(2) Modern dan Nabawi, Haruskah Dipisahkan?

Beberapa tahun belakangan, saya merasa antara pengobatan medis dengan thibbun nabawi jadi meruncing. Seperti air dan minyak yang tidak bisa bersatu. Bahkan sampai ada pertanyaan mau pilih resep Nabi apa pilih resep dokter, mau herbal apa obat kimia? Mau vaksin apa ASIX? Seolah-olah kedua hal tersebut adalah kontradiksi. Hanya boleh memilih salah satu, tidak boleh keduanya, maka jadilah alternative dan bukan lagi komplementer. Apalagi kalau sudah membincang vaksin, waduh hebohnya bukan main. Seperti saling serang.

Karenanya saya sempat lupa dengan mimpi saya dulu untuk menjadi praktisi thibbun nabawi. Bukan karena saya jadi tidak percaya, sama sekali bukan. Tapi karena saya tidak nyaman dengan kondisi yang muncul seolah-olah pengobatan medis dan thibbun nabawi adalah kontradiksi. Padahal medis ilmunya dari ALLAH, thibbun nabawi juga.

obat sapu jagat

obat sapu jagat

Boleh jadi, ini adalah pendapat saya semata, menjurangnya pemisahan antara pengobatan medis modern dengan thibbun nabawi adalah pertama para praktisi kedokteran memandang thibbun nabawi adalah praktik yang tidak rasional. Sementara thibbun nabawi sendiri belum ada penelitian yang menunjang dan sesuai standar untuk menjawab keraguan dari para praktisi pengobatan medis. Terapi medis modern sudah memiliki penelitian untuk setiap tindakannya,evidence based practice. Sementara thibbun nabawi, bisakah menjawab jika ditantang untuk memberikan jurnal penelitian internasional terkait praktik mereka?

Beberapa hari lalu saya ikut (lagi) pelatihan bekam. Terus terang, untuk beberapa hal memang susah diterima secara logika. Misalnya kenapa bekam dianjurkan hari senin, selasa, dan kamis? Memangnya apa yang membedakan hari itu dengan hari yang lainnya? Adakah penelitian yang bisa menjawab kelebihan manfaat berbekam di hari dan tanggal yang dianjurkan ketimbang yang bukan? Atau misalnya terapi herbal untuk anak autis adalah dengan mengusapkan daun bidara di tubuh mereka. Karena daun bidara dipercaya dapat mengeluarkan logam berat. Daun-daun diusapkan ke tubuh untuk mengeluarkan loga berat, logis dan rasional? Buat saya tidak sama sekali.

Para praktisi thibbun nabawi kebanyakan akan mengembalikannya sebagai sunnah Rasul SAW. Meskipun rasionalisasinya tidak tahu, tapi atas dasar keimanan maka diikuti. Apalagi ALLAH sendiri berfirman dalam al Quran bahwa manusia itu tidak diberi pengetahuan kecuali sedikit. Maka-kalau saya-akan tetap menjalankannya meskipun belum terbuka hikmahnya pada saya. Namun, bisakah argument seperti ini diterima banyak orang? Apalagi di ranah ilmiah.

Di pelatihan kemarin itu pula saya baru tahu bahwa ternyata malpraktik bekam itu banyak, hanya tidak ter-blow up saja. Ada pasien yang menjadi lumpuh setelah dibekam, ada yang terdeteksi hepatitis sepekan setelah dibekam. Mungkin kalau boleh didata, berapa banyak orang yang justru merasakan tidak nyaman setelah dibekam akan banyak sekali jumlahnya.

Apakah ini salahnya bekam? Saya yakin bukan. Bukan karena bekam-nya, tapi bisa jadi karena salah pemilihan lokasi pengeluaran darah, atau karena prosedurnya yang tidak steril. Dari beberapa pelatihan bekam yang saya lihat dan ikuti, hanya pelatihan terakhir yang menggunakan teknik steril dalam membekam. Banyak terapis bekam, yang sebagian besar bukan orang dengan latar belakang medis, tidak memperhatikan sterilitas alat maupun prosedur. Padahal bekam adalah invasive, berurusan dengan darah yang merupakan cairan infeksius pula.

Jangan heran bila melihat cup bekam yang habis dipakai ditaruh begitu saja di lantai. Alat bekam yang hanya disemprot alcohol. Atau terapis yang tidak mengenakan sarung tangan (boro-boro sarung tangan steril yah). Saya penasaran dengan angka nosokomial-nya. Ditambah penggunaan tisu untuk melap darah dan kulit yang terluka. Bukannya karsinogenik ya?

Untuk urusan kehati-hatian dengan cairan pasien, waspada terhadap infeksi nosokomial, sterilitas alat dan prosedur, orang-orang berlatar pendidikan medis-lah yang lebih paham. Kita ini belajar menggunakan sarung tangan steril saja disuruh dosen mengulang hingga 100 kali biar lancar, cepat, dan tidak ada kesalahan. Belum lagi dalam pemilihan titik bekam, selain ada titik sunnah (memang digunakan Rasul SAW) ada pula titik yang disesuaikan dengan penyakitnya. Bagaimana seorang yang tidak mengetahui anatomi, fisiologi, dan patologi bisa memilih titik yang tepat dan efektif? Maka lagi-lagi orang medis memiliki kemudahan di sini.

Kejadian malpraktik bekam sungguh saya khawatiri akan mencoreng bekam itu sendiri. Padahal karena kekurangtahuan, kelalaian,kurangtepatan prosedur, tapi orang boleh jadi menganggapnya bahwa “bekam” lah yang berbahaya. Kalau sudah begini bisa jadi “sunnah Rasul SAW” yang tercederai. Inikah yang kita inginkan?

Saya tidak bilang bahwa orang tanpa latar belakang pendidikan medis tidak bisa melakukan prosedur bekam yang baik. Man jadda wajada, siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil. Kalau ada kemauan dan kerjakeras untuk belajar anfis dan patologi serta prosedur steril dari para calon terapis bekam, insya ALLAH akan tercipta bekam yang professional dan minim malpraktik.

Namun dari tulisan ini saya ingin mengajak teman-teman yang memiliki latar belakang medis dan ingin menghidupkan sunnah untuk sama-sama belajar bekam. Saya berharap bisa punya komunitas untuk bekam steril dan sama-sama melakukan penelitian ilmiah untuk bekam. Praktik bekam yang evidence based. Siapa tau jembatan antara thibbun nabawi dan kedokteran modern kitalah yang membangunnya.

 

sumber gambar: http://rizkyasriningati.files.wordpress.com/2011/10/madu.jpg

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s