Pulau Weh Jilid 2

(jadi ceritanya, di post sebelum ini saya ikutan lomba. saya salah baca ketentuannya, saya pikir harus lebih dari 500 kata, ternyata kurang. ih, gimana bisa cerita asik kalau kurang dari 500 kata. saya terlanjur nulis panjang banget. daripada dibuang, saya post terpisah. yaitu post yang sedang anda buka ini. mudah-mudahan seneng yah bacanya. hehehe)

Berbeda dengan pertama ke Weh, kali kedua saya dengan rombongan yang lebih sedikit. Sebelumnya bertujuh, kali ini hanya bertiga. Itupun kepentingan utama saya kala itu hanyalah menemani 2 orang teman lainnya yang belum pernah kesana. Masa tinggal kami di Aceh sudah habis tapi dia belum pernah ke Sabang. Demi mensahkan diri pernah ke aceh mereka mewajibkan diri pergi ke Sabang. Dan meskipun hanya beberapa jam mereka bisa berada di sana, tujuan utama mereka cuma 1, tugu 0 kilometer. Sebagai seorang teman yang baik (ehm), meskipun hanya hitungan jam ke Pulau Weh (ga bakal puas pasti) sayapun rela menemani mereka.

Tapi perjalanan kali ini tetap menarik. Karena tetap memberikan beberapa pengalaman pertama buat saya. Pertama, kalau kunjungan pertama kami menyewa mobil di pulau weh, kali ini saya membawa motor dari banda. Dua teman saya yang lain dipinjami motor dari kenalan di sabang. Jadi saya berangkat naik feri, sambil bawa motor. Pengalaman pertama menaikkan kendaraan ke feri sambil mengantri bersama penumpang yang bawa kendaraan lainnya. Hehe. Dan kali itu saya sendirian, dua teman saya naik kapal cepat demi cepat sampai. Saya berkorban naik kapal lambat. Tapi seru ih.

Sampai di balohan saya naik motor sampai ke kota sabang sendirian, hanya berbekal penunjuk jalan. Waktu itu hari menjelang maghrib, jadi sampai di penginapan (di daerah kota sabang) sudah malam. Sayang sekali. Hiks. Dan saking sempitnya waktu kami, pagi hari kami harus sudah balik ke banda. Karenanya saya tidak mau melewatkan waktu malam itu begitu saja. Saya naik motor keliling-keliling kota. Meskipun tidak bisa lihat pantai, berkeliling tak tentu arah, melihat weh malam hari rasanya eksotis.

Paginya kami bangun. Lebih tepatnya sebelum subuh waktu pulau weh kami sudah bangun. Sekitar jam 4 pagi, roti untuk sarapan tidak sempat dimakan dan langsung dimasukkan ke dalam tas, kami memulai misi utama kami menuju tugu 0 kilometer. Sungguh saya sudah pernah kesana, dan bagi saya tugu itu tak perlu dikunjungi 2 kali. Tapi berkendara motor dari sabang ke tugu di pagi buta-dengan medan naik turun-kanan tebing kiri jurang, itu asik banget. Tak terlupakan.

jalannya bagus begini, jadi asik aja buat motor-motoran

jalannya bagus begini, jadi asik aja buat motor-motoran

Kami mampir di iboih bukan untuk wisata. Mungkin kami adalah satu-satunya rombongan wisatawan yang datang ke iboih hanya untuk solat subuh. Hahaha. Karena mau lihat pemandangan juga tidak bisa, masih gelap. Benar-benar tidak bisa berlama-lama, kami lanjut ke tugu 0 km. Dan sekali lagi ini ternyata menarik. Pertama kali kesana ramai sekali karena saat itu libur lebaran. Pengunjung banyak, mau poto-poto tidak leluasa. Tapi kunjungan kali ini, masih agak gelap, dan tidak ada orang satupun. Dan sekali lagi saya rasa kami adalah rombongan wisatawan satu-satunya yang pernah datang kesana sepagi itu, cuma beberapa menit pula.

waktu datang masih segelap ini

waktu datang masih segelap ini

Kapal feri Balohan-Ulee Lheue hanya sekali sehari dan itu pukul 7 pagi. Jadi kami tak punya pilihan lain selain naik kapal itu jika ingin pulang hari itu juga dan membawa motor. Akhirnya kamipun ngebut balik ke Balohan (saya lupa berapa puluh km perjalanan kami pagi itu). Sepanjang jalan deg-degan karena waktunya terlalu mepet. Takut ketinggalan kapal.

bantuan visual bagi yang belum pernah kesana

bantuan visual bagi yang belum pernah kesana

Ternyata benar, ketika sampai di pelabuhan kapalnya hampir berangkat. Aak! Pintu kendaraan hampir ditutup. Orang-orang disana berseru agar kami cepat naik. Meskipun kami belum punya tiket saya langsung ngebut saja menaikkan motor ke kapal. Teman yang saya bonceng saya suruh turun dan urus pertiketan. Pokoknya yang penting motor naik dulu. Dan benar, begitu motor saya naik pintu kapal langsung ditutup, kami penumpang terakhir.

Lucunya, saya baru tahu kemudian ternyata di luar sempat jadi masalah. Teman saya kehilangan uangnya. Ahahaha. Bapak penjual tiket marah “kalau ga punya uang jangan naik kapal”. Untung teman saya yang lain datang (dia naik motor yang lain) dan langsung membereskan. Saya yang fokus pada menyelamatkan urusan motor naik ke kapal tidak tahu menahu tentang itu.

Perjalanan yang ada pernak-pernik begininya yang justru bikin kenangan lebih mendalam. Cerita-cerita faktor X itu membuat perjalanan lebih berwarna. Saya langganan ketemu bermacam masalah ketika berpergian soalnya, haha, dari ketinggalan pesawat, kapal, kereta semuanya pernah saya alami :p 

~sayang gabisa upload banyak poto. ada di harddisk dan gabisa dibuka pakai laptop yang sedang saya gunakan 😦

Advertisements

9 thoughts on “Pulau Weh Jilid 2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s