Menonton Penonton

Well, sudah 6 hari berlalu sejak tulisan terakhir dan itu rasanya cukup lama bagi saya untuk tidak menulis. Padahal di “kantong ide” ada banyak hal yang ingin saya tuliskan, tapi ada saja hal yang membuatnya tidak kesampaian. Awalnya ingin meng-geje dalam tulisan, tapi alhamduliLLAH sepertinya ALLAH kurang mengizinkan sehingga tulisan ini tidak akan terlalu geje-geje amat.

Sambil browsing saya mampir ke website zenpencils.com dan menemukan salah satu gambar menarik.

masih belum jelas sumber quote ini darimana

klik gambar untuk lebih jelas

Dan tahukah anda apa yang lebih menarik ketimbang gambar ini buat saya? Yaitu adalah membaca komentar-komentar para pengunjung web. Saya ini suka sekali mengamati. Menjadi observer adalah pekerjaan yang saya sukai selain menjadi komentator. Hehe. Membaca komentar orang adalah bagian dari pengamatan. Kalau membaca sebuah artikel atau melihat sebuah tayangan adalah satu hal, maka mengamati respon orang lain adalah hal lainnya. Ini dua hal yang sama menariknya, sama bisa jadi pelajarannya. Andai ada orang yang menunjuk ke langit, maka bagi saya bukan hanya langit yang menarik untuk diamati, tapi juga tangan orang yang menunjuk itu, orangnya, atau bahkan kerumunan orang yang bersama-sama melihat ke arah langit yang ditunjuk. Hehe.

Mari kita kerucutkan pembahasan dengan penggunaan contoh yang jelas. Gambar di atas membahas quote tentang mengajari seseorang tentang life skill, begitu bukan? Tapi betapa manusia itu unik (dan ini yang menarik untuk saya amati) sehingga komentar dari satu gambar bisa beragam variannya. Ada yang komentar dengan memberikan quote lain yang serupa, ada yang memplesetkan quote itu, ada yang malah bahas bahwa memancing itu membosankan, ada yang merasa quote ini stereotype gender, dll. Bagi saya komentar yang masuk juga menjadi ajang belajar untuk saya. Tidak hanya di website ini, tapi saya juga kerap “membaca komentar” di tempat lain. Misalnya di sebuah situs berita yang memuat konsultasi, saya tidak hanya membaca jawaban dari konsultan, tapi juga menyimak komentar-komentar pembaca, cukup menggambarkan tren dan kecenderungan masyarakat. Berita, status atau kiriman di fan page juga hal-hal yang menarik untuk dibaca komentar-komentarnya. Sesekali saya juga meng-klik sebuah twit (dari akun berita atau selebtwit) dan menunggu sejenak untuk melihat “replies” untuk twit tsb.

Saya jadi ingat di sebuah latihan kepemimpinan kami dicekoki wejangan “pikiran jangan mau direkonstruksi”. Kami diajari untuk tetap merawat objektifitas dan critical thinking. Yang menarik adalah ketika seorang pembicara, seorang pengamat politik dan ekonomi yang beberapa tahun lalu sering sekali diundang di televisi- seorang abang aktivis, bilang jika dosen memberi rekomendasi untuk membaca buku, maka carilah buku dengan tema sama tapi dari penulis berbeda. Abang ini bercerita bahwa dia selalu membaca buku lain diluar rekomendasi dosennya sebagai pemerkaya wawasan, juga agar pikirannya “tidak seragam” atau “tidak dikendalikan” oleh dosennya. Saat itu saya cuma nyengir, kalau mahasiswa eksak seperti saya, baca buku apapun isinya akan sama. Buku versi siapapun akan bilang kalau jantung punya 4 ruang atau insulin dihasilkan oleh pankreas toh?

Membaca komentar memang tidak hanya mengajari tentang uniknya manusia. Membaca komentar juga memperkaya wawasan karena tidak jarang orang komentar menambahkan informasi yang dipaparkan (misalnya komen di blog). Selain itu, menyimak komentar juga membantu mengasah berpikir kritis. Jika kita orang yang cenderung menerima dan percaya dengan apa-apa yang sampai pada kita, membaca komentar memberi banyak perspektif berbeda sehingga kita seolah mendapat banyak pilihan arus untuk terhanyut. Kalau anda orang yang terbiasa menelan bulat-bulat sesuatu, bacalah komentar, dan akan belajar nyinyir dari sana. Haha.

Ah iya satu lagi, ketika anda menemukan komentar yang seragam, entah itu semuanya positif atau semuanya negatif, jangan langsung menerimanya bulat-bulat. Karena boleh jadi komentar yang berbeda, sudah dihapus-hapuskan oleh adminnya atau ada sekelompok orang yang memang sengaja berkomentar serupa demi membangun opini publik sesuai keinginan mereka. Sesekali telusuri “comments” atau “replies”, dan lihatlah celoteh mereka 🙂

gambar dicomot dari zenpencils.com/comic/84-chinese-proverb-give-a-man-a-fish/

Advertisements

7 thoughts on “Menonton Penonton

  1. Saya sangat tertarik melihat gambarnya, 😀 bagaimana seharusnya bekal kemampuanlah yang seharusnya diberikan, bukan hasil dari kemampuan tersebut..:)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s