Sampai Di Mana Batas Usaha?

picsource: abilashpraveen.com

picsource: abilashpraveen.com

Alkisah ada sepasang suami istri. Mereka berdua sangat berbeda dalam banyak hal, tapi mereka bisa mengatasi perbedaan itu dan akhirnya menikah. Sang istri lebih tua setahun dari suaminya, berasal dari keluarga kaya. Si istri tipikal perempuan yang polos, kutu buku, pintar secara akademik, akhirnya jadi dokter gigi, dan sebagaimana kebanyakan perempuan macam itu, secara tampilan fisik ga terlalu menarik. Haha. Si perempuan ini wajahnya biasa aja (ga cantik). Sementara sang suami yang lebih muda, ganteng banget, badannya bagus, tapi nakal, playboy, waktu muda kerjanya main, gonta-ganti pacar, cuma lulusan sma, berasal dari keluarga miskin pula. Sebelum menikah, si perempuan biasa jadi “dompet” cowoknya, kalau belanja atau makan, dia yang bayar. Si cowok ini berhubung dia ganteng dan badannya bagus, dia tertarik menjadi model dan ikut sekolah modeling. Itupun pakai uang pinjaman.

Meskipun ditentang keluarga dari kedua belah pihak, akhirnya mereka menikah. Kawin lari. Si cowok yang biasa hidup semaunya tiba-tiba memiliki tanggung jawab untuk menghidupi anak orang. Si cewek yang biasa hidup enak, rumah mewah, duit banyak, rela meninggalkan semuanya dan tinggal di kontrakan murah. Karena harus menafkahi diri sendiri dan istrinya, si cowok berhenti sekolah modeling (yang memang belum menghasilkan duit) dan kerja di pabrik. Tiap pagi berangkat pakai jas dan dasi, padahal kerjanya di pabrik, cuma demi istrinya bangga melihat suaminya jadi sallary man yang bertanggung jawab pada keluarga. Di pabrik dia tidak disukai teman kerjanya karena selain kerjanya ga becus, dia juga diterima di situ karena dimasukkan oleh pemilik pabriknya yang kebetulan pacar kakaknya. Akhirnya karena tidak cocok kerja di pabrik, dia beralih jadi supir taksi. Seorang anak badung yang kalau kepepet suka nyolong duit emaknya, kerjanya main-main waktu muda, menjadi seorang pekerja kasar meskipun terpaksa, demi cari nafkah keluarga.

Suatu hari ada kesempatan lagi untuk jadi model. Dia ditelepon oleh temannya di sekolah modeling dulu, ada tawaran khusus untuknya untuk menjadi model katalog. Tapi dia sudah bertekad untuk keluar dari dunia modeling karena istrinya ga setuju. Istrinya melihat modeling tidak memberikan prospek yang bagus untuknya. Tanpa disangka, suatu malam, sambil mijetin kakinya, istrinya bilang

“aku membuat keputusan yang salah. Aku melakukan hal yang aku suka, tapi kamu tidak. Rasanya kejam kalau aku tidak membiarkan kau melakukan hal yang kau inginkan.

Aku tidak bisa menunggu selamanya, tapi aku akan menunggumu selama satu tahun. Berusahalah semaksimal mungkin sebagai seorang model selama satu tahun. Tapi jika kau tidak sukses juga, maka berhentilah tanpa ada penyesalan.”

Akhirnya si suami kembali menjadi model dan ternyata sukses. Dia bisa menghidupi keluarganya dari pekerjaannya sebagai model. Dan dengan itikad yang baik dan tanggung jawabnya yang sudah terbukti, akhirnya mereka mendapat restu dari orang tua mereka.

Sesungguhnya kisah ini hanya pendahuluan saja, belum masuk ke pembahasan utama, hahaha. Kisah suami istri ini hanyalah cerita di drama korea (pasti udah pada bisa nebak). Saya tonton drama ini hampir 10 tahun lalu, tapi kisah pasangan ini membekas banget, bahkan lebih menarik daripada kisahnya pemeran utama.

Saya merasa gagasan “tidak bisa menunggu selamanya, tapi memberi kesempatan setahun” menarik sekali. Satu pertanyaan muncul dan sampai sekarang saya tidak tahu jawabannya “adakah usaha itu berbatas waktu?”. Mungkin ada sebagian dari kita yang pernah mengalami, berusaha untuk mendapatkan sesuatu tapi tidak kunjung berhasil. Kalau anda tidak pernah, saya sering. Hehe. Pilihannya cuma 2, meneruskan usaha, atau menyerah dan mengambil jalan lain.

Sering orang bilang, sukses adalah gagal + 1. Kalau gagal, usaha lagi, karena bisa jadi sukses hadir tepat setelahnya. Tapi pernahkah anda, usaha lagi, tapi ga ketemu sukses juga? Maka, mungkin sukses adalah gagal + tak hingga. Pertanyaan saya, sampai di mana kita berusaha? Jika sidang pembaca tahu jawabannya, sudilah menjawab di kolom komentar di bawah.

Saya jadi berpikir memberi batasan waktu pada sebuah usaha rasanya lebih masuk akal. Usaha mati-matian jadi model selama setahun, kalau masih ga berhasil juga, mending cari pekerjaan lain saja, contohnya. Apakah ini jalan yang ditempuh orang-orang yang berputus asa?

Ketika saya bilang memberi batasan waktu untuk sebuah usaha, bukan berarti ketika sampai pada batas waktu yang ditentukan kemudian kita cuma leha-leha dan putus asa. Tapi yang dilakukan setelahnya adalah mengalihkan usaha pada bentuk yang lainnya. Misal usaha di bisnis kuliner, tapi bangkruuuuut terus. Mau terus-terusan bisnis kuliner? Atau memilih untuk berhenti dan melakoni bisnis yang lain? Atau misalnya ikut spmb ambil kedokteran tapi gagaaaaal terus. Mau terus-terusan pilih kedokteran atau berhenti pada satu titik dan pilih jurusan lain?

Serius ini mah tulisan isinya pertanyaan. Silakan bantu dijawab.

Advertisements

Hemat (Bukan) Pangkal Kaya

rahasia sukses

Sukses Itu Seperti Gunung Es

Sepertinya ada yang kurang tepat dari slogan “Rajin pangkal pandai. Hemat pangkal kaya”. Karena saya ini orangnya hemat banget (kalau ga percaya, tanya kakak-kakak saya, hehe) tapi sampai sekarang saya bukan orang kaya.

Di pelatihan internet marketing kemarin, pembicaranya kasih tahu trik SEO, salah satunya adalah selalu update. Untuk bisa “dilirik” google, sebuah website harus terlihat aktif, yaitu dengan selalu menambahkan konten artikelnya. Minimal, kata si pembicara, ada 20 konten baru setiap bulannya. Itu minimal! Sontak yang hadir di pelatihan-yang sebagian besarnya ibu-ibu-pada kaget, mungkin boleh dibilang shock. Hehe.

Si pembicara bilang, untuk jadi orang sukses itu harus R A J I N. Dia tambahkan, “ibu pernah lihat orang yang website-nya masuk halaman 1 google? Lingkaran matanya pada item-item bu, kurang tidur!” (kira-kira gitu lah ya dia bilang). Mungkin ini sedikit lebay, tapi banyak benarnya. Tidak ada kesuksesan tanpa kerja keras. Pantesan saya belum kaya, lingkaran mata belum pada menghitam! #gagalpaham. Tulisan yang dulu suka ada di sticker atau kaos “muda foya-foya, tua kaya raya, mati masuk surga”, itu mah impiannya yang bikin sticker aja. Tai sapi! Kalau orang barat sana bilang.

Mungkin slogan itu memang perlu direvisi, biar anak Indonesia tidak salah mindsetnya. Rajin belajar memang bisa bikin pandai. Tapi cuma berhemat ga bisa bikin kamu kaya nak. Rajin cari uang, kerja keras, itu yang bisa bikin kaya. Kalau mau ditambah lagi, kaya yang barakah, harta yang baik, hidup yang benar, berarti tambah lagi persyaratannya.

[NulisRandomDay8] Karni Ilyas vs Andi Noya Menang Siapa?

Saya masih ingat di satu episode ILC -yang langka saya tonton- ada pemirsa mengkritik Karni Ilyas. Dia bilang, kenapa sih Karni bikin acara yang seperti itu, kenapa tidak seperti Andy Noya dengan program Kick Andy nya. Menurut si pemirsa tsb Kick Andy lebih bermanfaat dan inspiratif ketimbang ILC, sehingga dia menyarankan lebih baik Karni membuat program serupa saja.

Saya lupa bagaimana persisnya jawaban Karni Ilyas, yang saya ingat adalah saya suka sekali jawabannya. Hehe. Intinya dia bilang biarlah Andy Noya punya  program Kick Andy dan dia punya program ILC, ga bisa semua program seragam menjadi semacam Kick Andy semua, masing-masing orang punya caranya sendiri.

Saya sendiri juga ga suka ILC, tapi saya sependapat dengan beliau. Bayangkan jika semua stasiun TV hanya menayangkan kick Andy dan sejenisnya sepanjang hari sepanjang tahun, manfaat?

Pada hemat saya, kadang kita suka terjebak dengan hal-hal demikian. Menganggap yang ini manfaat, yang lain tidak, yang ini kontributif yang lain tidak, dst. Padahal tiap orang mungkin berjuang dengan metodenya masing-masing.

Ada yang menganggap, mahasiswa yang baik itu yang IPK bagus, ikut lomba keluar negeri, pulang bawa medali. Sementara mahasiswa yang turun ke jalan dan mendemo pemerintah, hanya berbuat kerusakan saja. Padahal sejatinya keduanya berjuang. Ada yang pikir berkarya itu yang mengajar di pelosok, yang lain pikir yang mengabdi itu yang jadi tentara di perbatasan, padahal ada mereka yang duduk di ruang ber-AC perkotaan mampu membuka lapangan usaha untuk masyarakat miskin. Ada yang menganggap kelompok yang menginisiasi gerakan sosial adalah yang paling gagah, padahal ada pula politisi di ruang dewan sedang berjibaku memperjuangkan undang-undang yang membawa maslahat untuk umat.

Allah sendiri membuat 8 pintu surga untuk 8 spesialisasi amal. Yang unggul puasa, masuk surga lewat pintu puasa. Yang berjihad dipanggil pintu jihad. Saya yakin, di surga nanti mujahid ahli surga ga akan songong bilang “heh, badan lo mulus ga ada tebasan pedang, orang kaya lo ko bisa masuk surga?” di depan ahli surga dari pintu taubat. Tidak akan ada yang seperti itu.

Jadi, janganlah merasa paling kontributif sendiri. Atau kalaupun tidak, janganlah mengecilkan amal orang lain, karena kita tidak tahu. Bahkan, ketika ada orang yang tidak jadi pengusaha yang memberdayakan umat, tidak mendidik generasi, tidak pergi ke penjuru negeri untuk berbagi, kerjanya hanya di rumah, dari lahir sampai dewasa tidak pernah pisah dari orang tua. Bisa jadi di rumahnya ia sedang merawat orang tuanya yang sudah renta, sesungguhnya ia sedang mengetuk pintu surganya sendiri.

ALLAHUa’lam

[NulisRandomDay3] Never Too Old To Start

“You are never too old to set another goal, or to dream a new dream” (CS Lewis)

Bermula dari sharing link seorang teman di Facebook, isinya info grafis (bener ga yah ini info grafis?) tentang beberapa pesohor di dunia ini yang baru memulai atau menemukan usaha nya di usia yang tidak lagu muda. Contoh gampangnya adalah Kolonel Sanders yang mulai KFC di usia 65 tahun!

Saya baru sadar, ternyata saya lebih termotivasi dengan fakta-fakta semacam itu. Fakta tentang orang-orang (yang dipandang) sukses yang sebelumnya menjalani hidup yang berliku. Ini pasti karena saya merasa hidup saya begitu juga. Hehe.

image

Termasuk pula kemarin, saat saya menjalani wawancara dengan ustad. Jadi ceritanya saya daftar sebuah ma’had untuk belajar Islam lebih dalam. Ketika ditanya ini itu oleh ustad dan saya tidak tahu jawabannya, rasanya malu betul. Puluhan tahun menjadi muslim, tapi rasanya tidak tahu banyak tentang Islam.

Namun hati yang tadinya ciut membesar kembali ketika ustad bilang ulama dulu juga ada yang baru menuntut ilmu setelah tua. Alhamdulillah, ada juga contoh ulama yang begitu (nanti dicek lagi, siapa-siapa saja ulama yang begini). Karena selama ini saya lebih sering mendengar para sahabat, tabiin, tabiut tabiin yang sudah gemilang sejak muda. Imam syafi’i hafal Qur’an sejak umur 5 tahun. Usamah bin zaid memimpin pasukan di umur 18 tahun. Jadi semangat kalau tahu ternyata ada juga yang telat kaya saya.

Hari ini dapat quote lagi, saya kutip di awal tulisan ini, “You are never too old to set another goal, or to dream a new dream”. Mumpung masih dikasih kesempatan hidup oleh Yang Mahakuasa, tidak ada salahnya untuk memulai.

image

Pahlawan (Tak Senilai) 10.000

Siapa pahlawan yang ada di uang kertas Rp 100.000, jangan nyontek ya, yup, Soekarno dan Hatta. Ini pertanyaan mudah. Bagaimana dengan pecahan Rp 50.000? agak lebih sulit tapi masih familiar I Gusti Ngurah Rai. Okeh, uang Rp 1.000, ah ini gampang banget, Pattimura. Hehe. Dari semua pecahan uang kertas yang berlaku sekarang, saya baru sadar bahwa ada 1 pecahan yang saya tidak tahu siapa dia, setidaknya sampai 2 pekan yang lalu.

2 pekan lalu kakak saya beli gantungan kunci berupa replika uang kertas pecahan 10.000 dan 20.000. saat itulah saya baru mengamati gambar di sana dengan lebih seksama dan saya baru sadar bahwa gambar di pecahan 10.000 itu adalah Sultan Mahmud Badaruddin II. Aih, kemana aja gue?!

hei hei siapa dia?

hei hei siapa dia?

Tidak cukup sampai di situ, sore itu saya juga baru menyadari bahwa selama ini saya hanya pernah dengar nama Sultan Mahmud Badaruddin tanpa tahu foto atau gambarnya. Waktu saya berseru takjub “oh jadi ini Sultan Mahmud Badaruddin? Baru tau!”, kakak saya menanggapi, “Sultan Mahmud Badaruddin itu yang kisahnya bla-bla-bla itu bukan sih, De?”. Dan satu lagi saya tersadar, saya juga tidak tahu sama sekali kisah kepahlawanan Sultan Mahmud Badaruddin II.

Berbeda dengan Soekarno, Hatta, Pattimura, I Gusti Ngurah Rai, dan pahlawan lain yang terpampang di lembaran uang yang berlaku sekarang, nama Sultan Mahmud Badaruddin baru saya dengar tahun lalu. Saya dengar namanya ketika menginjak bumi sriwijaya. Nama sultan diabadikan sebagai nama bandara di Palembang. Saya pikir Sultan Mahmud Badaruddin II (SMB II) adalah salah satu raja sebelum nusantara dijajah Belanda, itu saja. Ternyata beliau juga memilki kisah kepahlawanan yang menarik.

spanduk peninggalan sea games di palembang 2011 lalu

spanduk peninggalan sea games di palembang 2011 lalu

SMB II adalah salah satu raja di Palembang. Karena Bangka memiliki kekayaan timah yang luar biasa, kerajaannya yang meliputi wilayah tsb sangat diminati Inggris dan Belanda. SMB II adalah salah satu raja Melayu terkaya dengan harta berupa dollar dan emas yang tersimpan dalam gudang.

Seperti kisah-kisah perjuangan pahlawan lainnya yang sering kita dapat dari pelajaran sejarah di masa sekolah, SMB II juga tidak pernah dapat dikalahkan oleh Belanda. Dan lagi-lagi, seperti biasa, Belanda menggunakan taktik adu domba dan mencari penghianat-penghianat pribumi yang mau membantunya. Selain itu, Belanda juga biasa menyalahi perundingan yang sudah mereka sepakati. Ah, taktik licik nan jahat yang selalu berhasil.

Dalam berkali-kali pertempuran Belanda selalu kalah sehingga Belanda bersiasat memecah belah kesultanan. Beberapa Priyayi Palembang diperalat untuk membocorkan rahasia pertahanan Sultan Mahmud Badaruddin II. Akhirnya 3 tahun setelah penyerbuan terakhir Belanda datang lagi, namun kali ini korban Belanda tidak banyak berjatuhan. Karena kali ini peta lokasi pertahanan Sultan telah diketahui Belanda semua melalui mata-mata orang-orang Palembang sendiri, sehingga Belanda dapat menghindar dari serangan meriam-meriam SMB II di pinggir sungai musi itu.

Kekalahan SMB II terjadi pada bulan suci Ramadhan. Hari Jumat dan Minggu dimanfaatkan oleh dua pihak yang bertikai untuk beribadah. De Kock memanfaatkan kesempatan ini. Ia memerintahkan pasukannya untuk tidak menyerang pada hari Jumat dengan harapan SMB II juga tidak menyerang pada hari Minggu. Pada waktu dini hari Minggu, ketika rakyat Palembang sedang makan sahur, Belanda secara tiba-tiba menyerang Palembang. Paling depan adalah kapal yang tumpangi saudaranya SMB II Husin Diauddin dan Sultan Ahmad Najamuddin Prabu Anom. Akibatnya SMB II merasa serba salah, kalau ditembak saudaranya sendiri yang berada di kapal belanda, orang akan menganggap dirinya kejam karena sampai hati membunuh saudara karena harta atau tahta. Akhirnya SMB II kalah, lalu dirinya dan keluarganya diasingkan ke Ternate hingga wafat.

Saya heran kenapa tidak pernah mendapatkan kisah SMB II ini di pelajaran sejarah. Tapi ada untungnya juga membaca kisahnya sekarang, karena saya jadi lebih mudah membayangkan tempat pertempurannya. Armada Belanda yang datang dari pulau Bangka (Muntok) dan masuk ke Palembang melalui sungai musi. Penghalang kapal yang dipasang dari pulau Kemaro ke Plaju. Hingga di Benteng Kuto Besak sebagai pertahanan terakhir. Ah, rasanya ingin kembali ke tempat-tempat lagi dan menapaktilasi bagaimana pertempuran itu terjadi lebih dari seribu tahun lalu.

musi yang bersejarah

musi yang bersejarah

Membaca kisah SMB II menambah kebanggaan saya sebagai Indonesia. Di negeri ini bertaburan para pejuang. Dan hingga saat inipun para ibu Indonesia masih melahirkan pejuang, semoga itu termasuk kita.

keterangan tambahan:

poto uang 10.000 diambil dari http://image.yaymicro.com/rz_1210x1210/0/a54/sultan-mahmud-badaruddin-ii-a54e55.jpg
poto lain dokumentasi pribadi

kisah smb 2 diambil dari
infokito.wordpress.com/2007/11/05/masa-pemerintahan-sultan-mahmud-badaruddin-ii/id.wikipedia.org/wiki/Sultan_Mahmud_Badaruddin_II

Emang Ada Yang Ga Suka Dengan Hal Romantis? (bag. 2 end)

(baca dulu bagian 1-nya ya, ada di sini)


Romantisme, pada siapa kita berkaca?

Seperti tadi sudah saya bahas di awal, romantisme bisa kita lihat di tontonan roman. Di sana kita bisa melihat atau mencontoh segenap teknik romantis. Tapi kemudian saya berpikir, benarkah hanya pada hal itu kita bisa berkaca? Atau benarkah jika kita berkaca dari sana?

Menyedihkan memang ketika saya sadar, bahkan saya sendiripun jika ditanya siapa contoh pria romantis saya akan jawab Joh Guk atau Mo Ryong, hehe. Padahal ada satu pria nyata, ia yang padanya jelas-jelas kita bisa berkaca. Ya, RosuluLLAH, sholawat dan salam padanya.

Beliau adalah suri tauladan yang terbaik bagi kita. Bahkan dalam hal romantisme. Tidak percaya? Sebelum jauh mencontohkan, ada baiknya saya sampaikan dulu definisi romantis (telat banget ya, hehe). Menurut KBBI daring “ro·man·tis a bersifat spt dl cerita roman (percintaan); bersifat mesra; mengasyikkan”. Nah, siapa bisa memberi contoh sifat mesra dan mengasyikkan Rosul SAW?

Romantisme yang paling familiar mungkin adalah panggilan mesra Rasul SAW kepada istrinya. Kalau pasangan jaman sekarang manggil honey, sayang, beib, Rosul punya panggilan sayang untuk istrinya, Humaira. Adakah yang merasa itu tidak romantis? Saya kasih bocoran, ada seorang kawan, menyebut istrinya “si ndut” di depan orang lain. mungkin baginya “si ndut” adalah panggilan sayang, tapi buat saya itu lebih berkonotasi mengejek. Meski saya ini gendut, gendut banget bahkan, saya tidak akan suka kalau suami saya memanggil saya dengan sebutan “ndut” apalagi di depan orang lain. Gw lempar ulekan cowo kaya gitu.

Di siroh lain, Rosul SAW pernah bergantian memakai gelas dengan istrinya. Bayangkan ketika kita menyerahkan gelas yang habis kita pakai ke orang di depan kita, sudah tentu sisi gelas yang kita minum akan berlawanan dengan sisi yang akan diminum orang depan kita kan? Tapi Rosul SAW memutar gelas tersebut, sehingga sisi gelas yang menyentuh bibirnya, tepat dengan sisi yang menyentuh bibir istrinya tadi (cmiiw). Manis kan?

Atau ada lagi yang buat saya sungguh-sungguh menyentuh. Ketika Rosul SAW pulang larut malam, sudah mengetuk pintu tapi tidak terbuka (cmiiw) karena tidak ingin mengganggu istrinya yang sudah terlelap tidur, beliau, manusia mulia itu, seorang nabi, pemimpin kaum, memilih untuk tidur di luar. Coba dibayangkan jaman sekarang, adakah suami yang rela tidur di luar demi tidak mengganggu tidur istri?

Sayangnya, saya tidak banyak belajar siroh, jadi tidak banyak tahu tentang romantisme Rosul SAW.

Memang, tontonan, sebuah media audio visual akan lebih efektif untuk membuat kita mengingat. Dan di jaman sekarang ini, yang disuguhkan pada kita adalah romantisme ala korea, india, atau amerika. Sebenarnya tidak sepenuhnya salah jika kita berkaca dari mereka, menurut saya. Karena tidak semua tindakan romantis Rosul SAW bisa kita tiru bulat-bulat. Yang penting adalah konteksnya, tidak harus meniru kontennya. Seperti misal saya dipanggil humaira, alih-alih merasa diperlakukan romantis, saya malah jadi curiga jangan-jangan memang bukan saya yang dipanggil. Yah, gimana mau punya pipi kemerahan, lha wong kulit gw item, hehe.

Tak ada salahnya jika meniru Fujiomi atau Joh Guk yang menempatkan perempuan di sisi dalam trotoar. Sangatlah pantas meniru Mo Ryong yang tidak mencela masakan Yo Hee yang dimasak dengan susah payah meski rasanya tidak enak. Bahkan Rosul SAWpun pernah mengajarkan kita untuk tidak mencela makanan. Yang penting adalah berada dalam koridor yang dicontohkan Rosul SAW, romantisme itu, tidak diumbar pada orang-orang yang salah. Romantisme itu, tidak dilayangkan pada mereka yang statusnya belum halal untuk kita. Dan satu hal yang perlu diingat, Rosul SAW, sungguh suri tauladan yang baik bagi kita. Kepadanya kita bisa berkaca.

Kalau sudah begini, romantis pada suami atau istri adalah ibadah

Mari kembali pada definisi romantis menurut KBBI tadi. Romantis adalah bersifat mesra, mengasyikkan. Rasanya sah-sah saja jika saya menggunakan kata lain “menyenangkan pasangan” (aih aiih). Dan menyenangkan hati orang lain itu ibadah bukan? Saya kutip hasil temuan saya di sebuah situs

Syaikh Ibnu Utsaimin menjelaskan bahwa perbuatan atau perkataan yang asalnya mubah namun jika diniatkan untuk menyenangkan hati orang lain maka akan bernilai ibadah. (Al-Qoulul Mufiid (Bab tentang لَو, tatkala beliau menjelaskan tentang hadits Abu Huroiroh اِحْرِصْ عَلَى مَا يَنفَعُكَ…))

Sungguh tidak ada yang salah manakala seseorang berniat untuk menyenangkan hati pasangannya. Tidak harus dengan hadiah bernilai materi, bahkan perilaku dan kata-kata yang baik saja bisa menjadi senjatanya. Dan pada hemat saya, hal-hal itu bisa dimasukkan dalam ragam romantisme yang kita pahami sekarang.

 

~subbahasan tambahan

Omong-omong tentang gombal

Sebutlah ia gombal. Memang, kita perlu menyepakati dulu apa definisinya. Ah, biarlah saya pakai definisi saya sendiri. Bagi saya, gombal adalah kata-kata manis atau rayuan. Entah kenapa ia disebut gombal, padahal gombal kan buat ngepel. Di suatu tatsqif, temanya tentang keluarga (ini tatsqif spesial katanya, haha) si pengisi materi bilang begini ke audiens yang laki-laki “pak, ibu-ibu itu seneng kalo digombalin, makanya sesekali gombal ke istrinya”.

Saya tertawa dengarnya, ketawa geli banget. Tapi waktu itu yang ketawa geli cuma saya, tidak dengan ibu-ibu yang lain. Entah mereka jaim, atau mereka malu menertawakan kalimat itu padahal dalam hatinya membenarkan, atau entah selera humor saya yang aneh. Terlepas dari itu, memang ko, ibu-ibu itu seneng digombalin, meski mereka jawab “ah gombal” manakala digombalin, tapi dalem hatinya sedikit cenat-cenut juga. Hayhay. *asli sotoy inih*

Nah, kalau ternyata gombal bisa menyenangkan hati istri, dan kalau menyenangkan hati istri adalah ibadah. Gombal ga cuma bisa buat ngepel, tapi bisa jadi ibadah toh?

 

 

 

 

~dan tulisan ini udah 5 halaman word tanpa terasa. Saya bingung closingnya gimana. agak tidak puas juga dengan susunan bagian 2 ini sebenernya, tapi udahan aja ah. Sampai jumpa di cuap-cuap (rodo gemblung) ludi yang lain

 

Ibnu Hibban berkata dari Aisyah ra, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda, “Sebaik-baik kamu adalah yang paling baik terhadap keluarganya dan saya adalah sebaik-baik (perlakuan) terhadap keluarga saya.”

Emang Ada Yang Ga Suka Dengan Hal Romantis? (bag. 1)

Mau tidak mau riuh rendah pemberitaan tentang briptu norman polisi gorontalo sampai juga ke ruang-ruang di rumah bapak saya. Dan mau tidak mau pula bahasan tentang dia terlontar juga dari mulut saudara-saudara saya. Dan mau tidak mau pula ternyata bahasannya masuk juga di notes saya. Tidak rela sebenarnya membahas tentang dia. Cukuplah sudah lebaynya pemberitaan tentang dia di media masa. Tak perlulah saya membahasnya pula.

Tapi sayangnya, ada satu tema yang diangkat tentang dia yang sebenarnya tidak mau saya sebut-sebut itu yang menggelitik untuk saya bahas. Jadi biarlah saya relakan satu note fb untuk memuat namanya. Bukan tentang dia utamanya yang saya bahas, tapi tentang satu hal, romantisme.

Lalu apa hubungan romantisme dengan briptu norman (agh, saya sebut lagi namanya)? Abang saya bilang begini ke istrinya, “dia orangnya romantis tau”. Kakak ipar saya jawab “yaiyalah, sukanya nonton film india, makanya romantis. emang kamu sukanya nonton film perang”.

Oke, sudah saya sebut itu salah satu subbahasan note kali ini, hubungan sikap romantis dengan film india. Dengan disebutkannya subbahasan itu, tak perlulah saya sebut-sebut nama briptu norman lagi. (dan dengan ini saya malah makin menegaskan adanya orang tsb dalam note ini, haha)

Tontonan roman membuat penontonnya tertular romantis

Tontonan, meski anda bilang itu hanya tontonan dan bukan tuntunan, sedikit banyak pasti mempengaruhi anda. Sedikit banyak, lama sebentar, kuat dalam. Apalagi kalau anda memproklamirkannya sebagai kegemaran atau favorit. Dalam hal ini baiklah kita persempit, bukan pada film india saja, tapi film atau tontonan bergenre roman.

Saya jadi ingat dulu pernah meledek seorang teman karena kelihatannya dia suka sekali dengan novel roman, roman islami, sesuatu yang membuat saya geleuh bacanya. Seperti novel Ketika Cinta Berpikir (KCB) misal, saya baca, tapi skimming. Tidak perlu detail baca novel gituan, saya cuma pengen tahu apaan sih yang sedang digandrungi masyarakat kala itu. Saya meledek begini kira-kira, “suka banget ya dengan hal-hal romantis”. Eh dia jawab begini “emang pe ga suka? Atau ganti deh pertanyaannya emang ada yang ga suka?”

Waktu itu saya lupa jawab atau ngga. Tapi sepertinya saya memutuskan bahwa saya tidak suka. Tapi itu dulu, sekarang tidak, kan kita udah minum combantrin. Saya, pada akhirnya suka juga dengan hal romantis (uhuk uhuk huek!), mungkin gegara saya juga suka nonton film roman. Sepertinya film bukan kata yang tepat karena bisa juga serial atau apapun yang bisa ditonton, jadi saya sebut tontonan saja. Menonton tontonan roman itu membuat kita jadi suka dengan hal romantis. Ya tidak? Bukan cuma terbatas pada suka dengan hal romantis, tapi juga bisa membuat kita jadi orang yang romantis, atau bisa belajar romantis.

Saya pernah baca sebuah “surat pembaca” tentang sebuah komik roman. Di situ dia bercerita kalau dia memiliki pria idaman seperti cowo di komik itu, salah satunya adalah memposisikan wanitanya untuk berjalan di sisi dalam trotoar. Bagi saya, memposisikan wanita berjalan di sisi dalam torotoar adalah sebuah romantisme. Dan hal itu saya temukan di komik atau yah, tontonan tadi.

Kita memang banyak menemukan hal romantis di film. Beberapa wanita dibuat mabuk oleh sikap seorang Joh Guk pada Mi Rae, memposisikannya berjalan di sisi dalam trotoar, membukakan pintu mobil untuknya, menyuapinya makanan ketika makan bersama, atau membersihkan tempat duduk yang akan diduduki Mi Rae, misalnya di taman atau tempat umum lain. Atau romantisme lain, yang paling mudah saya ingat saja ya, romantisme Chae Mo Ryong di serial witch yo hee. Waktu Mo Ryong memberi “pengalaman percintaan” pada Yo Hee, sikapnya bener-bener menyenagkan. Dia mengirimkan video yang isinya romantis banget ke Yo Hee, memasukkan lipatan-lipatan kertas bertuliskan kata-kata manis ke dalam pop corn yo hee waktu mereka nonton bareng, tidak pernah mencela masakan Yo Hee yang rasanya hancur lebur karena menghargai usahanya. Pokonya maniiiis banget.

Disuguhi hal-hal seperti itu membuat kita (ah, baiklah saya, haha) selain senyum-senyum sendiri, jadi berharap hal yang sama juga. Berharap diperlakukan dengan menyenangkan seperti itu. Atau kalaupun tidak, jadi punya referensi bagaimana bersikap romantis. Hoho. So, sampai disini sudah sepakatkah jika seorang penyuka film india adalah orang yang romantis adalah hal yang sangat-sangat mungkin?

Romantisme dimana ia berhenti?

Selain obrolan tentang si polisi yang namanya saya malas sebut itu, ada 1 lagi hal yang membuat saya tergelitik untuk membuat tulisan ini. Yakni tulisan teman di fb, tentang romantisme yang terkikis. Dia menuliskan, bahwa jaman dulu romantisme masih ada begitu dalamnya. Jaman dimana wanita dan pria masih malu-malu jika mereka belum menikah. Jaman dimana surat adalah hal lazim untuk mengutarakan cinta. Jaman dimana seseorang berpuisi dan bersajak dengan mikir sendiri, bukan mengutip dari sms.

Dia sebenarnya membahas perubahan romantisme terkait jaman. Dia juga bercerita bahwa jaman sekarang, orang belum halal sudah berani beromantis-romantis ria dengan pasangannya. Dan saya, jadi berpikir satu hal. Romantisme masih ada di masa sekarang, meski berubah gaya dan tekniknya. Dan yang lebih ingin saya soroti adalah, romantisme itu, mana yang lebih banyak dilancarkan, sebelum sebuah hubungan halal atau sesudahnya?

Sering kita dengar sebuah sindiran, manakala masih pengantin baru, kata sayang masih lazim terdengar. Kalau pasangan jatuh disayang-sayang, ditanya dimana letak sakitnya, tapi ketika usia pernikahan sudah lanjut, kalau pasangan tersandung saja, respon malah hinaaan “mata lo kemana sih?”

Mungkin memang begitu, romantisme, biasa digunakan sebagai senjata pengejaran. Manakala target sudah dicapai, romantismepun ditinggalkan. Sikap manis dan menyenangka biasa dikeluarkan ketika justru hubungan belum halal, ketika niatan adalah untuk mendapatkan seseorang jadi pasangan. Ketika sudah jadi, untuk apa manis-manis lagi?

Setidaknya itu yang saya pernah lihat di sebuah film. Di film itu digambarkan seorang pria yang jatuh cinta pada pandangan pertama. Sebuah perkenalan singkat, segera diakhiri dengan kenyataan bahwa si wanita dijodohkan dengan pria lain. Padahal PDKT baru babak pertama. Si pria mengantarkan si wanita untuk pulang ke rumahnya, di benua lain nun jauh disana, dan sepanjang perjalanan si wanita pelan-pelan jatuh suka dengan pria tsb. Dengan perkenalan singkat itu mereka menikah, dan setelah mereka menikah, barulah terlihat sikap suaminya sebenarnya. Mereka sering bertengkar, si suami tidak lagi bersikap manis. Di suatu pertengkaran, istrinyapun protes

“alasanmu selalu bisnis, lantas kemana bisnismu dulu sampai-sampai kau bisa mengantarkanku sampai yunani?”

“itu kulakukan karena cinta”

“cinta? Lalu kemana cintamu sekarang?”

“sekarang kan kita sudah menikah”

“hah? Jadi maksudmu setelah kita menikah cintamu sudah tidak ada lagi?”

Hehe. Saya suka banget adegan pertengkaran ini, karena menggambarkan, ketika sedang mengejar seorang wanita, seorang pria bisa melakukan segalanya. Tapi setelah dia memilikinya, justru dia jadi melalaikannya. Romantisme itu, hanya ada ketika justru belum benar-benar memilikinya, atau hanya pada awal-awal sebuah hubungan, dan itu tidak bertahan dalam waktu-waktu jauh setelahnya. Bukankah ini sungguh tidak ditempatkan secara benar?

 

 

~ini tulisan belum selesai, awalnya ga pengen dibagi-bagi, tapi setelah ditulis ko jadi panjaaang banget. khawatir pada bosen, jadi saya pecah jadi 2 tulisan, baca lanjutannya ya, ini baru pemanasan, hehe


PS: tulisan ini crosspost dari note fb yang kemarin kupost. tadinya ga niat dibagi di MP, eh ternyata hasil tulisannya ga geje-geje amat, hehe, jadi bole lah ditaro disini. mm..dibolehin dikomen ga yaa *mikir dulu*

Hujan Radioaktif

~memenuhi napsu nulis yang sedang menggebu-gebu, maap kalo terasa geje.

 

Beberapa jam lalu saya terima sms dari seseorang yang dengan baik hatinya rajin mengirimkan saya sms tausiyah, info padahal saya tidak berlangganan. Bunyinya begini “karena ada gempa dan tsunami. Ada ledakan nuklir, 16.30 di fukushima jepang. Jika terjadi hujan beberapa hari ke depan, JANGAN SAMPAI TERKENA HUJAN. Jika harus keluar, gunakan payung, bahkan jika hanya gerimis. Karena partikel radio aktif dapat menyebabkan luka bakar/kanker alopecia mungkin terkandung dalam hujan. –wallahua’lam, tapi ga ada salahnya kalo kita waspada.”

Apa respon anda setelah membaca peringatan ini? Kalau saya merasa ini lebay. Tolong luruskan kalau saya salah. Bagi saya hal ini sulit sekali untuk dilogikakan. Ledakan nuklir di jepang partikel radio aktifnya bisa sampai di hujan indonesia?

Sebenarnya saya sendiri merasa tidak punya ilmu akan hal ini. Makanya pula saya jadi ingin menuliskan, barangkali ada diantara pembaca yang memiliki ilmu dan paham akan hal beginian. Sejauh pengetahuan saya yang terbatas ini, saya merujuk pada pelajaran geografi jaman dulu smp, kalau tidak salah. Bahwa cuaca meliputi tempat yang kecil dan berlangsung singkat, sedangkan iklim meliputi tempat yang luas dan berlangsung lama. Hujan, adalah sebuah fenomena dari cuaca. Mungkinkah awan hujan (nimbus ya?) di langit indonesia mendapatkan air dari penguapan di jepang? Atau air yang jatuh disini bercampur dengan partikel radiasi di atmosfir jepang?

Setahu saya, hujan asam disebabkan karena partikel air bercampur dengan partikel polusi yang ada di udara, makanya airnya jadi mengandung asam. Tapi, kembali lagi bahwa hujan adalah sebuah fenomena lokal. Jangankan indonesia dan jepang, pasar rebo dan pasar minggu saja bisa beda kejadian turun hujannya. Atau lebih ekstrim lagi, FIK dan halte UI (saya pernah keluar dari FIK yang hujan dan ternyata di sekitar halte UI kering, tidak hujan). Jadi mungkinkah hujan disini bercampur dengan partikel radioaktif disana?

 Beralih dari hujan. Setidaknya ada satu hal lagi yang keliru dari sms ini. Saya sendiri bingung menerjemahkannya. Ada kata “kanker alopecia mungkin terkandung dalam hujan”. Kanker alopecia? Apaan tuh? Saya mikir lagi, mungkin mestinya dipisahkan dengan koma. Jadi, “..dapat menyebabkan luka bakar/kanker, alopecia mungkin…”. Tapi tetep aja ini janggal sekali.

Setau saya kanker biasa dinamakan dengan lokasinya, misal kanker rahim, kanker kolon, kanker serviks, dsb. Atau sesuai dengan asal sel tumornya, misal teratoma, blastoma, adenoma, dll. Jadi tidak ada kanker alopecia. Anda akan lebih terang lagi kalau tahu apa arti kata alopecia.

Alopecia adalah kejadian rontoknya rambut dari kepala atau tubuh. Kejadian ini biasa diderita oleh pengidap kanker yang mendapatkan kemoterapi. Ya, sebagian besar mungkin sudah tau, efek samping kemoterapi adalah kerontokan rambut, yang istilah lainnya adalah alopecia. Jadi alopecia adalah kata kerja, bukan kata benda. Makin aneh kan kalau dikatakan alopecia terkandung dalam hujan?

Tapi, sudah merasa kalau sms ini aneh begini masih saja saya terpengaruh. Dududu. Pasalnya, pas banget pas pulang tadi hujan turun. Saya sedang tidak punya jas hujan (terakhir ilang di bengkel, belum beli lagi). Mau tidak mau sepanjang jalan saya keingetan dengan sms ini.

Dasar persepsi, ternyata dia terpengaruh juga. Waktu di jalan, saya mencium bau-bau tidak enak, seperti bau asap atau pembakaran yang tidak sempurna, cukup lama pula. Saya jadi mikir, jangan-jangan air hujan nih. Untung kedudulan itu berakhir, karena saya sadar, itu baunya asap knalpot motor di depan saya. Hahaha.

Tidak sampai disitu, ini pikiran lebay masih ada. Kena tetesan hujan itu, ketika mereka menyentuh tangan saya yang tidak tertutup jaket, saya merasa “ko air hujannya dingin banget ya, ga kaya biasanya”. Lalu mulailah saya hubungkan dengan sms tadi. Untung pula tidak lama, segeralah saya tepis lagi. Lebay ah. Pulang..pulang..

 

Ada yang bisa memberi penjelasan lebih terkait sms ini?