Bahasa Kita, Nasionalisasi vs Optimasi

Sudahkah anda dengar kalau pemerintah akan menghapuskan pelajaran Bahasa Inggris dari kurikulum wajib untuk SD. Btw, emangnya selama ini wajib ya? Hehe. Saya pikir bahasa inggris bukan pelajaran wajib, karena dulu di desa penempatan itu masuk muatan lokal. Alasan penghapusannya adalah untuk memberi waktu kepada siswa untuk memperkuat kemampuan bahasa Indonesia dulu sebelum mempelajari bahasa asing.

Seiring dengan globalisasi, masuknya budaya luar ke ruang-ruang di rumah membuat bahasa inggris sebagai bahasa global semakin penting untuk dikuasai. Jangankan untuk hal yang sifatnya besar dan efeknya luas, main play station atau game online saja membutuhkan kemampuan bahasa inggris. Akibatnya kalau di kota, anak-anak sudah diajarkan (atau difasilitasi untuk belajar) bahasa inggris sedari dini. Anak TK saja ada yang sudah mencicipi kursus bahasa inggris. Belum lagi SD internasional yang menggunakan bahasa inggris sebagai bahasa pengantar yang semakin menjamur. Makanya tidak aneh jika seringkali di kota kita menemukan fenomena nilai rata-rata atau nilai tertinggi ujian mata pelajaran bahasa inggris lebih tinggi dari bahasa indonesia. Mungkin ini yang menjadi alasan pemerintah menghapuskan bahasa inggris dari kurikulum SD.

Kemarin saya bertemu dengan seseorang pemilik sekolah di daerah gunung putri bogor. Beliau berujar sekolahnya tidak mengajarkan bahasa daerah yang mana di daerah itu bahasa sunda. “saya beli soal bahasa sunda ke dinas, tapi ga saya pakai. Ga diajarkan di sekolah saya”. alasannya karena “kasihan sama anak-anak”. Menurut beliau beban anak-anak untuk belajar bahasa sudah terlalu berat, ada bahasa Indonesia, bahasa Inggris, bahasa daerah pula, belum lagi kalau ngaji atau hapalan doa dsb secara ga langsung anak-anak juga belajar bahasa arab.

Sayapun cenat-cenutlah dengan beberapa wacana ini. Saya penasaran sebenarnya bagaimana kemampuan anak usia SD dalam mempelajari bahasa. Apakah benar belajar multi bahasa itu terlalu berat untuk anak SD? Lalu setelah ber-googling-ria saya menemukan artikel yang menceritakan tentang penelitian ilmiah yang dilakukan ilmuwan spesialis linguistik terapan, namanya Dr. Paul Pimsleur Ph.D. Penelitian itu mengungkapkan bahwa kemampuan otak manusia dalam menguasai bahasa asing itu sungguh luar biasa. Katanya otak manusia ternyata mampu menguasai 10 bahasa dalam waktu cepat. Oow. Cetar membahana banget ini. Apalagi buat saya yang cuma bisa bahasa indonesia itupun masih belepotan. Betapa otak saya ini kurang saya optimalisasi ternyata.

Sebenarnya tidak terlalu mengagetkan juga kalau baca biografi ilmuwan-ilmuwan muslim itu, selain mereka menguasai beberapa bidang ilmu sekaligus, biasanya juga mereka menguasai beberapa bahasa (sayang saya ga punya datanya). Sebutlah Al Kindi yang dalam usianya yang belia menguasai bahasa Yunani, Suryani dan Arab sekaligus, bahasa dunia saat itu. Jadi sebenarnya manusia ini bisa ko diajarkan banyak bahasa.

Balik lagi ke kondisi anak-anak Indonesia, apakah benar mengajarkan bahasa asing perlu ditunda, agar mereka tidak menyampingkan bahasa negeri sendiri? Atau jangan-jangan para praktisi pendidikan (juga orang tua) yang salah dalam mengatur porsinya? Atau ada yang punya hasil penelitian tentang kemampuan anak usia SD dalam mempelajari multilangual? Jangan-jangan, alih-alih menyelamatkan bahasa nasional, malah justru mengurangi optimalisasi otak kita yang sebenarnya super sekali itu.

Advertisements

4 thoughts on “Bahasa Kita, Nasionalisasi vs Optimasi

  1. Kita bisa mengambil sikap untuk tidak tergantung pada program pemerintah yg selalu berganti. Tiap kali ganti menteri, budayanya adalah ganti kurikulum. Caranya: kalo bahasa Inggris tidak diajarkan di sekolah dasar, ya kita sendiri sbg orangtua yang ngajarin atau secara berkala dipraktekin dirumah. Itung2 nambah wawasan juga supaya ilmunya tidak hilang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s