[catatan #16] Mencampuri Hati

Hari ini saya bertanya-tanya, apa batasan antara ikut campur dengan peduli. Mana yang masih wajar karena peduli, mana yang sudah berlebihan sehingga masuk dalam turut campur urusan pribadi orang lain.

Jadi ceritanya, salah seorang teman saya sedang jatuh cinta, yah sebutlah begitu. Dia kelihatan tidak seperti biasanya. Dia terlihat lebih ceria, centil, senyum-senyum sendiri, dan berbagai tanda lain dari seorang gadis yang sedang jatuh cinta.

Saya tahu dia naksir siapa dan saya juga kenal dengan cowok yang dia taksir. Masalahnya, saya juga teman-teman yang lain tahu kalau cowok yang ditaksir ini sebenarnya tidak suka dengan teman saya. Kami tahu bahwa sebenarnya cowok ini suka dengan perempuan lain, tapi teman saya ini tidak tahu. Dan dengan menyebalkannya, cowok ini kadang bercanda flirty-flirty dengan teman saya meskipun sebenarnya dia tidak suka. Makanya teman saya jadi luluh hatinya. Begitulah wanita. Dan begitulah pria.

Saya merasa kasihan dengan teman saya ini. Kasihan karena dia sedang mengalami one side love tanpa dia ketahui. Saya kasihan jika membayangkan suatu hari teman saya tahu bahwa cowok yang disukainya, yang kadang suka flirting itu sebenarnya hanya bercanda. Saya kasihan karena saya tahu betapa pahitnya suka
dengan seseorang yang tidak suka dengan kita, rasanya pahit banget, lebih pahit dari daun pepaya *tutup muka*

Waktu saya tanya ke teman yang lain, apakah saya perlu memberitahukan kepadanya untuk menjaga perasaannya, untuk tidak berharap, agar dia nanti tidak kecewa. Teman saya bilang tidak perlu, karena itu berarti saya sudah mencampuri urusan pribadinya. Karenanya saya berpikir, apakah ini sudah masuk ranah turut campur? Padahal saya hanya peduli. Tidak lebih.

Lalu saya berpikir lebih lanjut. Ah iya, urusan perasaan tidaklah pernah mudah. Kalaupun saya
bilang bahwa sebenarnya cowo itu tidak suka padanya, dan agar dia mengendalikan rasa sukanya. Memangnya itu mudah saja dia lakukan? Urusan perasaan tidak mudah dikendalikan seperti mengendarai motor yang tinggal di-gas, rem, dan ganti gigi. Urusan perasaan, sudah dikendalikan habis-habisan pun tetap saja berjalan dengan arahnya sendiri. Maka, saya peringatkanpun rasanya sia-sia.

Lalu, bukankah pengalaman-pengalaman meskipun buruk juga guru dalam kehidupan. Bukankah bisa jadi, pengalaman patah hati ini akan memberi pelajaran bagi teman saya? Maka, sayapun memutuskan untuk tetap diam dan hanya mengamati. Pada si gadis yang sedang jatuh hati.

Meskipun saya tetap belum mendapat jawaban, apa batasan antara turut campur urusan orang dengan peduli.

Advertisements

2 thoughts on “[catatan #16] Mencampuri Hati

  1. Setuja!
    Urusan hati memang tak pernah simpel.
    Lalu, apa yg harus saya kerjakan?
    Kesimpulan sementara saya: mengambil pelajaran.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s