[catatan #15 Ramadhan] Jomblo Sayang, Jomblo Malang

Beberapa episode Para Pencari Tuhan (PPT) belakangan, muncul tokoh baru, anaknya Om Wijoyo namanya Fahri. Pemuda ganteng (banget, ehm) berstatus jomblo. Untuk pertama kalinya Fahri bertemu dengan Kalila untuk membicarakn pesta pernikahan ayahnya. Perbincangan tidak berlangsung hangat, Kalila marah-marah waktu itu, setelah Kalila pergi meninggalkan mereka, Fahri bertanya pada Udin dan Trio Bajaj, “siapa dia?”, maksudnya bertanya tentang Kalila. Dijawab oleh Trio Bajaj, “JOMBLO KAYAK LO!”

Adakah yang bisa melihat keganjilan dari jawaban tsb? Iya memang aneh, Fahri bertanya “siapa” bukan “statusnya apa”. Tapi bagi para jomblo mungkin mengerti dengan keadaan ini. Mungkin pula sering mengalaminya juga.

Bagi kami para jomblo, apapun konteks pembicaraan kami seringkali dihubungkan dengan konteks kejombloan oleh lawan bicara, padahal bukan itu yang kami inginkan. Gw punya pengalaman banyak soal ini. Kejadian pertama, gw nanya ke teman tentang seorang cowok, cuma nanya dia pernah ketemu atau ga, jawabannya “ooh, dia cowok khilaf yang lumayan bisa lo harapkan Ludi.” (fyi, saat itu sedang tersebar candaan hanya cowok khilaf yang tertarik sama gw). Bahkan beberapa tahun setelahnya, ada kejadian serupa, gw tanya tentang teman blogger ke kawan sefakultasnya, jawabannya “lo mau ta’aruf sama dia ya? gw ada nomor henpon-nya nih!”.  Lihat? Bagaimana orang lain merespon seorang jomblo.

Bahkan di sebuah pelatihan, pembicaranya cowok single, teman sebelah kanan bilang “catat nomor henponnya Ludi, bisa dijadikan calon suami nih!”. Hanya beberapa detik berselang, teman sebelah kiri berbisik “PDKT sama dia Ludi! Mumpung sama-sama single”. Ini orang apa banget dah!

Gw ga bisa kasih contoh lain, tapi sebenarnya banyak kejadian orang menghubung-hubungkan pembicaraan dengan urusan berpasang-pasangan. Sebutlah misalnya seorang jomblo mengeluh galau, pasti akan diterjemahkan sebagai pengen menikah atau pengen punya pasangan. Padahal galau punya banyak sekali varian. Mungkin bagi para nonjomblo, yang ada di otak jomblo hanya “aku, kau, dan kua”, padahal kan bukan cuma itu. Jomblo ataupun bukan, Maslow tetap membuat hierarki yang sama. Jomblo tetap butuh makan dan tempat tinggal. Jomblo juga perlu cari duit. Hidup seorang jomblo tidak melulu soal cari pasangan. Namun sayangnya orang luar banyak yang tidak mengerti.

Kadang, yang paling tidak nyaman dalam kehidupan jomblo justru potensial fitnah-nya. Ya karena hal-hal semacam ini. Belum lagi mereka yang suka nyindir bin nyinyir pada kami di dunia nyata maupun maya. Mungkin perlu juga ditambah satu komisi lagi di indonesia, komisi nasional perlindungan jomblo. Sekian.

Advertisements

3 thoughts on “[catatan #15 Ramadhan] Jomblo Sayang, Jomblo Malang

  1. nggaksuka bgt sm org yg suka ngeledek itu. Allah mah kan ;unya waktuNya yak.. bukan murni dr sisi2 kite *ko jd kaya memelas bgt gw ngomongnya 😀

    *ludii.. ini titin yg kenalan di nikahan toffan hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s