[catatan #8 ramadhan] Dendam Setiap Hari

little algebraWaktu pelatihan kemarin, hidangan yang disediakan tiap berbuka hanya kolak atau es campur dan makanan berat (nasi dan lauk pauk). Jadi ketika berbuka puasa kami cuma makan segelas kolak/es buah dan langsung makan nasi. Tidak seperti biasanya di rumah, atau di jakarta, biasanya waktu berbuka kita makan dulu hidangan pembuka bermacam-macam sebelum akhirnya makan nasi. Kudapan yang paling umum adalah lontong dan gorengan. Saya sendiri heran siapa yang memulai, tapi lontong dan gorengan sudah seperti kudapan wajib ketika berbuka di jakarta, hampir sederajat dengan kolak.

Lain ladang lain belalang. Kalau di aceh, tidak umum ada berbagai kudapan untuk berbuka. Kebiasaan di rumah hostfam saya dulu adalah berbuka dengan es timun dan langsung makan nasi. Saking kebiasaan makan kudapan dulu pernah suatu hari saya berbuka di rumah kepala UPTD. Saya kesana dengan membawa kudapan, dan kudapan itu hanya berakhir tergeletak di meja makan.

Seorang peserta pelatihan bilang pada saya “selama di sini kalau buka ga pakai apa-apa, langsung aja makan nasi. Ternyata bisa ya. Biasanya kan makan gorengan dulu, apa dulu. Kalau udah balik ke jakarta bisa ga ya dilanjutin kaya begini.” Ibu ini merasa bahwa kebiasaan berbuka yang seperti ini sebenarnya adalah kebiasaan baik. Harapannya bisa dilanjutkan.

Ironis memang melihat gaya berbuka kita. Padahal seharusnya puasa itu mengajarkan kita untuk hidup susah dan berlapar-lapar. Tapi sangat tidak tercermin saat berbuka. Bulan ramadhan yang semestinya lebih irit malah terbukti membuat pengeluaran atas belanja makanan berlipat meningkat. Lebih ironis lagi kalau membaca berita beberapa hari lalu tentang dilarikannya puluhan warga Qatar ke RS akibat kekenyangan saat berbuka. Bahkan petugas kesehatan bilang hal ini biasa. Ada 10-15 orang yang masuk RS tiap hari dengan alasan serupa.

Bukan. Bukan tidak bisa kita berbuka dengan menu biasa dan sederhana. Tapi karena kebiasaan yang membudaya.

 

“Aku sedih melihat makanan yg banyak karena terkenang Rasulullah. Baginda berbuka dengan makanan yg sedikit tetapi amalannya banyak. Sedangkan aku berbuka dg makanan yang banyak, tetapi amalanku cuma sedikit.” -Imam Malik bin Anas-

 #NtMs

 

gambar diambil dari komik The Muslim’s Show

Advertisements

4 thoughts on “[catatan #8 ramadhan] Dendam Setiap Hari

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s