Candu Kegaduhan

Saya suka sekali 3 paragraf awal khothorot (editorial) majalah tarbawi edisi kemarin. Berikut saya kutipkan

“Setiap hari kita bersuara. Keras atau lirih. Dengan bunyi atau dengan perilaku. Dengan kata tulis maupun dengan kata suara. Lelaku kita adalah suara kita.

Seringkali apa yang kita suarakan tidak selalu apa yang orang lain perlu tahu tentang kita. Bahkan tidak jarang suara kita bukan apa yang punya faedah bagi kita sendiri. Maka kitapun mudah menciptakan kegaduhan.

Kegaduhan adalah candu. Pada batasnya yang terlalu lewat. Meski manusia tidak mudah melawan sunyi, tapi menikmati kegaduhan bisa menyeret kita pada maniak gaduh. Suatu kondisi jiwa di mana kita secara pribadi maupun secara kelompok tak pernah puas dari terus menciptakan gangguan atas tertib hidup.”

Pernyataan ini terasa sebagai teguran bagi saya. Karena bisa jadi saya juga termasuk golongan orang yang biasa menciptakan kegaduhan. Banyak sarana yang bisa digunakan untuk menyalurkan kegaduhan saya. Dalam obrolan langsung di rumah atau tempat kerja, whatsapp, status facebook, atau kicauan twitter. Semuanya bisa jadi merupakan kegaduhan yang saya ciptakan. Masya ALLAH.

pesan presiden

pesan presiden

Akhir-akhir ini saya banyak menulis, setidaknya sebelum 2 pekan terakhir. Tulisan adalah suara saya di dunia virtual. Dari banyak tulisan itu saya sering khawatiri apakah ini bermanfaat atau jangan-jangan masuk kategori kegaduhan. Karenanya saya kadang bertanya pada pembaca setia tulisan saya apakah tulisan-tulisan saya itu, yang kerap dia baca dan komentari, ada manfaatnya. Beruntunglah dia bilang ada.

Saya ini memang suka sekali “bersuara”. Jika ada yang menarik saya bersuara, jika ada yang mengganjal saya bersuara, jika ada gagasan baru saya bersuara, jika ada keluhan saya bersuara, bisa dibilang jika ada lintasan pikiran hampir selalu saya bersuara. Untuk urusan tulisan (di blog atau note fb) mungkin saya masih selamat dari kategori kegaduhan, setidaknya menurut salah satu pembaca setia. Tapi belum tentu dengan saluran suara lainnya.

Beruntunglah sudah sepekan lebih smartphone saya batereinya masuk kondisi sekarat. Akibatnya si smartphone tidak bisa lagi digunakan. Salah satu saluran bersuara saya berhenti bertugas. Tentu saja ini sangat efektif dalam mengurangi suara yang saya keluarkan. Karena saya tidak bisa lagi meracau di whatsapp, berisik di facebook, atau berkicau di twitter, media-media komunikasi penyumbang kegaduhan terbanyak (menurut saya).

Kalau dulu dengan enteng saya mengirim racauan ke teman-teman via whatsapp, kini saya pikir-pikir lagi. Bukan apa-apa, Orang Ber-Smartphone (OBS) cenderung malas untuk berkomunikasi lewat bukan-internet. Karena biasa menggunakan BBM, whatsapp, YM, Gtalk dan segala aplikasi chat lain yang sudah termasuk dalam biaya paket internet bulanan, para OBS rasanya berat untuk mengeluarkan pulsa tambahan dengan berkirim sms. Karenanya saya berpikir berulang kali untuk mengirim sms racauan ke OBS. Dan secara tidak langsung ini adalah terapi mengurangi menggaduh.

Terapi ini memang sementara, karena saya tidak berencana selamanya tidak ber-smartphone. Tanpa bisa dinafikan, guna smartphone memang banyak sekali. Tapi selama beberapa hari tidak menjadi OBS ini saya belajar menikmati keheningannya. Belajar untuk tidak serta merta mengetwit atau mengupdate apa yang terlintas dan terjadi. Belajar untuk menahan diri dari mengabarkan ke orang lain apa yang sedang saya alami. Belajar untuk menerima bahwa saya tidak demikian populer hingga dengan matinya smartphone saya tidak banyak orang merasa kehilangan. Haha.

Kegaduhan adalah candu. Pada batasnya yang terlalu lewat. Sebelum akhirnya melewati batas, ada baiknya memang kita selalu menilai ulang suara-suara yang kita keluarkan. Adakah ia berguna ataukah hanya kegaduhan semata.

ALLAHUa’lam bish shawab.

#NtMSbanget

sumber gambar http://static.pulsk.com/images/2012/12/05/50bf73b49bb15_50bf73b49c6e0.jpg

 

 

Advertisements

4 thoughts on “Candu Kegaduhan

  1. hehe.. makanya aku mpe ngedunlut isi twitq dari awal.. nginget2 lagi aku dah ngomong apaan aja ya di linimasa.
    paling gampang tergoda asal gaduhq di twitter,,,, hahaha
    cz langsung liwat gitu aja..
    etapi kalo tulisan masih bisa kita evaluasi.. kalo omongan yang sering lupanya.

    cuma menurutku kita juga tak harus menghindari kegaduhan, hanya menghindari candunya aja.
    karena dari ‘pernah gaduh’ itu justru kita bisa belajar mikir dulu sebelum lisan ini berucap atau nulis sesuatu.. hihi
    aku inget kata ustadz salim yang kalo 3 bulan ke depan kita belum bisa menertawai tulisan kita sekarang (bisa juga diganti dengan omongan kita sekarang) mungkin kita belum mengalami pertambahan ilmu & pemahaman. hati2lah.. *jleeeb..

    *koq panjang ya komenq.. ahahaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s