[catatan #1] Ahad Ramadhan

Memasuki ramadhan, saya selalu merasakan hal yang sama, lega dan bersyukur karena masih diberi usia dan berkesempatan setidaknya sekali lagi untuk menjalani Ramadhan.  Tapi hal ini sudah saya bahas di catatan harian Ramadhan tahun kemarin,  kan ga enak kalau dibahas lagi. hehe.

Hari pertama Ramadhan tahun ini, saya ikut keputusan yang tanggal 29 Juni, jatuh pada  hari ahad. Hari ahad adalah hari penimbangan bagi seorang Ludi. Saya ceritanya sedang diet, dan memantau berat badan tiap pekan dan hari terpilih itu adalah ahad. Dan oleh sebab itulah di hari ahad hampir selalu saya tidak bahagia, tanya kenapa,  haha.

Maka Ramadhan kali ini juga bermakna kesempatan untuk saya untuk membuat ahad lebih memuaskan.  Karena di bulan ini seharusnya berat badan bisa sukses berkurang. Bukan karena niat diet sambil puasa, tapi karena bulan inilah harusnya kita belajar menahan diri dalam urusan perut.

Meskipun kenyataannya banyak orang justru tambah gendut saat Ramadhan.  Meja makan semakin sempit dan anggaran belanja makanan yang membengkak berlipat.  Maka ahad-ahad di bulan Ramadhan ini juga berarti pembuktian,  adakah saya berhasil menerapkan kesederhanaan dalam makanan selama Ramadhan,  seperti pesan di broadcast taujih yang tersebar beberapa hari sebelum Ramadhan kemarin.

“Sedikit makan adalah tanda orang mukmin. Orang mukmin itu makan untuk  satu usus, sementara orang kafir makan untuk mengisi tujuh usus. (HR Bukhari)

[catatan #13 Ramadhan] Candu

Saya menyebutnya sebagai “modern addict”. Dan fenomena ini menimpa hampir semua orang dewasa sekarang. Kecanduan henpon dan segala yang ada di dalamnya. Rasanya handphone benar-benar diterjemahkan sebagai “telepon tangan” atau telepon genggam sehingga selalu berada dalam genggaman.

Saking candunya sampai sulit berpisah barang sejenak. Kadang ga kenal tempat juga. Misalnya mahasiswa saya itu, saya sedang kasih bimbingan di RS eh dia bukannya menyimak malah mainan henpon. Dosen mana yang ga murka lihat mahasiswa begitu.

Lain lagi waktu tarawih. Entah berita penting apa yang sedang ditunggu hingga 1 jam tarawih di masjid membuat orang tak sanggup meninggalkan henponnya di rumah. Heran saya. Karena kalaupun ada telepon, memangnya dia mau angkat kapan? Ada sms mau dibalas kapan? Sejauh pengamatan saya, ada jamaah tarawih yang membuka henpon-nya tiap jeda antar tarawih yang singkat itu. Addict.

Hari ini saya baru paham kenapa di masjid banyak ditempel peringatan “matikan hp”. Ternyata mode getar saja tidak cukup. Matikan! Karena hari ini kejadian, entah henpon siapa yang penyebabnya, speaker di masjid bunyi “dedet dedet” tanda ada radiasi (iya kan?) elektromagnetik cukup kuat di sekitarnya. Dan itu sepanjang sholat isya berlangsung. Mengganggu sekali.

notikaf

 

 

 

 

 

 

gambar diambil dari https://www.facebook.com/photo.php?fbid=388223617966385&set=a.235733069882108.50574.235730189882396&type=1&theater

Kenapa Memilih Menunggu?

Pernahkah anda menunggu demi sebuah janji, meskipun itu dalam ketidakpastian atau ketidakjelasan?

ini foto menunggu yang unyu banget

ini foto menunggu yang unyu banget

Dalam serial-salah satu drama favorit saya, hehe-Bakers King ada sebuah fragmen menarik. Kejadiannya adalah Yu Kyung mengajak Tak Gu bertemu di depan jam dinding di sebuah taman tepat pukul 6. Kali itu adalah pertemuan mereka yang pertama setelah 2 tahun dipaksa berpisah. Dengan kerinduan yang masing-masing mereka tahan akhirnya mereka bisa bertemu kembali. Tak Gu antusias sekali dengan janji pertemuan itu dan menunggu di sana sejak pukul 6 kurang 10 menit. Tapi Yu Kyung tidak juga terlihat batang hidungnya.

Continue reading

Sinetron di Hari Terakhir di Aceh

 Dari Jabir bin Abdillah, Rasulullah bersabda: “Tidak dikatakan beriman seorang hamba sampai ia meyakini takdir yang baik dan yang buruk, sampai ia yakini bahwa apa yang telah ditakdirkan akan menimpanya tidak akan meleset darinya, dan apa yang telah ditakdirkan meleset darinya maka tidak akan menimpanya.” [Sunan At-Tirmidzi: Sahih]

Saya masih ingat, jaman masih muda dulu-jaman sedang gandrung-gandrungnya dengan sebuah serial asia yang saat itu memang sedang “in” di masyarakat, saya cukup lelah dengan beberapa adegan di serial itu. Adegan persis di sinetron Indonesia, kebetulan yang terasa dipaksakan, ketelisipan tapi berkali-kali terjadinya. Entah apa padanan bahasa Indonesianya, ketelisipan itu adalah semacam melesetnya pertemuan antara 2 orang (atau 2 pihak). Jadi di serial itu sering sekali ada adegan 2 orang yang berkaitan tapi tidak betemu dengan cara yang nyaris. Ah, kebayang lah ya? Saya malas beri contohnya. Hehe.

there are no coincidences

there are no coincidences

Sebenarnya ini berkaitan dengan takdir juga, bahwa kalau tidak ditakdirkan bertemu ya tidak akan meskipun sudah berada di satu tempat yang sama. Begitupun sebaliknya, jika takdirnya bertemu, ya akan bertemu juga bagaimanapun terasa mustahilnya. Dulu saya ada kawan yang seperti itu, kawan akrab waktu SMP, dengan luar biasanya kami seringkali kepasbangetan bertemu di berbagai acara. Bahkan di acara yang peluangnya kecil sekali mengingat ada puluhan ribu partisipan yang hadir. Tapi kami seringkali dipertemukan begitu saja, tanpa rencana.

Kondisi-kondisi seperti ini sering dimanfaatkan oleh seorang penulis cerita fiksi, baik di film, sinetron, maupun novel. Kejadian kepasbangetan pertemuan antara dua tokoh demi menambah dramatis atau romantisme adegan. Seperti novel yang barus aja saya khatamkan ini. Ketika si tokoh pria mengejar-ngejar si tokoh perempuan demi mengembalikan barang yang tertinggal. Pengejaran berkali-kali gagal, meski sang objek sudah di depan mata. Tapi akhirnya mereka dipertemukan begitu saja di sebuah kesempatan lain.

Jika adegan macam ini diulang-ulang, mungkin akan lelah, seperti saya dahulu dan kemudian bersungut-sungut pada si penulis skenario atau novel. Dan jika cukup skeptic, kita akan bilang “ah sinetron banget”, atau “ah yang begini sih hanya ada dalam novel”. Padahal segala macam kepasbangetan, baik itu menyenangkan atau tidak, sangat mungkin saja terjadi di dunia nyata.

Continue reading

Pulau Weh Jilid 2

(jadi ceritanya, di post sebelum ini saya ikutan lomba. saya salah baca ketentuannya, saya pikir harus lebih dari 500 kata, ternyata kurang. ih, gimana bisa cerita asik kalau kurang dari 500 kata. saya terlanjur nulis panjang banget. daripada dibuang, saya post terpisah. yaitu post yang sedang anda buka ini. mudah-mudahan seneng yah bacanya. hehehe)

Berbeda dengan pertama ke Weh, kali kedua saya dengan rombongan yang lebih sedikit. Sebelumnya bertujuh, kali ini hanya bertiga. Itupun kepentingan utama saya kala itu hanyalah menemani 2 orang teman lainnya yang belum pernah kesana. Masa tinggal kami di Aceh sudah habis tapi dia belum pernah ke Sabang. Demi mensahkan diri pernah ke aceh mereka mewajibkan diri pergi ke Sabang. Dan meskipun hanya beberapa jam mereka bisa berada di sana, tujuan utama mereka cuma 1, tugu 0 kilometer. Sebagai seorang teman yang baik (ehm), meskipun hanya hitungan jam ke Pulau Weh (ga bakal puas pasti) sayapun rela menemani mereka.

Tapi perjalanan kali ini tetap menarik. Karena tetap memberikan beberapa pengalaman pertama buat saya. Pertama, kalau kunjungan pertama kami menyewa mobil di pulau weh, kali ini saya membawa motor dari banda. Dua teman saya yang lain dipinjami motor dari kenalan di sabang. Jadi saya berangkat naik feri, sambil bawa motor. Pengalaman pertama menaikkan kendaraan ke feri sambil mengantri bersama penumpang yang bawa kendaraan lainnya. Hehe. Dan kali itu saya sendirian, dua teman saya naik kapal cepat demi cepat sampai. Saya berkorban naik kapal lambat. Tapi seru ih.

Sampai di balohan saya naik motor sampai ke kota sabang sendirian, hanya berbekal penunjuk jalan. Waktu itu hari menjelang maghrib, jadi sampai di penginapan (di daerah kota sabang) sudah malam. Sayang sekali. Hiks. Dan saking sempitnya waktu kami, pagi hari kami harus sudah balik ke banda. Karenanya saya tidak mau melewatkan waktu malam itu begitu saja. Saya naik motor keliling-keliling kota. Meskipun tidak bisa lihat pantai, berkeliling tak tentu arah, melihat weh malam hari rasanya eksotis.

Paginya kami bangun. Lebih tepatnya sebelum subuh waktu pulau weh kami sudah bangun. Sekitar jam 4 pagi, roti untuk sarapan tidak sempat dimakan dan langsung dimasukkan ke dalam tas, kami memulai misi utama kami menuju tugu 0 kilometer. Sungguh saya sudah pernah kesana, dan bagi saya tugu itu tak perlu dikunjungi 2 kali. Tapi berkendara motor dari sabang ke tugu di pagi buta-dengan medan naik turun-kanan tebing kiri jurang, itu asik banget. Tak terlupakan.

jalannya bagus begini, jadi asik aja buat motor-motoran

jalannya bagus begini, jadi asik aja buat motor-motoran

Kami mampir di iboih bukan untuk wisata. Mungkin kami adalah satu-satunya rombongan wisatawan yang datang ke iboih hanya untuk solat subuh. Hahaha. Karena mau lihat pemandangan juga tidak bisa, masih gelap. Benar-benar tidak bisa berlama-lama, kami lanjut ke tugu 0 km. Dan sekali lagi ini ternyata menarik. Pertama kali kesana ramai sekali karena saat itu libur lebaran. Pengunjung banyak, mau poto-poto tidak leluasa. Tapi kunjungan kali ini, masih agak gelap, dan tidak ada orang satupun. Dan sekali lagi saya rasa kami adalah rombongan wisatawan satu-satunya yang pernah datang kesana sepagi itu, cuma beberapa menit pula.

waktu datang masih segelap ini

waktu datang masih segelap ini

Kapal feri Balohan-Ulee Lheue hanya sekali sehari dan itu pukul 7 pagi. Jadi kami tak punya pilihan lain selain naik kapal itu jika ingin pulang hari itu juga dan membawa motor. Akhirnya kamipun ngebut balik ke Balohan (saya lupa berapa puluh km perjalanan kami pagi itu). Sepanjang jalan deg-degan karena waktunya terlalu mepet. Takut ketinggalan kapal.

bantuan visual bagi yang belum pernah kesana

bantuan visual bagi yang belum pernah kesana

Ternyata benar, ketika sampai di pelabuhan kapalnya hampir berangkat. Aak! Pintu kendaraan hampir ditutup. Orang-orang disana berseru agar kami cepat naik. Meskipun kami belum punya tiket saya langsung ngebut saja menaikkan motor ke kapal. Teman yang saya bonceng saya suruh turun dan urus pertiketan. Pokoknya yang penting motor naik dulu. Dan benar, begitu motor saya naik pintu kapal langsung ditutup, kami penumpang terakhir.

Lucunya, saya baru tahu kemudian ternyata di luar sempat jadi masalah. Teman saya kehilangan uangnya. Ahahaha. Bapak penjual tiket marah “kalau ga punya uang jangan naik kapal”. Untung teman saya yang lain datang (dia naik motor yang lain) dan langsung membereskan. Saya yang fokus pada menyelamatkan urusan motor naik ke kapal tidak tahu menahu tentang itu.

Perjalanan yang ada pernak-pernik begininya yang justru bikin kenangan lebih mendalam. Cerita-cerita faktor X itu membuat perjalanan lebih berwarna. Saya langganan ketemu bermacam masalah ketika berpergian soalnya, haha, dari ketinggalan pesawat, kapal, kereta semuanya pernah saya alami :p 

~sayang gabisa upload banyak poto. ada di harddisk dan gabisa dibuka pakai laptop yang sedang saya gunakan 😦

setahun untuk menolak

“kalau yang laki-laki ditawari anak gadis di desa, atau yang perempuan dilamar oleh penguasa desa, bagaimana menolaknya?”

(audiens tertawa-tawa ringan)

“kamu bisa bilang kalau yayasan melarang kamu menikah dalam 1 tahun dan kalau kamu melanggar kamu bisa dipecat”

“lah, terus pak kalau setelah 1 tahun dilamar lagi gimana?”

“yah setidaknya kamu punya waktu 1 tahun untuk memikirkan jawabannya nanti”

“hahaha” (audiens tertawa lepas)

~catatan yang ditulis demi mengusir jenuh mengerjakan tugas-tugas dan ancaman tidak tidur minimal sampai jam1 malam nanti

hari ke-40
ruang kelas A

dear, bu teacher

sudah 5 hari saya menjalani Pengalaman Praktik Mengajar (PPM). SD yang dipakai untuk praktik adalah SD-SD negeri di sekitar wisma. tentang fenomena SD negeri di indonesia, pengalaman mengajar, mungkin akan saya tulis lain kali, saya hanya ingin bercerita tentang hari ini.

saat sedang mengajar tadi, tiba-tiba ada murid kelas V yang menghampiri saya (fyi tiap hari saya mengajar kelas yang berbeda, mengajar kelas V waktu hari sabtu kemarin). dia memberikan saya surat. aih senangnya, akhirnya saya berkesempatan mendapat surat dari anak murid juga. sebuah halyang biasa dialami mba dyah dan selalu membuat saya iri.

untuk Ibu Ludi….

terima kasih Ibu..
atas ilmu dan bimbingannya.
yang ibu berikan.

sekian

Thanks -bu Teacher !!

Dari: Uhti Fitriani
(ttd)

epilog:
sudah merasa senang dan GR dikirimkan surat, pas sampai di wisma saya cerita ke teman sekamar. ternyata kejadian mengirim surat itu atas arahan, yang kepasbangetan hari ini mengajar kelas V. ah biarlah, setidaknya masih ada 2 anak yang memilih saya sebagai guru yang dikirimkan surat diantara guru lainnya

hari ke-37
cipayung, bogor

momentum

(fb bener-bener diblokir, terpaksa dipost disini doang )

Di dalam kelas, ada sekelompok anak yang sedang menyelesaikan refleksi kelompok untuk minggu ke-3 dan ke-4 dalam bentuk 3 dimensinya. Beberapa anak sedang sibuk masing-masing menyelesaikan tulisan refleksi pribadi.

Di ruang makan, sekelompok besar anak sedang bercanda, tertawa terbahak-bahak mensimulasikan berbagai reality show di Indonesia. Sekelompok kecil terlihat diskusi berat tentang pencarian agama. Sekelompok kecil lain sedang bekerja bersama menyelesaikan refleksi pribadi.

Di kamar ujung terlihat dua orang PM merokok bersama. Dan puluhan anak lain di kamar masing-masing, entah apa yang mereka kerjakan.

Saya, hanya melintas di ruang makan, mampir sebentar di diskusi agama, ketawa sekilas melihat Tidar memerankan pengunjung mal yang sedang dihipnotis oleh Uya yang diperankan Umur, say hi ke Mutia yang sedang menulis refleksi. Saya memilih untuk kembali kamar, merelakan melewati obrolan inspiratif Eko, meninggalkan hiburan gila ala Tidar, mengerjakan refleksi minggu ketiga dan keempat sendirian.

Saya kemudian terpikir, betapa waktu, dijalani oleh banyak orang secara bersamaan, namun dengan pemanfaatan yang berbeda-beda. Saya jadi ingin mengutip kata-kata di sebuah buku

“Dalam kelebat lajunya yang sangat cepat, waktu memberi kita momentum, bahkan pada detik-detiknya. Setiap momentum punya fungsi dan fasenya sendiri. Begitulah. Karena hidup memang tidak mengenal siaran tunda.”

 

Karantina hari ke-34

Kamar perempuan 4

 

~tulisanku akhir-akhir ini ngga banyak ulasan pribadinya ya? Hehe.