Ludi yang Selalu Bertanya

Suatu hari teman kantor iseng-iseng membacakan resep membuat cuko (kuah) pempek palembang. Dia memang orang palembang dan dia mendapatkan resep tersebut dari mertuanya yang juga asli palembang. Sontak saya tertarik. Karena saya pernah tinggal di sumsel dan tahu betapa kuncinya pempek itu ada pada cuko-nya dan cuko yang asli di palembang itu enak banget-nget-nget. Sayapun menyalin resep tersebut di selembar kertas, dan bertekad dalam hati, suatu hari libur saya akan membuatnya sendiri di rumah.

Tibalah hari libur yang diinginkan. Semua bahan sudah saya siapkan, tinggal diolah. Tapi satu permasalahan muncul. Kertas keramat berisi resep cuko asli palembang raib. Saya cari kemana-mana. Di tas, di kamar, di atas kasur, segala penjuru kamar saya cari, tapi tidak ketemu. Cukup lama saya mencarinya, akhirnya saya hentikan. Tapi rencana membuat pempek hari itu tidak bisa dibatalkan mengingat ikannya juga sudah siap. Akhirnya sayapun menyalakan pc, menyambungkannya dengan internet, lalu mulai mengetik keyword di mesin pencari. Dalam hitungan menit resep cuko pempek palembangpun ketemu. Waktu pencarian yang jauh lebih singkat ketimbang saya obrak-abrik kamar tadi. Sayapun membatin “kalau ujung-ujungnya gw nanya google, ngapain dari tadi gw repot-repot cari itu kertas?!”

Beberapa pekan lalu saya perlu membuat sebuah dokumen. Contohnya ada, tapi dalam bentuk hard copy. Berhubung saya harus membuat dokumen asli, bukan salinan, maka jalan yang terpikir saat itu hanyalah mengetiknya ulang. Kawan-kawan yang lain juga memiliki pekerjaan yang sama, dan menyelesaikannya dengan menggunakan jasa pengetikan, karena dokumennya banyak. Saya tidak melakukannya hingga waktu tenggat semakin dekat. Tidak saya ketik sendiri, tidak pula meminta bantuan orang lain. Bunuh diri sebenarnya.

Lalu, seperti yang kadang terjadi pada detik-detik menjelang deadline, saya teringat sebuah jalan keluar. God save the procrastinator. Aamiin. Saya teringat beberapa tahun lalu teman saya memperlihatkan bahwa hasil scan sebuah dokumen bisa berbentuk word (bukan jpeg atau pdf). Meskipun semua huruf tidak selalu diterjemahkan secara tepat, tapi tinggal diedit sedikit-sedikit, jauh lebih cepat-mudah-murah dibandingkan mengetik ulang.

Tapi masih ada satu permasalahan kunci, saya tidak tahu caranya. Saya hanya tahu bahwa menghasilkan file berbentuk dokumen dari memindai sebuah dokumen adalah mungkin, tapi bagaimana caranya saya tidak tahu. Lalu sayapun menghubungi teman yang memberi tahu saya dulu itu. Saya telepon berkali-kali tidak diangkat, saya sms juga tidak balas. Sayapun bertanya-tanya pada beberapa teman lain yang mungkin tahu jawabannya. Tapi nihil. Sementara deadline semakin dekat. Lalu inspirasi lainpun datang, saya buka internet, ketikkan kata kunci di mesin pencari, dan, yatta! Sayapun tahu bagaimana caranya, bahkan lebih mudah ketimbang cara teman saya.

Ada banyak cerita bagaimana mesin pencari di internet menolong saya. Tak perlu saya dongengkan di sini andapun sudah dapat menangkap tujuan tulisan ini. Sebutlah saya ini kepo, fyuh, ada banyak sekali hal yang ingin saya tahu, ada banyak pertanyaan yang ingin saya tahu jawabannya. Dan search engine sungguh banyak membantu saya. Bisa dibilang saya ini candu internet, tapi sebagian besar yang membuat candu adalah mesin pencari itu.

Saya pernah bilang di tulisan lampau, saya bukan orang pintar, makanya saya tidak minum tolak angin. Tapi beberapa orang suka bertanya ini-itu. Maka demi menjawabnya sayapun bertanya kepada yang lebih tahu. Hehe. Dan semakin hari saya jadi semakin terbiasa mencari tahu lewat mesin pencari. Di tengah obrolan dengan kakak di rumah saat menonton tv, muncul pertanyaan tidak penting tentang berapa umur penyanyi yang sedang kami tonton, sayapun langsung mencarinya lewat google. Ketika menonton variety show dan muncul seorang bintang tamu, sayapun mencari profilnya di google. Sebelum survei harga main paint ball di hotel bumi wiyata, saya searching dulu di google. Mau tulis quote seseorang di fb sayapun googling dulu dari mana quote itu berasal. Bahkan bikin slide presentasi untuk mengajarpun saya googling. Bukannya saya tidak membaca buku, tapi saya copas agar tidak perlu mengetik, dan tulisan yang saya copas adalah yang memang tertera di buku teks. Internet hampir menginformasikan segalanya. Yang penting adalah kita bisa memilahnya, mana yang fakta mana yang hoax.

Saking seringnya bertanya pada mesin pencari, saya jadi suka bingung pada orang yang punya akses internet tapi masih suka tanya-tanya ke orang lain. Kenapa ga googling aja gitu? Di jaman sekarang ini, bertanya ke orang sering lambat responnya. Teman-teman saya pada sibuuuuuk. Misalnya kemarin, saat tetangga saya yang post-stroke nafasnya sesak dan demam. Saya ingin sarankan untuk minum parasetamol, tapi saya ingin pastikan dulu apa efek samping dan interaksinya dengan obat lain. Saya tanya pada seorang teman yang apoteker hebat, sampai sekarang belum dijawab. Dan beberapa menit setelah saya bertanya padanya via whatsapp, saya baru sadar kenapa tidak tanya saja di google. Sayapun dapat jawabannya sejak kemarin. Sekali lagi yang perlu diingat, objektivitas dan kemampuan memilah adalah hal yang harus dimiliki saat menggunakan mesin pencari.

Jadi inget kata si smile dulu, “bertanya di dunia maya ada adabnya, Pe”. Maksudnya, cari tahu dulu, setelah mentok barulah bertanya pada orang lain. Sudah selayaknya kita mengoptimalkan sarana-sarana yang kita miliki, termasuk akses internet dan mesin pencari.

 

 

Cmiiw. Mangga yang ga setuju. Dibuka luas-luas untuk diskusi.

Advertisements

2 thoughts on “Ludi yang Selalu Bertanya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s