Pahlawan (Tak Senilai) 10.000

Siapa pahlawan yang ada di uang kertas Rp 100.000, jangan nyontek ya, yup, Soekarno dan Hatta. Ini pertanyaan mudah. Bagaimana dengan pecahan Rp 50.000? agak lebih sulit tapi masih familiar I Gusti Ngurah Rai. Okeh, uang Rp 1.000, ah ini gampang banget, Pattimura. Hehe. Dari semua pecahan uang kertas yang berlaku sekarang, saya baru sadar bahwa ada 1 pecahan yang saya tidak tahu siapa dia, setidaknya sampai 2 pekan yang lalu.

2 pekan lalu kakak saya beli gantungan kunci berupa replika uang kertas pecahan 10.000 dan 20.000. saat itulah saya baru mengamati gambar di sana dengan lebih seksama dan saya baru sadar bahwa gambar di pecahan 10.000 itu adalah Sultan Mahmud Badaruddin II. Aih, kemana aja gue?!

hei hei siapa dia?

hei hei siapa dia?

Tidak cukup sampai di situ, sore itu saya juga baru menyadari bahwa selama ini saya hanya pernah dengar nama Sultan Mahmud Badaruddin tanpa tahu foto atau gambarnya. Waktu saya berseru takjub “oh jadi ini Sultan Mahmud Badaruddin? Baru tau!”, kakak saya menanggapi, “Sultan Mahmud Badaruddin itu yang kisahnya bla-bla-bla itu bukan sih, De?”. Dan satu lagi saya tersadar, saya juga tidak tahu sama sekali kisah kepahlawanan Sultan Mahmud Badaruddin II.

Berbeda dengan Soekarno, Hatta, Pattimura, I Gusti Ngurah Rai, dan pahlawan lain yang terpampang di lembaran uang yang berlaku sekarang, nama Sultan Mahmud Badaruddin baru saya dengar tahun lalu. Saya dengar namanya ketika menginjak bumi sriwijaya. Nama sultan diabadikan sebagai nama bandara di Palembang. Saya pikir Sultan Mahmud Badaruddin II (SMB II) adalah salah satu raja sebelum nusantara dijajah Belanda, itu saja. Ternyata beliau juga memilki kisah kepahlawanan yang menarik.

spanduk peninggalan sea games di palembang 2011 lalu

spanduk peninggalan sea games di palembang 2011 lalu

SMB II adalah salah satu raja di Palembang. Karena Bangka memiliki kekayaan timah yang luar biasa, kerajaannya yang meliputi wilayah tsb sangat diminati Inggris dan Belanda. SMB II adalah salah satu raja Melayu terkaya dengan harta berupa dollar dan emas yang tersimpan dalam gudang.

Seperti kisah-kisah perjuangan pahlawan lainnya yang sering kita dapat dari pelajaran sejarah di masa sekolah, SMB II juga tidak pernah dapat dikalahkan oleh Belanda. Dan lagi-lagi, seperti biasa, Belanda menggunakan taktik adu domba dan mencari penghianat-penghianat pribumi yang mau membantunya. Selain itu, Belanda juga biasa menyalahi perundingan yang sudah mereka sepakati. Ah, taktik licik nan jahat yang selalu berhasil.

Dalam berkali-kali pertempuran Belanda selalu kalah sehingga Belanda bersiasat memecah belah kesultanan. Beberapa Priyayi Palembang diperalat untuk membocorkan rahasia pertahanan Sultan Mahmud Badaruddin II. Akhirnya 3 tahun setelah penyerbuan terakhir Belanda datang lagi, namun kali ini korban Belanda tidak banyak berjatuhan. Karena kali ini peta lokasi pertahanan Sultan telah diketahui Belanda semua melalui mata-mata orang-orang Palembang sendiri, sehingga Belanda dapat menghindar dari serangan meriam-meriam SMB II di pinggir sungai musi itu.

Kekalahan SMB II terjadi pada bulan suci Ramadhan. Hari Jumat dan Minggu dimanfaatkan oleh dua pihak yang bertikai untuk beribadah. De Kock memanfaatkan kesempatan ini. Ia memerintahkan pasukannya untuk tidak menyerang pada hari Jumat dengan harapan SMB II juga tidak menyerang pada hari Minggu. Pada waktu dini hari Minggu, ketika rakyat Palembang sedang makan sahur, Belanda secara tiba-tiba menyerang Palembang. Paling depan adalah kapal yang tumpangi saudaranya SMB II Husin Diauddin dan Sultan Ahmad Najamuddin Prabu Anom. Akibatnya SMB II merasa serba salah, kalau ditembak saudaranya sendiri yang berada di kapal belanda, orang akan menganggap dirinya kejam karena sampai hati membunuh saudara karena harta atau tahta. Akhirnya SMB II kalah, lalu dirinya dan keluarganya diasingkan ke Ternate hingga wafat.

Saya heran kenapa tidak pernah mendapatkan kisah SMB II ini di pelajaran sejarah. Tapi ada untungnya juga membaca kisahnya sekarang, karena saya jadi lebih mudah membayangkan tempat pertempurannya. Armada Belanda yang datang dari pulau Bangka (Muntok) dan masuk ke Palembang melalui sungai musi. Penghalang kapal yang dipasang dari pulau Kemaro ke Plaju. Hingga di Benteng Kuto Besak sebagai pertahanan terakhir. Ah, rasanya ingin kembali ke tempat-tempat lagi dan menapaktilasi bagaimana pertempuran itu terjadi lebih dari seribu tahun lalu.

musi yang bersejarah

musi yang bersejarah

Membaca kisah SMB II menambah kebanggaan saya sebagai Indonesia. Di negeri ini bertaburan para pejuang. Dan hingga saat inipun para ibu Indonesia masih melahirkan pejuang, semoga itu termasuk kita.

keterangan tambahan:

poto uang 10.000 diambil dari http://image.yaymicro.com/rz_1210x1210/0/a54/sultan-mahmud-badaruddin-ii-a54e55.jpg
poto lain dokumentasi pribadi

kisah smb 2 diambil dari
infokito.wordpress.com/2007/11/05/masa-pemerintahan-sultan-mahmud-badaruddin-ii/id.wikipedia.org/wiki/Sultan_Mahmud_Badaruddin_II

5 thoughts on “Pahlawan (Tak Senilai) 10.000

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s