Impian Empat Sentimeter

Perhatian: tulisan ini isinya cerita doang

Baru saja saya menyelesaikan novel pertama dari dwilogi “Padang Bulan”. Bagi sebagian besar orang mungkin ini telat sekali, karena novel ini sudah keluar sejak 2 tahun lalu. Awalnya novel ini berkisah tentang suami istri miskin yang hidup harmonis hingga sebuah kejadian tragis menimpa. Saya pikir novel ini akan terus bercerita tentang perjuangan keluarga itu dalam mengusahakan kesejahteraan keluarga, ternyata novel ini lebih banyak kisah cinta, ah kecewa.

Dan seperti biasa tadi hanyalah paragraph pembuka yang tidak terlalu nyambung dengan apa yang akan saya bahas.

kenapa yang pendek selalu gendut ya?

kenapa yang pendek selalu gendut ya?

Novel ini berkisah tentang cerita cinta Ikal dengan A Ling. Hubungan percintaan mereka tidak berjalan mulus dan salah satu faktornya-menurut Ikal-adalah karena kurang menariknya dia secara fisik. Nyata sekali di novel ini digambarkan bahwa Ikal mengalami gangguan citra tubuh. Dia menganggap fisiknya tidak menarik karena bertubuh pendek. Menjadi pria pendek benar-benar masalah untuk Ikal.

Bagaimana Ikal menggambarkan penderitaannya sebagai orang pendek bisa saya mengerti, karena saya juga mengalami hal serupa. Ikal menggambarkannya kehidupannya dengan “kurang satu jinjit”. Jika ia berjinjit maka segala urusannya beres.

Saya setali tiga uang dengan Ikal. Tubuh saya bisa dibilang pendek jika dibanding orang kebanyakan, dan itu kadang merepotkan. Sewaktu kecil masalah yang muncul adalah ledekan teman. Saya kadang dikatai pendek oleh kawan saya yang memang sengaja bersikap menyebalkan. Masalah lain yang umum tentu saja kesulitan menggapai benda yang tinggi letaknya. Waktu SD saya tidak pernah bisa menghapus papan tulis sampai atas sebagaimana kawan lainnya. Saya kesulitan main lompat karet apabila karetnya sudah terbentang setinggi telinga.

Selama ini saya dihampiri keterbatasan karena bertubuh pendek. Tapi ternyata bertubuh tinggi pun tida selamanya punya urusan beres. Masing-masing berhadapan dengan masalahnya. Misalnya suatu hari ada teman saya perempuan yang tinggi badannya. Ketika akan menikah dia cerita pada saya bahwa dia bersyukur calon suaminya lebih tinggi darinya. “selama ini aku memang cari cowok yang lebih tinggi dari aku”, saya terbengong mendengarnya. Sebagai orang pendek, tak pernah sebersitpun saya memasang kriteria tinggi badan untuk calon suami, karena toh selama ini saya selalu mendapati pria yang lebih tinggi. Hehe.

Setelah menemukan realita kriteria pria lebih tinggi itu sayapun sadar bahwa si pendek tak paham sulitnya menjadi orang tinggi, si tinggipun demikian sebaliknya. Saya kemudian bertemu lagi dengan orang tinggi, tidak tanggung-tanggung, tingginya 185 cm dan jadi semakin tau bahwa orang tinggi juga punya masalah. Kalau saya repot naik bis atau kereta yang berdiri karena tangan saya tidak sampai menjangkau pegangan di atap, kawan saya ini kerap bermasalah kalau naik bis kecil seperti kopaja atau miniarta, karena kepalanya menyentuh atap bis, sundul istilah populernya. “Kalau kepala gw sundul, Ludi, gw akan berdiri di pintu”, hal yang tidak pernah terjadi dalam hidup saya. Atau kalau duduk di kursi dengan jarak kursi depannya begitu dekat, orang tinggi akan repot karena lututnya akan mentok dengan kursi depan. Teman saya pernah sampai pegal sekali karena kakinya harus ditekuk sedemikian rupa sehingga lututnya “muat”. Kasihan.

Namun layaknya Ikal yang ingin menambah tinggi badannya cukup dengan 4 cm saja, sebenarnya saya juga pernah berpikir demikian. Saya butuh 5 cm. Dan ini baru saja terjadi, bukan karena cinta saya ditolak seperti Ikal, tapi karena lamaran saya yang ditolak #eh. Pernah suatu hari saya melamar ke sebuah RS dan aplikasi saya sama sekali tidak diterima, tanpa dibuka, tanpa saya dilihat kelengkapannya, tanpa dites kompetensi atau skill saya. Mereka bahkan tidak mengecek isi otak saya sama sekali tapi saya langsung ditolak hanya karena tinggi badan kurang 5 cm! dan penolakan itu sungguh menyakitkan kala itu. Saya jadi mikir pengen sekali bisa tambah tinggi badan 5 cm aja.

“Tapi orang pendek itu ga mencolok, Ludi”, kata teman saya si 185 cm. Menurut dia salah satu ketidaknyaman orang tinggi adalah menjadi pusat perhatian. Orang tinggi akan lebih mencolok dan orang pendek seperti saya (bukan pendek yang ekstrim alias kerdil) tidak mengalaminya. Di tengah perbincangan tentang tinggi dan pendek saya bilang ke dia “lo ga merasakan hidup seperti yang gw jalankan”, dia jawab “sama, lo juga”. Setelah mengenalnya, setiap saya naik kendaraan yang sempit dan lutut saya menyentuh kursi depan, otomatis saya teringat padanya.

Kadang, kalau tidak saling memahami perbedaan ini bisa terjadi perdebatan juga. Misalnya suatu hari saya jalan bareng teman yang tingginya sekitar 20 cm di atas saya. Ketika dia memfoto saya hasilnya bagus, angle-nya pas, tapi ketika saya memfoto dia sulit sekali dapat angle seperti dia. “Segini nih Ludi, ambilnya dari sini”, tapi tetap saja hasilnya kurang pas menurutnya. Ketika dia liat saya memegang kamera dengan posisi lebih tinggi dari mata, dia protes “ga usah sampai segitu, gw aja tadi megangnya ga begitu ko,” sayapun jawab “iya soalnya gw lebih pendek dari lo, jadi jelas aja posisi ngambilnya beda”. Saya suka bilang ke kawan “gw melihat dunia dari ketinggian 150 cm,” makanya perbedaan angle adalah mungkin adanya.

Setiap kita telah diciptakan dengan “bentuk” masing-masing. Ada yang tinggi ada yang pendek. Ada yang hitam ada yang putih. Bisa jadi ujian, bisa juga jadi kemudahan. Mudah-mudahan bisa terus bersyukur.

Advertisements

5 thoughts on “Impian Empat Sentimeter

  1. cowokq a.k.a adikq juga tinggi bangeeet
    dia mengalami hal itu juga.. di transjogja sundul.. trus naik bis jogja magelang ga bisa bobo nyenyak coz lututnya kepentok..
    beda ma aku yang pules.. hahahaha

    ada syarat begituan ya buat di RS? wooh.. kek mau masuk tentara aja.

    he.. jadi inget pas daftar TN.. qiqi.. tinggiq juga kurang.. =D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s