[Review] Afwan Jakarta

Assalamualaikum Indonesia!

Akhirnya saya nonton juga film yang beberapa hari ini banyak dibahas di beranda Facebook. Sebenarnya saya sudah dengar akan tayang film ini dari awal Desember, tapi akhirnya tertarik untuk nonton karena ada surat terbuka yang disebarkan asma nadia dan beredar di grup whatsapp. Hehe. Jadi nonton ini terpengaruh sama permintaan nya mbak Asma (pakai mbak biar kesannya dekat), katanya biar film bernilai islami jadi trend dan investor mau berinvestasi di film-film macam ini.

Namun saya yang belum sempat menonton di bioskop ini sudah keburu terpapar dengan review teman-teman yang sudah pada nonton. Rata-rata pada bilang bagus pakai banget, recommended, mesti ditonton, pokoknya tinggi lah pujiannya. Dan ternyata ini adalah kesalahan saya yang pertama, memiliki high expectation terhadap film ini.

Lalu di hari lain, saya nonton tonight show net tv yang tayang di siang hari (iye kl siang namanya bukan tonight show, tapi gw lupa apa) yang mengundang pemain film Assalamualaikum Beijing (AB). Yang diundang ada Morgan, Laudya, Ridho Roma, dan ada Desta yang meskipun tidak diundang sebagai bintang tamu, dia kan host acara itu, makanya ada juga. Ini kesalahan kedua, sering menonton tonight show dan menonton pula yang edisi AB.

Ah, sudahlah, mari masuk langsung ke review filmnya. Fyi, saya akan buat dengan gaya review saya seperti biasa.

– Setelah agak kurang sreg dengan film 99 cahaya yang menceritakan tentang orang Pakistan dan orang barat (lupa kebangsaan nya apa) tapi mengobrol pakai bahasa Indonesia di Eropa, alhamdulillah film ini ga begitu. Orang Tiongkok ya ngomong mandarin, dan kalaupun dia berbahasa Indonesia, itu ceritanya emang mereka bisa bahasa Indonesia. Bagus lah. Jadi lebih natural.

– Kebanyakan orang bilang film ini tentang moving on, apalagi soundtracknya juga begitu liriknya. Tapi saya ga terlalu merasakan feel itu. Tadinya karena dibilang tema move on, saya pikir Asma akan galau untuk memilih Zhung Wen karena masih belum bisa melupakan Dewa. Eh ternyata kagak. Dari masih di Indonesia juga dia udah move on kok. Mestinya bukan tentang move on kata saya mah. Ini film tentang kesempurnaan cinta  (apah?!)

– Laudya menurut saya terlalu lebay. Apa memang mau digambarkan kalau pecinta drama Korea jadi lebay gitu ya? ah tapi teman saya ga gitu ko.

– Morgan lumayan bagus aktingnya. Dan berhubung karakternya di film ini dewasa dan manly gitu, segenap penonton (maaf saya mengatasnamakan kalian para penonton) jadi lupa kalau si Zhung Wen ini Morgan SM*SH yang nyanyi-nyanyi sambil dance “you know me so weeell”. Iya! ini Morgan yang itu!

– Saya sama dengan Asma, ga percaya cinta kilat. Hehe. Saya ga yakin sama love from the first sight, apalagi ke orang yang beda budaya, beda agama, beda kebiasaan, ketemu di bis pula. Jadi saya agak risih dengar si Zhung Wen minta maaf karena lama menemukan Asma kembali setelah pertemuan pertama mereka. Alih-alih terhanyut, dengar si Zhung Wen ngomong gitu sama malah bilang dalam hati “yaelah, masa iya lo udah niat mau ngejar nih cewek sejak sebelum turun bis?”

– Teknik pengambilan gambar nya bagus ya, angle nya itu lho. Bagi saya orang awam yang ga ngerti bikin film, keren aja lihat kamera ambil gambar si Asma dari bawah air (pas dia melihat ke dalam akuarium). 2x adegan ini, rasanya tetap menarik. Atau pas Asma dan Zhung Wen ke tempat patung ashima, angle diambil dari bawah, jadi yang terlihat muka mereka, puncak bukit batu, dan langit yang bersih. Cakep banget. Ini pasti teknik lain dari teknik jadul “buang kamera ke langit” kalau mau ganti adegan, haha.

– Kesalahan pertama adalah membawa ekspektasi tinggi ke dalam ruang bioskop, jadinya kecewa. Menurut saya film ini lumayan bagus. Ga sampai bagus pakai banget. Iya sih, islami, ada adegan si Asma gamau salaman sentuhan dengan bukan mahram, itu keren. Tapi selebihnya biasa aja. Lebih banyak bahas cinta. Mungkin Ludi lelah nonton film roman.

– Ko rasanya aneh yah lihat pasien udah di icu gitu jilbabnya ga dibuka? iya sih aurat. Tapi pengalaman di icu rscm semua pasien gada yang pakai jilbab, pakai baju aja ga (ditutup selimut aja).

– Kalian tahu apa adegan yang paling saya sebel? waktu Asma dan Dewa berantem dan mereka pergi meninggalkan makanan yang belum habis dimakan. Aduh mak, saya sebagai anggota kehormatan pasukan anti mubazir merasa gemes mes mes!

– Saya paling suka justru bukan quote si Zhung Wen tentang cinta sempurna atau quote mas ridwan tentang iman mendahului romantisme. Saya suka ketika Zhung Wen bilang bahwa ketika pertama kali dia mengucapkan syahadat, di situlah dia sadar kita ini harus pasrah sama Allah. Karena semua yang terjadi adalah kehendakNya (maaf saya ketinggalan mencatat percakapan ini, jadi lupa redaksi persisnya, kl ada yang belum nonton, tolong cacatkan dong, Hehe). Lah saya yang udah bersyahadat ribuan kali, udah sampai di mana tawakal dan ridha atas semua ketentuanNya?!

– Meskipun Morgan akting nya bagus, bahagianya kurang lepas. Masa dengar istri hamil ekspresinya gitu doang? Kaku banget ke istri sendiri.

– Dan, kesalahan kedua karena kerap menonton talkshow si Desta adalah saya jadi merasa kehadiran Desta di film itu jadi merusak kesyahduan film. Mas Ridwan yang kalem tapi dalem jadi selalu terlihat kocak bahkan ketika dia diam saja. Racun banget Desta ada di situ, image kocaknya terlanjur melekat.

– Pembahasan tentang Islam di cina nya menarik. Disampaikan dengan luwes. Pemandangan tembok cina, tarian tradisional, kebudayaan islam di sana, makin menguatkan saya untuk kuliah ke Cina.

– oiya, satu lagi, ternyata di Beijing ada juga yang melanggar lampu merah ya? pas Asma menyeberang, pas lagi lampu merah, eh di belakangnya ada motor menerobos (dan kalian pasti heran ko saya bisa ngeh, hoho). tapi jalur sepedanya Beijing bikin ngiler banget ya!

Secara keseluruhan, film ini punya nilai-nilai yang bagus. Beda, bersih, aman, bermakna tapi juga menghibur. Mungkin Anda akan suka.

Apalagi kalau Anda jomblo. Bisa jadi setelah film ini Anda akan yakin bahwa cinta akan menemukan Anda. Menarik banget kalau itu bentuknya muslim ganteng dengan tampang oriental (hihihi).

Sampai ketemu di Beijing!

~ langsung ditulis begitu pulang nonton

Advertisements

10 thoughts on “[Review] Afwan Jakarta

  1. Aye belum nonton filmnyaa XD. Jadi makin kepengen karena postinganmu neng. Dirimu mau lanjut ke China jeng? really recommended untuk datang ke daratan China apalagi kalau mau belajar dunia medis ala tradisional China. Furthermore, bakalan asik banget kalau mau mempelajari sejarah dan kehidupannya Muslim ethnic minority di China (*total ada 10 dari 55 etnis minoritas). Ini topik penelitian aye banget. hehehe… Btw kalo jadi ke sana, aye siap jadi guide jeng 😀

  2. saya juga ga nyangka Morgan bisa akting bagus seperti di film ini 😀
    dibandingkan quote2 yang sering bermunculan di dunia maya, saya juga lebih suka kata-kata Zhung Wen yang soal pasrah sama ketentuan Allah itu. Tapi belum nemu kata-kata lengkapnya

  3. Pelanggaran lampu merah saya lihat! Itu extrass mungkin ya hehehe.
    Sebenernya yg paling gemes ketika Asma dan Dewa meninggalkan makanan adalah Zhung Wen. Dia kan yg kudu mbayar semuanya hahaha…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s