Masalah Buat Lo, Mas Salah Buat Gw

untuk tahu apakah gambar ini ada hubungannya dengan tulisan, bacalah sampai selesai

untuk tahu apakah gambar ini ada hubungannya dengan tulisan, bacalah sampai selesai

Dulu seorang teman pernah bilang, kalau urusannya selera maka tidak ada yang salah. Misalnya begini, sesuai selera saya suka memakai backpack. Sementara kawan saya pemakai tas selempang. Maka apakah saya salah dan dia benar? Atau sebaliknya? Tentu saja tidak, ini masalah selera, tidak bisa dinilai.

Namun omong-omong tentang selera memang faktornya banyak. Saya bukan orang psikologi sehingga tidak tahu apa saja yang menjadi faktor seseorang menyukai sesuatu secara lebih dan kurang pada sesuatu lainnya. Bisa jadi ideal dirinya, nilai yang dia pegang, atau pengalaman. Misalnya saya kurang suka pada melihat perempuan pakai rok mini, karena nilai yang saya pegang adalah menutup aurat itu wajib. Meskipun perempuan itu pahanya mulus dan orangnya cantik. Paparan mungkin juga mempengaruhi selera orang. Misalnya saya yang pernah melihat pantai di pulau weh, Bangka dan Belitung, tidak lagi merasa pantai di pulau jawa ini menarik.

Rasa-rasanya tidak adil jika selera orang dihakimi rendah atau tinggi. Suatu hari saya lihat seorang fotografer membicarakan artis di twitternya. Dia habis membuka instagram artis tsb dan berkomentar bahwa ternyata uang tidak memperbaiki selera seseorang. Yang saya tangkap adalah dia sedang bilang bahwa memiliki uang yang banyak ternyata tidak membuat selera artis tsb membaik, seleranya tetap jelek. Bagi saya ini agak kasar. Apakah seorang fotografer bisa dibilang memiliki selera yang baik akan foto sementara orang awam tidak?

Selain selera, ada pula hal yang menurut saya tidak bisa dibandingkan. Ia adalah persoalan atau masalah (matter). Maksud saya matter (bahasa inggris) dan agak sulit menemukan padanan bahasa Indonesia yang benar-benar pas. Untuk hal-hal yang bukan prinsip, persoalan orang sifatnya personal.

Misalnya begini, ketika akan dibagi daerah penempatan sebagai Pengajar Muda, kami ditanya apa yang menjadi pertimbangan kami. Bagi saya keberadaan sinyal itu penting. That is matter for me. Tapi bagi kawan saya yang lain tidak ada sinyal tidak ada masalah. Bagi kawan saya tinggal di keluarga angkat berbeda agama adalah masalah, bagi kawan saya yang lain bukan. Setiap orang punya pertimbangannya masing-masing toh? Apakah yang berharap sinyal itu tidak lebih siap ditempatkan di pelosok ketimbang yang tidak mau tinggal dengan yang berbeda agama? Belum tentu.

Kenapa saya menulis ini sebenarnya karena pengen curhat. Hehe. Untuk curhat saja prolognya sampai 5 paragraf. Ini semua karena pembicaraan tadi siang dengan seseorang.

Tadi siang saya bercerita bahwa sebelum masuk kerja di tempat sekarang saya pernah diterima di tempat lain tapi tidak saya ambil. Padahal saya tinggal masuk kerja di sana. Alasan pertama yang saya utarakan adalah jarak. Tempat kerjanya saya rasa terlalu jauh dari rumah. Kemacetan Jakarta itu kan tidak menyenangkan yah, apalagi kalau sudah musim hujan, ditambah banjir. Saya malas sekali membayangkan pulang kerja malam hari dalam keadaan lelah dan harus masuk lagi esok pagi-pagi sekali.

Teman bicara saya tidak setuju dengan alasan saya tsb. Buat dia alasan jauh untuk menolak sebuah pekerjaan tidaklah pas. Kepasbangetan dia adalah orang yang tinggal di tangerang dan bekerja di Jakarta, baginya jarak bukanlah masalah. Dia tidak bisa menerima jika seseorang menolak pekerjaan dengan alasan jauh dari rumah. Saya cuma diam saja, tapi sebel dalam hati. Hehe (gw lagi galak kali yah).

Ada perbedaan pertimbangan tiap orang dalam memilih sesuatu. Saya lebih suka pekerjaan yang dekat dengan gaji lebih kecil daripada jauh gajinya besar (tentu gap gaji juga diperhitungkan sih, haha). Ada orang yang mengutamakan gaji tanpa kesukaannya dalam bidang tsb, ada yang sebaliknya. Ada yang mengikuti kemauan orang tua ada yang menuruti keinginan pribadi. Apakah yang satu benar dan yang lain salah? Ya ngga lah.

Okelah kalau benar-salah rasanya cukup ekstrim. Kita pakai ukuran lain, level. Orang yang mengutamakan gaji lebih pandai dalam memilih ketimbang orang yang mengutamakan passion? Oh no! Melakukan levelisasi rasanya tidak etis, apalagi kalau sampai mengajari orang lain agar menjadi sama dengan kita, “harusnya kamu itu begini, kaya saya”.

Everyone has its own matter. Jadi bijaklah dalam memandang pilihan orang lain, meskipun itu tidak sama dengan pilihan kita.

ket: gambar saya dapat dar google dengan keyword pencarian “masalah buat lo” :p

Sumber gambar http://generatememes.com/media/created/nh0nti.jpg

Advertisements

16 thoughts on “Masalah Buat Lo, Mas Salah Buat Gw

    • kalau kegantenganmu mah bukan masalah buatku jar, haha

      ga nyesel dong, apalagi setelah musim banjir kemarin, untung tempat kerjaku dekat

      ih kamu inget aja..itu kata kepasbangetan bingung ganti pakai apaan :p

  1. everyone’s wearing their own shoes… so???
    setuju mas. kita tak bisa ‘memaksa’ pandangan soal pilihan-pilihan kita. hanya dapat mencoba memahami kenapa saja… banyak yang mempertanyakan alasan2 saya pindah dari bank yang terkenal antriannya itu tapi.. ya saya punya alasan saya sendiri. 🙂

  2. Saya, kamu, mereka berbeda so., bagi yang suka berkehendak harusnya begini begitu ga usah ngatur-ngatur ya :p
    hormatilah pilihan saudaramu..

    btw, lg in tuh keywordnya ‘masbuloh’ , akronim yang aneh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s