Menteri Menghapus Doa?

“Saat ini kita sedang menyusun, tatib soal aktivitas ini, bagaimana memulai dan menutup sekolah, termasuk soal doa yang memang menimbulkan masalah”

Bagaimana reaksi anda ketika baca kalimat di atas? Banting meja! Apa-apaan ini, mana ada doa yang menimbulkan masalah? Saya juga marah ko kalau cuma baca sampai di situ. Doa ko dibilang menimbulkan masalah, padahal kata Nabi saw doa itu intinya ibadah. cmiiw.

Tapi coba deh lihat kalimat-kalimat berikutnya.

“Anies mengatakan hal itu menjawab pertanyaan tentang adanya keluhan sejumlah orangtua murid terhadap tata cara dominan agama tertentu dalam proses belajar mengajar.”

What?! cara dominan agama tertentu? *banting meja lagi* Di situ ga ditulis agama apa, orangtua muridnya juga ga dibahas beragama apa. Tapi kita udah berasumsi, ini pasti maksudnya cara Islam deh. Jadi mau dihapus doa secara Islam gitu?

Sebutlah, iya itu emang doa sebelum dan sesudah belajar cara Islam yang membuat siswa pemeluk agama lain ga nyaman. Apa perlu dihapus?

Adakah di sini yang pernah berdoa bersama sementara pemimpin doanya membimbing kita ikutan doa dia dan dia agamanya beda? Saya pernah. Saya pernah ada di situasi doa bersama, doanya dipimpin sama teman saya kristen. Sepanjang doa saya ga nyaman, tiap dia menyebut Tuhannya hati saya gemuruh, “ih itu kan Tuhan dia, bukan gue”. Serba salah, bilang amin ga mungkin, berdoa sendiri dalam hati ga bisa konsen. Nah, saya pikir, ini juga yang dirasakan sama teman-teman agama lain kalau doanya cara Islam. Kalau kita membuat orang agama lain mengikuti doa kita, toleran ga?

Lalu ada yang bilang, Islam kan mayoritas, yang agama lain mestinya ikut aja lah. Kalau ga suka, pindah sekolah sana!

Hei! Atas nama mayoritas, apakah ini bisa diberlakukan? Bagaimana kalau di daerah yang muslimnya minoritas? Jangan standar ganda loh ya.

Saya juga punya cerita, 2 teman saya yang pernah mengajar di daerah kristen, doanya di sekolah dengan cara kristen, padahal ada murid Islamnya. Apakah kita rela? Atau di Bali, doanya pakai cara hindu, tanpa pandang ada siswa muslim. Boleh? Maka, kalau begini, bukankah lebih baik ada aturan yang menjamin kebebasan tiap siswa untuk beribadah sesuai agamanya tanpa memandang mayoritas atau minoritas?

Di berita juga dikutip kata Pak Anies “Sesuai dengan asas pemerintah menjamin kemerdekaan beragama di Indonesia, sekolah seharusnya memberikan kesetaraan bagi penganut agama lainnya.” Siapa ya yang ga setuju ini? Saya sih setuju banget. Justru dengan ini saya berbahagia, kemerdekaan beragama di sekolah.

Daripada banting meja, saya malah berpikir untuk memanfaatkan momen ini. Kalau Pak Anies saja mau mendengarkan orang tua yang tidak nyaman anaknya didominasi agama tertentu, maka kita juga bisa minta Pak Anies untuk menjamin kebebasan muslim untuk menjalankan Islam. Jadi kalau non-muslim dibebaskan dari mengikuti ritual muslim sebagai bentuk pemahaman Ketuhanan yg Maha Esa, maka seharusnya muslim juga tidak boleh dipaksa untuk mengikuti ritual agama lain. Satu lagi nih, berarti ini kesempatan kita untuk meminta Pak Anies untuk membuat aturan dibolehkannya siswi muslim di Bali untuk berhijab dan menindak yang melarangnya.

~kalau perlu, kita minta Pak Anies menasihati kawan sesama menterinya, Menteri Tenaga Kerja, untuk “menjewer” pengusaha yang memaksa karyawan muslimnya pakai atribut natal, hehe

mari ditanggapi, dengan kepala dingin ya 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s