Keterampilan vs Keahlian

Beberapa hari lalu saya main ke rumah seorang kawan. Sebenarnya saya sudah berteman cukup lama dengannya, tapi kunjungan ke rumahnya beberapa hari itu membuka sebuah fakta baru. Di pertemuan itu kawan saya bercerita tentang pekerjaan ayahnya, dan saya cukup takjub sekaligus heran kenapa baru tahu.

Ayah kawan saya ini ternyata seorang mantri hewan. Anda pasti pernah mendengar kata mantri. Apalagi kata hewan. Tapi mantri hewan, pernahkah dengar? Ayah kawan saya ini bekerja sambilan sebagai perawat tapi pasiennya adalah hewan-hewan.

Setahu saya tidak ada di indonesia ini kampus dengan jurusan keperawatan hewan. Kalau perawat ya belajar merawat manusia. Urusan terapi hewan dipelajari di kedokteran hewan. Ternyata ayah kawan saya ini belajar tentang kesehatan hewan secara otodidak. Beliau tidak kuliah kedokteran hewan, apalagi keperawatan. Berbekal pengalaman lapangan sebagai asisten dokter hewan, dari observasi, asistensi hingga mencoba sendiri, jadilah beliau seorang mantri.

Kemampuannya sebagai mantri hewan cukup mumpuni. Beliau bisa mengkebiri, bedah minor, mengobati, entah apa lagi. Menurut saya keterampilan macam ini dimiliki tanpa sekolah formal adalah hal luar biasa. Kekurangannya adalah beliau tidak tahu secara teoritis atau rasionalisasi tindakan yang dilakukan. Mungkin beliau tidak tahu bagaimana sistem reproduksi kucing atau kambing, tapi beliau bisa membuat seekor kucing jantan tidak lagi bisa menghamili kucing betina. Mungkin dia tidak bisa menjelaskan bagaimana perjalanan sebuah penyakit yang dijangkiti hewan, tapi dia tau bagaimana penanganannya.

Dari buku yang saya baca belum lama ini, ayah kawan saya ini bisa dianggap terampil tapi tidak ahli. Mirip dengan lulusan program vokasi berbagai jurusan. Seorang lulusan vokasi dididik sebagai calon pekerja yang terampil. Soal skill mereka diasah sebaik-baiknya, tapi kemampuan analisa tidak diunggulkan.

Kemudian seorang kawan bertanya tentang hal yang terkait dengan urusan keterampilan dan keahlian ini.

“Menurutmu Di, bekam yang sekadar berpengalaman tapi kurang secara pendidikan, utamanya yang berkaitan sama anatomi kali, ya gimana?”

Bisa dibilang bekam yang sekadar pengalaman artinya terampil. Namun kekurangan secara pendidikan artinya tidak ahli. Seperti dikutip dalam sebuah buku

“Membekam merupakan kegiatan yang menyangkut ketrampilan dan keahlian. Ketrampilan diperoleh dari seringnya seseorang itu membekam. Semakin sering membekam, semakin terampillah ia. Keahilian diperoleh dari pelatihan-pelatihan membaca buku pengobatan dan mempelajari berbagai teori bekam. Banyak yang terampil membekam tetapi tidak punya keahlian, karena ia membekam tanpa dasar teori yang benar. Begitu pula, banyak yang pandai dalam teori, namun jarang mempraktikannya sehingga ia tidak terampil.”

Kembali lagi ke pertanyaan kawan saya, bagaimana menurut saya? Terus terang saya tidak bisa menjawabnya. Apakah sebuah masalah jika pembekam terampil dalam melakukan praktik tapi dia tidak tahu teorinya. Kalau pragmatis, sebenarnya tidak masalah. Bekamnya efektif meskipun pembekamnya tidak tahu teorinya. Klien tidak rugi toh?

Baiklah saya beri contoh lain, profesi saya sendiri. Sebagian besar perawat di lapangan adalah lulusan pendidikan vokasi. Para ahli madya perawat itu fokus pendidikannya adalah skill alias keterampilan. Kemampuan menganalisa, menegakkan diagnosa, atau rasionalisasi dari tindakan yang dilakukan bukanlah kompetensi mereka, itu (katanya) kompetensi seorang Ners yang disebut juga perawat profesional.

Masalahkah dirawat oleh seorang perawat ahli madya yang terampil tapi tidak ahli? Mungkin pada beberapa kasus. Tapi kenyataannya, lapangan kerja lebih suka menyerap perawat ahli madya ketimbang seorang ners. Yang penting mereka cakap dalam skill, RS merasa cukup dengan itu.

Setelah obrolan cerita tentang ayah kawan saya yang mantri hewan itu, paradigma saya tentang urgensi keterampilan dan keahlian sedikit berubah. Kondisi ideal memang memiliki keterampilan dan keahlian sekaligus. Tapi hanya terampil tidak juga selalu masalah kalau urusannya sebagai praktisi. Justru yang lebih masalah kalau ahli tapi tidak terampil. Buat apa dia tahu khasiat membekam di kahil kalau dia sendiri tidak bisa membekam toh?

Begitulah. Ini tulisan penuh kebingungan. Hehe.

 

20 Juni 2013

Advertisements

7 thoughts on “Keterampilan vs Keahlian

  1. kayak pas ngerjain riset tesis juga di
    asisten ngeLabku ibu2 D3 (teknisi Lab)
    aku sering banget diomel2in
    “piye tho mba, jere mahasiswa S2 kok ga bisa apa2”
    hedeh nyebelin bgt digituin
    ya wajar lah si ibu jam terbangnya tinggi banget
    kalo aku paling baca teorinya doank
    krn emank waktu itu tesisnya bioteknologi yg belum pernah sama sekali pas jaman S1
    (komenku selalu curcol) :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s