“Kok Gemukan?”

“hei, sekarang kok kamu gemukan? emangnya makan apa sih? makan nasi? makan bayi? makan tetangga?”, kira-kira begitu Sarah Sechan contohkan di talkshownya. Saat itu dia membahas tentang bagaimana orang Indonesia saling sapa jika baru bertemu. Dia sebenarnya mengkritik, kenapa sih orang indonesia jika baru bertemu lagi setelah sekian lama, kalimat pertama yang muncul malah komentar, kenapa bukan tanya kabar “apa kabar? sehat kan? keluarga juga sehat semua? semoga urusannya lancar terus yaa”.

Ketika nonton tayangan itu saya dibuat mikir, benar banget tuh. Saya sendiri sebagai orang Indonesia asli, juga sering mengalaminya, baik sebagai subjek maupun objek. Sebenarnya lebih sering sebagai objek sih, heu, soalnya saya ini kurang peka dalam menilai postur orang apakah bertambah gemuk atau sebaliknya. Tapi, saya punya satu orang famili, yang tiap bertemu saya, saya ulangi, tiap bertemu saya, tidak meleset satu pertemuanpun, akan memulai pembicaraan dengan “Pemi ko gemuk banget sih?”. Tidak peduli ketemu di saat lebaran, saat pengajian di rumah, saat jenguk saudara sakit, dia hanya punya satu “greeting” itu.

Nenek moyang kita adalah seorang pelaut, itu saya percaya, tapi sekarang saya suka bertanya-tanya, apakah nenek moyang kita bangsa indonesia juga seorang komentator? Karena kebanyakan dari kita, gemar sekali berkomentar dengan berbagai level kualitas. Ada komentar ahli penuh analisa, ada komentar nyinyir yang selalu negatif apapun muatan atomnya, atau komentar ringan yang diucapkan demi basa basi biasa.

Komentar memang bisa jadi baik, tapi kalau yang dikomentari itu fisik, baru bertemu kembali pula, rasanya kurang pas yah. Padahal sebenarnya ada banyak pilihan basa-basi yang lebih bermakna.

Hari ini dengan sangat tidak disangka-sangka saya bertemu seorang kakak kelas di pasar. Waktu saya lihat dia, yang pertama terindra adalah wajahnya. Dan saya sebenarnya kaget karena kakak kelas saya itu sekarang wajahnya menghitam dan berjerawat. Beda sekali dengan waktu sekolah dulu. Dulu dia adalah kakak kelas paling cantik, wajahnya mulus, putih, kurus, solehah, istri idaman lah.

Di dalam otak saya terus saja membatin tentang wajahnya. Tapi kemudian saya tanya kabarnya, kegiatannya, dan berhubung saya self centered, hehe, saya suruh menebak berapa harga belanjaan yang hanya satu kantong kresek kecil dan tidak penuh tapi menghabiskan sebuah nominal yang membuat saya melongo.

Dalam perjalanan pulang saya merenung dan kemudian bersyukur. Untunglah tadi saya tidak menjadi orang Indonesia kebanyakan. Untunglah tidak sampai terucap “ko iteman?”.

 

 

~udah lama banget euy ga nulis, jadi kaku ginih

Advertisements

5 thoughts on ““Kok Gemukan?”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s