Kenapa Memilih Menunggu?

Pernahkah anda menunggu demi sebuah janji, meskipun itu dalam ketidakpastian atau ketidakjelasan?

ini foto menunggu yang unyu banget

ini foto menunggu yang unyu banget

Dalam serial-salah satu drama favorit saya, hehe-Bakers King ada sebuah fragmen menarik. Kejadiannya adalah Yu Kyung mengajak Tak Gu bertemu di depan jam dinding di sebuah taman tepat pukul 6. Kali itu adalah pertemuan mereka yang pertama setelah 2 tahun dipaksa berpisah. Dengan kerinduan yang masing-masing mereka tahan akhirnya mereka bisa bertemu kembali. Tak Gu antusias sekali dengan janji pertemuan itu dan menunggu di sana sejak pukul 6 kurang 10 menit. Tapi Yu Kyung tidak juga terlihat batang hidungnya.

Mereka akhirnya bertemu pada pukul 12 malam. Ya, Tak Gu menunggu selama 6 jam hingga Yu Kyung datang. Tanpa ada kepastian apakah Yu Kyung akan benar-benar datang, tanpa ada kejelasan Yu Kyung berada di mana saat itu. Tapi Tak Gu memilih untuk menunggu. Dalam serial itu memang tidak diperlihatkan adanya telepon genggam sehingga mereka bisa saling menghubungi dan bertukar kabar. Pukul 12 malam Yu Kyung yang akhirnya sampai begitu terharu melihat Tak Gu masih ada di sana, sambil menangis dia bertanya

“you’ve been waiting for me all this time? What an idiot”

Tak Gu tersenyum dan berkata “you told me to come. You said lets meet here in front of the clock tower”

Beruntunglah kesetiaan Tak Gu menunggu berbuah manis, dia akhirnya bisa berkata “i waited and you came”.

Saya tidak pernah menunggu seseorang dalam sebuah janji pertemuan hingga 6 jam lamanya. Siapa yang pernah, dalam ketidakpastian pula? Apa yang membuat seseorang rela menunggu dalam ketidakpastian? Mungkin karena kepercayaan. Tak Gu percaya bahwa Yu Kyung akan datang, karenanya dia menunggu meskipun harus semalam suntuk.

Lain lagi kisah cinta Profesor Agasa di komik Detektif Conan. Sewaktu SD Profesor Agasa berkenalan dengan seorang anak perempuan, mereka berteman 3 bulan lamanya. Tiba-tiba si anak perempuan harus pindah rumah dan sekolah. Alih-alih berpamitan, anak itu mengajak Agasa untuk bertemu kembali 10 tahun lagi di tempat kenangan mereka berdua. Celakanya, Prof Agasa tidak mengerti tempat mana yang dimaksud oleh anak tsb.

Tanpa tahu nama lengkapnya, tanpa tahu alamatnya, Prof Agasa tidak pernah bisa bertanya di mana tempat pertemuan mereka berikutnya. 10 tahun kemudian dia menunggu di sebuah tempat yang dia pikir itulah yang dimaksud, si anak perempuan tidak datang. 10 tahun berikutnya Agasa menunggu lagi di tempat lain yang juga memiliki kenangan, si anak perempuan juga tidak datang.

Lalu 40 tahun kemudian, dibantu oleh Conan, Prof Agasa menemukan tempat yang dimaksud. Benarlah, perempuan itu menunggu di sana. Setiap 10 tahun sekali pada hari perjanjian dia datang ke tempat kenangan mereka. Sudah 40 tahun dia menunggu Profesor Agasa datang dan mereka kembali bertemu.

Apa yang membuat seseorang rela menunggu dalam ketidakpastian? Mungkin karena kepercayaan. Mungkin karena harapan. Fusae (nama anak perempuan itu) memilih untuk setia menunggu, meskipun tidak jelas, meskipun tidak pasti. Mungkin karena dia begitu berharap kelak akan bisa bertemu kembali. Harapan besar yang memaksa dirinya untuk percaya, bahwa penantiannya akan berguna.

Saya tidak punya kisah seperti Tak Gu atau Fusae. Mereka adalah tokoh dalam cerita. Entah dalam kehidupan nyata adakah penantian selama itu. Bahkan kisah fiksi juga tidak melulu menampilkan penantian yang berbuah manis. Namun saya punya beberapa kisah tentang mempercayai sebuah janji, meskipun tidak pasti, meskipun tidak jelas.

Untuk orang yang hidup di kota, dengan akses transportasi dan komunikasi yang mudah, bisakah membayangkan membuat janji pertemuan tanpa saling bisa memastikan? Sekitar setahun lalu saya tinggal di daerah tanpa sinyal dan saya berkali-kali harus janjian dengan teman yang juga tinggal di daerah tanpa sinyal, ini tidak mudah.

Saya berikan satu cerita tentang janji dalam ketidakjelasan. Terakhir pertemuan kami menyepakati satu hal. Tanggal sekian jam sekian kami semua akan pergi dari desa untuk selamanya. Teknisnya, teman saya yang tinggal paling jauh akan menyewa mobil dari desanya dan menjemput kami satu persatu, saat itu kami bertiga. Namun di hari-H teman di desa paling jauh membatalkan kepergiannya hari itu. Alhasil rombongan kami tinggal berdua dan saya jadi orang di desa terjauh. Rencana diubah cepat, saya mencari mobil sewaan lalu menjemput kawan saya di desa lain.

Sepagian itu saya sibuk kesana kemari mencari penyewaan mobil. Saya gunakan hp untuk cari mobil sekaligus menghubungi kawan saya untuk memastikan janjian. Berhubung desa kami berdua tidak ada sinyal, maka kami berkomunikasi di sebuah spot sinyal desa masing-masing. Itu artinya kami berdua harus secara tepat sedang berada di daerah bersinyal secara bersamaan.

Cari mobil ternyata tidak mudah, sudah kesana-kemari tapi tidak dapat. Sayapun berpikir untuk mengganti rencana lagi. Saya keluar tanpa mobil dan kami berangkat masing-masing, tanpa jemput menjemput. Itulah yang saya katakan pada teman saya di komunikasi terakhir, namun saya terus berusaha cari mobil sewaan. Untuk kepastiannya kami janjian lagi, jam 12 sama-sama berada di daerah bersinyal dan kembali berkomunikasi via telepon untuk kepastian. Tapi di jam 12 hubungi dia, tidak ada jawaban, sepertinya dia tidak berada di spot sinyalnya saat itu. Saya tunggu dan terus tidak ada sambungan, sementara waktu terus berjalan dan kami harus segera keluar desa.

Ternyata akhirnya saya mendapatkan kemudahan, saya dapat mobil sewaan. Tapi saya tidak bisa menghubungi kawan saya untuk memastikan bahwa kami akan pergi dengan rencana awal. Ketika akhirnya saya berangkat, saya bingung sekali, apakah langsung saja menuju kota atau mampir dulu ke desa kawan saya dan menjemputnya. Saya tidak tahu dan tidak bisa memastikan apakah dia masih menunggu penjemputan saya atau sudah berangkat sendiri sesuai wacana di komunikasi terakhir. Akhirnya saya putuskan untuk tetap masuk ke desanya, meskipun itu jauh sekali dan saya tidak tahu pasti apakah dia masih ada. Andai ternyata dia sudah keluar sendiri, penjemputan saya akan menjadi pemborosan yang cukup besar. Namun ternyata, dia masih menunggu penjemputan saya di desanya.

Apa yang membuatnya menunggu dalam ketidakjelasan? Dan apa yang membuat saya memutuskan dalam sebuah ketidakpastian? Mungkin karena kepercayaan, mungkin karena harapan. Mungkin kami sama-sama mempercayai janji awal kami, saya jemput, dia tunggu. Tak ada yang pergi duluan, tidak ada yang meninggalkan.

Apa yang membuat seseorang rela menunggu dalam ketidakpastian? Mungkin karena kepercayaan. Mungkin karena harapan.

Hari ini saya membuat perjanjian dengan orang lain. Saya berpikir bahwa janji kami adalah sebuah kepastian, tidak ada niatan untuk membatalkan. Dari awal saya sudah bilang, jika sudah waktunya tolong hubungi saya, karena saya kemungkinan sedang berada di tempat lain. Ketika waktunya tiba, dia tidak menemukan saya di tempat biasa. Saya sms bahwa saya segera menuju ke sana. Sayangnya ternyata sms saya sampai terlambat. Ketika sampai, saya tidak dapat menemukannya.

Apa yang membuatnya tidak rela menunggu dalam ketidakpastian? Mungkin karena tidak ada kepercayaan, tidak pula harapan. Ketika sampai, saya diberi tahu orang lain bahwa dia sudah pergi. Tapi dari awal saya mempercayai bahwa janji ini pasti. Maka dengan harapan saya menunggu, sambil mencari kepastian (yah, tidak seperti Tak Gu, Fusae, atau setahun lalu, saya bisa memastikan via mobile phone) bahwa dia benar-benar sudah pergi.

Hari ini saya belajar, kenapa seseorang tidak rela menunggu dalam ketidakpastian, jangankan 40 tahun atau 6 jam, 30 menitpun tidak. Karena tidak ada kepercayaan ataupun harapan. Tidak seperti Tak Gu yang percaya Yu Kyung akan datang. Atau Fusae yang berharap bertemu kembali dengan Agasa. Saya jadi berefleksi, mungkin seorang Pemi Ludi belum layak mendapatkan kepercayaan dan harapan itu.

Cijantung, 31 Mei 2013

gambar dicomot dari http://quinzo.files.wordpress.com/2012/01/waiting.jpg

Advertisements

16 thoughts on “Kenapa Memilih Menunggu?

  1. bisa jadi bukan karena ‘kelayakan mendapat kepercayaan dan harapan” Lud, bisa jadi ybs sdh ad janji dengan orang lain dilain tempat dg jadwal yang nyaris bersinggungan sama jadwal kamu.

    Don’t ypu remember ? waktu itu aku tetap menunggu kamu, sembari nonton seminar.. ^ ^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s