[review dorama] Joy Of Being Youth, Joy Of Knowing

Judul: My Boss My Hero
Written by Mika Omori
Directed by Toya Sato, Noriyoshi Sakuma, Jun Ishio
Starring: Tomoya Nagase, Yuya Tegoshi, Yui Aragaki
Country of origin Japan
Original language(s) Japanese
No. of episodes 10

CoverMyBossMyHero

Yang namanya selera memang personal. Kalau orang lain mungkin bilang sebuah drama bagus kalau lucu atau romantis atau seru. Kalau saya, meskipun suka nonton drama, saya tidak akan bilang “bagus” kalau hanya sekadar lucu. Buat saya predikat “bagus” kalau ada pelajaran atau insight yang bisa diambil, yang bisa membuat saya dapat hikmah atau tercerahkan, atau yang bisa diambil pelajaran. Kalau hanya lucu apalagi pemainnya cakep, maka saya tidak bilang “bagus” ketika diminta pendapat.

Namun untuk drama ini, saya bilang bagus! Di saat orang lain memilih kata pertama untuk drama ini adalah “lucu”. Tapi bagi saya, bukan humornya yang berkesan di drama ini.

Sebenarnya sudah bertahun-tahun lalu saya pinjam drama ini, tapi tidak pernah saya tonton karena openingnya aneh banget. Tapi ketika sebulan lalu saya copy dari teman, maksudnya untuk dikasih orang lain, saya tonton agak panjang sedikit, ternyata menarik.

Drama ini diawali dengan adegan Makio, seorang anak bos Yakuza melakukan negosiasi bisnis dengan mafia Hongkong. Ayahnya berpesan agar tawaran yang dia terima tidak boleh kurang dari 27 juta. Makiopun mengingatnya, tidak kurang dari 27 juta. Mafia Hongkong awalnya menawar 20 juta, Makio menolak. Ditambah 5 juta, Makio masih menolak. Ditambah 5 juta lagi, Makio masih menolak. Para pengawalnya mulai gelisah dan heran. Ditambah 5 juta lagi, Makio masih menolak. Mafia Hongkong mulai marah dan menganggap Yakuza begitu serakah. Negosiasi diakhiri dengan perkelahian. Alih-alih sukses dengan kesepakatan bisnis dengan harga 35 juta, malah perang antar geng.

Waktu saya nonton adegan ini juga heran, kenapa tawaran 35 juta masih ditolak. Tapi setelah nonton drama ini akan mengerti bahwa ini wajar sekali. Makio, anak pertama bos yakuza itu bodoh sekali. Dia tidak tahu kalau 35 juta itu lebih besar dari 27 juta. Hehehe. Jadi waktu dilakukan penawaran dia sibuk berhitung, meskipun hasilnya dia tetap salah.

Makio adalah anak tertua bos salah satu geng Yakuza berumur 27 tahun. Dia diproyeksikan untuk menjadi kepala geng pengganti ayahnya. Tapi karena dia terlalu bodoh, akhirnya ayahnya memasukkannya ke SMA. Dia bisa menjadi ketua geng jika berhasil lulus SMA, kalau tidak maka jabatan ketua geng akan diwariskan pada adiknya, Mikio yang pintar dan lulusan universitas di luar negeri.

Ayahnya menyuap sebuah SMA swasta untuk mau menerima Makio. Identitas Makio sebagai anak bos Yakuza dirahasiakan, usianya juga dimanipulasi. Makio berpura-pura sebagai remaja berusia 17 tahun kelas 3 SMA yang pindah sekolah. Sebenarnya ini aneh, bos Yakuza yang begitu kaya kenapa memasukkan anaknya ke SMA demi membuatnya pintar, kenapa tidak homeschooling saja? Atau panggil guru privat ke rumah. Lebih mudah, murah, tanpa risiko pula.

Sang ayah punya misi lain memasukkan Makio ke SMA. Dia tidak sedang sekadar membuat Makio bisa lulus SMA atau bisa berhitung dengan baik. Dia ingin berperan sebagai ayah yang sebenarnya, dia ingin putranya yang sudah dewasa itu bisa merasakan nikmatnya menjadi anak muda dan menjalani peran sebagai anak sekolah biasa.

Makio sejak kecil sudah dianggap sebagai “bos cilik” oleh anggota geng. Umur 19 tahun dia bisa mengalahkan geng musuh sendirian dalam perkelahian. Dia kuat, jago berantem, tapi tidak pernah sekolah. Sejak SD dikeluarkan karena terlalu bodoh. Ibunya meninggal sejak dia masih muda, sehingga dia tidak pernah merasakan kasih sayang orang tua dan hidup dalam kerasnya dunia Yakuza. Sejak dia masuk sekolah, ayahnya juga berusaha membangun kembali suasana kekeluargaan di rumah. Dia berusaha merubah perannya dari “big bos” menjadi ayah. Mereka kembali makan bersama di rumah dan mengobrol tentang sekolah sambil makan malam atau sarapan.

Makio yang bahkan tidak tahu mana yang lebih besar antara 27 dan 35 masuk kelas 3 SMA. Tentu saja dia menemukan banyak kesulitan di sekolah. Bahkan di hari pertama sekolah, dia tidak bisa menulis namanya dengan kanji yang benar di papan tulis. Peringkatnya paling kecil sesekolah.

Drama ini sebagian besar bercerita tentang kehidupan sekolah Makio. Tidak hanya tentang belajar, tapi juga bagaimana dia berteman, menjadi ketua kelas, juga merasakan jatuh cinta. Makio dewasa akhirnya bisa merasakan bagaimana nikmatnya menjadi remaja.

Dalam drama ini diperlihatkan bagaimana kasih sayang seorang ayah kepada anak laki-lakinya, meskipun dalam diam. Bagaimana tulusnya pertemanan dengan teman sekolah. Bagaimana manisnya jatuh cinta. Hihi. Bagaimana keyakinan seorang guru bahwa muridnya memiliki kemampuan dan membantunya untuk memaksimalkan potensinya. Dan yang paling seru, bagaimana perjuangan seorang Makio untuk bisa lulus SMA, bisa mengorganisir kelasnya yang penuh dengan siswa yang tidak punya semangat juang, asiknya mengetahui hal-hal yang baru, dan gimana serunya masa-masa sekolah.

Drama ini comical banget. Makanya kebanyakan orang bilang lucu. Memang lucu sih, ekspresi Makio suka aneh. Juga adegan-adegan di dalamnya. Gaya-gaya lebay komik Jepang. Meskipun begitu, banyak insight yang diselipkan. Mirip-mirip dengan novel Tere Liye, “Kau, Aku, dan Sepucuk Angpao Merah”, insightnya bisa diambil dari percakapan Borno dan Pak Tua, dalam drama ini insightnya banyak dari curhatnya Makio ke ibu perawat di klinik sekolah. Ibu ini bijak banget, dia yang banyak memberi Makio pencerahan. Salah satu percakapan yang saya suka adalah waktu mereka pertama ketemu. Ketika Makio sedang muak sekali dengan sekolah, ibu ini bilang

“you don’t know the happiness of being youth? Enjoy happiness. In this school there are a lot of happiness. For an example, the joy of knowing”

Makio akhirnya banyak sekali menemukan joy of knowing selama di sekolah. Sama seperti ketika Helen Keller belajar tentang kata pertamanya “water”. Jadi ketika Makio pertama kali merasakan bahagianya mendapatkan sesuatu yang dia inginkan dengan kerja keras, dia teriak-teriak “water! Water” di lapangan sekolah. Terinspirasi dari Helen Keller. Hehe.

Satu lagi yang saya suka adalah kesesuaian usia pemainnya. Makio 27 tahun diperankan oleh Tomoya Nagase yang memang usianya sudah sekitar itu. Teman-teman Makio di SMA diperankan oleh pemain yang usia SMA. Jadi pas rasanya ditontonnya.

Nilai drama ini 9 dari 10. 1 poin kurang karena di daram ini banyak adegan merokok. Sebenarnya wajar karena Makio besar di lingkungan yakuza dan dia sudah berusia dewasa. Selain itu, kadang diperlihatkan juga Makio yang minum minuman keras dan dikelilingi wanita-wanita seksi. Inilah kekurangannya.

Menonton drama ini benar-benar membuat saya pengen balik ke masa SMA. Hehe. Rasa-rasanya ko dulu belum menikmati being youth gitu. Halah. Drama ini tidak hanya seru dan bikin ketawa-ketawa, tapi juga mengharukan. Saya nangis selama satu setengah episode akhir. Mengharukan banget. Kagum dengan guru Makio yang sangat berdedikasi. Juga sangat memahami frase “joy of knowing”. Yup, karena yang membuat nikmat belajar adalah perasaan senang ketika mengetahui sesuatu yang baru.

Water! Water!

Advertisements

2 thoughts on “[review dorama] Joy Of Being Youth, Joy Of Knowing

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s