[journal wada] Menabur di Blog, Menuai di Akhirat

“Peran keperantaraan adalah apa yang mungkin kita lakukan untuk seluas mungkin ruang, selama mungkin waktu, dan sebanyak mungkin jumlah orang.” (Ahmad Zairofi)

Puncak popularitas aktivitas ngeblog memang sudah berlalu di Indonesia. Beberapa tahun lalu ramai-ramai orang ngeblog, seolah-olah diary eksodus ke internet. Saya sendiri sempat punya sekitar, ehm sebentar saya hitung dulu, 5 blog! Ada 2 di blogspot, 1 di multiply, 1 di friendster, dan 1 lagi di apa itu namanya? pokoknya disediakan oleh kampus untuk mahasiswa.

Saya mulai ngeblog tahun 2007, cukup bisa dibilang terlambat. Karena di tahun itu bahkan Raditya Dhika sudah menerbitkan buku yang merupakan kumpulan blognya. Multiply adalah pulau tempat saya terdampar dalam pengembaraan pencarian blog, dan saya suka tinggal disana. 5 tahun lebih saya ngeblog disitu sampai suatu hari datang kabar dari sang CEO “Multiply has shifted its business focus on expanding its e-Commerce”. Akibatnya mereka sudah tidak support lagi social networking feature. Itu artinya pula MP sudah tidak bisa buat ngeblog lagi. Begitu sudah. Dan kamipun para blogger di MP terpaksa pindah.

Sebenarnya aktivitas ngeblog saya sendiri sangat jauh berkurang sejak sekitar 1.5 tahun lalu. Karena jadi pengajar muda, akses internet (juga listrik) yang jauh beda dengan kota membuat saya jarang sekali update blog. Jadi meskipun Stefan Magdalinski CEO Multiply bilang “We realize that this is painful”, rasanya ko saya tidak pain-pain amat. Toh multiply sendiri sudah sepi sekarang. Sudah banyak ditinggalkan penghuninya.

Saya bertanya-tanya blogging di tahun 2012 apakah masih relevan? Tahun belakangan ternyata bukan cuma saya yang jarang update blog, blogger lain juga begitu, meskipun mereka masih tinggal di kota. Tak lain tak bukan karena kehadiran facebook dan twitter. Orang lebih suka meracau atau mengoceh dengan singkat di situs micro-blogging ketimbang menulis panjang-panjang di blog. Para narablog sibuk berkicau dan membaca hal yang singkat sehingga menulis atau membaca blog semakin ditinggalkan. Pun link yang muncul di linimasa itu, apakah dibuka? Belum tentu. Bahkan banyak yang cuma RT atau reply tanpa membuka linknya (pengalaman pribadi *jujur*). Akhirnya blog semakin sepi baik dari new post maupun new comment. Padahal, menurut Nukman Lutfi “Blog tanpa komentar, bagi banyak narablog, bagaikan cinta bertepuk sebelah tangan.”

Apakah memang sebaiknya berhenti ngeblog saja? Karena jangankan blogging, menulis di facebook saja sudah tidak dibaca. Atau kalaupun dibaca ya cuma sedikit. Saya tau darimana? Tuh, liat saja note yang tidak mengetag siapapun, berapa orang yang mampir berkomentar? Cuma 1, paling banyak 2 (sama saya sebagai penulisnya, haha). Cinta bertepuk sebelah tangan itu menyakitkan lho. Hoho.

Tapi sekali lagi, apakah sebaiknya berhenti ngeblog saja karena patah hati ini? Majalah tarbawi edisi terakhir topik bahasannya bisa disambungkan dengan hal ini. Saya suka temanya, membuat saya semakin semangat untuk selalu berbuat kebaikan meski tidak melihat balasan. Judul edisi terakhir itu adalah “Sering Terlupakan, Fungsi Kita Sebagai Perantara”.

Di sana dibahas bahwa keterhubungan kita dengan orang lain itu menyimpan banyak misteri. Sebenarnya kita ini terhubung dengan banyak sekali orang, di berbagai tempat, berbagai dimensi waktu, dalam hal mengambil manfaat. Karena apa yang kita nikmati sekarang tidak hanya datang dari orang dekat, tapi bisa melalui silsilah yang panjang dan jauh. Dan begitupun sebaliknya, kita melakukan sesuatu, yang kita tidak tahu sampai di ujung mana pekerjaan itu akan dinikmati orang lain. Sesungguhnya setiap kita adalah perantara.

Lagi-lagi menurut Nukman Luthfi, kita perlu ngeblog lagi dengan berbagai alas an. Salah satunya adalah blog kita akan “abadi” disimpan oleh google, sehingga lebih mudah ditemukan oleh oarng yang melakukan pencarian. Tidak seperti kicauan di twitter itu yang jumlahnya ratusan juta per hari. Kicauan kita hanya akan terpendam diantara kicauan lainnya. Bukan saya bilang tidak manfaat, tapi life time-nya itu yang beda.

Seperti hari ini saya buka blog saya di blogspot yang sudah using berdebu itu. Saya baru tau kalau blogspot menyediakan fitur statistic, dan betapa takjubnya saya blog udah lama ga diupdate begitu masih ada yang mengunjungi sampai sekarang, yah meskipun mungkin cuma nyasar tapi berarti masih punya peluang bermanfaat toh? Lebih nyengir lagi pas tau nursing-blog saya yang tulisannya cuma 11 biji itu bahkan pengunjungnya lebih banyak dari personal-blog yang jumlah tulisannya puluhan. Haha. Entah kalau di multiply yang sampai 400 lebih itu. Semoga manfaat. Semoga manfaat.

Jadi, dalam rangka mengoptimalkan peran sebagai perantara, saya akan terus ngeblog. Karena fungsi keperantaraan tidak sekedar apa yang bisa kita lakukan untuk orang-orang dekat atau apa yang bisa kita dapatkan dari mereka. Tapi peran keperantaraan adalah apa yang mungkin kita lakukan untuk seluas mungkin ruang, selama mungkin waktu, dan sebanyak mungkin jumlah orang. Dan blogging adalah salah satu aktivitasnya.

~yang paling penting, semoga blog yang dishare itu manfaat!!

Advertisements

3 thoughts on “[journal wada] Menabur di Blog, Menuai di Akhirat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s