Bisnis Sambil Dakwah, Bisakah?

Saya sekarang jualan kaos anak muslim. Sebelumnya tidak pernah menyangka kalau akan menempuh jalan ini. Hehe. Awal mulanya dari teman kuliah yang menawarkan paket keagenan kaos dari brand yang baru mau launching ini. Teman saya adalah salah satu co-founder-nya.

Waktu ditawari, saya mikir berulang-ulang apakah mau gabung atau tidak. Karena saat itu uang saya tidak banyak, untuk jadi modal jualan kaos rasanya mepet banget. Apalagi kalau dihitung-hitung, untung dari penjualan kaos ini rasanya tidak terlalu besar (hitungan saya saat itu). Makanya saya bimbang dan ragu (halah).

Akhirnya saya tetap gabung karena merasa cocok dengan value dari brand kaos ini. Bisnis sambil dakwah. Rasanya ko solehah banget ya saya saat itu, haha, memutuskan akhirnya bergabung karena ada embel-embel dakwahnya. Saya berkata dalam hati, biarlah faktor keuntungan secara finansial tidak terlalu banyak, setidaknya ada keuntungan lain yang bisa didapat. Untung pahala, karena ini tidak sekadar bisnis, ada muatan dakwahnya juga.

Ya, kaos ini memang kaos anak muslim. Desain dari tiap kaos mengandung makna. Misal, “start your day with bismillah”, mengingatkan agar selalu memulai hari dengan nama allah. Ada pula “only eat halal and good food”, menunjukkan bahwa muslim itu semestinya hanya makan yang halal dan baik. Dari situlah saya tertarik. Kaos yang dibuat untuk pasar kelas menengah ini memang tidak sekadar pakaian. Tidak seperti kaos anak bergambar karakter kartun macam ben 10, hello kitty, atau sinetron yang sedang ngetop seperti tendangan si madun. Ada pesan yang disampaikan lewat desain kaos ini.

afrakids

Afrakids 2015

Saat itu juga beredar foto di internet, anak kecil pakai sweater bergambar panda tidak senonoh. Sedih rasanya. Pakaian anak ko gambarnya begitu, orang tuanya ko belikan? Di situ saya merasa kaos anak muslim ini bisa jadi salah satu solusi.

Sweater Gambar Tidak Senonoh

Sweater Gambar Tidak Senonoh

Anak-anak ko gini?

Anak-anak ko gini?

Yang semakin menarik adalah tiap kaos disertai artikel insider. Jadi, untuk tiap helai kaos yang dibeli, disertakan satu kertas berisi penjelasan mengenai desain kaos tsb. Misal, kaos “moslem be honest” akan disertai dengan penjelasan tentang urgensi kejujuran seorang muslim. Diharapkan orang tua membaca penjelasan tersebut dan memahami makna dari kaos yang dipakai anaknya. Cakep kan idenya?

Sebenarnya tidak cuma dakwah yang membuat saya tertarik bergabung sih, hehe, tapi juga ilmu internet marketingnya. Dari tim digital marketing (dm) afrakids (brand kaos anak muslim ini) para agen diajari bagaimana memasarkan produk lewat internet. Saya tertarik untuk dapat ilmunya dan saat itu saya pikir toh ilmu ini bisa digunakan secara luas, ga cuma untuk marketing afrakids saja. Dan benar juga, sampai saat ini ilmu dari tim dm cukup berguna untuk pemasaran online.

Saya baru mulai serius menjalankan bisnis kaos ini beberapa bulan lalu. Karena saya baru punya modal yang cukup sekarang. Bukan hanya modal alasannya, tapi juga karena saya baru sadar bahwa potensi bisnis kaos afrakids ini besar juga. Ternyata keuntungan finansial bisa besar juga kalau memang serius dan kerja keras.

Lumayan, sekarang dengan modal internet, saya bisa tetap mencari penghasilan di rumah. Memasarkan produk sambil rebahan pun bisa. Semoga juga dapat keberkahan dan kebaikan. Harapannya pesan yang ingin disampaikan lewat kaos ini bisa sampai ke anak-anak, orang tua, juga masyarakat luas. Aamiin.

yang tertarik untuk bisnis sambil dakwah ini, bisa join jadi reseller saya, klik http://5alimashop.agenafrakids.com

 

Advertisements

Berhenti Jadi Buruh

bu·ruh n orang yg bekerja untuk orang lain dng mendapat upah (KBBI)

Hari ini adalah hari buruh. Hari ini juga saya resmi tidak lagi menjadi buruh. Berhenti dari segala aktivitas bekerja pada orang lain dan mendapat upah.

Kemarin, hari terakhir menjadi buruh, 99% orang yang saya pamiti bertanya “setelah ini ke mana?”, “setelah ini kerja di mana?”. Pertanyaan macam itu dari dulu susah saya jawab. Karena saya tidak terlalu bagus peruntungannya dalam hal pekerjaan sebagai pegawai. Setiap resign atau habis kontrak, saya tidak dalam keadaan sudah mendapat pekerjaan apalagi sudah ditawari kerjaan baru.

Saya cukup berpengalaman jadi pengangguran. Hehe. Pengangguran menurut term yang dipahami orang kebanyakan. Meskipun saya sendiri tidak merasa menganggur, bagaimana tidak, toh cucian pasti selalu ada dan menunggu dikerjakan. Krik.

Kemarin, ketika berpamitan dengan orang-orang di kantor, saya akhirnya capek juga menjawab pertanyaan mainstream tsb. Kemudian terpikir sebuah jawaban singkat “usaha”. Meskipun jawaban ini seringkali mengundang pertanyaan lebih lanjut dan penjelasan lebih panjang.

Usaha. Itu memang selalu dilakukan. Meskipun tidak berstatus buruh, usaha mah kudu tetap jalan. Makanya dari dulu isian pekerjaan di profile Facebook tidak berubah “bukan bekerja tetap, tapi tetap bekerja”, jabatannya bos, dari dulu hingga sekarang. Hehe.

Hari ini resmi tidak lagi punya atasan dan tidak perlu menunggu tanggal 25 untuk gajian. Hari ini resmi berhenti dari kerja di kubikal dalam ruangan cantik berpendingin ruangan. Tapi hari ini saya tetap harus jadi atasan untuk diri sendiri dan alhamdulillah, ada transferan masuk ke rekening padahal bukan tanggal 25. Juga tetap kerja meskipun tidak di belakang meja dan memungkinkan sambil rebahan. Karena berhenti jadi buruh, bukan berarti berhenti usaha.

Selamat hari buruh untuk semua orang yang masuk dalam definisi hari buruh menurut KBBI. Selamat hari buruh untuk mereka yang tidak merasa buruh padahal sebenarnya mereka juga buruh. Selamat hari buruh buat mereka yang suka nyinyir pada buruh yang lagi demo padahal kl UMP naik mereka juga menikmati imbasnya. Selamat hari buruh untuk mereka yang berpeluh bekerja, berusaha, demi menafkahkan diri sendiri dan orang-orang yang menjadi amanah mereka.

[catatan #2] Jalan Sendiri

“mba ludi pulang sama siapa?
gak ada teman mba?  trus naik apa?”

Teman sekelompok laki-laki bertanya begitu sebelum saya balik ke penginapan.  Waktu saya tanya balik memangnya kenapa,  toh saya juga sudah biasa kemana-mana sendiri.  Dia jawab “Kasian aja mbk, apa lagi cewek”.  Lalu dia memberi rekomendasi teman sekelompok saya yang lain yang mungkin bisa diajak jalan bareng.

Ini bukan hal yang biasa bagi saya,  dikhawatiri karena akan pergi sendirian padahal hanya menempuh Jakarta-Puncak.  Bapak di rumah saja biasa saja,  ga cemas begitu,  hehe. Mungkin baginya perempuan pergi sendirian itu mengkhawatirkan.  Dan pasti dia tidak tahu bagaimana hidup seorang Pengajar Muda.

Semasa jadi PM, kami biasa menempuh jarak desa-kota puluhan kilometer sendiri.  Dipersulit pula dengan ketidakjelasan sarana transportasi yang akan digunakan.  Saya pernah menjalani waktu-waktu menunggu di pinggir jalan,  pinggir hutan karet,  menunggu apa saja,  siapa saja yang lewat dan bisa ditumpangi sampai jalan besar. Yang lewat itu hampir selalu orang tidak dikenal yang saya minta tebengannya atas dasar percaya dan prasangka baik saja. Hidup seperti itu, mungkin tidak terbayangkan bagi orang kota.  Apalagi oleh cewek gendut,  jilbab,  dan terlihat penakut ini.

Kemudian saya menginsafi, tak peduli bagaimana diri saya yang sekarang tercitra, semua pengalaman ini sungguh merupakan bagian hidup yang perlu disyukuri.  Senang sekali pernah menjalaninya. Biarlah orang tidak tahu, tapi seperti yang kawan saya pernah bilang “pengalaman yang mengantarkan ke hidup lo yang sekarang,  lo harus syukuri,  Ludi”

Tanah Airku Tidak Kulupakan

 

Dari dulu saya kalau dengar lagu Tanah Airku pasti terharu. Liriknya itu lho, yang benar-benar menyentuh. Nah, waktu Festival Gerakan Indonesia Mengajar, di Aula Indonesia setiap pagi dan sore ada upacara bendera. Seluruh relawan yang datang harus ikutan, semua kegiatan freeze ketika upacara. Tapi upacaranya ini beda, karena pembacaan UUD, Pancasila, dan lagu wajibnya diputarkan video anak-anak di daerah.

Upacara pertama sukses membuat ratusan (atau udah menyentuh ribuanyah) relawan yang udah datang meneteskan air mata. Karena lihat video ini. Enjoy!

 

(tentang FGIM mungkin lain kali saya tuliskan, mungkin, ga janji, hehe)

Berbagi Kebahagiaan di Taman Kota

Melalui HiddenPark kami mengidentifikasi bahwa taman kota merupakan ruang berbagi kebahagiaan. Kami percaya bahwa peningkatan kualitas taman kota dan RTH lain juga berarti peningkatan kualitas kehidupan warganya. -HiddenParkID

 

Sabtu kemarin (16 November 2013) saya berkunjung ke Taman Kota Tebet dalam rangka acara Hidden Park 2013. Awalnya saya tahu kegiatan ini dari seorang kawan, yang niatnya ngajak bareng ke sana. Berhubung saya mah orangnya senang-senang aja kalau diajak main dan mencoba sesuatu yang baru (sepanjang bukan maksiat yah, hehe) maka sayapun berencana untuk ke sana.

HiddenPark merupakan suatu kampanye pengaktifan taman kota sebagai ruang publik kreatif sehingga menciptakan pengalaman baru berinteraksi dengan RTH (Ruang Terbuka Hijau). HiddenPark juga merupakan sebuah eksperimen sosial yang terus berjalan untuk mengidentifikasi aspirasi masyarakat urban terhadap RTH dan memfasilitasi diskusi antar berbagai pemangku kepentingan untuk membuahkan kemitraan.

Ini keterangan yang tertulis di website-nya, dan waktu saya baca sih ga ngerti. Haha. Untunglah tidak perlu sebuah pengertian untuk dapat menggerakkan seorang Ludi [gubrak]. Saya cukup tertarik dengan jadwal acaranya. Ada berbagai kegiatan selama HiddenPark yang berlangsung selama sebulan setiap weekend ini. Mulai dari berbagai workshop, games, yoga, sampai launching buku.

Continue reading

[catatan #18 Ramadhan] Aku Sukaaa Yang Manis-manis! :p

Kemarin saya dapat kejutan manis sekali waktu itikaf. Sehabis sholat subuh, saya menemukan ada benda aneh di atas tas. Terakhir saya tinggalkan tidak ada apa-apa di situ. Saya perhatikan ternyata sebuah kertas. Awalnya saya pikir ada orang salah taruh, ketika saya ambil ternyata kartu lebaran!!

Kartu lebaran itu dikirim oleh seorang adik kelas yang juga i’tikaf di tempat yang sama. Sudah bertahun-tahun tidak bertemu, dipertemukan di tempat itu. Padahal sebelum saya ke tempat saya meletakkan tas, saya sempat berpapasan dan dia berpamitan, tapi dia tidak menyinggung sama sekali tentang kartu. Ih surprise!

simply touching

simply touching

Menerima kartu ini tentu saja hati saya berbunga-bunga berkumbang-kumbang, hehe. Kayanya sudah puluhan tahun tidak menerima kartu lebaran. Terakhir waktu masih SMP. Sudah lama memang kartu lebaran tidak lagi populer, sudah ada telepon, kemudian mobile phone, terakhir internet, maka kartu lebaran rasanya so yesterday. Ajaib sekali adik kelas itu yah kepikiran memberi kartu di masa-masa seperti ini, apalagi diberikan pada orang yang baru saja bertemu. Tapi ternyata efeknya menyenangkan ya.

Sebetulnya saya sendiri memulai kebiasaan berkirim kartu sejak jadi Pengajar Muda kemarin. Berhubung sedang tinggal di daerah yang jauh, saya suka mengirim kartu dari daerah penempatan ke teman-teman di berbagai daerah. Ada kartu ucapan selamat ulang tahun juga sekadar kartu pos. Semua yang menerima kartu saya merasa senang, ada yang mengupload foto kartunya di instagram, ada yang buat note di facebook, ada yang balas kirim hadiah, ada juga yang membalas kirim kartu pos juga. Aktivitas kirim-kiriman kartu ini ternyata menyenangkan sekali. Romantis.

Setiap tahun juga Pak Anies Baswedan selalu kirim kartu lebaran ke rumah. Tujuannya buat orang tua saya. Pertama kali dikirim waktu saya masih di penempatan, jadi saya tidak tahu kalau Pak Anies kirim kartu, tahun ini-kalau kartunya sampai, teman-teman yang lain sih sudah pada terima-adalah tahun ketiga terima kartu lebaran dari Pak Anies. Pesan di dalamnya rasanya menghangatkan sekali.

Menjelang Idul fitri kali inipun, saya sudah menyiapkan beberapa kartu untuk dikirim. Tapi kartunya tidak kreatif, hanya beli kartu di depan kartu pos, desain-nya juga biasa aja. Sampai sekarang kartunya belum dikirim, selain memang belum sempat, juga merasa tidak enak hati sendiri karena kartunya biasa banget gitu. Haha. Tapi menerima kartu lebaran ini saya semakin sadar, sungguh sayapun tidak melihat kartunya, kawan saya ini juga kasih kartu yang gambarnya sama sekali tidak bertema lebaran. Bukan kemasan yang penting, tapi ketulusan sang pengirim, fakta bahwa saya dipilih untuk dikirimkan, itu yang penting banget. Hmm, jadi deh kirim-kirim kartu lebaran tahun ini, biarpun udah terlambat pasti sampainya. Haha.

Ayo dong yang lain kirimin aku kartu lebaran jugaaa *manja*

Cerita Dari Pameran Monorail

Ahad 2 pekan lalu, tepatnya tanggal 7 Juli 2013 saya pergi ke monas. Sebenarnya tujuan ke monas untuk ikut sebuah acara. Tapi bukan Ludi namanya kalau tidak memanfaatkan sebuah kunjungan ke tempat hiburan dengan sebaik-baiknya. Hehe. Setelah agenda utama selesai, saya berencana untuk mampir masuk monas dan naik puncaknya serta melihat pameran monorail.

Untunglah saya berhasil merayu (meskipun lebih ke arah memaksa, hehe) seorang teman untuk turut serta ke agenda-agenda tambahan tsb. Akhirnya kami bertiga (dia mengajak satu orang lain) bersama menikmati monas hari itu.

Sayangnya rencana pertama gagal, karena antrian untuk naik ke puncak panjangnya kaya antrian pembagian zakat. Ogah banget deh panas-panas antri sepanjang itu, lagipula tak kan lari monas dikejar. Akhirnya kami langsung bertolak menuju pameran monorail setelah foto-foto di depan monas dengan menyewa jasa tukang foto di sana. Beneran kaya wisatawan kan? Hayhay.

ada patung yang bisa pose gini sayang banget kalau dilewatkan

ada patung yang bisa pose gini sayang banget kalau dilewatkan

Hari itu adalah hari terakhir pameran dibuka. Tujuan diadakannya pameran ini adalah untuk merangsang dan menginformasikan masyarakat Jakarta tentang monorail. Apalagi proyek monorail sempat terhenti, pameran ini bermaksud menjawab berbagai pertanyaan dan meyakinkan warga bahwa mimpi punya monorail sebentar lagi akan menjadi nyata.

Sama dengan monas, masuk pameran juga antri. Bedanya kalau antrian monas kaya pembagian zakat, antrian pameran monorail kaya antri di kasir indomaret pas awal bulan. Hihi. Antrian mengular tapi tidak terlalu lama, dan sambil antri ada layar besar yang menampilkan info-info tentang monorail juga film pendek yang mengilustrasikan keuntungan naik monorail ketimbang membawa kendaraan pribadi di jakarta. Jadi sambil mengantri minum air, ada gula ada semut. Peribahasa yang tidak nyambung.

mohon maaf dah ya ga jago ambil poto

mohon maaf dah ya ga jago ambil poto

Begitu masuk pameran, pengunjung langsung diarahkan masuk ke dalam replika monorail yang ada di sana. Dan tepat setelah masuk replika, di pintu akan ada pemandu pakai kerudung model baju adat betawi dengan 2 tangan saling ditempelkan di depan dada yang bilang “selamat datang..silakan foto-foto”. Sekilas membuat saya berpikir, “oh tujuan datang ke pameran ini hanya foto-foto yah”. Hehe. Dan tentu saja kami foto-foto di dalam sana dengan berbagai gaya pula. Setelah puas foto-foto kamipun keluar.

replika monorail tampak depan

replika monorail tampak depan

Setelah keluar sayapun melihat-lihat display yang lain. Tiba-tiba ada seorang bapak membawa kamera menegur kami. Saya lupa apa sapaan pertamanya (dan ga penting juga yah gw bahas, hehe) tapi sungguh bapak ini lebih menarik dibanding mbak-mbak kerudung betawi yang berdiri di berbagai tempat sambil senyum itu. Karena justru lewat bapak inilah kami dapat info lebih banyak.

Si bapak bertanya “udah punya tiketnya belum?”

Tentu saja kami belum punya, aneh nih bapak, lha wong monorail-nya aja belum beroperasi. Lalu si bapak kasih kami contoh tiket sambil kami bertanya-tanya lebih jauh. Monorail ini baru akan beroperasi tahun 2016 dengan pembangunan dimulai tahun 2014. Rute pertama yang akan beroperasi kemungkinan akhir 2014 yaitu di bandara CGK. Monorail akan jadi transportasi penghubung antar terminal di bandara. Ya, nunggu bis kuning (feeder bus) di bandara itu memang agak lama, mudah-mudahan setelah ada monorail transportasi penumpang jadi lebih cepat, apalagi kalau ada penumpang yang transitnya perlu pindah terminal.

Pembangunan monorail ini tidak akan menggusur lahan milik warga. Karena rel akan dibangun di jalan tol sehingga menggunakan tanah milik pemerintah. Monorail berjalan di atas satu beton dan rodanya ternyata ditutup ban karet! Katanya penggunaan ban karet untuk mengurangi kebisingan. Di sana diperlihatkan rel beton itu serta roda monorail-nya. Menarik buat saya mah.

Rasa-rasanya saya jadi tahu kenapa bapak ini ramah sekali pada kami dan banyak memberi informasi. Alasanya mungkin selain karena kami ceriwis dan banyak tanya, saya simpulkan dari sebuah pertanyaan beliau “sekolah di mana?”. Apah?! Dia menyangka kami anak sekolah. Hahaha. Disangka mahasiswa saja sudah girang-gemirang apalagi disangka anak sekolah. Mungkin karena kami lagi pakai baju putih. Hihi.

Si bapak tadi juga menawari kami untuk memfoto kami dengan kameranya, awalnya kami ragu karena toh kami tidak akan memilikinya. Ternyata si bapak menawarkan “nanti fotonya saya kirim lewat email”. Ihiiy. Baik banget. Setelah tahu kalau kami bisa memiliki foto ini juga maka sayapun sedikit ngelunjak, “pak, ambil fotonya agak mundur dong, biar monorail-nya kelihatan”. Pengunjung adalah raja. Dan benarlah, email foto kami dikirim keesokan harinya.

3 anak (disangka) sekolah

3 anak (disangka) sekolah

Best momen di pameran itu buat saya adalah ketika si bapak bilang ”itu tiketnya buat kalian aja”. Hore. Padahal ini tiket for demonstration only gitu, bukan tiket beneran, monorail juga baru ada sekitar 3 tahun lagi. Tapi dikasih tiket demo kami udah senang. Gimana yah, orang indonesia emang demen sama souvenir. Hehe.

Semoga pembangunan monorail ini lancar dan keberadaannya sukses membuat transportasi jakarta lebih baik.

Sampai jumpa di pameran berikutnya.

~ludi pameran mania

Pulau Weh Jilid 2

(jadi ceritanya, di post sebelum ini saya ikutan lomba. saya salah baca ketentuannya, saya pikir harus lebih dari 500 kata, ternyata kurang. ih, gimana bisa cerita asik kalau kurang dari 500 kata. saya terlanjur nulis panjang banget. daripada dibuang, saya post terpisah. yaitu post yang sedang anda buka ini. mudah-mudahan seneng yah bacanya. hehehe)

Berbeda dengan pertama ke Weh, kali kedua saya dengan rombongan yang lebih sedikit. Sebelumnya bertujuh, kali ini hanya bertiga. Itupun kepentingan utama saya kala itu hanyalah menemani 2 orang teman lainnya yang belum pernah kesana. Masa tinggal kami di Aceh sudah habis tapi dia belum pernah ke Sabang. Demi mensahkan diri pernah ke aceh mereka mewajibkan diri pergi ke Sabang. Dan meskipun hanya beberapa jam mereka bisa berada di sana, tujuan utama mereka cuma 1, tugu 0 kilometer. Sebagai seorang teman yang baik (ehm), meskipun hanya hitungan jam ke Pulau Weh (ga bakal puas pasti) sayapun rela menemani mereka.

Tapi perjalanan kali ini tetap menarik. Karena tetap memberikan beberapa pengalaman pertama buat saya. Pertama, kalau kunjungan pertama kami menyewa mobil di pulau weh, kali ini saya membawa motor dari banda. Dua teman saya yang lain dipinjami motor dari kenalan di sabang. Jadi saya berangkat naik feri, sambil bawa motor. Pengalaman pertama menaikkan kendaraan ke feri sambil mengantri bersama penumpang yang bawa kendaraan lainnya. Hehe. Dan kali itu saya sendirian, dua teman saya naik kapal cepat demi cepat sampai. Saya berkorban naik kapal lambat. Tapi seru ih.

Sampai di balohan saya naik motor sampai ke kota sabang sendirian, hanya berbekal penunjuk jalan. Waktu itu hari menjelang maghrib, jadi sampai di penginapan (di daerah kota sabang) sudah malam. Sayang sekali. Hiks. Dan saking sempitnya waktu kami, pagi hari kami harus sudah balik ke banda. Karenanya saya tidak mau melewatkan waktu malam itu begitu saja. Saya naik motor keliling-keliling kota. Meskipun tidak bisa lihat pantai, berkeliling tak tentu arah, melihat weh malam hari rasanya eksotis.

Paginya kami bangun. Lebih tepatnya sebelum subuh waktu pulau weh kami sudah bangun. Sekitar jam 4 pagi, roti untuk sarapan tidak sempat dimakan dan langsung dimasukkan ke dalam tas, kami memulai misi utama kami menuju tugu 0 kilometer. Sungguh saya sudah pernah kesana, dan bagi saya tugu itu tak perlu dikunjungi 2 kali. Tapi berkendara motor dari sabang ke tugu di pagi buta-dengan medan naik turun-kanan tebing kiri jurang, itu asik banget. Tak terlupakan.

jalannya bagus begini, jadi asik aja buat motor-motoran

jalannya bagus begini, jadi asik aja buat motor-motoran

Kami mampir di iboih bukan untuk wisata. Mungkin kami adalah satu-satunya rombongan wisatawan yang datang ke iboih hanya untuk solat subuh. Hahaha. Karena mau lihat pemandangan juga tidak bisa, masih gelap. Benar-benar tidak bisa berlama-lama, kami lanjut ke tugu 0 km. Dan sekali lagi ini ternyata menarik. Pertama kali kesana ramai sekali karena saat itu libur lebaran. Pengunjung banyak, mau poto-poto tidak leluasa. Tapi kunjungan kali ini, masih agak gelap, dan tidak ada orang satupun. Dan sekali lagi saya rasa kami adalah rombongan wisatawan satu-satunya yang pernah datang kesana sepagi itu, cuma beberapa menit pula.

waktu datang masih segelap ini

waktu datang masih segelap ini

Kapal feri Balohan-Ulee Lheue hanya sekali sehari dan itu pukul 7 pagi. Jadi kami tak punya pilihan lain selain naik kapal itu jika ingin pulang hari itu juga dan membawa motor. Akhirnya kamipun ngebut balik ke Balohan (saya lupa berapa puluh km perjalanan kami pagi itu). Sepanjang jalan deg-degan karena waktunya terlalu mepet. Takut ketinggalan kapal.

bantuan visual bagi yang belum pernah kesana

bantuan visual bagi yang belum pernah kesana

Ternyata benar, ketika sampai di pelabuhan kapalnya hampir berangkat. Aak! Pintu kendaraan hampir ditutup. Orang-orang disana berseru agar kami cepat naik. Meskipun kami belum punya tiket saya langsung ngebut saja menaikkan motor ke kapal. Teman yang saya bonceng saya suruh turun dan urus pertiketan. Pokoknya yang penting motor naik dulu. Dan benar, begitu motor saya naik pintu kapal langsung ditutup, kami penumpang terakhir.

Lucunya, saya baru tahu kemudian ternyata di luar sempat jadi masalah. Teman saya kehilangan uangnya. Ahahaha. Bapak penjual tiket marah “kalau ga punya uang jangan naik kapal”. Untung teman saya yang lain datang (dia naik motor yang lain) dan langsung membereskan. Saya yang fokus pada menyelamatkan urusan motor naik ke kapal tidak tahu menahu tentang itu.

Perjalanan yang ada pernak-pernik begininya yang justru bikin kenangan lebih mendalam. Cerita-cerita faktor X itu membuat perjalanan lebih berwarna. Saya langganan ketemu bermacam masalah ketika berpergian soalnya, haha, dari ketinggalan pesawat, kapal, kereta semuanya pernah saya alami :p 

~sayang gabisa upload banyak poto. ada di harddisk dan gabisa dibuka pakai laptop yang sedang saya gunakan 😦