[Review Film] “3 IPA 1” di Langit Eropa

Okeee mari kita mulai review film 99 cahaya. Jangan harap saya akan merivew dengan serius sesuai dengan kaidah dalam membuat resensi. Review ini dibuat secara sederhana dan dalam tempo yang tidak singkat. Hanya akan dibuat poin-poin seperti waktu saya me-review 5 cm. Yuk mariiii

Ini film yang diangkat dari novel. Dan untungnya saya belum baca novelnya. Jadi review saya bersih dari segala pemujaan terhadap novel atau bahkan film lain. hehe.

Tau film ini bakal tayang sejak beberapa bulan lalu, jadi saya memang udah cukup lama menantikan penayangan film ini. Tahunya dari EHEF (european high education fair). Berhubung saya juga pengen kuliah di eropa. Trus sepertinya film ini akan memperlihatkan keindahan eropa dari sudut mata seorang mahasiswa, jadi saya semangat pengen nonton. Begitulah ekspektasi pertama saya.

Lalu ada orang yang bilang ini film dakwah. Memuji film ini setinggi langit-langit. Membandingkan dengan AAC atau KCB sambil nyinyir amit-amit. Maka sayapun makin semangat pengen didakwahi sama film ini. Itu ekspektasi kedua saya.

Maka saya menontonlah dengan beli tiket H-sekitar 1 jam. Dapat kursi kedua dari depan. Kepala mendongak sepanjang nonton. Pegel dan pusing juga dengan perpindahan scene. Dan apakah ini masuk ke review filmnya? Tidak saudara-saudara. Ini mah saya curhat aja.

Filmnya dibuka dengan menarik, salah satunya tentang kesulitan seorang muslim tinggal di eropa, dalam urusan cari makanan halalnya. Akhirnya dia terpaksa makan buah layaknya orang sedang diet saja (saya aja ga gitu-gitu amat). Menariknya adalah adegannya dikemas lucu. Enteng.

demen saya sama karakter dia di film ini :p

demen saya sama karakter dia di film ini :p

Si teman nonton saya cerita tentang kapan dia merinding saat nonton film ini. Saya sendiri tidak ingat kapan aja saya merinding, padahal berkali-kali. Tapi yang pasti saya kedinginan. AC bioskop dingin yah (heh, jangan curhat lagi, Ludi). Sepertinya pertama kali saya tersentuh ketika Rangga bercanda ke Stefan bilang kalau orang indonesia ada yang makan anjing. Stefan kaget dan bilang tidak akan makan anjingnya karena dia menyayanginya. Lalu keluarlah jawaban Rangga yang epik banget menurut saya “saya juga sangat menyayangi Tuhan saya, makanya saya tidak mau melakukan hal yang Dia larang” (kira-kira begitulah dia bilang). Mak nyesssss.

Mata ini begitu dimanjakan nonton orang pakai baju cakep-cakep di film itu. Hehe. Sepatu boot itu loh, ga nahan. Pengen banget saya punya. Dari dulu bahkan. Pengen pakai sepatu kaya gitu jugaaaaa. Mupeng tingkat kotamadya. Itu si Raline jilbaban cakep banget, kata ai diam aja cakep. Kata saya apa yang dia pakai kelihatan cakep. Hehehe.

Berhubung dari awal ekspektasi saya ini film dakwah. Maka saya kecewa. Ekspektasinya ketinggian. Hehe. Agak nanggung kalau menurut saya sih urusan dakwahnya. Cuma saya paham ko, ini kan film, butuh penonton, butuh rating, jadi kalau beneran film dakwah yang lurus banget khawatir kurang laku ya. Tapi secara umum ini film keren ko, beneran. Berusaha menunjukkan kedamaian islam, bahwa Islam itu mengajarkan perdamaian dan rahmat untuk seluruh alam.

Kenapa saya bilang nanggung? Soalnya kalau buat saya sih terkesan menyalahkan ekspansi Islam ke negara lain. Meskipun juga di film ini sangat disampaikan bahwa Islam itu sangat mempengaruhi perkembangan budaya Eropa, islam punya banyak jasa untuk pencapaian Eropa yang sekarang.

Satu hal yang saya kurang sepakat misalnya waktu si Fatma nangis liat lukisan Kara Mustafa di museum. Sambil berlalu dia bilang “biarlah Kara Mustafa bermalam di sini sambil menyesali dosanya”. Lah ko gitu?! Awalnya saya agak heran dan merasa ini film lebay banget karena Fatma Pasha menangis hanya dengan melihat lukisan tsb. Tapi setelah saya googling, sayapun paham. Katanya lukisan inilah memang sering dikunjung turis turki. Mereka mengenang, menangis, bahkan mendoakan saat melihat lukisan jendral besar itu. Saya rasa itu bukan tangis kemarahan dan menyepakati kata “seorang penjahat” yang tertulis di lukisan itu deh. Jadi komentar si Fatman ga tepat, ga nyambung antara tangis dan komentarnya.

Film ini juga menunjukkan kesulitan lain sebagai muslim yang sedikit. Mau sholat susah, ga ada tempat. Di tempat umum dilarang. Saya berharap orang-orang jadi semakin sadar bahwa muslim Indonesia itu toleran banget, tuh buktinya tempat ibadah umat agama lain banyak banget di sini. coba bandingkan dengan tempat ibadah kami di negeri dimana kami minoritas. Solatnya di pojok-pojok tak layak.

Setelah baca post fb Maimon Herawati tentang pluralisme di Inggris, saya jadi kepikiran bagaimana muslim di negara non muslim kalau sudah masuk waktu solat. Sementara di indonesia kita biasa dapat kemudahan, subuh masih di rumah, zuhur pas istirahat, ashar bisa break sebentar, maghrib-isya bisa di rumah. Kalau di negara orang gimana? Terutama urusan solat jumat, saya penasaran banget. Dan ternyata digambarkan di film iniiiii. Pucuk dicinta ulam pun jadi. Luar biasa ya perjuangan saudara-saudaraku dalam beribadah dan berislam di negeri-negeri itu.

Yang saya tak henti penasaran, ini tokoh muslim di film ini taat banget islam-nya. Sholatnya terjaga. Lah pemain filmnya begitu apa ga? Hehe. Gimana ya perasaan mereka ketika main film ini?

Dulu kalau nonton film Hollywood sama mba dyah, ga berhenti kagum dengan percakapan di filmnya. Terasa natural banget. Seolah tidak sedang menonton film tapi sedang melihat kejadian nyata yang didokumentasikan. Kami ga dapat feel itu di film indonesia. Tapi…film ini beda! Kalau saya sih suka suka banget sama percakapan di film ini, terutama percakapan Hanum dan Rangga. Itu kaya sama aja dengan cara kita mengobrol sehari-hari. Misal yang ini
Rangga: “Fatma kanker?”
Hanum: “ga” (sambil ambil kotak yang dipegang Rangga yang isinya obat herbal) “eh ga tau deng”
Entah saya kurang menyimak film indonesia lain atau gimana, tapi saya baru merasakan feel itu di film ini. Obrolan yang natural seperti keseharian kita.

Entah apakah ribuan penonton lain menyadari atau tidak, Quran yang dibaca Rangga itu mushaf Utsmani sama dengan Quran saya di rumah, bukan itu sih yang pengen saya bahas. Tapi di pinggir bawah Quran itu ada tulisan 3 ipa 1. Hahaha. Asli ngakak banget lihatnya!! Pertanyaannya, itu Quran punya Rangga dari dia masih sma kelas 3 ipa 1? Atau itu Quran punya kelas 3 ipa 1 yang dia bawa pulang dan dijadikan milik pribadi? Hihihi.

Yang bikin semakin ngakak lagi adalah ketika Hanum ikut pengajian di rumah Fatma bersama teman-teman muslimnya. Ketika mereka baca Quran, masing-masing pegang Quran, salah satu teman Fatma pegang Quran yang ada tulisan 3 ipa 1 nya itu juga!! Hahaha. Pertanyaannya, mungkinkah teman Fatma yang orang turki itu sekelas sama Rangga di 3 ipa 1? Ataukah di turki ada juga kelas 3 ipa 1? Ah, mungkin dia pakai Quran itu pinjam dari Hanum dan Hanum pinjam dari suaminya. Begitu saja. Ini kru film ga modal banget sih menyediakan Quran-nya.

Aih review-nya kepanjangan. Baiklah. Sampai di sini saja. Setelah nonton film ini saya jadi tertarik untuk lebih banyak sejarah, terutama sejarah islam (selain tertarik pakai sepatu boot tentu, hehe). Pesan saya untuk yang belum nonton dan pengen nonton, nantikanlah kemunculan Fatin di akhir film (hahaha, nyinyir banget sih gue).

Advertisements

20 thoughts on “[Review Film] “3 IPA 1” di Langit Eropa

  1. Wah itu toh maksudnya ‘3 IPA 1’ di Langit Eropa 🙂
    Kalo menurutku itu bagus, berusaha natural banget, bawa mushaf ke Eropa bukan beli mushaf yang baru.
    Mungkin sebagian orang dewasa akan merasakan ghirah atau semangatnya kala membaca mushaf yang telah menyertainya sejak dulu, apalagi sejak masih SD. Mungkin ada yang sampai meneteskan air mata.
    eh, tapi kalo itu pinjam sekolahan dan dijadikan hak milik alias gak dibalikin … ya t e r l a l u …
    Nice review, mbak Ludi.

  2. toleransi.. =)
    lagi sensitif tuh .. hihi

    iya.. adikq juga punya ‘musholla’ kampus berupa lorong di lantai paling atas yang ga pernah dipake..
    itu termasuk ‘beruntung’ buat negara di sono.. hihi

  3. Ngakak di bagian akhirnya! Ya ampun, segitu merhatiinnya. Menurutku itu kay aknya Qur’an si Fatin Shidqia, berhubung dia doang yang masih sekolah :v

    Kalau saya kecewa karena udah pernah baca bukunya; but so far, film ini bagus, apalagi pemandangan khas Eropanya, beuuuuh~

    • tapi Fatin anak ips, bukan anak ipa *dibahas*

      apalagi kl saya bilang jilbab si Fatin agak kusut di film ini, makin-lah saya dianggap terlalu detail, hehe

      untungnya belum baca novelnya sih, jadi bisa menikmati film dengan leluasa

  4. Saya juga udah nonton film 99 Cahaya minggu lalu, samar2 di ingatan saya sepertinya memang ada tulisan ’3 IPA 1′. Bedanya, saya nggak mempertanyakannya, mungkin karena fokus ke adegan2 berikutnya 😀

    Btw nice review, Kak Ludi. Salam kenal ^_^

  5. Gw nunggu dvd originalnya aja ah ntar.

    Soal makanan halal, temen yg pernah bbrp bulan tinggal di itali pernah cerita, dia sehari-hari makan salad doang sblm nemu resto halal. 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s