(1) Modern dan Nabawi, Haruskah Dipisahkan?

Perhatian, tulisan ini dibuat saat saya sedang amat bersemangat (hingga cenderung mania mungkin, haha) jadi sepertinya akan agak panjang dan, yah begitulah orang mania, flight of idea. Kalau diperlukan akan diedit kemudian.

Pertama izinkan saya kembali ke beberapa tahun lalu, masa-masa kuliah di FIK UI. Saat itu terapi komplementer khusunya bekam (cupping) sedang menjadi tren di kampus. Bisa dibilang tiap tahun ada pelatihan bekam. Begitupun saya, sangat tertarik untuk mempelajarinya. Namun saya baru berkesempatan mengikuti pelatihannya di tahun terakhir kuliah (udah lulus sarjana pula).

Kami menyebut terapi bekam, acupressure, herbal, akupuntur,dll sebagai terapi komplementer, bukan terapi alternatif Kenapa? Kembali pada pengertian secara bahasa. Berhubung kami kuliah keperawatan, maka kami belajar memberi asuhan keperawatan yang pada dasarnya banyak bersumber dari barat,setali tiga uang dengan terapi medis modern. Disebut komplementer karena terapi-terapi di luar terapi pengobatan modern diambil sebagai “pelengkap”saja, bukan sebagai pengganti. Jadi contoh sederhanya, berobat ke dokter juga tapi diterapi acupressure juga. Terapi medis tidak benar-benar ditinggalkan, makanya terapi tsb tidak dianggap sebagai alternatif.

 

Saya ingat betul, pembicara di pelatihan bekam yang saya ikuti ada dosen, juga ada terapis bekam. Ketika dosen saya menjelaskan tentang “komplementer”dan bedanya dengan “alternative” ini, sang terapis bekam menanggapi. Beliau tidak pernah memusingkan bekam itu komplementer atau alternatif pertama kali dia dibekam motivasinya hanya 1, menjalankan sunnah.

Bekam atau bahasa arabnya adalah hijamah, merupakan salah satu sunnah RasuluLLAH SAW. Dalilnya beberapa hadis, salah satunya adalah

“sebaik-baik pengobatan yang kalian lakukan adalah hijamah”

Dengan memahami hal ini, maka sayapun mengimaninya. Meskipun saya belum tahu bagaimana pengaruh bekam pada fisiologi tubuh sehingga bisa menjadi pengobatan, tapi ini adalah pengobatan yang diajarkan oleh Nabi saya,maka selayaknya saya percaya.

Kala itu juga di mana-mana mulai marak dibahas tentang thibbun nabawi (pengobatan ala nabi). Bukan hanya terapi bekam, tapi juga herbal dll. Mulailah marak syiar tentang madu dan habatussauda, semuanya dicontohkan oleh RasuluLLAH SAW. Mendengar kabar-kabar tentang bahaya zat kimia yang masuk ke tubuh kita selama ini, tidak hanya melalui polutan tapi juga makanan bahkan obat-obatan medis yang kita konsumsi, ditambah efektivitas thibbun nabawi, maka saat itu saya tertarik sekali dengan thibbun nabawi.

Sayangnya, kebanyakan praktisi thibbun nabawi bukanlah orang dengan latar pendidikan medis. Jadi ketika efektivitas thibbun nabawi disampaikan oleh mereka, dihadapan kami yang memiliki latar belakang pendidikan medis, rasanya jadi kurang meyakinkan. Ada banyak pertanyaan kami yang tak terjawab. Saya ingat betul, seorang teman-yang waktu itu pelatihan bekam bersama saya- bilang “gw sebenarnya pengen tanya, tapi yaudahlah jangan sama dia, soalnya dia juga kayanya ga ngerti”. Teman saya ini bicara bukan tanpa landasan, dia bilang begitu setelah sebelumnya si terapis menyampaikan pada kami tentang efek bekam dengan rasional yang tidak sesuai.

Maka ketika itu saya menambahkan satu item dalam mimpi saya, yakni menjadi praktisi thibbun nabawi dan menyebarluaskannya pada ummat. Uhuy. Karena saat itu saya yakin bahwa segala yang dicontohkan Rasul SAW pasti baik, termasuk thibbun nabawi. Tapi masyarakat umum belum tentu bisa menerimanya jika hanya didasarkan pada motif “menjalankan sunnah”. Banyak orang yang masih butuh rasionalisasi yang jelas, bukti yang nyata, dan hal ini akan lebih mudah dipahami dan kemudian disampaikan oleh orang dengan pendidikan medis sebelumnya. Membicarakan pengobatan, akan lebih meyakinkan jika yang bicara adalah dokter, perawat atau apoteker ketimbang akuntan toh?

Tapi kemudian semuanya berubah, meskipun tidak ada Negara api yang menyerang, halah.

Kenapa? Lanjut di tulisan berikutnya biar tidak terlalu panjang. Hehe

(tulisan tanggal 9 april 2013, sebelumnya hanya dipublish di facebook)

Advertisements

One thought on “(1) Modern dan Nabawi, Haruskah Dipisahkan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s