Benar-benarkah Menerima?

tiba-tiba saja saya terpikir bahwa “acceptance” pada grieving theory Kubler Ross mungkin sama dengan “ridho”. bagi yang tidak tahu apa itu Kubler Ross model tentang stage of grief atau grieving theory, silakan googling saja. saya tidak berminat menjelaskannya. tidak untuk saat ini. mungkin acceptance sama dengan ridho dengan takdir yang Allah tentukan dalam hidup kita.

acceptance, apakah ia selalu sebagai akhir? mungkinkah ketika kita sudah sampai pada fase itu ternyata kita kembali ke fase-fase sebelumnya? jika benar begitu, berarti bukan acceptance namanya.

seringkali kita mengira sudah bisa menerima kehilangan, kesedihan atau kekecewaan itu. tapi beberapa saat kemudian kita menyesalinya lagi.

“kupikir aku udah move on Ludi. kupikir aku sudah menerima. tapi … “. kata kawan saya suatu hari. “aku belum sampai ke tahap itu ternyata” kata kawan yang lainnya.

acceptance, saya pikir-pikir ko seperti ikhlas. katanya, ikhlas itu ada di awal, tengah, juga akhir. bisa jadi kita melakukan sesuatu dengan niat ikhlas, tapi setelah dikerjakan, dilihat orang, ko kayanya menarik juga kalau dipamerkan. ikhlas di awal, tapi belok di tengah, bukan ikhlas namanya. bisa jadi kita melakukan sesuatu dengan ikhlas, hingga ia selesai dikerjakan. jauh setelahnya berselang, ada situasi dan kondisi berbeda, ko rasanya menyesal telah melakukan itu sebelumnya. ikhlas di awal dan tengah, belok di akhir. bukan ikhlas namanya.

begitupun dengan acceptance. awalnya sudah menerima. tapi kemudian bertemu fakta lain. maka kita kembali pada fase denial, anger, bargain atau depression. bukan acceptance namanya.

buat saya fase acceptance itu misteri. tak pernah bisa dipastikan apakah kita benar-benar sepenuhnya berada di dalamnya. buat saya acceptance itu sering rapuh. karenanya saya sering terpeleset keluar darinya. buat saya fase acceptance itu sebuah pencapaian besar. karenanya kita harus sekuat tenaga berusaha mencapainya.

acceptance, mungkin berbanding lurus dengan keimanan.

~sebuah lintasan pikiran, langsung diketik aja pakai henpon

kamar belakang,
25082013

Advertisements

18 thoughts on “Benar-benarkah Menerima?

  1. kata seorang teman: ikhlas itu urusan Allah. Tugas kita cuma perbanyak amal. Kalo amal banyak aja kadang kereduksi sama perkara gak ikhlas, apalagi amal sedikit. Bisa minus kan jadi berabe :v

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s