[catatan #11 Ramadhan] Level Tangan, Lisan atau cuma Hati?

Beberapa waktu lalu FPI ramai kembali memenuhi media karena kejadian di Kendal. Selama ini FPI memang sering menjadi pemberitaan, tapi kemarin itu lebih hot karena salah seorang anggotanya menabrak warga hingga tewas (sebenarnya catatan ini akan dibuat ketika berita itu sedang hot-hotnya, apa daya saya tak sempat). Saya bukan ingin beropini tentang FPI, apalagi tentang perlunya ormas tsb dibubarkan, tapi saya hanya ingin melihat apa yang selama ini FPI kerjakan, nahi munkar.

Visi Misi FPI adalah penegakan amar ma´ruf nahi munkar untuk penerapan Syari´at Islam secara kaffah. Tentang bagaimana implementasi FPI dalam menjalankan visi dan misinya saya sedang tidak ingin bahas. Tapi beberapa hari belakangan ada sebuah pertanyaan yang sangat mengusik diri saya sendiri, sejauh mana saya sudah berani menegakkan amar ma’ruf nahi munkar?! Atau lebih dipersempit lagi pada bagian nahi munkar-nya.

Amar ma’ruf dan nahi munkar di sini tidak dalam konteks yang besar-besar, atau sampai seperti FPI yang menggrebek tempat maksiat. Kemunkaran yang kasat mata di sekitar saja, sudahkah saya berani mencegahnya dengan tangan saya sendiri?

Suatu hari seorang kawan tiba-tiba bernostalgia di whatsapp, “masih inget ga Di, pertama kali kita ketemu, lo negor gw pas gw wudhu karena pemborosan air?”. Sebenarnya saya sudah tidak ingat sama sekali, tapi satu hal yang bisa saya tebak “ga inget, tapi abis itu pasti lo jadi sebel banget sama gw ya?”. Diapun bilang “ya iyalah!”

Seorang kawan lain di waktu yang lain pernah bilang, sebenarnya pada dasarnya orang itu tidak suka dikritik. Entah iya atau tidak, tapi katanya kritik pasti meninggalkan residu ketidaknyamanan. Mungkin termasuk perkara menunjukkan yang baik dan mencegah keburukan begini. Sedang wudhu terus ditegur untuk mengatur kran agar airnya tidak mubazir oleh orang tak dikenal, siapa yang ga keki coba?

Tapi ya kadang saya begitu. Ada yang bilang terlalu asertif, sampai dia dan kawan-kawannya tidak suka. Karena kadang saya dengan spontan memberi tahu orang lain yang benar (menurut saya) tidak pakai tedeng aling-aling. Mungkin karena efek “residu ketidaknyamanan” atau parahnya lagi “kebencian” membuat perkara amar ma’ruf nahi munkar bukan perkara ringan.

Dalam hadis disebutkan “Barangsiapa di antara kamu melihat kemungkaran, maka hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya, jika ia tidak mampu cegahlah dengan lisannya, dan apabila tidak mampu maka dengan hatinya. Yang demikian itu adalah selemah-lemah iman.”  (Hadits riwayat Imam Muslim).” Kekuatan mengubah kemunkaran dibuat berbanding lurus dengan keimanan. Iman paling kuat adalah yang bisa mengubah kemunkaran dengan tangannya sendiri, dengan segala konsekuensinya tentu. Makanya ada peribahasa juga bilang sampaikanlah kebenaran walaupun pahit. Pahitnya tidak melulu bagi yang mendengar, bisa jadi pahit bagi yang menyampaikan. Karena bisa jadi efek setelah menyampaikan kebenaran adalah kepahitan yang kita rasakan, dibenci atau dimusuhi.

Beberapa hari lalu juga seorang tetangga mengisi kultum tarawih di masjid dengan pesan yang menurut saya cukup keras. Dia mengkritik beberapa hal yang ada hubungannya dengan penyelenggaraan sholat di masjid, yang menurut saya ada benarnya. Menyampaikan hal ini di muka umum menurut saya adalah sebuah hal yang sangat berani. Saya lihat jama’ah ibu-ibu di sekitar, banyak yang kelihatannya tidak suka. Masya ALLAH. Menyampaikan kebenaran memang butuh sebuah mental keberanian.

Masih tentang pertanyaan saya pada diri sendiri, sejauh mana saya berani menyampaikan kebenaran dan mencegah kesalahan di sekitar? Sepertinya masih jauuuh sekali. Hari itu saya berhenti di lampu merah di belakang garis putih seperti biasa. Di belakang ada angkot yang membunyikan klaksonnya berulang-ulang. Saya tahu maksudnya, dia menyuruh saya jalan saja karena toh di depan juga tidak ada kendaraan yang melintas. Tapi saya bergeming karena lampu masih merah menyala. Klakson tidak berhenti dibunyikan oleh si supir, karena risih akhirnya saya minggir, tidak melanggar lampu merah, hanya sekadar membiarkan angkot rese itu lewat. Dan kejadian itu sungguh membuat saya berefleksi, tidak, saya belum berani, saya belum bisa seperti Rian Ernst yang bergeming di belakang garis putih lampu merah sambil menunjuk dengan tegas ke ara lampu jika kendaraan belakangnya mengklaksonnya.

Hari itu tentang pelanggaran lampu merah. Masih banyak pelanggaran-pelanggaran lain yang saya diamkan. Mungkin iman yang lemah yang membuat saya tidak berani mengubah pelanggaran dengan tangan sendiri.

Cijantung, 31 Juli 2013

Advertisements

3 thoughts on “[catatan #11 Ramadhan] Level Tangan, Lisan atau cuma Hati?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s