Sepenggal Kisah tentang Dagang

Jadi semakin pengen cerita setelah baca status omari…

Saya terlahir bukan dari keluarga kaya. Kaya secara finansial yah. Saya cerita ini bukan dengan nada menyesal, tidak bersyukur atau sedih-sedihan. Sama sekali bukan. Saya meyakini bahwa apa yang ALLAH takdirkan adalah yang terbaik. Terlahir di keluarga, yang bisa dibilang pas-pasan lah yang membentuk diri saya yang sekarang.

Uang jajan saya waktu kecil tidak banyak. Boro-boro bisa mendapatkan segala yang saya inginkan, dapat uang jajan setiap hari saja sudah cukup mewah. Akibatnya dari kecil saya sudah suka mencari uang sendiri. Saya masih ingat waktu SD saya pernah berjualan kertas surat, kertas binder, atau kertas organizer. Kemudian saya sempat membuka usaha bersama teman-teman penyewaan buku, kami kumpulkan buku cerita, komik atau novel yang kami punya dan menyewakannya. Meskipun setelah itu pahit mengiris karena bukunya beberapa hilang atau rusak. Ya, harta yang cukup banyak ada di rumah adalah buku bacaan! Lanjut di SMP saya pernah menjual ikat rambut yang saya rajut sendiri. Iya, dulu saya bisa merajut, bikin ikat rambut, tas, dan bahkan peci yang sampai sekarang bapak masih pakai.

Kebiasaan berjualan dari kecil itu berlanjut sampai sekarang. Memang sih, saya tidak sampai begitu heroik menjajakan dagangan door to door. Keliling kampung bawa dagangan. Tidak pernah seperti itu. Tapi kalau diingat-ingat, rasanya ada saja barang yang saya jual. Waktu SMA saya pernah jualan peniti dan pulsa. Cuma itu yang saya ingat, tapi rasanya masih ada yang lainnya.
7944112-top-seller-label
Begitulah, saya sendiri sudah lupa kalau saya ini pedagang sekali. Hehe. Malah mantan pembeli saya yang masih ingat. Suatu hari mantan teman kuliah bilang “lo kan dulu jualan pulpen, gw pernah beli pulpen sama lo”. Mengingat itu sayapun tertawa, tukang pulpen, saya sendiri hampir lupa.

Waktu kuliah saya memang sempat jualan stationery. Tidak cuma itu, saya juga jualan donat dan lontong setiap hari. Kalau mengingat itu saya jadi kagum sama diri sendiri. Si Ludi ini tangguh juha yah, begitu kata saya dalam hati. Lontongnya ibu saya sendiri yang buat, sedangkan donat saya beli di pabrik donat di bilangan cijantung. Jadi sambil berangkat kuliah saya beli dulu donat sekitar 2 kotak dan kemudian membawanya ke kampus. Alhamdulillah saya bawa motor waktu kuliah, jadi membawa puluhan lontong dan beberapa kotak donat tidak terlalu merepotkan. Selain itu saya juga jual stationery yang dibeli grosir di pasar jatinegara. Jualan stationery ini adalah jualan yang paling mudah, karena saya cuma beli barangnya di pasar grosir, lalu saya masukkan ke dalam tempat pensil (ada pulpen, penghapus, isi pensil, dll). Kemudian saya tulis daftar harganya, dimasukaan ke dalam tempat pensil bersama barang dagangan, dan diedarkan di kelas ketika kuliah. Bukan saya yang jalan mengedarkan ke teman-teman, tempat pensil itu berjalan sendiri secara estafet. Ketika kembali ke saya, tempat pensilnya sudah berisi uang pembelian dan dagangan sisa. Mudah. Sederhana. Sebenarnya saya tidak pernah menghitung berapa jumlah dagangan saya waktu itu, jadi andai ada teman kuliah yang maling dagangan saya, saya juga tidak akan sadar. Hehe.

Beberapa waktu lalu saya iseng buka timeline facebook saya sendiri. Menelusuri hingga tahun-tahun sebelumnya. Dan saya menemukan iklan masker, tas selempang di sana. Jadi teringat kembali saya pernah dagang itu juga. Bahkan tas selempang itu saya produk sendiri. Saya jahit dan sulam sendiri. Masih banyak lagi dagangan lain, seperti jilbab dan baju.

Waktu menjalani karantina pelatihan pengajar muda-pun saya jualan. Jualan pulsa. Tidak ada 1 orangpun di camp yang jualan pulsa, padahal semua orang membutuhkannya. Makanya pulsa saya laris waktu itu. Keuntungan lainnya adalah saya jadi punya banyak nomor henpon pengajar muda, yah soalnya mereka pada sms saya duluan. Bukan karena saya ngetop atau saya menarik untuk di-pdkt-in, semata-mata karena saya dagang pulsa. Hehe. Hingga saya berangkat ke penempatan, kadang masih ada yang minta beli pulsa. Padahal saat itu saya sudah tidak jualan lagi, ribet lah. Tapi saya biasa punya deposit pulsa, untuk keperluan pribadi dan keluarga.

Dagang sudah menjadi gaya hidup rasanya. Sampai-sampai kalau saya menemukan barang yang menarik, atau ditawari teman sebuah produk, saya akan terpikir “gw pengen jualan ini”. Makanya saya cenderung tidak fokus kalau berdagang, inilah kekurangannya, karena rasanya semua barang ingin saya jual.

Saat ini saya juga masih jualan. Dagangan saya sekarang, menstrual pad, pembalut herbal, rok, dan terakhir saya mau merambah batik. Padahal awalnya beli batik buat dipakai sendiri. Tapi naluri dagangpun berkedut, ko rasanya jualan batik menarik juga.

Beberapa hari lalu tiba-tiba saya berpikir aneh, ada beberapa nama teman melintas dan membuat saya bertanya-tanya “kalau dia dagang apa ya?” lalu berlanjut “ko dia ga dagang apa-apa sih?”, “dia ga tertarik dagang ya?”. Bahkan, otak saya mulai heran melihat ada kawan yang tidak berdagang, padahal teman-teman saya ini punya pekerjaan enak dengan gaji banyak. Pikiran macam apa itu? “Ga semua orang suka dagang kaya lo, Ludi”, kata saya bicara pada diri sendiri.

Tapi kalau semuanya diperhatikan, dagangan saya ini untungnya bisa dibilang “recehan”. Cuma sedikit untungnya, tidak seberapa. Karena yang dijajakan juga barang murah dengan modal kecil. Yah begitulah level saya, pedagang kecil-kecilan. Kata seorang teman yang kuliah bisnis di salah satu universitas bergengsi di dunia, “high risk, high return, Ludi”. Mungkin suatu hari saya akan cukup modal, cukup kemampuan, juga cukup keberanian untuk ambil high risk itu. Sehingga bisa dapat return yang juga high.

Salam semangat buat para pedagang 🙂

gambar dicomot dari http://us.123rf.com/400wm/400/400/devke/devke1010/devke101000006/7944112-top-seller-label.jpg

Advertisements

12 thoughts on “Sepenggal Kisah tentang Dagang

    • horeee..hening komen di blogku :p :p

      apaah? kaya gitu ga bakat? padahal kamu sampai punya brand sendiri, sesuatu yang dari dulu kuidamkan tapi aku ga punya. clay itu loh, apa merknya? aku lupa 😀

  1. Saya senang mendengar kisah para pedagang. Keren banget semangatnya, mbak Ludi.
    Benar kalo temanmu bilang, “high risk, high return”
    Tapi ada juga kok yang: “low risk, high return”, kuncinya harus banyak membaca peluang / success story di majalah-majalah bergenre entrepreneurship, pasti ada yg “klik” sejalan dengan passion.

    Just sharing ya, saya malu dengan semangat anakku yang masih kelas 1 SMP, kok begitu semangatnya berkreasi menjadikan sesuatu untuk dijual dan asisten ngajar di tempat kursus piano. Sepertinya karena ia menyadari bahwa mencari uang itu tidak mudah, makanya gak pengen merepotkan orangtuanya. Sikap menghargai uang yang kami tanamkan sejak masih anak-anak begitu membekas seiring dengan perkembangan usianya. Semoga ia bisa setangguh mbak Ludi, terjaga semangatnya.

    • iya pak. si omari suka sharing tentang suka duka pedagang, cerita dia sendiri atau cerita temannya, itu keren deh semangatnya. saya mah gada apa-apanya dibanding mereka. soalnya sekarang saya masih karyawan. hehe

      memang harus ditanamkan oleh orang tua sih. berhubung saya belum punya anak, saya suka nasehatin ponakan, kl cari uang tuh susah. pengen gitu ngajak ponakan naik kereta ekonomi desak2an, biar mereka tau susahnya hidup. hehe. tapi sekarang ekonomi udah jarang

      tapi anak sekarang lebih enak, ilmu tentang enterpreneurship lebih banyak. soalnya mulai masuk kurikulum. kl di ui sih, ada mata ajar kewirausahaan untuk semua mahasiswa baru. jadi jiwa dagangnya diasah

      semoga anaknya jadi pengusaha pak iwan. yang paling penting mentalnya sih. mental orang yang mau berusaha dan tangan di atas 🙂

  2. gue juga waktu kuiah dagang pulpen en kantong hape yg unyu2, tapi sebentarrr banget. permintaan tinggi, produksi macet. -,-

    sampe sekarang emak gue nyela duluan kalo bilang “mau dagang aja nih!”. katanya gue gak ada bakat dagang. ada emak kayak gini. hahaaaaa

  3. Ludi.. aku tuh pernah belajar dagang. Tapi keseringan ga balik modal karena ada yang bawa dulu barangnya terus aku lupa nagih (kadang juga ga tega nagih). Mengingat kalau sdh menikah kemungkinan tidak diperbolehkan bekerja & menimbang aku tetap harus mandiri. Kayanya aku mau dagang kue sama barang-barang carft. Dan harus banyak belajar soal dagang nih, aku akan sangat senang sekali kalau Ludi bantu soal SOP soal dunia dagang..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s