Siapa Paling Menderita?

Akhir-akhir ini tiba-tiba saya kangen nonton serial-serial lama. Iseng-iseng buka tumpukan dvd, nonton ulang serial seolah tidak punya kerjaan. Sampai akhirnya saya menonton entah untuk keberapa kalinya serial ini. Maaf saya tidak mau sebut apa judulnya. Hehe.

Entah untuk pertama kali atau sudah berulang, saya terkesan dengan sebuah dialog di satu episode. Episode kali ini bercerita tentang seorang ibu rumah tangga yang kalap setelah mendengar berita bahwa suaminya telah mengkhianatinya. Dengan perasaan hancur juga marah, ibu rumah tangga ini menghampiri suaminya di tempat kerja yaitu sebuah mini market.

Mungkin awalnya ibu ini hanya ingin penjelasan dari suaminya kenapa berselingkuh. Tapi berhubung dia sudah ditelan amarah, dia menghampiri suaminya dengan membawa pistol dan ketika penjelasan suaminya dirasa kurang pas pistol itu diletuskan begitu saja ke arahnya. Sang suami yang tidak berhasil tertembak segera kabur dan bersembunyi di dalam ruangan. Sementara istrinya di luar, semakin marah dan menyandera semua pengunjung mini market.

Ibu rumah tangga ini melarang pengunjung keluar dan menyuruh mereka duduk berkumpul di satu tempat. Petugas mini market yang berusaha kabur ditembak dari belakang. Suasana mencekam. Seorang ibu rumah tangga menjelma jadi teroris karena cemburu dan merasa dikhianati.

Singkat cerita, di tengah penyanderaan itu ibu ini menembak salah seorang sandera yang dilaporkan telah mengganggu suami orang (detailnya tidak saya ceritakan yah). Wanita tsb pun sekarat dan meninggal di tempat. Seorang sandera lainpun marah dan membentak ibu rumah tangga itu. Dan di sinilah bagian yang menarik buat saya.

Dengan marah si sandera bertanya, “What’s the matter with you?”
“My husband was cheated on me”
“Who cares?! Who cares?! We all have pain. Everyone in here has pain, but we deal with it. We swallow it and get going with our lives. What we don’t do is go around shooting strangers.”

Yup! We all have pain. Kita semua sejatinya punya masalah. Yang beda adalah bagaimana kita menyikapinya. Ada yang mengeluh, ada yang menyalahkan nasib, ada yang berusaha melupakan, ada yang mencoba lari, ada yang berdamai dan berusaha menyelesaikannya. Namun yang pasti kita semua masing-masing punya masalah.

Hal yang paling menyedihkan dengan memiliki masalah adalah ketika merasa masalah kitalah yang paling berat di antara semua orang. Ketika kita menganggap diri kita adalah orang yang paling malang karena masalah yang kita miliki. Padahal sesungguhnya tiap orang memiliki masalah sesuai dengan kadar kekuatannya masing-masing.

Dengan memiliki pemahaman bahwa “semua orang punya masalah” akan membantu kita untuk menghindari keluh kesah dan perasaan menderita. Rasanya tidak pantas berkeluh kesah di hadapan orang lain sementara dia tidak, padahal sama-sama punya masalah. Lagipula keluh kesah juga hanya akan mengganggu orang lain. Karena ketika kita sedang sibuk dengan masalah, orang lainpun begitu. Jadi kenapa kita menambah masalahnya dengan harus mendengarkan keluh kesah kita?

Anda punya masalah, saya juga, diapun begitu. Jadi, bersabarlah kawan. Bukan langitmu yang paling kelabu.

Cijantung, 24 Maret 2013
*ludi lagi belajar menghindari keluh kesah, bantu mengingatkan ya 🙂

Advertisements

4 thoughts on “Siapa Paling Menderita?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s