Menikmati Jakarta Biennale

Awalnya saya tahu event ini dari twit seorang kawan. Dia bilang videonya tayang di Jakarta Biennale sampai tanggal 30 November. Sayapun penasaran, apa itu Jakarta Biennale lalu cari tahulah.

Jakarta Biennale merupakan perhelatan akbar seni rupa Indonesia yang dilangsungkan setiap dua tahun sekali oleh Dewan Kesenian Jakarta. Pertama kali digelar pada 1968 dengan nama Pameran Besar Seni Lukis Indonesia bertempat di Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki. Namanya berubah menjadi Biennale (seni lukis) Jakarta pada 1975, kemudian Biennale Seni Rupa pada 1993.

Jakarta Biennale tahun 2013 digelar dengan tema besar SIASAT. Saya baru tahu ketika kesana kemarin bahwa kata SIASAT berasal dari bahasa Arab, “siyasah” [kemana aja kau, Ludi!]. Padahal waktu kuliah saya akrab sekali dengan kata “siyasi” atau “siyasah” #ehm. Makna siasat luas sekali, selain investigasi maupun kritik, ia juga bisa berarti politik, muslihat, taktik, maupun “akal” untuk mencapai tujuan.

sebenarnya ada yang versi ada sayanya poto di situ, tapi jangan ah. hehe

sebenarnya ada yang versi ada sayanya poto di situ, tapi jangan ah. hehe

Sebenarnya saya sendiri tidak terlalu paham acara macam apa Jakarta Biennale ini. Namun karena saya hampir selalu menyukai event, apalagi event yang belum pernah saya ikuti, makanya saya datang ke salah satu tempat pameran Jakarta Biennale yaitu di Taman Ismail Marzuki. Meskipun dibilang pameran seni rupa, jangan bayangkan pamerannya akan memajang lukisan atau gambar, bukan! Jadi apa dong, bingung kan? Seniman memang sering sulit dimengerti. Hehe.

Jakarta Biennale 2013 disukseskan sekitar 50-an seniman individu maupun kelompok, melibatkan ratusan warga dan puluhan kolaborator lintas disiplin. Selain dari Indonesia, seniman peserta berasal dari Belanda, China, Kanada, Prancis, Afrika Selatan, Australia, Argentina, Jerman, Meksiko, Korea Selatan, Kenya, Palestina, Vietnam, Republik Ceska, dan Malaysia. Sebagian besar karya mereka merupakan hasil kerja bersama dengan komunitas atau warga maupun suatu intervensi di ruang publik. (jakartabiennale.net)

Selain pameran, Jakarta Biennale juga mengadakan program untuk publik lainnya. Ada diskusi, workshop, bahkan tur. Karena Jakarta Biennale berlokasi di beberapa tempat yaitu Ruang Parkir Basement Teater Jakarta Taman Ismail Marzuki, di beberapa ruang kota Jakarta, Museum Seni Rupa dan Keramik, serta mural-nya bisa dilihat di sejumlah tembok di kota Jakarta. Rute turnya adalah mengunjungi beberapa tempat Jakarta Biennale. Sayangnya saya baru sadar kalau tur-nya sepertinya menarik dan ketika mau daftar registrasinya sudah ditutup. Telat sadar. Di sejumlah ruang publik juga digelar beberapa performans.

Saya berkunjung ke pameran Jakarta Biennale yang di TIM. Karena saya tahunya cuma di sana, hehe, baru tahu ada tempat lain setelah googling untuk membuat tulisan ini. Heu. Lagipula karena 2 kali sepekan saya melintasi jalur senen-pasar rebo, jadi untuk ke cikini tinggal belok sedikit (ditambah nyasar-nyasar, tiap ke TIM nyasar mulu). Waktu masuk ke sana, sendirian-seperti biasa-saya sempat merasa ragu. Karena saya ga ngerti seni rupa, jadi khawatir merasa sangat asing di tempat itu. Tapi ternyata setelah melihat-lihat, banyak yang menarik, dan betah berlama-lama di sana.

Sebelum digelar pameran bulan November ini, sejumlah seniman sudah melakukan proyek seni yang melibatkan warga. Misalnya di lima wilayah Jakarta selama Oktober 2013, diantar bemo bertenaga listrik, diadakan kolaborasi antara guru dan seniman yang mengajak siswa dan pedagang setempat untuk beraktivitas seni di ruang publik. Sepanjang Oktober itu pula, para seniman juga mengadakan berbagai proyek seni yang melibatkan warga. Di antaranya, ada lokakarya yang mengajak puluhan pedagang barang bekas dan pemulung untuk menghiasi gerobak sarana penghidupan yang mereka tarik sehari-hari, dengan teks dan gambar yang mewakili keseharian mereka.

bukan cuma emak atau tukang gerobag, Ludi juga mau naik haji!

bukan cuma emak atau tukang gerobag, Ludi juga mau naik haji!

Nah, sebagian dari proyek yang melibatkan warga kota itu dipresentasikan di ruang parkir bawah tanah Teater Jakarta. Inilah yang menarik buat saya. Seniman Abdulrahman Saleh membuat proyek menghias gerobak para pemulung (manusia gerobak) sehingga gerobaknya jadi seperti mural yang bergerak. Saya suka melihat beberapa contoh gerobak yang sudah dihias. Lalu ada komunitas Serrum. Proyek mereka adalah mengajak masyarakat untuk menuangkan imajinasi atau kreatifitas dalam menghias gedung-gedung penting di jakarta. Gedungnya adalah gedung MPR/DPR, MA, dan KPK. Saya suka banget lihat hasil kreasinya, beberapa kreatif dan lucu banget. Misalnya atap gedung MPR/DPR yang seperti kura-kura itu dicat polkadot putih dengan dasar pink, jadi kaya jamur. Unyu! Hehe.

kayanya kalau gedung-gedung di jakarta dicat begini, berperjalanan di kota jadi lebih menyenangkan

kayanya kalau gedung-gedung di jakarta dicat begini, berperjalanan di kota jadi lebih menyenangkan

saya pribadi berharap gedung KPK bisa digambar begini. lucu. maknanya juga dapet

saya pribadi berharap gedung KPK bisa digambar begini. lucu. maknanya juga dapet

Satu lagi yang menarik (yang ingin saya bahas) adalah Kelas Pagi. Saya baru tahu ada komunitas ini. Kelas Pagi adalah sebuah komunitas fotografi yang dibentuk dan dikembangkan oleh Anton Ismael seorang fotografer professional pada awal tahun 2006 silam [udah dari 2006 tapi, lagi-lagi, gw baru tau]. Dinamakan Kelas Pagi karena kelas dimulai pada pukul 06.00 s/d 11.00 pagi. Kelas Pagi adalah kelas rakyat, siapapun boleh bergabung, tanpa syarat dan baju seragam tanpa uang pangkal atau uang gedung.

tulisan di bajunya "biar miskin yang penting sombong. biar goblok yang penting gaul". ngaco.

tulisan di bajunya “biar miskin yang penting sombong. biar goblok yang penting gaul”. ngaco.

Keterangan yang tertulis menarik

“Kelas Pagi Jakarta adalah sekolah fotografi gratis untuk semua orang yang bisa bangun pagi. Sudah berdiri sejak 8 tahun lalu dengan jumlah lulusan kurang lebih 1000 orang hingga saat ini. Kelas Pagi Jakarta juga ada di Yogyakarta, dan kita percaya kalau fotografi itu tentang manusianya, bukan alatnya. Mari bangun pagi untuk belajar fotografi!”

Di “pojok”nya Kelas Pagi digantung banyak baju sekolah warna putih yang kalau sekilas dilihat seperti seragam SMP. Tapi kalau diperhatikan, badge-nya beda, badge Kelas Pagi. Nah, Kelas Pagi ini semacam mempertanyakan gunanya CV untuk melamar pekerjaan yang berisi tentang riwayat pendidikan formal, padahal pendidikan nonformal bisa memberikan skill juga networking yang seringkali justru lebih dibutuhkan dalam dunia kerja. Selain ada baju-baju, digantungnya juga pigura berisi gambar, surat, poto, dll, dari beragam profesional yang telah membuktikan kesuksesan mereka bukan dari pendidikan formal. Nah, pojok ini asli menarik banget buat saya, rasanya pengen copot pajangan itu satu-satu terus difotokopi dan ditunjukkan kepada kalian. Hehe.

ini yang paling menarik. profil singkat yang ditulis sendiri oleh seorang teknisi servis per mobil. banyak tulisan salah. tiap kata dipisah dengan titik. tapi dia pengusaha

ini yang paling menarik. profil singkat yang ditulis sendiri oleh seorang teknisi servis per mobil. banyak tulisan salah. tiap kata dipisah dengan titik. tapi dia pengusaha

Meskipun saya jalan ke sana sendirian, nyasar sendirian, tertawa sendirian, bingung sendirian, asing sendirian, sampai minta tolong satpam buat moto-in karena sendirian. Tapi senang pernah berkunjung. Boleh juga datang lagi di Jakarta Biennale berikutnya (kalau ada umur).

Demikian saya melaporkan. Semoga ada manfaatnya. Sampai bertemu di catatan “gaul” di event berikutnya.

sumber:

http://www.jakartabiennale.org/

http://jakartabiennale.net/

http://kelaspagijakarta.blogspot.com/

http://manusiagerobag.tumblr.com/

http://gedungidaman.tumblr.com/

keterangan:

semua poto adalah dokumen pribadi. resolusi sengaja dibuat kecil biar ga “berat” ketika mengunggahnya

Advertisements

2 thoughts on “Menikmati Jakarta Biennale

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s