Selamat Hari Djasita

(tulisan ini mengandung cerita-cerita tidak terlalu penting. awas, anda sudah diperingatkan)

Baru 3 hari ini saya punya aplikasi “timehop”. Saya lagi gandrung dengan aplikasi ini. Bagaimana tidak, aplikasi ini menyuguhkan apa yang kita share di social media pada tanggal hari ini di 1, 2, 3, dst tahun yang lalu. Cocok sekali untuk orang yang menggilai kenangan semacam saya, kalau boleh tidak bilang susah move on. Ehm.

Timehop hari ini agak banyak isinya. Ternyata saya cukup banyak berkicau di tanggal 22 desember tahun lalu. Tapi isinya membuat saya tertawa-tawa, gendeng soalnya. Namun demi menjaga perasaan saudara-saudara sekalian yang secara beruntung kemasukan postingan saya di fb dalam beranda-nya, saya menahan diri untuk membagi kicauan tahun lalu itu.

Tahun lalu saya berkicau tentang #PesanIbu. ini dia (saya aja udah lupa)

~ setelah dipikir-pikir, emak saya ga pernah berpesan yang filosofis atau berhubungan dengan nilai-nilai. semua pesannya bersifat teknis

~ mungkin beliau ga berpesan semacam itu karena percaya bahwa saya anak baik-baik nan solehah yang ga akan berbuat asusila dsb 😀

~ mumpung lagi hari ibu saya akan twit #PesanIbu saya yang saya inget. semuanya berhubungan dengan urusan domestik rumah tangga. hahaha

~ tadi udah dibilang #PesanIbu saya kalau nyuci piring gelasnya didahulukan ketimbang yang lain. biar gelasnya ga bau amis. ini terbukti lho

~ waktu mau merantau #PesanIbu saya fenomenal sekali “jangan numpuk cucian” hahaha

~ #PesanIbu yang lain “kl ga sempat nyuci ga usah merendam” 😀

~ oiya waktu di rantauan juga #PesanIbu pada saya “jajan yang enak”. ini beneran lho. emak saya nyuruh saya jajan bukannya menabung 😀

~ emak saya berpesan untuk jajan enak karena dia sangat paham anaknya ini irit rit tit. hehe #PesanIbu

~ lanjut lagi #PesanIbu, sepatu yang udah ga dipakai, cuci bersih dan disimpan, jangan ditaruh gitu aja di rak luar 😀

Tahun ini, saya juga menulis status facebook yang tidak kalah penting dari kicauan twitter tahun kemarin. Juga mengunggah foto ibu saya di facebook dengan bertuliskan doa yang saya buat sendiri.

Namun, saya dapat ilmu lain dari status seorang teman, bunyinya “selamat memperingati hari ibu, para perempuan indonesia. ibu sebagaimana didefinisikan pada kongres perempuan 22 desember 1938 lalu yaitu ibu bangsa, bagi semua perempuan, menikah ataupun lajang, punya anak ataupun tidak. semua perempuan sebagai ibu bangsa, tanpa terkecuali

selamat berkarya dan berkarya bagi sesama perempuan, keluarga, bangsa, dan negara”

Saya baru tahu, kalau hari ibu ternyata sejarahnya seperti itu. Sementara selama ini, bagi saya, hari ibu adalah Hari Djasita (nama emak saya, red). 22 Desember adalah tanggal lahir ibu saya. Maka, ketika orang memberi selamat pada ibunya, kami (anak ibu Djasita) juga sekalian memberi kado ulang tahun (kalau ada). Dipikir-pikir ini sungguh ekonomis dan efisien, ulang tahun yang bertepatan dengan hari ibu membuat kami tidak perlu memberi hadiah 2 kali, hehe.

Namun sebenarnya selama ini saya menaruh curiga kenapa tanggal lahir beliau bisa bertepatan dengan hari ibu. Berhubung ibu saya lahir puluhan tahun silam, bukan di keluarga berada, saya yakin beliau tidak punya akta kelahiran. Saya curiga, ibu saya adalah sejenis dengan orang-orang yang tidak tahu sebenarnya tanggal lahir mereka dan berada di keluarga yang menghubungkan kelahiran anak dengan tumbuhnya pohon. Iya, semacam engkong-engkong yang kalau ditanya kapan lahirnya akan jawab “seumuran dengan pohon kecapi ini ditanam”.

Apalagi, ibu saya sudah jadi yatim piatu sejak kecil. Maka wajar jika sampai sekarang saya tidak yakin bahwa tanggal 22 desember adalah benar-benar tanggal lahirnya. Demi memuaskan kecurigaan saya, tadi sayapun bertanya padanya
“mah, emang beneran mama lahir tanggal 22 desember? tahu dari mana?”

Mudah-mudahan ke depan, saya akan lebih memaknai hari ibu dengan baik sesuai dengan latar belakang ditetapkannya hari ini. 22 Desember tidak melulu Hari Djasita, tapi juga Hari Cut Nyak Dien, Hari Dewi Sartika, Hari Kristina Marta, Hari Malahayati, Hari Pemi Ludi (ho oh, saya juga perempuan pejuang ko), tapi bukan Hari Kartini, karena ibu kartini sudah punya harinya sendiri.

~dan status serta foto hari ini, biarlah ia jadi hiasan timehop di tahun-tahun ke depan
~selamat hari ibu, duhai perempuan pejuang

Advertisements

4 thoughts on “Selamat Hari Djasita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s