[catatan #2 ramadhan] Hard Sorry

Sebuah kasus yang saya alami di ramadhan hari kedua membuat saya teringat sebuah tulisan lama. Judulnya “tidak cukup belajar mencegah”. Berhubung di sini sinyal sm*rtfren jelek banget sehingga berselancar di dunia maya dengan PC tersendat-sendat, saya tidak bisa kasih link tulisan tsb. Kira-kira di situ saya tuliskan bahwa orang indonesia kebanyakan ditanamkan nilai “mencegah lebih baik daripada mengobati” sejak kecil. Tapi kurang diajarkan bagaimana jika sudah sakit. Akibatnya, menurut saya, kita kurang pandai menyikapi keterlanjuran dan kesalahan.

Coba saja lihat bagaimana sikap kita jika datang terlambat. Sebagian besar akan mengemukakan alasan-alasan, yang sebenarnya diada-adakan atau bisa diantisipasi sebelumnya. Adakah yang ketika datang terlambat langsung minta maaf dan mengakui kesalahan bahwa dirinya memang terlambat berangkat? Jarang. Jujur, sayapun kadang begitu, jadi ini refleksi pribadi.

Kemarin saya menemukan sebuah kasus. Ada seseorang kedapatan melakukan sebuah kecurangan. Lalu yang mendapatinya menegurnya dengan sopan dan tidak pakai urat apalagi otot. Yang ditegur menjawab “memangnya saya melakukan kecurangan apa?”. Sayangnya semuanya memang tidak bisa dibuktikan karena si pembuat curang sudah menghilangkan barang buktinya. Jadi kasuspun ditutup saja.

Heran. Padahal-menurut saya- kita ini bukanlah orang-orang pendendam dan tanpa belas kasihan. Mana yang akan kita pilih jika seseorang menabrak kita tapi dia segera meminta maaf, memaafkannya atau memarahinya? Saya pikir kebanyakan akan memilih yang pertama. 8 tahun lalu saya pernah menabrak sebuah mobil sedan dengan kecepatan tinggi. Body sedan sampai penyok-penyok, saya yangpanik cuma bisa meminta maaf pada pemilik mobil. Dan si pemilik mobil tidak memperkarakannya lebih jauh. Mungkin sebenarnya dia ingin menuntut tapi tidak jadi karena melihat saya hanya seorang mahasiswa tak berharta. Haha. Saksi di TKP bilang saya sangat beruntung karena pemilik kendaraan tidak meminta ganti rugi sama sekali. Meskipun saya punya kerugian tersendiri berupa badan memar-memar dan motor harus masuk bengkel.

Maka menemukan orang-orang yang memilih berdalih, tidak mengakui atau mencari-cari alasan alih-alih minta maaf hanya membuat saya mengelus dada dan menghela nafas.Sepertinya lagu Phil Collin banyak benarnya, “sorry seems to be the hardest word”.

Bandung, 12 Juli 2013

Advertisements

2 thoughts on “[catatan #2 ramadhan] Hard Sorry

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s