[catatan #10 Ramadhan] #Pray4Egypt

Saya tidak tahu berapa jumlah paling aktual korban meninggal dan luka-luka di mesir saat ini. Sejak kudeta sudah lebih dari 400 orang tewas dengan lebih dari 8000 luka-luka. Sepertinya jumlah ini masih akan terus bertambah.

Korban tewas ditemukan dengan luka tembakan di kepala, leher, dan dada. Sungguh bukan posisi tembak yang bisa dilakukan oleh orang awam. Di sebuah situs berita indonesia saya baca, penembak jitu memang bertebaran di Mesir saat ini. Dai sebuah video yang saya tonton, di tengah massa yang berdemo, tiba-tiba terdengar letusan senjata beruntun dan tumbanglah orang secara tiba-tiba, lehernya tertembak.

“penembak jitu yang bertebaran di seluruh kota” selalu membuat saya teringat film “28 Weeks Later”. Film fiksi yang menceritakan tentang tersebarnya virus mengerikan di Inggris. 28 minggu kemudian virus itu dinyatakan menghilang, warga Inggris yang saat kejadian sedang berada di luar negeri dibolehkan kembali. Namun saat ini mereka berada dalam pengawasan penuh, tentara NATO disebar di seluruh kota. Termasuk para penembak jitu yang mengawasi tindak-tanduk seluruh penduduk selama 24 jam.

Namun, singkat cerita, virusnya tersebar kembali karena ada seorang wanita terinfeksi yang baru saja ditemukan menginfeksi suaminya. Virus ini menyebar kembali ke banyak orang, makin lama makin cepat dan luas. Siapa yang terinfeksi dan tidak sulit diidentifikasi. Di tengah kekacauan ini turunlah instruksi, tembak semua orang yang ada. Tapi kemudian ada satu penembak jitu, Doyle, yang membelot dan malah menyelamatkan warga sipil tsb. Alasannya cuma 1, dia tidak tega melakukan pembunuhan massal itu setelah seorang bocah laki-laki masuk ke dalam target tembaknya.

Siapapun orang yang memiliki hati nurani, pasti tidak tega melakukan pembunuhan terhadap orang tidak bersalah. Seperti Doyle di film 28 Weeks Later. Ribuan warga sipil tidak berdosa turun ke jalan untuk menuntut hal yang mereka yakini kebenarannya, kemudian ditembaki oleh militer berpeluru tajam dari kejauhan. Bahkan sebelum ini, ratusan warga meninggal ditembaki saat mereka berjamaah solat subuh!!

Tidaklah usah bahas politik, lupakanlah dulu perbincangan kelompok, ketika ribuan orang terluka dan pihak RS-pun kewalahan dengan korban yang terus berdatangan. Maka ini adalah tentang kemanusiaan. Kalau kita tidak peduli, atau kita malah mendukung mereka yang melakukan pembantaian, saatnya kita bertanya di mana kemanusiaan kita.

Hancurnya dunia lebih ringan di sisi Allah dibandingkan terbunuhnya seorang muslim. (Hadis)

Cijantung, 30 Juli 2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s