Pahlawan Untuk Muridku

“Bagaimanapun guru adalah sosok iklan dan teladan yang mampu menggerakkan hati para muridnya untuk memilih kebaikan.” (St. Kartono)

 

Siapa tokoh yang biasa digunakan oleh para guru untuk dijadikan teladan oleh para muridnya? Siapa tokoh yang biasa dimanfaatkan guru untuk menggambarkan kejujuran, kepahlawanan, keberanian, atau segala kebaikan lainnya? Dapat hampir dipastikan, siapapun itu bukanlah dirinya sendiri.

Di sebuah pelatihan guru yang saya hadiri, sang pembicara menyarankan para audiens untuk berhenti menggunakan para pahlawan atau siapapun orang terkenal lain di luar dirinya, untuk menjadi teladan. Dia menantang para guru untuk bisa menjadikan diri mereka sendiri sebagai role model bagi para siswanya. Dia menantang para guru untuk menggunakan diri mereka sendiri sebagai tokoh utama dalam kisah teladan yang mereka perdengarkan di kelas. Melanggar kebiasaan. Mengguncang nalar.

Bagi saya ide ini menarik. Karena sejatinya, menjadi guru adalah menjadi sosok yang harusnya bisa digugu dan ditiru. Seorang guru adalah salah satu model yang paling dekat dengan siswa. Sayapun mulai mempraktikkannya. Saya mulai mengambil contoh diri sendiri pada siswa. Agar terasa lebih dekat dan lebih mudah dijangkau. Agar tidak terasa mengawang-awang dan langitan. Agar lebih real dan bukan fantasi.

Ambil yang baik, tinggalkan yang buruk. Untuk hal-hal yang memang bisa dteladani, maka saya sampaikan. Bahkan termasuk kesalahan saya, agar mereka bisa mengambil hikmahnya. Karena saya juga bukan manusia sempurna.

Seperti pagi itu, lagi-lagi ada anak yang berkelahi di sekolah. Adalah hal biasa di sekolah ini, sesama kawan saling mengganggu. Adalah lumrah di sekolah ini, setiap hari ada yang menangis. Sungguh bukan hal yang baik. Seorang anak laki-laki kelas V menangis karena dicakar oleh anak kelas IV. Sebabnya adalah si kelas V minta makanan milik si kelas IV. Si kelas IV tidak memberi sehingga si kelas V marah. Karena marah dia menyambar makanan si kelas IV hingga tumpah. Si kelas IVpun murka dan mencakarlah dia.

Keduanya saya ajak bicara. Keduanya punya saham kesalahan. Yang satu celamitan, yang satu pelit. Yang satu tidak berlapang dada, yang satu main kasar. Keduanya saya suruh saling memaafkan. Tapi ternyata si kelas V tidak mau. Hatinya terluka, sama dengan pipinya. Sudah diarahkan untuk saling berjabat dan memaafkan si kelas V tetap bergeming. Prinsip saya adalah tidak memaksa dalam perkara perdamaian begini. Saya tidak mau memaksa seorang anak meminta maaf, sebagaimana saya tidak mau memaksa seorang anak memaafkan. Semua harus datang dari hati masing-masing. Maaf bukanlah sekedar kata pemanis mulut belaka.

Sambil menunggu hatinya terbuka sayapun bercerita. Di dalam kelas saya berkisah, bukan hanya untuk dia yang sedang marah, tapi untuk semuanya. Saya berkisah tentang pengalaman saya bertengkar dengan teman. Ini adalah satu-satunya kisah pertengkaran saya waktu kecil yang mash teringat lekat. Jejak kelicikan Ludi kecil mencurangi teman sendiri.

Saya bilang pada anak-anak, “Ibu Ludi waktu kecil juga pernah licik dan curang. Tapi kami selalu saling memaafkan.” Saya bercerita bahwa teman yang saya liciki itu adalah teman saya sampai sekarang. “Kami masih berteman sampai sekarang, karena dia mau memaafkan,” kata saya. Anak-anak diam dan semua menyimak.

Ya, saya memang bukan manusia yang sempurna. Begitupun dengan semua guru di dunia ini. Kita semua punya cela, kita semua punya cacat. Tapi saya yakin, dalam perikehidupan kita, ada jenak-jenak yang bisa kita bagi pada murid-murid. Ada hal yang bisa mereka teladani, ada hikmah yang mereka bisa resapi.

Di masa banjirnya informasi seperti saat ini, murid-murid butuh teladan yang bisa mereka akrabi. Para pahlawan yang fotonya tergantung di dinding kelas adalah teladan sepanjang masa. Para nabi dan pejuang agama yang kisahnya terpatri dalam kitab suci adalah sosok pembawa kebaikan abadi. Tapi murid-murid juga butuh teladan dari sosok yang mereka temui setiap hari. Yang hidup bersama, berbagi ruang di satu masa, juga bisa diajak bercengkerama. Maka sudah saatnya guru tampil berani untuk menjadikan dirinya tokoh inspiratif bagi muridnya sendiri.

Advertisements

7 thoughts on “Pahlawan Untuk Muridku

  1. akuai said: owh, inspiratif! dari namanya aja harusnya udah bikin para guru itu sadar yah. guru=digugu dan ditiru.

    makanya jadi guru ga boleh macem-macem i, hehe..tapi kalau bener bisa mewarisi kebaikan, pahalanya banyak sekali

  2. akuai said: owh, inspiratif! dari namanya aja harusnya udah bikin para guru itu sadar yah. guru=digugu dan ditiru.

    menarik. menjadikan diri sendiri role model. ga akan ada lagi tuh guru yang ngerokok di depan muridnya 😀

    btw gugu artinya apa kak? 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s