Ramai di Pendaftaran, Sepi di Kenyataan

ingkar janji

Ingkar Janji | picsource: psychologium.com

Jaman sekarang eranya bagi ilmu gratis. Training dan seminar gratis banyak diselenggarakan. Grup whatsapp yang isinya diskusi dan bagi ilmu juga bejibun. Tentu ini tren yang sangat baik. Mau belajar jadi mudah. Tapi kadang, yang mudah-mudah begitu jadi suka disepelekan.

Kadang orang kurang menghargai sesuatu yang dia dapatkan dengan mudah. Misal, karena trainingnya gratis, dia hanya perlu datang, ga perlu merogoh kocek banyak, malah jadi menjalaninya dengan kurang penghargaan. Ippho Santosa, meskipun sudah tajir melintir, kalau bikin training bisnis umumnya berbayar. Bukan karena dia cari duit dari training itu, tapi karena dulu dia sering mengadakan training gratis, ternyata peserta training gratis sikapnya beda dengan peserta training berbayar. Peserta training gratisan banyak yang datang terlambat dan kurang serius ketika training. Beda dengan yang training berbayar, mereka lebih menghargai. Mungkin karena mereka merasa sudah berkorban uang untuk bisa hadir di sana, jadi sayang kalau disia-siakan.

Indonesia mengajar juga kalau mengadakan talkshow ke kampus-kampus pakai tiket berbayar meskipun harganya murah. Saya tanya ke teman yang kerja sebagai officer, ngapain pakai bayar sih wong cuma talkshow, dan sekaligus sosialisasi IM. Teman saya bilang untuk seleksi komitmen aja, biar yang datang berarti memang beneran  niat mau hadir dan mau tahu tentang IM. Kira-kira begitu.

Salah satu bentuk kurangnya penghargaan adalah mudahnya membatalkan janji. Di sebuah komunitas yang saya ikuti, sering diadakan sharing session. Sharing ini berupa diskusi dengan mengundang pembicara yang expert di bidangnya. Pembicaranya sukarela, yang hadir pun tak dipungut biaya. Beberapa hari sebelum hari-H didata siapa saja yang bisa hadir karena biasanya tempat terbatas. Lalu berbondong-bondonglah orang yang menyatakan bisa hadir. Tapi banyak dari yang tadinya bilang bisa hadir itu membatalkan di menit-menit terakhir. Atau lebih parahnya lagi, tidak ada konfirmasi pembatalan tapi tidak hadir juga. Ramai di pendaftaran, sepi di kenyataan.

Apakah terasa familier? Ini juga banyak terjadi di grup atau broadcast whatsapp. Seringkali kita dapat berita pelatihan gratis, seminar gratis, atau majelis ilmu apalah gratis, bagi yang mau hadir harap daftar atau menulis namanya di list. Yang daftar buanyak! Yang beneran hadir??

Ada sebuah perusahaan jasa yang rutin memberikan pelatihan gratis juga mengalami hal tsb. Yang daftar mau hadir ada 37 orang, tapi yang muncul cuma 8. Padahal mereka sudah mempersiapkan sarana untuk 37 orang. Sakit ga? Akhirnya mereka memberlakukan bayaran di training mereka berikutnya sebagai “jaminan komitmen”. Iya, setiap yang daftar diminta membayar, tapi hanya sebagai jaminan. Nanti uang jaminan akan dikembalikan jika benar-benar hadir. Rempong ya? tapi saya merasa ide ini baik sekali. Biar orang ga semena-mena kalau sudah mendaftar.

Komitmen. Ini yang perlu dimiliki semua orang. Jangan kaya lagu dangdut “kau yang berjanji, kau yang mengingkari”. Kalau memang sudah bilang mau hadir, hadirlah, kecuali benar-benar tidak bisa. Kalau memang belum yakin bisa hadir, ya jangan daftar. Jangan daftar dengan pikiran “ah gampang lah nanti tinggal dibatalin kalau ternyata gabisa”. Posisikan diri sebagai penyelenggara.

Ah sungguh, tulisan ini untuk pengingat diri sendiri juga.

Advertisements

2 thoughts on “Ramai di Pendaftaran, Sepi di Kenyataan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s