Gonta-ganti Teman

*lagi gabisa kasih caption*

*lagi gabisa kasih caption*

Saya pernah bilang, sebagaimana hidup pertemanan juga ada fasenya. Dasar saya bilang demikian adalah melihat pengalaman pribadi, betapa hubungan kekerabatan pertemanan bisa bertambah dan berkurang seiring dengan intensitas interaksi. Teman berganti-ganti, sesuai dengan fase hidup yang dijalani. Kemudian saya berpikir, apakah ini berlaku bagi semua teman. Atau teman yang bagaimana yang mudah pergantiannya?

Penilaian saya terhadap diri sendiri adalah saya ini orang yang siklus pertemanannya cepat. Perubahan fase dari kenal-akrab-dekat sampai akhirnya menjauh rasanya cepat saja. Maka saya tidak heran ada kawan yang cepat akrab tapi juga cepat jauh. Lanjut saya berpikir, apakah meregangnya pertemanan melulu karena interaksi yang berkurang?

Unik memang pertemanan, mungkin karena hubungannya dengan manusia yang memang mahluk yang unik. Hubungan antara satu dengan yang lain kadang tidak bisa ditebak. Ada yang akrab dan terus akrab sampai lama, ada yang mau “nyambung” rasanya tidak bisa-bisa, ada pula yang semula akrab tiba-tiba pergi begitu saja.

Saya sempat berpikir bahwa saya ini orang yang dengan mudah melepaskan seorang teman. Kalau memang sudah saatnya pergi yasudah lepaskan. Karena buat saya pada dasarnya berteman adalah asas kebutuhan, selama masih butuh, selama pertemanan itu masih membawa manfaat, pasti masih akan berlanjut. Tapi akhir-akhir ini saya baru sadar, ternyata bukan saya yang melepaskan, sebaliknya justru saya yang lebih banyak dilepaskan. Teman-teman itulah yang tiba-tiba jarang menghubungi lagi. Hoho.

Jika sedang menimbang-nimbang keeratan sebuah hubungan pertemanan saya teringat hadis RasuluLLAH SAW

“Agama seseorang sesuai dengan agama teman dekatnya. Hendaklah kalian melihat siapakah yang menjadi teman dekatnya.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah, no. 927)

Menurut RasuluLLAH SAW erat atau renggangnya berhubungan dengan kondisi keislaman (juga keimanan seseorang). Jadi mungkin kenapa kedekatannya berubah karena frekuensi iman yang tidak lagi sama. Tapi ini hanya berlaku buat teman dekat, teman akrab, bahkan sahabat.

Suatu hari, setelah lama tidak interaksi, seorang teman solihah mengirim pesan whatsapp berupa kutipan buku, tentang kisah salafus salih. Pesan tausiyah yang dia tambahkan, bahwa membaca buku itu dia teringat saya, teringat diskusi-diskusi lama kami, sudah lama kami tidak melakukannya. Sontak saya jadi rindu, rindu dengan pertemanan kami yang lalu, rindu berteman dengan orang soleh dan saling menasihati. Ah, sekarang kami jauh sekali.

Qatadah berkata :
“Sesungguhnya kami, demi Allah belum pernah melihat seseorang menjadikan teman buat dirinya kecuali yang memang menyerupai dia maka bertemanlah dengan orang-orang yang shalih dari hamba-hamba Allah agar kamu digolongkan dengan mereka atau menjadi seperti mereka.” (Al Ibanah 2/477 nomor 500)

~terasa gantung? Saya juga merasa gitu ko.

sumber poto:

http://t1.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcRrdszLjHKBo0z5Txb9CsncODRXgihLvKFcAWkEUIUMJYZcYKB-BA

Advertisements

5 thoughts on “Gonta-ganti Teman

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s