Pemikirulung Kecil Cerminan Anak Indonesia

Entah kenapa pagi ini saya jadi bernostalgila, teringat kenangan masa kecil. dan saya jadi pengen cerita. Yowis ditulis saja, itung-itung lagi momen âhari anak nasionalâ?.

Pemikirulung kecil adalah anak indonesia kebanyakan. Tak ada yang terlalu istimewa darinya. Pemikirulung kecil adalah seorang anak perempuan dengan postur tubuh kecil, tidak kurus dan tidak juga gemuk. Pemikirulung kecil adalah anak perempuan penurut, berteman banyak, berprestasi sekolah lumayan. Tidak nakal, tidak suka bikin onar.

Itulah yang ingin digarisbawahi, tidak nakal dan tidak suka bikin onar. Pemikirulung kecil mirip-miriplah sama "amir di mata baba" di buku the kite runner. Tidak memiliki kemampuan untuk mengejami orang lain. Begitulah kira-kira. Bahkan sampai sekarang masih begitu.

Pemikirulung kecil hanyalah anak kecil. Yang kadang polos dan karena kepolosannya jadi bertindak bodoh. Yang karena tindakan bodohnya maka dia mencelakakan orang lain. Tapi Pemikirulung kecil tak berniat jahat. Tak bermaksud kejam. Hanya kepolosan.

Berhubung bapak Pemikirulung adalah seorang yang "tua" dalam silsilah keluarga. Maka kalau dari segi struktur keluarga, Pemikirulung meski masih kecil sudah punya ponakan. Tak lain dan tak bukan adalah cucu dari budenya. Ponakan Pemikirulung, tak sedikit yang hampir seumuran. Bahkan ada yang lebih tua.

Ceritanya suatu hari di kehidupan Pemikirulung kecil. Dia berkunjung ke rumah family bersama bapaknya. Ke rumah seorang "mas". Dan di sana ada anak âmasâ? yang itu artinya adalah keponakannya. Waktu itu mereka bertiga. Pemikirulung kecil dan 2 ponakannya. Sebut saja si budi dan wati. Saat itu mereka bermain bersama, mainnya di rumah om yang tak jauh dari rumah "mas" (maap ya kalo puyeng). Sampai akhirnya mereka memutuskan untuk pindah. Pergi meninggalkan rumah om, menuju rumah "mas", yang mana bahwa mas ini adalah ayah wati.

Pemikirulung kecil diajak berkonspirasi oleh budi untuk mengagetkan wati. Awalnya mereka sepakat untuk menempuh jalan yang sama dari rumah om menuju rumah wati. Tapi, budi bersiasat, mereka berdua menempuh jalan pintas sementara wati tidak tahu. Dia berjalan memutar. Sehingga "duo siasat" ini sampai duluan di rumah wati. Dan mereka menunggu di suatu tempat untuk mengagetkan wati begitu dia sampai.

Diam-diam mereka bersembunyi. Terdengar langkah wati di kejauhan. Dia berlari, di kegelapan malam, sendirian. Begitu wati sampai, "dor!!". Budi dan Pemikirulung kecil kompak layaknya suporter bola kalau ada bola masuk ke gawang. Wati kaget. Sangat kaget tepatnya. Pemikirulung kecil dan budi cengengesan. Merasa upaya mereka berhasil, puas sekali. Tapi tidak lama. Karena di depan mereka wati jatuh tersungkur, menangis, napas terengah-engah, tangannya memegang dada, ekspresinya meringis, kuku dan mulutnya berubah kebiruan. Wati, dengan napasnya yang satu-satu menangis memanggil bapaknya. Saat itu juga Pemikirulung kecil menyadari kesalahannya. Sebuah kesalahan besar.

Bapak Pemikirulung keluar dari rumah ayah wati. Ayah wati juga keluar. Sama-sama keluar mereka. Bedanya, ayah wati lantas menolong wati, sementara bapak Pemikirulung memarahi Pemikirulung habis-habisan. Tapi, tanpa dimarahi Pemikirulung kecil sudah sangat menyadari kesalahannya. Dia tahu bahwa siasat mengagetkan wati yang sejak lahir punya kelainan jantung congenital adalah kesalahan fatal. Pemikirulung kecil hanya bisa menyesal, kenapa tadi dia melakukannya. Mau saja dia bersekutu dengan budi, keisengan polos, padahal dirinya lebih tua. Harusnya lebih waspada. Pemikirulung kecil cuma diam dan ketakutan, melihat ponakannya yang memang punya kelainan jantung itu sedang megap-megap di depannya.

Pemikirulung kecil hanya polos dan pendek akal. Tak ada niat jahat. Tak ada kemampuan mengejami orang lain.

Lain waktu, Pemikirulung kecil juga punya cerita. Lagi-lagi dengan family. Kali ini dengan keponakannya yang lain. Di suatu sore, di tempat family yang hajatan. Pemikirulung kecil bermain-main bersama ponakan, kali ini bukan budi, bukan pula wati, sebut saja dia amir. Saat itu dia berdiri di pinggir jalan. Jalannya agak tinggi dibanding tanah di sekitarnya, tingginya sekitar 0.5 m. Di sebelah jalan itu, di bawah, adalah teras rumah lain. Dan sore itu, teras rumah itu becek. Pemikirulung kecil yang sedang berdiri di pinggir jalan, di ketinggian, berdiri menghadap teras rumah. Dari belakangnya, amir mendorong sambil memegangnya, amir bilang âuntung gue peganginâ?, gerakannya seolah-olah mengguncangkan badan Pemikirulung kecil. Mendorong, tapi sambil dipegangin. Pemikirulung kecil kaget sekaget-kagetnya. Hampir saja dia jatuh setinggi 0.5 m. buat anak-anak, itu lumayan tinggi juga.

Pemikirulung kecil merasa tidak terima telah dikejutkan seperti itu. Diapun berpikiran membalas. Setelah melihat kesempatan, dia tak mau melewatkannya. âuntung gue peganginâ?, begitu kata Pemikirulung kecil, persis meniru. Tapi sayangnya, hanya kata-katanya yang ditiru, tapi tidak metodenya. Pemikirulung kecil mendorong amir ke arah teras begitu saja. Dan jatuhlah si amir. Jatuh dari ketinggian. Jatuh tengkurap. Kena becek-becekkan. Amir menangis. Menangis sejadi-jadinya. Sepanjang tangisannya dia menyebut-nyebut nama Pemikirulung, tapi diberi tambahan kata ânakal, pukul aja diaâ?.

Pemikirulung kecil cuma bengong, bingung dia, kenapa amir bisa jatuh segitu fatalnya padahal dia tadi tidak. Pemikirulung kecil akhirnya sadar, bahwa kalimat âuntung gue peganginâ? merupakan gabungan dari kata âuntungâ? dan frase âgue peganginâ?. Pemikirulung kecil hanya tahu dia tadi didorong, dan diapun membalas begitu.

Pemikirulung kecil tidak sadar, bahwa perbuatannya dan perbuatan amir adalah hal yang sangat berbeda. Dia tidak tahu, bahwa kata-kata âsukurin lo gue dorongâ? lebih cocok digunakannya tadi ketimbang âuntung gue peganginâ?. Karena memang itu yang dia lakukan. Mendorong. Dan tak ada sama sekali unsur memeganginnya, tidak seperti amir tadi.

Pemikirulung kecil hanya polos dan pendek akal. Tak ada niat jahat. Tak ada kemampuan mengejami orang lain.

Begitulah 2 fragmen dalam kehidupan Pemikirulung kecil. Hanya kepolosan anak-anak. Kepolosan yang membawa kebodohan. Kebodohan yang kemudian mencelakakan. Untungnya hanya 2 kisah sepanjang masa kanak-kanak. Karena Pemikirulung kecil hanyalah anak Indonesia kebanyakan. Kenakalannya bukan rencananya. Selebihnya, dia hanyalah anak kecil biasa.

~selamat hari anak nasional wahai para anak. untuk kisah pemikirulung kecil lainnya, buka tag "nostalgila", semoga bermanfaat. dan jangan ditiru. hoho.

~makasi buat
diah yang rela hati bantuin publish tulisan ini, kau adalah yang pertama, namun bukan yang terakhir bagiku (hihihihi) *sambil lirik cewe laen*, kata Diah,"
Ah abang..kok gitu?"

baca juga
Jejak Kelicikanku

Advertisements

Dikenal Guru Atau Dosen, Haruskah?

Dulu banget, (kesannya gw tua banget yak), waktu aku mau masuk SMP, abang dengan pikiran anehnya ngasi wejangan yang juga sangat aneh “de, kalo udah SMP, muridnya banyak, ngga kaya SD, nah kalo pengen diinget sama guru, lo mesti kalo ngga jadi yang paling pinter, elo jadi yang paling bandel di sekolah”, dan wejangan abangku ini disambut dengan “bener de” dari kakakku yang sealiran sama abangku ini.

Abangku ini ngasih wejangan demikian karena emang dia udah membuktikannya sendiri. Dia jadi orang yang dikenal sama guru-gurnya di SMA karena bandel banget di sekolah, bersamaan dengan dikenalnya kakaknya –yang berarti kakakku juga—di sekolah yang sama, dengan beda umur cuma 1 tahun, jadi anak paling pinter di sekolah.

Tapi sebandel-bandelnya abangku ini, dia adalah cowok dengan tulisan terbagus yang pernah kulihat. Dia juga masih inget rumus luas lingkaran waktu aku iseng-iseng ngetes setelah sekitar 10 tahun dia ngga ketemu bangku sekolahan, dan disaat yang sama tetanggaku yang masih sekolah di SMEA (abal-abal sih) ngga tau 4 x 2 berapa padahal dia minta ajarin matematika dasar. Dia juga selalu dapet sekolah negeri sampe lulus SMA, hal yang tetangga-tetanggaku sekarang ngga bisa. Yah seperti yang abangku bilang suatu hari “gw itu ngga pinter pem, cuma beruntung” najong!

Tapi apakah akhirnya aku menjalankan wejangan abangku ini? Ngga juga. Aku Cuma jadi anak yang biasa aja di SMP dulu, yah kalo aku bilang sih masa keemasanku itu ada di kelas 1, masa dimana kalo guru nanya tau-tau aku bisa jawab dan temen-temen disekitarku pada terheran-heran “eh si pemi ada otaknya juga?”. SMA juga ngga jauh beda, ngga pinter-pinter amat, juga ngga jadi paling bandel di sekolahan. Pelanggaran yang paling sering kulakukan paling datang terlambat ke sekolah, kemeja yang ngga dimasukin (ke rok), atau ngga hormat bendera kalo upacara. Aku ngga pernah tuh melakukan hal bandel kaya, ngelempar kaca ruang guru, ngebocorin ban mobil kepala sekolah, kencing di tengah lapangan basket atau nyolong AC kelas (secara kelas gw ga ada AC-nya) btw emang ada anak bandel yang begini, gw juga belom pernah nemu sih.

Satu hal yang membuatku bersyukur namaku ngga diinget guru adalah waktu Pak Anwar yang lagi jadi pembina upacara tiba-tiba teriak manggil nama seorang anak, dari depan, di posisinya sebagai Pembina yang sedemikian rupa sehingga deket mik, “Pulgoso!!” (identitas gw samarin demi kebaikan bersama). Hal itu dia lakukan karena di posisi dia berdiri dia ngeliat si Pulgoso lagi becanda-becanda sama temen-temennya di barisan.

Nah kalo sekarang di kampus gimana? Hmm..secara anak FIK kebanyakan cewek, yang biasanya gampang diinget dosen adalah mahluk berkromosom XY. Paling yang kenal aku fasilitator praktikum KDM dulu, yah secara kita sekelompok saban ujian kena omel mulu dan dialah yang ngawasin ujian kita. Kan kurang dramatis tuh kalo ngomel tapi ngga inget namanya “heh..kamu-yang-saya-ngga-inget-namanya kenapa kateternya udah dimasukin air aja..” atau pas lagi evaluasi bilang “besok kalau udah jadi perawat jangan kaya tadi ya, naro handuk basah di dada pasien seperti yang dilakukan Dia Yang Namanya Tak Boleh Disebut” (jadi kaya baca Harry Potter ketimbang praktikum kan?) Atau PA-ku yang memang sudah semestinya hapal nama kita semua yang dibimbing beliau.

Tapi ada satu lagi nih dosen yang kenal sama aku, dan ternyata ada ngga enaknya juga dikenal dosen. Pasalnya waktu kuliah beliau aku ngga masuk, dan habis ngajar dia ngecek absent dan menyadari aku ngga masuk. Sampai suatu hari kita ketemu di parkiran dan dia negor, “Pemi kemana senin kemaren kok ga masuk?”, aku yang bingung dalem hati bilang “waduh..si ibu tau ya..”, dan menjawab dengan jawaban yang biasa aku kasih kalo udah ngga tau mau jawab apa alias Cuma nyengir-nyengir dan ketawa-ketawa doang, “hehe..ngga jelas bu, alesannya ngga syar’i” jawabku.

Ternyata bu dosen ngga puas dengan jawabanku yang cengengesan itu (mungkin nyengir gw kurang lebar), dan nanya ke mba dwi (kakak-ku), si ibu emang sebenernya kenal sama mba dwi, berhubung aku adeknya, dia jadi kenal aku juga. “Si Pemi kemana hari senin ngga masuk kuliah”, mba dwi pun jadi bingung “ga tau bu, anaknya sih berangkat kuliah mulu tiap hari”, dan sampe dirumah mba dwi nanya di depan bapak, mama dan abang ipar “de hari senin kemana ngga masuk kuliah? Aksi apa urusan da’wah (orang yang denger mungkin nyangka gw ustadzah majlis ta’lim)”, aduh mak..aku yang ditanya bingung jawabnya.. Orang serumahpun menunggu jawabanku, yang akhirnya jawab ”mmhh..gimana ya..pokoknya ngga syar’i dah..”

Jadi kesimpulannya dikenal guru atau dosen penting ngga sih? Ya penting juga sih, asal kita dikenal karena kebaikan kita..dan bukan sebaliknya..

4 R Terunik Sepanjang Masa: Rektor, Rusa, Rapot dan Rekor

Waktu awal-awal jadi ketua BPM FIK sebenarnya aku mau menulis blog yang judulnya âBegini ya Rasanya Jadi Ketua Lembaga (Yang Satu-satunya Perempuan) Di UIâ? tapi belum sempat blog itu kuposting, boro-boro di post ditulis aja belum, aku udah lengser. Yah namanya juga periode transisi, jadi cepat berlalunya. Kayanya baru kemarin aku koar-koar di GO Pemira, baca blog ini, bolak-bolak ke sekretaris Dekan bikin janji ketemuan, atau ditegur âgimana sih ketua BPMâ? kalau bersalah.

Momen-momen di awal aku diamanahi jadi ketua BPM memang momen-momen yang unik dan mengesankan makanya waktu itu ingin sekali kutulis di blog. Di postingan ini akan aku ceritain pengalamanku sebagai undangan di seleksi calon rektor UI. Begini ceritanya..

Seleksi calon rektor ui diselenggarakan di balai sidang BNI. Dari kalangan mahasiswa yang diundang hanyalah ketua lembaga legislative dan eksekutif masing-masing fakultas dan UI. Waktu seleksi dari 7 calon menjadi 3 aku datang ke balsid agak ngepas (FYI undangan dari mahasiswa harus pakai jakun, jadi didalam balsid maksimal hanya ada 26 orang undangan yang pakai jakun dan semuanya mahasiswa) dan didalam sudah ada undangan dari kalangan mahasiswa yang lain yang datang, dan tentu saja semuanya cowok. Aku bingung, hal yang pertama terlintas adalah âduh gw duduk dimana nihâ?, bener-bener serba salah waktu itu, kalau duduk bareng cowok-cowok itu, aku bakalan jadi cewek sendirian, malu banget, banyak ikhwannya, ngga tau ngobrol apa, akhirnya daripada nanti duduk ngga nyaman, akhirnya aku memilih tempat di baris yang berbeda dengan mereka, dan konsekuensinya aku adalah undangan yang pake jakun sendirian di barisan itu, terpisah dari geng jakun yang lain. Kayak rusa-yang-terpisah-dari-kawanan (halah).

Seleksi terakhir calon rektor juga ngga lebih baik, lebih parah malah. Seleksi dari 3 kandidat menjadi 1 rektor terpilih diadakan di balsid lagi, dan kalangan mahasiswa juga diundang, Cuma ketua lembaganya aja, pokoknya samalah dengan seleksi sebelumnya. Sebenernya waktu dapet jarkom disuruh datang aku males banget, yah secara sebenernya kita ngga punya hak bicara, hak pilih, pokoknya cuma punya hak menonton dan berpersepsi masing-masing (ya iyalah) ditambah dengan kondisi rusa-yang-terpisah-dari-kawanan (RYTDK). Bayanginnya aja udah males, apalagi sorenya ada pembagian rapot TPA dan aku belom selesai ngisi rapotnya. Tapi malemnya aku dapet sms dari mba ami bunyinya gini âLudi, jangan lupa besok datang ke seleksi terakhir calon rektor di balsid ya..tunjukkin bahwa akhwat, khususnya akhwat FIK itu eksis..â? hu..akhirnya niatan ngga datang terpaksa kusingkirkan, nurut mba ami aja deh.

Paginya aku datang agak pagi (lebih pagi dari sebelumnya) bareng sama juned ketua BEM teknik, temen sekelas waktu sma. Didalem baru 1 orang mahasiswa (klo ngga salah), dan seperti kemarin aku duduk di baris yang terpisah sama juned, 2 baris didepan (klo ngga salah juga), ngga lama datang si smile, ketua BEM fasilkom, temen sekelas waktu sma juga. Dalem hatiku âyang udah datang anak 39 semua, jadi kaya reunian kitaâ?. Terus bermunculanlah ketua-ketua lembaga yang lain, salam-salaman, tegor-tegoran, ngobrol-ngorbrolan, dan GW GA DIAJAKIN! Ya iyalah, diajakin ngobrol juga pasti aku agak canggung. Lebih parahnya lagi, si cowok-cowok ini barengan pindah ke barisan depan sebelah kiri (posisi aku waktu itu di kanan belakang) dan lagi-lagi GW GA DIAJAKIN! Alhasil aku bener-bener kaya RYTDK. masih belum cukup parah, waktu shofwan maju buat ngasih suara, mereka semua pada berdiri teriak-teriak yel UI, dan masih dengan modus operandi sebelumnya GW GA DIAJAKIN! Si ibu-ibu yang duduk di sebelah bilang âko ngga kaya temen-temennya mba?â? ah sial, ngga pada bilang mo yel-yel..tapi yah kalopun bilang aku yang kaya RYTDK ini juga ngga mungkin teriak yel sendirian di bangku-ku yang jauh dari mereka, yang ada aku malah jadi RYTDKTNSS rusa-yang-terpisah-dari-kawanan-tapi-ngga-sadar-sikon.

Begitulah pengalamanku hari itu, mungkin kalo ada award undangan terunik aku bakal menang dengan mutlak, gimana ngga, satu-satunya undangan mahasiswa cewek, satu-satunya jakun-ers yang terpisah dengan geng jakun, paling muda (kalo mau disurvei pasti gw paling muda, yakin!), dan satu-satunya undangan yang mengikuti acara sambil ngisi rapot!

Mestinya aku ngundang Jaya Suprana yah, bisa mecahin rekor untuk ke3 kalinya tuh, sebagai satu-satunya orang yang menyaksikan seleksi terakhir calon rektor UI sambil ngisi rapot

Iya Bu, Ini Pemi Yang Itu..(Sebuah Nostalgila Masa TK)

Kemarin di acara pernikahan kakakku guru TK-ku dateng. Keluargaku pada heboh, manggil-manggil “De…ada bu guru-nya nih dateng”, dan ternyata bu guru-ku itu juga nyari-nyari aku, “Pemi mana?”, katanya. Waktu kita ketemu bu guru-ku itu takjub,

“ini Pemi?”

“iya bu”

”wah udah gede banget kamu ya nak”

“iya bu, dulu mah paling kecil di kelas ya bu?”

“iya, ngga nyangka kamu bisa gede juga”

 

Bu guru yang mengajarku 16 tahun yang lalu itu masih ingat dengan Pemi ini..

 

Iya Bu..ini Pemi..

 

Pemi yang perasaannya melompat-lompat sepanjang perjalanan mau mendaftar TK

 

Pemi yang masih 3 tahun waktu diajar ibu dulu

 

Pemi yang sering sekali tidak selesai menulis karena sibuk mengobrol dengan teman di kanan-kiri

 

Pemi yang begitu sedih waktu ada teman yang keliru mengambil buku mewarnai dan mewarnai buku Pemi secara tidak sesuai dengan contoh, padahal Pemi begitu pandai mewarnai

 

Pemi yang selalu merasa jijik di hari menyikat gigi bersama-sama di sekolah karena tidak suka dengan pasta gigi rasa buah dan bertambah kejijikannya ketika melihat teman-teman yang lain begitu doyannya menyicipi pasta gigi tersebut

 

Pemi yang begitu semangat untuk menjadi contoh menari di depan sampai menaris selincah mungkin waktu pemilihan

 

Pemi yang begitu takjub waktu Dika bisa menjawab pertanyaan ibu apa arti warna merah-putih di bendera Indonesia, karena pada saat itu bahkan Pemi tidak tahu apa warna bendera kita

 

Pemi yang hampir setiap pagi dititip ke tetangga untuk nebeng berangkat sekolah bareng

 

Pemi yang hobi sekali main ulek-ulekan campuran bunga soka dan genteng waktu istirahat

 

Pemi yang tidak suka permainan jungkat-jungkit karena berat badannya lebih ringan dari teman mainnya jadi tidak bisa mengimbangi sehingga tidak pernah menemukan

permainan jungkat-jungkit yang dinamis  

 

Pemi yang tidak pernah berani naik perosotan dari puncaknya, karena takut naik tangga tinggi-tinggi

 

Pemi yang pernah celaka waktu main ayunan, terbalik dengan kepala dibawah dan terantuk batu-batuan waktu main sama Mba Dyah, membuat Mba Dyah ketakutan setengah mati dimarahi mama karena sudah membuat adik kecilnya terluka begitu parah

 

Pemi yang  senang sekali kalau ada pembagian makanan tambahan di kelas dan tidak pernah berani mengaku kalau si pembagi makanan bertanya “siapa yang mau nambah?”

 

Pemi yang memaksa masuk SD padahal umurnya kurang dan belum lulus TK sehingga tidak pernah mendapat ijazah TK sampai sekarang

 

Pemi yang kecil dan ditaro ibu duduk diujung deket pohon di foto kelas kita, membuat Mba Dyah suka bilang “itu tuh Pemi yang ketutupan pohon”

 

Iya bu..ini Pemi yang itu..meskipun Ibu mungkin tidak pernah tahu semua ini…

 

Kalo Pake "Daster" Ke Sekolah

Dulu waktu SMP, masa dimana badanku terus mekar ke samping dan tidak pernah menyusut sampai sekarang, karena rok yang biasa kupake udah sempit dan pendek, akhirnya aku dibikinin rok baru yang gede sekalian karena mba-ku –yang jahit roknya—berasumsi aku akan terus membesar –dan sayangnya iya. Rok baru yang dibikin bener-bener lebar, aneh emang, tapi lebih aneh lagi karena setelah itu ada beberapa cewek yang make rok lebar juga, he..pada ngikutin nih, jadi enak.

 

Tapi suatu sore waktu pulang sekolah, ada cowok rese yang berkomentar

“woi, itu rok apa daster”

“kurang ajar”, batinku. Aku ngeloyor aja, ngga jawab, meninggalkan dia ketawa sama temen-temen kurang ajarnya.

 

Sampe dirumah aku cerita sama mba-ku dirumah –kebiasaan dari kecil sampe sekarang—dan tanggapan mba-ku bener-bener ngga terduga –kenapa aku bisa lupa kalo dia rada gokil ya?—“kenapa ngga lo jawab de, siapa bilang ini daster, ini sarung tau!”

jejak kelicikanku…

Dulu, waktu aku masih kelas 6 SD, kita sekelas diberi tugas oleh guru KTK untuk menghias kendi. Aku bermaksud untuk menghias kendi dengan menempeli permukaannya dengan biji-bijian yang diatur sehingga menjadi gambar bunga.

Akhirnya siang itu, aku dan teman dekatku waktu kelas 6 SD, Utami, pergi mencari biji-bijian berwarna merah. Lokasi pohonnya sekitar 500m dari rumah –mudah-mudahan bener, maklum ngga bawa meteran– Waktu kita lagi asik mungutin biji-bijian yang pada berjatuhan di tanah, tiba-tiba ada seorang bapak mengendarai motor menghampiri kami.

Dia bertanya pada kita, “de, kolam renang tirta yudha dimana sih?”

Kita -gw lupa tami pa gw sebenernya- jawab “disana pak -sambil nunjuk arah yang dimaksud- trus masuk ke dalem”

Sebenernya percakapan berikutnya aku agak lupa tapi kira-kira begini

bapak2: “ya nih keponakan saya mo minta diajarin naik motor, tapi sekarang anaknya lagi berenang”

kita berdua: “ooh..”

bapak2: “lw berdua lagi ngapain? ikut gw aja yuk anterin ke sana” 

kita berdua jadi bingung dan takut diculik sama ni bapak2

aku: “bapak saya kantornya deket situ, dan belom pulang, ntar kalo kita ketemu saya takut dimarahin”

bapak2: “ntar gw kasih uang deh”

seperti reaksi hampir semua orang mendengar 4 huruf itu, kita berduapun mulai berubah pikiran

Akhirnya singkat cerita kita berdua mau untuk nganterin bapak itu ke kolam renang. Tibalah saat kita mesti naik motor bapak itu. Dan kita berdua menemui permasalahan “siapa yang mo duduk di tengah?” (duduk di tengah berarti duduk tepat di belakang bapak itu -red)

Setelah kita berdua berdebat karena ga ada yang mau duduk di tengah, akhirnya kita sepakat untuk suit buat menentukan, yang kalah bakal duduk di tengah.

tu..wa.. ga..suit, ternyata aku yang kalah. Akhirnya aku naik ke motor duluan, tapi.. aku langsung duduk mundur ke belakang sedemikian rupa sehingga tidak ada space lagi buat orang lain duduk di belakangku. Utami yang ngeliat keadaan itupun jadi bingung

tami: “majuan pem”

aku: “ga mau ah”

tami: “majuan cepet”

Aku tetep kekeuh ga mau maju, akhirnya dengan gaya pasrahnya Utamipun menyerah dan duduk di tengah walaupun nyata-nyata dia menang suit tadi. Dan akupun tersenyum penuh kemenangan.

Kalau ingat tentang kisah ini, aku pasti berpikir “licik banget gw ya?..”