam itu. Fakta tentang orang-orang (yang dipandang) sukses yang sebelumnya menjalani hidup yang berliku. Ini pasti karena saya merasa hidup saya begitu juga. Hehe.

image

Termasuk pula kemarin, saat saya menjalani wawancara dengan ustad. Jadi ceritanya saya daftar sebuah ma’had untuk belajar Islam lebih dalam. Ketika ditanya ini itu oleh ustad dan saya tidak tahu jawabannya, rasanya malu betul. Puluhan tahun menjadi muslim, tapi rasanya tidak tahu banyak tentang Islam.

Namun hati yang tadinya ciut membesar kembali ketika ustad bilang ulama dulu juga ada yang baru menuntut ilmu setelah tua. Alhamdulillah, ada juga contoh ulama yang begitu (nanti dicek lagi, siapa-siapa saja ulama yang begini). Karena selama ini saya lebih sering mendengar para sahabat, tabiin, tabiut tabiin yang sudah gemilang sejak muda. Imam syafi’i hafal Qur’an sejak umur 5 tahun. Usamah bin zaid memimpin pasukan di umur 18 tahun. Jadi semangat kalau tahu ternyata ada juga yang telat kaya saya.

Hari ini dapat quote lagi, saya kutip di awal tulisan ini, “You are never too old to set another goal, or to dream a new dream”. Mumpung masih dikasih kesempatan hidup oleh Yang Mahakuasa, tidak ada salahnya untuk memulai.

image

[catatan #1] Ahad Ramadhan

Memasuki ramadhan, saya selalu merasakan hal yang sama, lega dan bersyukur karena masih diberi usia dan berkesempatan setidaknya sekali lagi untuk menjalani Ramadhan.  Tapi hal ini sudah saya bahas di catatan harian Ramadhan tahun kemarin,  kan ga enak kalau dibahas lagi. hehe.

Hari pertama Ramadhan tahun ini, saya ikut keputusan yang tanggal 29 Juni, jatuh pada  hari ahad. Hari ahad adalah hari penimbangan bagi seorang Ludi. Saya ceritanya sedang diet, dan memantau berat badan tiap pekan dan hari terpilih itu adalah ahad. Dan oleh sebab itulah di hari ahad hampir selalu saya tidak bahagia, tanya kenapa,  haha.

Maka Ramadhan kali ini juga bermakna kesempatan untuk saya untuk membuat ahad lebih memuaskan.  Karena di bulan ini seharusnya berat badan bisa sukses berkurang. Bukan karena niat diet sambil puasa, tapi karena bulan inilah harusnya kita belajar menahan diri dalam urusan perut.

Meskipun kenyataannya banyak orang justru tambah gendut saat Ramadhan.  Meja makan semakin sempit dan anggaran belanja makanan yang membengkak berlipat.  Maka ahad-ahad di bulan Ramadhan ini juga berarti pembuktian,  adakah saya berhasil menerapkan kesederhanaan dalam makanan selama Ramadhan,  seperti pesan di broadcast taujih yang tersebar beberapa hari sebelum Ramadhan kemarin.

“Sedikit makan adalah tanda orang mukmin. Orang mukmin itu makan untuk  satu usus, sementara orang kafir makan untuk mengisi tujuh usus. (HR Bukhari)

Google Search

Video

Ini bukan post pesanan. Saya tidak dibayar google untuk men-share video ini. Ini video bagus banget buat saya sih, maknanya dalam, disampaikan dengan cerita yang bagus.

Pertama lihat video ini waktu ikutan sharing-nya Agustinus Wibowo dan langsung tertarik. Kalau ada yang punya link video ini yang ada subtitle-nya boleh dong di-share ke saya.

Enjoy

Karena Bu Risma

penting banget nih untuk semua orang baca, bukan cuma ayah-bunda dan calon ayah-bunda. semuanya. yang merasa penting menyelamatkan generasi

Islam is Fun

Bismillahirrahmanirrahim..

Oke, sebetulnya kontributor sontoloyo ini belum ijin sama empunya blog buat ngisi. Cuman desakan lingkungan *caelah* udah sangat kuat. (1) teman sebaya yang ngojok-ngojokin buat nulis di laman ini lagi; (2) kasus di lapangan *emang mau nulis apaan sampe bawa kasus segala* yang udah menggila, ntar diceritain; (3) abis nonton Mata Najwa edisi Bu Risma sampe meleleh air mata, jadi pengen berjuang bareng semampu yang saya bisa; (4) kemaren kakak kelas ngeshare video dan kayaknya saya nemu benang baru (dari kasus yang ntar saya ceritain) dan penting buat saya tulis ulang supaya bisa saya runut benangnya biar ga kusut dikepala (kepentingan pribadi).

videonya ada disini :

Cukup sekian aja yang bikin saya bulet untuk nulis lagi disini. Dan sebenernya saya rada2 ragu tadi, mau nulis disini atau di blog pribadi, tapi karena nilai yang saya bawa bakal kental banget dengan prinsip hidup, saya pilih disini karena saya memposisikan diri…

View original post 4,589 more words

Teliti Kebenarannya Dulu Dong …!

Iwan Yuliyanto

makan di toilet


Dua hari yang lalu, saya dikejutkan oleh sebuah berita yang menyesakkan dada di tengah-tengah menikmati bulan Ramadhan ini, yaitu berita dari Detik News (23-07-2013):
Siswa Non Muslim Disuruh Makan di Toilet Karena Ramadhan

Berita ini menukil dari BBCIndonesia.com, yang mengabarkan bahwa para siswa sebuah sekolah dasar di Malaysia diminta untuk tidak makan di kantin selama istirahat siang, memerintahkan siswa non-Muslim makan siang di toilet mandi karena Ramadhan.

Banyak bersliweran di ranah social media yang meneruskan berita ini dengan menertawakan sinis dan tak sedikit yang mencaci maki. Ada juga blogger yang memuat berita tersebut, (untuk menjaga nama baiknya, saya rahasiakan link tulisannya) dan saya telah memberikan komentar di postingannya:


View original post 1,833 more words

Nenek dan Cucu Pemelihara Serigala

Tadi siang terjadilah percakapan maya antara nenek dan cucunya. Sebenarnya percakapan biasa saja. Tapi akhirnya mengalirlah kemana-mana. Dan sampailah pada sebuah fakta, yang membuat sang nenek bisa mengambil benang merah tanpa sengaja. Sebenarnya ini mudah saja, mengingat taraf kecerdasan sang nenek di atas rata-rata (haha). Sang nenek jadi “ngeh” dengan siapa yang cucunya curhatkan di percakapan episode sebelum-sebelumnya, jauh sebelum percakapan yang sekarang.

Si nenek teringat, sekitar 3 pekan lalu sang cucu curhat. Tentang kekesalannya pada seseorang. Muak dan benci jadi satu. Tapi sebenarnya lantaran kecewalah perasaan itu. Kalau boleh diibaratkan, kecewa lantaran anak kuda yang dipeliharanya ternyata memiliki nafsu serigala dan kemudian memperturutkannya sehingga tumbuhlah dia jadi serigala.

Saat itu, sang nenek yang dicurhati memberi petuah banyak sekali. Bahwa kita ini hanya pemelihara, soal genetik di luar kuasa kita. Di tengah jaman seperti ini, wajarlah jika napsu-napsu serigala tak terkendali dan jadi menguasai. Apalagi jika kita tidak berkumpul sesama kuda, dan malah masuk ke hutan belantara tanpa teman, tanpa kawanan. Pokoknya sang nenek memberi petuah-petuah bijak sekali. Sebenarnya, memang oleh sebab itulah dirinya dinobatkan sebagai nenek. Bukan karena garis keturunan, bukan pula karena usia, tapi semata-mata karena kalau dia sudah angkat bicara, terlihat begitu “tua”, persis nenek-nenek yang banyak pesen-pesennya, persis nenek-nenek yang panjang wejangannya.

Tapi siang itu si nenek akhirnya jadi tahu. Siapa tokoh yang cucunya curhati. Yang telah membuat sang cucu muak begitu besarnya. Ternyata orang itu adalah salah satu anak kudanya juga. Maka kecewa pulalah sang nenek siang itu. Baru tahu dia bahwa anak kudanya jadi serigala di belakangnya. Padahal si nenek juga berharap, seperti halnya harapan para pemelihara. Bahwa nanti peliharaannya kelak jadi peliharaan unggulan. Sama harapannya dengan para orangtua, bahwa anaknya bisa tumbuh jadi anak yang soleh. Si nenek sedih bukan kepalang, anak kudanya jadi bangsa buas karnivora. Padahal dia berpikir, anak kudanya akan jadi kuda yang gagah dan kencang larinya, dan tinggal sedikit lagi usaha merubahnya jadi kuda yang perkasa. Tapi ternyata anak kudanya, memilih jadi serigala.

Si nenek kini merasakan hal serupa. Hal yang telah dirasakan cucunya 3 pekan lalu. Curhatan cucunya di episode obrolan virtual sebelumnya. Dan si nenek hanyalah manusia biasa. Si nenek adalah orang indonesia kebanyakan. Bohong kalau nenek bilang tidak kecewa. Pahit. Memang. Mungkin lebih pahit dari daun pepaya. Dan si nenekpun membuka chatlognya, menekuri petuah-petuah yang telah diberikannya pada cucunya. Kali ini dibacanya untuk dirinya sendiri. Si nenek juga belum pandai. Si nenek juga masih harus belajar. Kini dari petuahnya sendiri.

~gambar dari corbisimage.com

Kelingking Yang (juga) Tak Boleh Kita Dustakan

“maka, nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”

Kemarin, karena ada beberapa urusan, sambil mengisi waktu juga, saya dan beberapa teman menghabiskan waktu siang sampai sore kami di musholla kampus. Setelah selesai menunaikan sholat ashar, saya lihat seorang teman yang segera mengenakan kaoskakinya kembali. Padahal kami belum akan keluar dari musholla. Bagi saya yang punya kebiasaan kalau habis sholat, selama masih berada dalam musholla akan tetap mengenakan sarung dan baru akan mengenakan kaoskaki kalau akan keluar ini, hal itu adalah sebuah keanehan. Sayapun bertanya pada teman saya tersebut
“mau pulang?”
“engga”
“mau keluar?”
“engga juga”
“masih mau disini kan?”
“iya”
“kok udah buru-buru pake kaoskaki aja?”
“ya gapapa, pengen pake kaoskaki aja”
sayapun puas dengan jawaban itu.

Sore harinya, saya dan teman saya itu ternyata jadi dua orang terakhir yang tetap bertahan di musholla. Saat sedang berduaan begitu, teman saya bercerita
“Di, sebenernya aku tadi pake kaoskaki cepet-cepet karena aku malu Di”
saya bingung
“aku kan brakidaktili”
bukan kata baru buat saya, namun, mengingat pelajaran genetika saya dapat di semester pertama kuliah, saya udah lupa apa itu brakidaktili, cuma inget garis besarnya saja (sudah biasa, hehe), “apaan tuh? aku lupa”
“ini loh, ruas jariku kan kurang 1”
saya kaget, “oh iya, kalo polidaktili aku inget”
“makanya aku jarang nunjukin kakiku, aku malu. Jari kelingkingku ini kan pendek banget tau.  (sambil nunjukin kelingkingnya yang masih dalam balutan kaoskaki) Kalo kaoskakiku dibuka keliatan banget deh. Ternyata ibunya ayahku brakidaktili juga.”
saya masih diem, menyimak
“ini bikin aku ngga PD. Sebenernya sih aku pernah nyadar ga perlu malu. toh semua fungsinya tetep normal. Kalaupun ada yang ngatain, ya biarin ajalah, yang dosa kan mereka. Tapi tetep aja, kadang jadi minder juga. Makanya aku jarang memperlihatkan kakiku, langsung pake kaoskaki buru-buru”
“ngapain minder? Hrit*k Rosh*n yang polidaktili aja PD banget tuh”, kata saya, argumen yang tepat tapi norak sekali, haha
“iya sih, tapi susah juga Di”
“hmm..ga nyangka ya, ternyata jari kaki bisa bikin orang ngga PD juga”
“iya”

Saya ngga ngomong banyak sore itu, hanya sedikit membesarkan hatinya agar tidak perlu malu. Mungkin karena saya juga sedikit kaget, setelah 4 tahun pertemanan kami, saya baru tahu kalau dia punya kelainan seperti itu.

Sore itu saya tersadar lagi. Seketika saya mengingat anggota tubuh saya, jari-jari yang saya miliki dan lainnya. Dan sayapun bersyukur betapa ALLAH telah menciptakannya dengan sebaik-baiknya untuk saya. Bagaimana dengan anda, sudahkah bersyukur dengan organ yang kita punya?

Keterangan:
Brakidaktili adalah suatu kelainan yang dicirikan dengan jari tangan atau kaki yang memendek karena memendeknya ruas – ruas tulang jari.
Penderita brakidaktili memiliki gen dalam keadaan heterozigot (Bb). Individu yang memiliki gen dalam keadaan homozigot dominan (BB) menyebabkan kematian pada masa embrio, sedangkan dalam keadaan heterozigot hanya mempunyai dua ruas jari , karena ruas jari yang tengah sangat pendek dan tumbuh menyatu dengan ruas jari lain. Individu dengan gen homozigot resesif (bb) merupakan individu normal.