Pengguna Cerdas Telepon Cerdas

dulu, waktu awal punya android, saya suka ditanya arah kiblat kl mau solat di tempat asing oleh teman2. karena saya punya aplikasinya. lalu ada orang lain yang punya henpon sama dan dia tanya arah kiblat, teman saya heran “Ludi, dia henpon nya sama kaya kamu, tapi dia ko malah nanya ke aku arah kiblat?!”

begitulah. ini henpon bisa install banyak aplikasi canggih sebenarnya. tapi ga semua pengguna nya memanfaatkan kecanggihan tsb.

berikut saya mau share aplikasi android yang biasa ada, perlu ada, sampai yang saya heran ko bisa ada. berdasarkan pengalaman saya doang. jadi yang punya pengalaman lebih banyak, sharing yaaa

– socmed dan chat. ini biasa ada. buat apaan android kl gada socmed dan chatnya?

– BBM 2. aplikasi chat yang rada spesial. karena aplikasi ini memungkinkan kita punya 2 pin BBM dalam 1 henpon. sekarang saya pakai. karena BBM yang 1 khusus jualan. 1 lagi bukan buat jualan

– color note. saya bisa dibilang tergila2 dengan aplikasi ini. karena maunya android bisa mengefisienkan banyak hal.

sejak punya android, saya kl ngaji, dengar ceramah, rapat, dll jarang bawa buku. hehe. catatan semua diketik di color note. karena walaupun henpon hilang, note nya ga hilang. ga cuma note, dia juga bisa untuk bikin to do list dan dimasukkan ke kalender.

tulisan di blog, caption foto, note fb, biasanya diketik di color note sebelum diunggah. (dan ngetiknya alhamdulillah jadi bisa sambil rebahan, hehe)

enaknya note ini juga bisa di-search. misal saya bikin catatan resep pempek dan mau cari diantara ratusan note itu, tinggal search aja “pempek”, lalu ketemu. bayangkan kl catatan nya di buku tulis, gimana nyarinya? 

– WP office buat open dan edit dokumen, excel, ppt. ini penting banget ada biar bisa “ngetik” di henpon. dengan aplikasi ini, laptop jadi jauh berkurang tugasnya

– photogrid. photo editor buat bikin kolase, tambah text, kasih lope-lope, atau bikin meme.

– snapseed. photo editor buat photography. saya suka kagum sama hasil jepretan orang di instagram. ternyata poto cakep banget gitu banyak yang dibantu sama photo editor asal jago main ambience, contrast, dll. yang penting angle sama timing. sisanya serahkan pada snapseed. haha *lalu disambit photographer*

– Qur’an, Qur’an dan terjemah. al matsurat. ngaji jadi bisa di mana aja, ada Qur’an di henpon.

– dictionary dan kbbi. dictionary hampir selalu ada, berhubung ga jago bahasa enggres, saya mah sering banget pakai aplikasi ini.

– timehop. cocok buat yang menggilai kenangan, macam saya.

– toefl ibt preparation dan test your English. ada masa-masa dalam hidup ini, ketika lagi gada kerjaan, atau di kendaraan, saya ngerjain soal2 bahasa Inggris. bahkan sampai kecanduan. test your English ini ada levelnya, dulu saya pakai yang beginner (apa elementary ya?) lalu dicopot, sekarang pakai yang level intermediate. dulu beginner aja nilainya jelek, apalagi sekarang intermediate? dapat zona kuning merah mulu. heu.

– tubemate. dapat ini lewat pencarian panjang *lebay* akhirnya dapat juga aplikasi android yang enak buat download YouTube. penting kl lagi sugih kuota dan bermandikan sinyal HSDPA.

– my calendar. penting banget ini buat catatan woman period.

– ibadah evaluation. kl bahasa kitanya lembar mutaba’ah. takjub juga ada aplikasi ginian di android. bagi yang butuh catatan untuk menghisab diri sendiri, bisa pakai aplikasi ini. item ibadah yang dicatatnya  bisa ditambah dan target bisa kita atur sendiri. kl rutin diisi akan terlihat ibadah kita yazid apa yanqush, ada grafiknya soalnya.

– clipper. sebenarnya untuk menyimpan note juga. tapi clipper sangat membantu saya menyimpan note dengan rapi karena bisa dipisahkan dalam folder-folder. meskipun gabisa searching keyword, berhubung penyimpanan dalam folder spesifik dan tiap catatan dikasih judul, pencarian tetap mudah.

– raja ongkir. ini membantu untuk urusan dagang online. aplikasi ini bisa mengecek tarif pengiriman via ESL, JNE, tiki, POS, dan RPX sekaligus. kl saya sih yes, gatau kl mas anang

– prayer times. ini yang tadi dibilang di awal. buat cek waktu solat dan arah kiblat. dulu saya sempat tinggal di bukan Jakarta dan tak terdengar suara azan. jadi aplikasi ini perlu, terutama ngecek azan maghrib bulan Ramadan. hehe

– RAR for android. sejak punya ini, makin kurang lagi kepentingan laptop. karena file RAR jadi bisa dibuka di henpon

– Glasgow Coma scale. ini buat tenaga kesehatan yang masih belajar. buat menghitung tingkat kesadaran. sempat punya, karena masih belajar. sekarang udah dihapus, bukan karena udah pintar, tapi karena berhenti belajar. takjub aja ada aplikasi ginian

– buku saku dokter. aplikasi lumayan lengkap buat tenaga kesehatan.

– anatomy guide. human anatomy. pernah install waktu training paramedic. begitu training selesai, hapus. haha.

– task & to do list. sempat lama pakai aplikasi ini. agenda yang sudah dimasukkan, kl ga sempat dikerjakan bisa di-reschedule. trus kl sudah waktunya, akan dikasih reminder. enak sih buat organizer. yang bikin tambah suka adalah tiap pagi akan diminta mengecek agenda hari itu, mana yang untuk today mana yang mau dijadikan tomorrow dll. setelah selesai merapikan, akan ada pesan yang muncul dan setiap hari pesannya ganti, positif semua.  suka. yang paling saya ingat pesan “make it happen”, cocok buat eike yang suka berencana tapi tidak dibuat nyata. huh hah. sekarang udah dihapus sih, kepenuhan, dan to do list bisa dibuat di aplikasi lain.

– link 2 SD. ini aplikasi khusus kl henpon android sudah di-root. setelah diroot, aplikasi yang awalnya hanya bisa disimpan di internal memory, jadi bisa pindah ke SD CARD. membantu banget buat orang yang punya internal memory kecil, tapi kebutuhan banyak. saya dulu pakai, sekarang ga. soalnya henpon yang sekarang tanpa rooting pun bisa. yeay!

itu aplikasi yang pernah atau masih ada selama punya android. aplikasi yang dibahas cuma yang agak beda aja dengan aplikasi kebanyakan. semoga menginspirasi ya *ngarep*

*diketik pakai android berukuran 4 inci, dengan 1 jempol, menggunakan color note*
*harusnya developer color note bayar nih*

Berhenti Jadi Buruh

bu·ruh n orang yg bekerja untuk orang lain dng mendapat upah (KBBI)

Hari ini adalah hari buruh. Hari ini juga saya resmi tidak lagi menjadi buruh. Berhenti dari segala aktivitas bekerja pada orang lain dan mendapat upah.

Kemarin, hari terakhir menjadi buruh, 99% orang yang saya pamiti bertanya “setelah ini ke mana?”, “setelah ini kerja di mana?”. Pertanyaan macam itu dari dulu susah saya jawab. Karena saya tidak terlalu bagus peruntungannya dalam hal pekerjaan sebagai pegawai. Setiap resign atau habis kontrak, saya tidak dalam keadaan sudah mendapat pekerjaan apalagi sudah ditawari kerjaan baru.

Saya cukup berpengalaman jadi pengangguran. Hehe. Pengangguran menurut term yang dipahami orang kebanyakan. Meskipun saya sendiri tidak merasa menganggur, bagaimana tidak, toh cucian pasti selalu ada dan menunggu dikerjakan. Krik.

Kemarin, ketika berpamitan dengan orang-orang di kantor, saya akhirnya capek juga menjawab pertanyaan mainstream tsb. Kemudian terpikir sebuah jawaban singkat “usaha”. Meskipun jawaban ini seringkali mengundang pertanyaan lebih lanjut dan penjelasan lebih panjang.

Usaha. Itu memang selalu dilakukan. Meskipun tidak berstatus buruh, usaha mah kudu tetap jalan. Makanya dari dulu isian pekerjaan di profile Facebook tidak berubah “bukan bekerja tetap, tapi tetap bekerja”, jabatannya bos, dari dulu hingga sekarang. Hehe.

Hari ini resmi tidak lagi punya atasan dan tidak perlu menunggu tanggal 25 untuk gajian. Hari ini resmi berhenti dari kerja di kubikal dalam ruangan cantik berpendingin ruangan. Tapi hari ini saya tetap harus jadi atasan untuk diri sendiri dan alhamdulillah, ada transferan masuk ke rekening padahal bukan tanggal 25. Juga tetap kerja meskipun tidak di belakang meja dan memungkinkan sambil rebahan. Karena berhenti jadi buruh, bukan berarti berhenti usaha.

Selamat hari buruh untuk semua orang yang masuk dalam definisi hari buruh menurut KBBI. Selamat hari buruh untuk mereka yang tidak merasa buruh padahal sebenarnya mereka juga buruh. Selamat hari buruh buat mereka yang suka nyinyir pada buruh yang lagi demo padahal kl UMP naik mereka juga menikmati imbasnya. Selamat hari buruh untuk mereka yang berpeluh bekerja, berusaha, demi menafkahkan diri sendiri dan orang-orang yang menjadi amanah mereka.

Sepenggal Kisah tentang Dagang

Jadi semakin pengen cerita setelah baca status omari…

Saya terlahir bukan dari keluarga kaya. Kaya secara finansial yah. Saya cerita ini bukan dengan nada menyesal, tidak bersyukur atau sedih-sedihan. Sama sekali bukan. Saya meyakini bahwa apa yang ALLAH takdirkan adalah yang terbaik. Terlahir di keluarga, yang bisa dibilang pas-pasan lah yang membentuk diri saya yang sekarang.

Uang jajan saya waktu kecil tidak banyak. Boro-boro bisa mendapatkan segala yang saya inginkan, dapat uang jajan setiap hari saja sudah cukup mewah. Akibatnya dari kecil saya sudah suka mencari uang sendiri. Saya masih ingat waktu SD saya pernah berjualan kertas surat, kertas binder, atau kertas organizer. Kemudian saya sempat membuka usaha bersama teman-teman penyewaan buku, kami kumpulkan buku cerita, komik atau novel yang kami punya dan menyewakannya. Meskipun setelah itu pahit mengiris karena bukunya beberapa hilang atau rusak. Ya, harta yang cukup banyak ada di rumah adalah buku bacaan! Lanjut di SMP saya pernah menjual ikat rambut yang saya rajut sendiri. Iya, dulu saya bisa merajut, bikin ikat rambut, tas, dan bahkan peci yang sampai sekarang bapak masih pakai.

Kebiasaan berjualan dari kecil itu berlanjut sampai sekarang. Continue reading

sebelas

Beberapa hari lalu nyasar ke postingan ai dan saya-seringkali begini-tertarik untuk ikut mengerjakan PR macam ini. Padahal tidak ada yang men-tag juga. Bukan kerajinan bukan tidak ada kerjaan, mungkin narsis, mungkin penasaran.

Baiklah begini rulesnya….


post this rules!
write eleven things about yourself!
answer the ques
tion that the tagger have set for you!

create eleven new question for the people you have tagged to answer
Choose eleven blogger to be tagged and link then on the post
NO TAG BACK!

Sebelas hal tentang pemikirulung. Hm..

Saya sekarang sedang menjalani tugas sebagai Pengajar Muda dari Yayasan Gerakan Indonesia Mengajar. Daerah penempatan saya sekarang Aceh Utara. Jadi, sudah 7 bulan ini saya tinggal di sebuah desa di pelosok Aceh Utara. Mengajar di sekolah dasar dan tinggal bersama masyarakat setempat.

Saat ini kami sedang menjalankan program “1man1book4aceh”. Misi program ini adalah menitipkan pesan semangat pendidikan untuk anak-anak pelosok melalui penggalangan buku. Donasi buku dikirimkan melalui pos ke PO BOX Lhokseumawe 24300. Selain mengirimkan buku, donatur menyertakan pesan di dalamnya. Pesan bisa berupa semangat, kata inspiratif, alasan, atau bahkan harapan kamu dalam menyumbangkan buku tersebut. Pesan ini kemudian akan ditampilkan melalui akun jejaring kami. Jadi, ada yang mau menyumbang?

Meskipun sekarang saya mengajar, tapi sebenarnya latar belakang pendidikan saya adalah ilmu keperawatan. (Kalau bertanya-tanya kenapa begitu, ada baiknya anda cari tahu dulu tentang apa itu Indonesia Mengajar). Saya ini seorang ners. Karena titel itulah ayah saya sempat tidak merestui waktu saya bilang mau melamar jadi guru di daerah terpencil.

Kalau ada orang bertanya saya asli mana, saya biasanya bingung menjawabnya. Dan saya akan jawab tidak punya keaslian. Hehe. Karena ayah saya bersuku jawa, ibu saya campuran madura-cirebon tapi lahir dan besar di jakarta. Saya, dilahirkan dan dibesarkan di jakarta pula. Bisa dilihat? Ketidakpunyaan keaslian diturunkan dari ibu saya. hehe [maafkan aku mami].

Karena tidak punya keaslian itu pula saya jadi tidak bisa berbahasa daerah. Bahasa ibu saya bahasa indonesia. Di rumah ayah saya yang jawa tidak pernah mengobrol dengan ibu saya menggunakan bahasa jawa. Meski sebenarnya ibu saya bisa bahasa jawa juga sunda. Saya suka iri dengan mereka yang bisa bahasa daerah. Minimal mereka bisa 2 bahasa, indonesia dan bahasa daerah masing-masing. Kalau sesama sukunya sudah mengobrol dengan bahasa daerah, saya tambah iri lagi. Saya hanya bisa bahasa jawa sedikit, bahasa aceh sedikit juga. Huhu.

Setelah 20 tahun lebih tinggal di kota kelahiran, saya ditugaskan nun jauh di ujung sumatra. Jadilah saya saat ini masuk pada IPI (Ikatan Perantau Indonesia). *organisasi karangan pribadi*. Tapi sejauh ini minimal saya akan jadi perantau sampai 4 bulan ke depan. Setelah itu kembali ke jakarta. Yeay. Mana tahu nanti ada kelokan lagi dalam hidup saya dan merantau lagi lebih jauh. [semoga bisa kuliah di luar negeri, aamiin]

Saya ini perempuan. Heuheu. Mungkin bagi beberapa orang ini fakta basi. Biarlah saya cantumkan juga. Dulu di MP sempat jadi topik *GR banget* tentang apakah jenis kelamin pemikirulung itu. Banyak yang menyangka saya laki-laki. Bahkan pernah suatu kali saya menunjukkan bahwa saya perempuan malah dibentak “ga usah pura-pura jadi perempuan!”. Lah pegimane ceritanye inih? Sampai sekarang kalau saya berhubungan secara online dengan orang lain, setelah menyebutkan “saya ludi” maka semuanya akan menyangka saya laki-laki. Misalnya kalau beli barang online (baik internet maupun sms) atau menghubungi orang via sms, ujung-ujungnya saya disapa dengan “pak”, “mas”, atau “bang”. Dan parahnya saya adalah, saya malas mengoreksinya. Biarin aja lah, ga esensial juga. Kalau lagi rajin baru saya suka bilang “btw, saya perempuan lho”. Bleh.

Dengan berat hati saya mengakui bahwa saya ini gendut. Hehehe. Sebelum penempatan saya pikir saya akan semakin kurus ketika di daerah, tapi ternyata tidak pemirsa. Berat badan saya masih sama dengan yang dulu. Awalnya sempat turun tapi sekarang naik lagi. Tapi kata temen-temen saya, “jangan jadi kurus ludi!”, atau “aku suka apa adanya lud” ada juga yang bilang “mau lo kurus atau gemuk yang penting lo sehat”. Au ah, pusing saya ngomongin antropometri.

Klan penunggang bebek. Ada yang familiar dengan kata ini? Ini juga klan yang saya namakan sendiri. Saya terbiasa kemana-mana dengan mengendarai motor. Waktu di jakarta dulu bahkan orang rumah saya menjadikan keberadaan motor saya di depan rumah sebagai indikator keberadaan saya juga. Di dalam kamar saya suka dengar orang di luar bicara | pemi ada di rumah? | ada. Tuh motornya ada |. Setelah sampai di aceh pun saya masih suka bawa motor kemana-mana. Kepasbangetan teman saya sekecamatan difasilitasi motor oleh ayah angkatnya (kalau ke kota saya yang disuruh bawa) dan saya sempat sewa motor juga beberapa bulan kemarin. Jadi selama ini saya sering bolak/balik Lhokseumawe-Langkahan dengan mengendarai motor sendiri. Ajib kan? Jaraknya sampai 70 km lebih lho.

Sekian 11 hal tentang pemikirulung. Kalau anda sekalian cermati, dari 11 poin itu tidak ada yang menceritakan tentang karakter atau preferensi pribadi dsb. Soalnya tulisan tentang diri sendiri begini sudah sering saya buat. Hehe. Jadi kali ini yang saya bahas tidak jauh dari sekedar data demografi saja.

Lanjut ke rules berikutnya……

Sudahkah kamu makan semangka hari ini? *pertanyaan apa ini?? Haha..

Iya..pertanyaan macam apa itu. Hoho. Saya sebenarnya tidak terlalu suka buah. Kalau ada semangka di atas meja, maka belum tentu saya akan mengambilnya. Apalagi di aceh, saya jarang bertemu semangka

Selama jadi kontakku, apa bagian paling berkesan yang kamu ingat sampai sekarang ketika berinteraksi dengan seorang akuai?

Sepertinya banyak hal berkesan bersama akuai, tapi bukan dengan interaksi dunia maya. Hehe. Mungkin yang paling berkesan waktu kami menghabiskan waktu bersama dan saya buat jurnalnya di sini. Hehe. Seru aja hari itu

Dari beberapa kategori jurnal yang kubuat (Bookalova, Ngobray, Nogu Sory, SDS, W3, Info lomba, dll liat sendiri tag-nya di halaman muka blogku), mana yang paling kamu suka?

Gatau..hahahaha. baru tau saya kalau ada kategori seperti itu. Bookalova saya suka, setidaknya menyadarkan saya kalau ai punya kelebihan dibanding saya dalam hal ini, kuantitas membaca (yang lainnya belum tentu, hihi *kabur*)

Berapa rupiah yang kamu habiskan untuk ngenet? Boleh jawab perhari atau perbulan.

100 ribu per bulan. Internet unlimited. Buat isi smartphone. Senangnya punya mainan ini, benar-benar dimudahkan. Mau tau sesuatu tinggal browsing, ada email langsung tau, kirim laporan tinggal mainkan jempol, cari berita pun mudah. Sangat membantu orang desa seperti saya. yang jadi masalah cuma, adakah sinyal kuat di desa? Heuheu.

Harapan apa yang paling diinginkan tahun ini?

Berhasil menulis sebuah buku (maksudnya, ada buku tulisan saya yang berhasil terbit begitu). Sekian.

Kalau disuruh jalan-jalan ke satu tempat di Indonesia, kamu mau kemana?

Banyak. Kenapa cuma satu sih?

Pengen ke bangka-belitung. Di sana ada kawan kuliah dulu yang cukup dekat. Saya juga tertarik dengan pantainya. Terpengaruh baca majalah “potret negeriku”. Hehe. di majalah itu foto pantai di bangka (apa belitung ya, gw agak lupa) bagus banget, bersiiiiih, jadi ingat sabang. Belum pernah lihat pantai dan laut sebersih itu.

Siapa tokoh inspiratif yang memberi motivasi dalam hidupmu?

Tidak ada yang spesial memberi motivasi. Inspirasinya bukan hadir karena perseorangan.

Mana yang lebih kamu suka: menunggu atau ditunggu?

Sebenarnya dua-duanya ga suka. Menunggu ga betah. Ditunggu ga tenang. Tapi berhubung pertanyaannya “lebih”, saya pilih menunggu. Setidaknya sambil menunggu saya bisa sambi dengan pekerjaan lain, dan saya tidak menzhalimi orang lain saat itu.

Kalau nanti aku bikin buku lagi, apakah kamu mau membeli bukuku? *pasang mata berbinar-binar ala Sinchan 😛

Yang lama pun aku belum beli i *merasa tidak enak dengan pertanyaan ini*. Boleh lah belinya nanti di jakarta saja ya.

Apa yang membuatmu bersyukur hari ini?

*dan sayapun merasa waktunya tidak tepat, karena kalau 1-2 hari lalu hari-hari saya asik sekali*

Hari ini #akubersyukur dapat kendaraan untuk keluar dari desa. Saya pikir sudah tertinggal bis, ternyata belum. Saya menumpang bis sekolah bantuan gubernur aceh untuk anak-anak sekolah di aceh. Bisnya mengangkut siswa di Langkahan. Saya jadi satu-satunya orang umum yang ikut bis itu. Dan saya tidak peduli. Haha. Meski tidak sampai kota kecamatan, tapi lumayan karena bisnya membawa saya sampai desa tempat SMA berada, sekitar 10 km dari desa saya. Dan dari desa tersebut saya bisa dapat ojek untuk melanjutkan perjalanan menuju kota. Pengalaman naik bis ini menarik. Saya duduk di belakang dengan jalan yang sebagian besar rusak berbatu-batu, supirnya ngebut, kami di belakang duduk melompat-lompat. Cihuy lah pokoknya, mengaduk-aduk perut.

Apa yang terpikir pertama kali ketika disebut kata atau angka sebelas?
Tim sepakbola. Begitu saja.

Inilah rules yang membuat saya tertarik mengerjakan tugas ini meski tidak ada yang menyuruh. Asik-asik..

  • Apa pendapat kamu tentang Indonesia Mengajar dan Pengajar Muda?
  • Pernahkah kamu ke aceh? Kalau iya, apa yang paling berkesan? Kalau tidak, kalau berkesempatan ke aceh, kamu mau kemana? Kenapa?
  • Apa kesanmu terhadap pemikirulung, boleh di dunia nyata atau dunia maya?
  • Adakah tulisan saya yang berkesan bagi kamu, yang mana?
  • Apa film animasi favorit kamu, kenapa?
  • Benda apa yang wajib ada di dalam tasmu, adakah yang khas?
  • Sarana transportasi/kendaraan apa yang paling kamu impikan untuk kamu naiki?
  • Kalau di jalan tiba-tiba kamu menemukan bayi singa, apa yang akan kamu lakukan? (mungkin aneh banget pertanyaan ini, tapi kakak saya pernah mengalaminya)
  • Setelah menikah, kamu baru tahu pasanganmu tidak bisa memiliki anak. Bagaimana responmu?
  • Apa ketakutan terbesar dalam hidupmu?
  • Prestasi apa dalam hidupmu sejauh ini yang paling kamu banggakan?


Rules terakhir seperti biasa juga, saya kurang sreg kalau harus men-tag orang lain. karena biasanya tidak dikerjakan juga, kalau ada yang mau kerjakan silakan, mangga. Berhubung yang menarik dalam tugas ini adalah bisa membuat pertanyaan, maka apalah artinya saya kerjakan kalau ujung-ujungnya tidak ada yang tertarik menlanjutkan tugas saya ini.

Jadi, besar harapan saya ada orang-orang yang tertarik untuk mengerjakan PR dari saya. mau yah? Yah? Pliiiis. *pakai gaya murid saya kalau memohon di kelas*

Berdamai Dengan Nama

Ira pernah menulis di blognyaIf there’s a child hate her name so, it was me” dan di tulisan itu saya memberi komen dengan sesadar-sadarnya “entah siapa yang lebih parah, aku juga betul-betul tidak suka dengan namaku”. Ya, saya adalah satu dari (mungkin) sedikit anak-anak yang tidak suka dan tidak bangga dengan namanya sendiri. Dan jikalau saya menyatakan hal ini pada orang lain, maka banyak di antara lawan bicara yang dengan sukarela tidak terpaksa menasihati saya agar tidak berpikir demikian.

Kata shakespeare apalah arti sebuah nama, tapi kata RosuluLLOH SAW nama adalah doa. Ya, nama mestinya menjadi suatu pengejawantahan harapan dan doa orang tua pada anaknya. Dan inilah yang membuat saya tidak menyukai nama saya, karena ia tidak mengandung unsur doa dari orang tua saya untuk diri saya sendiri. Entah, apa maksud orang tua saya memberi nama itu pada saya. Saya tidak pernah bertanya, dan sejauh ini kalau ayah saya bercerita hanya berkisar pada proses kreatif pembuatan nama tersebut. Bukan pada tujuannya.

Saya tidak pernah mengatakannya dengan terang pada orang tua bahwa saya tak menyukai nama ini. Tak sampai hati melakukannya. Meski pernah terbersit saya ingin mengumpulkan uang agar bisa mengurus penggantian nama suatu hari. Ah, dokumen legal saya dengan nama ini sudah banyak, sepertinya baiknya niatan itu diurungkan.

Teman saya pernah bilang “udah bukan masanya buat kita Pe ga pede dengan nama kita sendiri. Ikhlas aja biar berkah”. Yah, sudah 23 tahun saya hidup bersama nama ini. Tidakkah aneh dengan waktu selama itu masih belum menyerah untuk menerima? Ternyata masih, bagi saya. Saya bilang, itu semua perlu proses, dan saya masih berada dalam perjalanan proses itu. Teman sayapun jawab lagi “yang penting terus diusahakan ya, mudah-mudahan nanti sampai pada momennya”.

Ada pula beberapa orang yang masih tidak memandang arti sebuah nama, akibat kelakuan sang pemiliknya. Waktu itu mas ogie bilang “ada yang namanya bagus-bagus, tapi kelakuan penjahat”. Kalau dipikir-pikir bener juga sih. Ada seseorang dengan nama bagus tapi kelakuan penjahat yang lagi sangat ngetrend akhir-akhir, sempat tiap hari disebut-sebut di tivi, sebelum akhirnya tergeser namanya oleh adjie massaid dan sekarang ahmadiyah. Siapa dia? Seseorang pernah bilang, dia tidak pantas dengan namanya yang sekarang, mestinya diganti dengan “laa hasanah, laa mubarokah”.

Itu jadi sedikit pembelaan untuk saya. Jadi semacam percepat proses saya menuju momen penerimaan. Yah, karena berarti yang penting ketimbang saya mengurusi nama adalah memperbaiki diri saya.

Pas banget saya nemu artikel di koran beberapa hari lalu, judulnya ganti nama. Saking menariknya artikel itu, sampai saya minta potongan korannya biar bisa dibawa pulang, soalnya saya baca di rumah orang lain. Karena mau beli juga sudah susah, koran sepekan lalu. Di artikel itu penulis bercerita bahwa banyak orang mengganti namanya dengan alasannya masing-masing. Dia sendiri sempat ganti nama jadi “ke-cina-cinaan” waktu dia dirawat di china selama 2 minggu. Alasannya sederhana, yaitu karena komputer rumah sakit tidak memuat abjad latin.

Si penulis bilang begini “ganti nama atau tidak, tabiat yang ditunjukkan dalam hidup sehari-hari itu mungkin yang lebih penting.” Dia mencontohkannya dengan dirinya sendiri. Si penulis bernama Samuel Mulia dengan nama tengah Budiawan. Tapi dia merasa bertahun lamanya dia bukanlah orang yang berbudi, bahkan mungkin sampai sekarang. Temannyapun pernah bilang “kamu itu adalah angel with devil heart”.

Ada satu pargaraf yang juga sangat menarik, saya kutip saja.

“saya mungkin bisa mengoceh sejuta menit untuk memberi tips dan wejangan yang mulia. Tapi, secantik apapun nama saya, semulia apa pun arti nama saya, seindah apa pun nama panggilan saya, manusia itu akan mengingat perilaku yang saya perbuat dalam hidup ini.”

Ya..saya akhirnya tersadar, sebagus apapun nama, yang lebih penting adalah hati, pikiran dan amalnya. Karena toh kelak nama bukanlah salah satu item hisab kelak. Namun, memang, bila kita sebagai orang tua, perlu memberikan nama dengan sebaik-baiknya sebagai doa kita untuknya. Karena itu adalah salah satu kewajiban orang tua. Tapi jika posisi kita sebagai anak, sebagai objek yang diberi nama, saya pikir, cukuplah itu saya terima, selama tidak mengandung doa yang buruk. Karena kita tidak bisa memesan nama kan? Lebih baik fokus pada islahun nafsi saja.

Apakah ini berarti saya telah sampai pada momen penerimaan itu? Mudah-mudahan iya.

~cerita sedikit

Siangnya saya baca artikel ini ketemu MPers yang bertanya nama asli saya siapa. Saya jawab âlah ludi itu ya nama asliku.â? Ternyata dia selama ini ga percaya ludi itu nama asli. Sorenya saya komen di fb, eh ada MPers lain yang juga bilang kalau dia dan temannya awalnya juga tidak percaya kalau Pemi Ludi itu nama asli. Ealaah..hahaha. Siapa lagi yang ga percaya? Ngacung!

(ngacung doang..saya gatau, lha wong gabisa komen, heheh)

Banyak Merasa, Merasa Banyak


Suatu hari saya pernah menulis qn bunyinya begini âSerem sekali kalau kita sampai merasa "telah berbuat banyak". Semoga dihindarkan dari perasaan demikianâ?. Seorang teman berkomentar (di fb)âyang mengerikan adalah merasa telah makan banyakâ?. sayapun jawab âjustru yang lebih mengerikan lagi adalah tidak merasa telah makan banyakâ?. yah, pada akhirnya saya menemukan fakta menarik yang ternyata berkaitan dengan jawaban komen saya ini. Sebuah bukti nyata, hehe.

Di suatu hari, saya mengikuti sebuah ujian percobaan. Setiap peserta ujian diberikan makan siang gratis berupa nasi box. Siang itu, saya makan berdua bersama teman saya. Setelah nasi saya habis, saya membatin âwah, ngga nampol nihâ?. Ya, porsi nasi box itu terasa kurang bagi ruang lambung saya, sepertinya masih muat untuk dimasuki setengah (atau lebih) porsi lagi (haha, parah!). Terasa masih lapar gitu. Tapi ketika saya tanya pada teman saya, dia merasa cukup dengan porsi nasi box kami. Baginya, takaran segitu adalah takaran yang âwajarâ?. Dan siang itu saya menyadari satu hal, salah satu sebab penting kenapa saya bisa tetap (atau bahkan tambah) gendut adalah karena saya kerap makan dengan porsi yang lebih banyak daripada orang lain, dan saya tidak menyadarinya. Huhuhu. Sungguh mengerikan. Sangat mengerikan.

Fisiologi tubuh kita memang begitu, istilah mudahnya adalah gampang beradaptasi. Salah satunya adalah lambung. Tidak salah jika dulu ada yang bergurau bahwa perutnya adalah perut karet, diisi berapapun tidak akan penuh, karena bisa melar. Hehe. Kaya luffy aja, yang kalau makan perutnya bisa menggembung sampai berkali-kali lipat. Lambung kita memang elastis, meski tidak seelastis luffy si pemakan buah gomu-gomu. Jika kita terbiasa makan dengan porsi tertentu, maka lambung kitapun akan merasa cukup dengan porsi itu. Jika suatu hari kita makan dengan porsi yang lebih sedikit, otomatis lambung kita akan ânagihâ?, begitupun sebaliknya. Demikianlah penjelasan ilmiah dari bencana yang menimpa saya di paragraf kedua. Ehem..ehem..

Kenapa orang bisa, tetap, atau tambah gemuk? Saya pernah serampangan berteori dari pengamatan subjektif saya (seperti biasa, hehe) dan saya tulis di blog beberapa tahun

sebelum masehi
silam. (biar kesannya gw udah sepuh banget, hoho). Tapi yang pasti, penjelasan ilmiah kenapa berat badan seseorang bisa naik adalah karena asupan kalori yang lebih besar dari kebutuhan.

Sebelumnya, seorang teman senasib-menurut pengakuannya sendiri- pernah menulis di blognya bahwa obesitas telah menjadi epidemi di dunia. Teman senasib itu, tentu saja yang saya maksud adalah senasib dalam urusan berat badan, kalau namanya disingkat jadi Fat Man, alias lelaki gendut. Pas banget ya? Hahaha *info ga penting*. Hal ini menarik sekali buat saya, karena setali tiga uang dengan sebuah bahasan yang sedang saya garap akhir-akhir ini. Tentang penyakit-penyakit mematikan.

Karena obesitas adalah epidemi abad 20 dan 21, maka penyakit-penyakit yang dipicu karena obesitas juga meningkat kejadiannya. Misalnya diabetes, selain juga sudah menjadi epidemi, peningkatan penderita diabetes di seluruh dunia mengkhawatirkan jumlahnya. Bahkan di sebuah buku dikatakan 40 juta orang amerika mengalami pradiabetes (sebuah kondisi dimana sepertiga dari mereka akan jadi diabetes dalam 5-10 tahun). 40 juta sodara-sodara! (itu belum termasuk yang udah menderita diabetes)

Seperti yang tadi sudah dibilang, kenapa orang bisa gemuk jawabannya cuma 1, karena pemasukan lebih besar dari pengeluaran. Kalau ingin kurus ya tinggal merubah salah 1 dari dua pilar penting itu, memperkecil pemasukan, atau memperbesar pengeluaran. Omong-omong tentang ini, saya jadi ingat sms racauan seorang teman beberapa hari lalu âalih-alih mengurangi IMT yang udah lebih dari 30, berat badanku malah naik 2 kg..huhu.. Syahwat perut, susah banget dihindari sii..â?. waktu itu saya jawab âyaudah kalo syahwat perut susah dihindari, diimbangi aja dengan syahwat olahraga, heheâ?. Simpel sebenarnya, seimbangkan pemasukan dan pengeluaran. tapi, saya tidak heran kalau ada yang mengomentari tulisan ini dengan âah teori nih Ludi, praktekin dongâ?. Hahaha.

Susah memang mengubah kebiasaan. Apalagi PR saya untuk menjadi âmanusia normalâ? sampai 15 kg. Jumlah yang banyak banget kan. PR yang susah bener. Tapi, kalau mengingat risiko apa saja yang membuntuti saya akibat kelebihan berat badan ini, mau tidak mau memang harus dipaksa. Mungkin dengan memulai banyak merasa dan merasa banyak. Tepatnya merasa banyak makan. Merasa banyak pemasukan.


Kegemukan ini harus diakhiri sekarang. SEMANGAAAAAAAT!!

~lebih jauh tentang fenomena, sebab, akibat kegemukan, ataupun mitos terkait peningkatan berat badan. Pokoknya tulisan yang lebih ilmiah lah, akan saya bahas di tulisan lain


baca juga

Kenapa Orang Bisa, Tetep atau Tambah Gendut?

poto diambil dari corbis.com

pemi-kiran acak

warning: ini blog diberi tag "postingan iseng", semoga dengan fakta ini anda tahu apa maksudnya..siap-siap di ctrl+w aja, hehe

ada seorang teman blogger yang sedikitnya 2 kali membuat tulisan dengan judul "random thoughts". sebenarnya saya sendiri tidak tahu pasti maksudnya apa..tapi postingannya menarik. berhubung jam ngantuk saya udah lewat, saya ga ngerasain ngantuk sekarang..saya jadi ingin mencoba membuat postingan random thoughts juga, versi saya tentu…

beberapa hal yang mengganggu pikiran saya beberapa menit (atau jam) terakhir

apa penyakit mematikan di dunia

maksudnya penyakit-penyakit apa saja yang mengakibatkan kematian paling banyak di dunia gitu. saya buka gugel sampainya ke blog orang, ga cantumin sumber pula. ah, sulit dipercaya itu mah. ketemu website yang menyediakan file-file pdf gitu, pdf database, ada judul yang terkait dengan yang saya cari ini, tapi sayangnya BAYAR..ogah ah..

program pemerintah terkait penyakit-penyakit mematikan tsb

yang saya cari spesifik DM (diabetes mellitus), PJK (penyakit jantung koroner), kanker, dan strok. ada ngga sih program kesehatan yang terkait dengan penyakit ini? sejauh yang saya tau kebanyakan terkait penyakit infeksi, semacam TBC, DBD, kalo penyakit degeneratif ada atau ga?

diterima ga yaaa

abis kirim sebuah file..sebenarnya udah diminta sejak lama, berhubung saya dapet keterangan lengkapnya terlambat, terlambat pula-lah saya menyelesaikannya. bahkan dari deadline yang saya buat sendiri terakhir (sebelumnya udah bikin tapi mundur-mundur juga), ini bisa dibilang hari-K..maksudnya 3 hari setelah hari-H..ah parah..kapaan ya ludi bisa jadi manusia hari-F

terlepas dari diterima atau ga, tawakal aja ah, lebih menenangkan..

makan apa hari ini

entah sejak kapan kerongkongan saya jadi sensitif (kapan-kapan saya buat tulisan terpisah, kalau saya sempet dan mood, insya ALLAH, hehe). kalau habis makan mie instan atau makan gorengan dalam jumlah tertentu (sampai sekarang gatau berapa batasannya) yang digoreng dengan minyak curah atau jelantah..malem harinya saya panas dalam, kerongkongan panas banget, bisa sampe bikin terbangun dari tidur. berhubung dari tadi juga belom tidur, yah, jadi dari tadi ngerasain ngga nyaman nih di kerongkongan (bagian atas sih, tempat sekitar makhroj-nya huruf ‘ain atau hamzah, hehehehe). bener-bener kepikiran euy emangnya hari ini makan apa, ko siksaan panas dalam ini bisa datang? makan gorengannya kan kemaren

samara

sebenernya saya bukan orang yang penakut. tapi kalo dini hari gini, sepi, mau keluar kamar bawaannya jadi menghayal yang horor-horor, dan khayalan horor edisi malam ini adalah samara. hahaha. itu loh, sadako versi amerika. udah gitu yang kebayang samara yang lagi garuk-garuk tembok. ampun dah. ga sampe menghalangi aktivitas sih, keluar mah keluar aja
samara..samara..pake jilbab yuk..

bisul berikutnya

satu kerjaan kelar nih..tentu saja mikir kerjaan apa lagi yang sudah menunggu untuk diselesaikan..sepertinya mulai fokus isi sebuah form registrasi sebuah program yang akan saya ikuti. doakan yaaa

selesai. sepertinya sudah semua pikiran yang lagi lari-larian di kepala saya tumpahin disini. tidur ah..

~besok mau ketemu aachan, ada yang mau ikut?

gw orang jakarta

Pekan lalu saya pergi ke Book Fair bareng kakak dan anak-anaknya. Berhubung perginya banyakan, kami naik bis kota. Kami memilih bangku 3, soalnya bangku 2 kesorot sinar matahari. Saya duduk di bangku belakang kakak sendirian. Tidak lama naik seorang bapak dan duduk di bangku saya. saya duduk dekat jendela, si bapak duduk di ujung. Sebelum masuk tol ada penumpang lain naik dan hendak duduk di bangku kami, perempuan muda, mungkin seumuran saya. oleh si bapak perempuan itu dipersilakan duduk di tengah. Dalam hati saya bersyukur dengan pilihan itu.

Tidak lama, si bapak mengajak ngobrol perempuan tadi. Saya cukup takjub dan bertanya-tanya. Pasalnya dari tadi kami duduk bersama, tidak sekalipun bapak ini mengajak saya mengobrol. Tapi, baru saja perempuan ini bergabung, langsung diajak ngobrol. Mau tidak mau saya jadi menganalisa, kenapa saya tidak diajak ngobrol sementara dia iya. Kenapa si bapak begitu tega? Kenapa dia memperlakukan saya begini? (halah, lebay). Mungkin, hasil analisa pertama saya, bapak itu tidak tertarik dengan saya, karena saya bukanlah magnet, dan dia bukanlah peniti. Mungkin juga wajah saya tidak terlihat ramah dan enak diajak ngobrol. Sudah biasa. Apalagi saya terus-terusan menatap jendela dan tidak berpaling (aku suka liat keluar jendela, suka suka suka) kecuali untuk membaca dan membalas sms. Atau mungkin saya mirip dengan wanita yang pernah menolak cinta si bapak di masa lalu, jadi menegur saya hanyalah membangkitkan kenangan buruknya. Ah, kemungkinan itu bisa saja benar kan?

Lupakanlah analisa-analisa tidak penting tadi. Yang ingin saya bahas adalah sebuah kata-kata bapak itu pada si perempuan. Meski saya tidak diajak ngobrol, saya tahu isi obrolan mereka. Hoho (coba gw diajak ngobrol, kan jadi bisa kasi pendapat-pendapat cerdas :p). Awalnya si bapak bertanya tempat tinggal perempuan ini. Saya jadi tahu kalau perempuan ini datang dari daerah masih di pulau jawa (saya lupa tepatnya dimana) ke Jakarta untuk bekerja jadi pembantu rumah tangga. Kalau istilah mbak ini sih âkerja di perumahanâ?. Ah, sungguh istilah yang ameliorative sekali, orang jawa emang paling jago dah kalo soal beginian. Di tempat kerjanya sekarang, dia tidak betah. Baru hitungan hari dia memutuskan untuk pulang dan ini adalah perjalanan pulangnya. Si bapak, dari sekian banyak kata-katanya, ada satu hal yang paling berkesan buat saya, âhidup di Jakarta itu, harus kuat mentalâ?.

Saya yang sudah 23 tahun tinggal di Jakarta ini jadi berefleksi diri. Karena, kalau mengacu dai kata-kata bapak barusan mestinya saya ini adalah oran yang bermental kuat mengingat lamanya waktu saya hidup di Jakarta. 20 tahun lebih, sungguh bukan waktu yang singkat. Tapi kemudian saya sadar, tentu saja hal ini tidak bisa jadi acuan untuk saya. karena yang dimaksud si bapak adalah âmenghidupi diri sendiriâ? di Jakarta. Sedangkan saya, 23 tahun ini hidup bersama orang tua, ditanggung oleh orang tua, jadi yang bermental kuat itu emak-babeh saya, bukan bocah dudul ini.

Sudah kita ketahui bersama bahwa Jakarta adalah kota yang menarik untuk mencari nafkah bagi orang daerah. Banyak orang datang untuk mengadu nasib ke Jakarta. Kenapa? Karena mengadu nasib lebih baik dari mengadu ayam. Mengadu nasib juga lebih baik dari mengadu domba. Meskipun mengadu nasib tidak lebih baik dari mengadukan segala hal pada ALLAH semata. Hehe. Mereka pikir cari duit di Jakarta lebih mudah daripada di daerahnya, berbondong-bondonglah orang ke Jakarta. Tidak heran kalau banyak sekali spanduk dari pemprov Jakarta menjelang musim mudik, spanduk peringatan agar saat mereka balik tidak mengajak saudara atau teman dari kampong untuk ikutan tinggal di Jakarta. Jakarta penuh bung!

Yap, Jakarta sudah teramat penuh. Bahkan jumlah penduduknya lebih banyak dari singapura. Penduduk 1 kota lebih banyak dari 1 negara. Hebat kan? Hal ini membawa banyak akibat buruk bagi Jakarta dan penduduknya. Kemacetan, kriminalitas, pengangguran, dsb. Saking beratnya kota ini, sementara air tanahnya dieksploitasi terus, belum lagi ada abrasi, diperkirakan Jakarta tenggelam tahun 2030. Anehnya, meski diperkirakan begitu, Jakarta masih rame aja.

Jakarta adalah kota yang keras. Itulah imej yang melekat di mata orang daerah. Tidak sembarang orang sanggup hidup di Jakarta. Setidaknya bapak itu berpendapat begini, saya simpulkan sendiri dari wejangannya buat perempuan yang duduk di tengah. Dulu, saya pernah berpikir, pemikiran aneh, keterampilan dasar orang Jakarta dalam bertransportasi adalah naik turun bis yang sedang atau masih berjalan. Kalau mau selamat, harus bisa itu dulu. Jangan harap bis akan benar-benar berhenti hanya untuk menaikkan dan menurunkan anda seorang, jangan harap. Setelah akhirnya saya bukan bukan pengguna transportasi public, tapi jadi âtukang ojekâ?, saya punya teori baru. Keterampilan dsar naik motor di Jakarta adalah menyelip saat macet. Jago ngebut adalah keterampilan no 63, bukan yang utama. Ngapain jago ngebut? Lha wong jalanannya juga macet. Yang penting itu bisa bawa motor melewati jalan yang hanya pas-pasan dengan motor anda, sementara kanan/kirinya adalah mobil, torotar, atau pager pembatas. [dan saya mahir untuk itu, hoho]

-kenapa jadi ngelantur ya?-

Jakarta adalah kota yang kejam. Kata teman saya begitu, dia orang Jakarta. Sepertinya orang-orang daerah juga banyak berpikiran demikian. Saya punya cerita. Dulu, waktu kuliah tingkat 1, teman-teman saya dari daerah masih pada polos-polos, kuliah di UI, meski itu Depok, tapi sebut sajalah itu Jakarta, toh jaraknya paling cuma 2 km untuk masuk ke Jakarta. Beberapa teman banyak yang kena aliran sesat. Aliran yang mewajibkan anggotanya membayarkan sejumlah uang dengan nominal yang cukup besar demi menebus dosa masa lalu dan mendirikan Negara islam. Hampir semua yang kena adalah anak daerah, sayangnya saya tahunya terlambat. Teman-teman saya tahu kalau ini sesat, tapi mereka terpaksa membayar, ada yang jual hape atau ngasih cincin. Waktu saya tanya kenapa mau, teman saya jawab karena takut. Mereka diancam kalau cerita ke orang lain atau tidak mau bayar mereka akan dibunuh. Mendengar itu saya jawab âyaelah percaya aja, itu mah ngancem, ga semudah itu ko ngebunuh orangâ?.

âya kita takut lah Di, ini kan Jakarta!â?

Lain waktu pernah juga, sayang saya sudah tidak ingat detailnya. Waktu itu kami akan meninggalkan kampus, pergi ke Jakarta, mau aksi kalau tidak salah. Teman-teman daerah saya repot banget persiapannya, bahkan cenderung lebay menurut saya. Semua orang yang ditemui di jalan masuk kategori orang yang harus dicurigai, waktu saya tegur, seorang menjawab, âmaklum Di, kita kan orang daerah, Jakarta ini Di, Jakarta!â?. Sayapun jawab âheh, emangnya lo pikir orang Jakarta penjahat semua?â?. Mungkin karena seumur hidup saya tinggal di Jakarta, sensitifitas saya akan seramnya Jakarta jadi tumpul. Padahal saya bukannya sama sekali tidak pernah liat kejahatan atau kriminalitas di depan mata. Dulu pernah saya dibuntutin tukang copet, tiba-tiba kakak saya balik badan, trus copetnya dibentak sambil didorong sama dia, saya cuma melongo, âmbak gw jagoan euyâ?

Memangnya Jakarta seseram itu ya? Emangnya cuma Jakarta aja? Saya pikir tidak juga. Buktinya saya melihat demo mahasiswa di Makassar jauh lebih anarkis ketimbang disini. Masak mahasiswa melempari kampusnyaa sendiri? Kalau di Jakarta tawuran mahasiswa antar kampus. Kalau di Makassar inter kampus, fakultas mana versus fakultas mana, dalam universitas yang sama. Horror ih. Tersangka pembunuhan dan mutilasi sedikitnya 11 orang asalnya dari Jombang, pembunuhannya juga kebanyakan di Jombang, bukan di Jakarta. Bahkan, pakde saya waktu baru-baru kembali ke Jakarta dari timtim. Akhirnya dia memutuskan untuk meninggalkan daerah konflik itu, kerusuhan sudah semakin parah, dan tinggal bersama kami. Kalau pakde saya nonton tivi, terus dia lihat penjahat, dia geregetan, maka dia akan berseru âbunuh sa..â?, âpacul saja kepalanyaâ?, bakar saâ?, dengan logat timornya yang kental. Dan kami di rumah cuma bengong, kehidupan keras macam apa yang selama ini dia lihat?

Ternyata, saya pikir, kekejaman tidak hanya ada di Jakarta. Persaingan hidup, kesempatan bekerja, macam-macam ideology, dll juga begitu. Ada juga di kota lain, meski tidak sama persis. Karena tiap kota unik, Jakarta salah satunya. Maka menyikapi hidup bukanlah karena kota tempat kita tinggal. Tapi menyikapi hidup adalah sesuai dengan bagaimana kita memandang kehidupan itu sendiri.

Hidup dimanapun, perlu mental yang kuat, mau di Jakarta atau bukan

Hidup dimanapun, harus waspada dan hati-hati, mau di Jakarta atau bukan

Hidup dimanapun, harus semangat berjuang, mau di Jakarta atau bukan

~tulisan ngalor ngidul, flight of idea, berkali-kali bingung mau dibawa kemana, tapi untungnya bisa ditutup juga

17 Oktober 2010