Meskipun Guru Adalah Penjahatnya

inilah si bocah detektif

inilah si bocah detektif

Akhir-akhir ini saya sedang banyak menonton. Hampir semuanya adalah film atau serial asia yang saya copy dari teman saya sesama PM, niatnya buat hiburan saja. Ada yang menarik sekali dari film terakhir yang saya tonton. Filmnya berkisah tentang anak sekolah SMP yang hobi sekali membaca ceita detektif Sherlock Holmes. Karena kebiasaannya ini, anak tsb jadi pandai menganalisa dan membuat kesimpulan.

Karena hobi dan kemampuannya ini, bocah detektif SMP ini membuka kantor detektif independen. Dia menawarkan jasa sebagai detektif secara cuma-cuma, bayarannya adalah kepuasannya dalam memecahkan kasus. Kantor detektifnya juga hanya sekedar bangunan tak terawat yang hampir ambruk dengan sofa hasil memungut di sungai.

Insight paling menyentil saya temukan di bagian akhir film. Maaf kalau tulisan ini jadi spoiler. Si detektif SMP akhirnya berhasil menguak kejahatan guru dan beberapa tokoh masyarakat di desa. Selama ini ada konspirasi yang didalangi oleh gurunya sendiri, guru favoritnya di sekolah. Namun, yang membuatnya bisa membongkar konspirasi tsb justru karena ajakan gurunya dalam memecahkan sebuah teka-teki harta karun. Jadi bisa dibilang, dengan mengajaknya memecahkan misteri harta karun, secara tidak langsung, guru tsb mendekatkannya pada kebenaran yang sesungguhnya, mendekatkannya pada kejahatan yang selama ini gurunya sembunyikan.

Setelah polisi datang dan hendak membawa si guru pergi, terjadilah percakapan. Si bocah detektif tidak mengerti kenapa si guru justru membahayakan dirinya sendiri dengan melibatkannya dalam membongkar misteri

“Why did you ask me to look for the treasure? For you it’s like putting your cards on the table.” Tanyanya pada sang guru.

Jawaban sang gurulah yang membuat saya tertarik untuk membuat tulisan ini, “I am teacher. It’s my job to measure a student’s ability.”

Fyuh. Hebat ya jepang, meskipun si guru dapat peran antagonis di film ini, tapi di ending tetap ditunjukkan betapa si guru selalu menjalani perannya sebagai seorang guru bagi muridnya. Meskipun dengan mengajak muridnya membongkar misteri harta karun membuat muridnya justru jadi lebih dekat dengan fakta yang kelak akan menyusahkan dirinya, tapi, itulah tugas seorang guru mengukur kemampuan muridnya. Jadi inget kata pak munif, seorang guru harus bisa “discovering ability” muridnya.

Tidak hanya itu, masih ada lagi yang menarik. Obrolan mereka berlanjut dan sang guru berkata

“I solved that puzzle. I wanted you try it, too. You solved it. Not just that. You solved it in one night. It took me six months. I was impressed. I’d love to see you solve a real case.”

Ini tentang apresiasi seorang guru terhadap murid. Meskipun kesuksesan sang murid juga berarti bencana baginya, dia tetap mengakui bahwa dia terkesan. Dan disini juga saya jadi teringat insight yang saya dapat ketika menjadi guru setahun kemarin. Bahwa menjadi seorang guru berarti kesuksesan muridnya menjadi bahagianya. Pak guru antagonis ini mengaku bahwa dia senang melihat muridnya berhasil memecahkan kasus nyata. Meskipun setelah mengatakan itu, dia digiring di penjara.

Menarik. Andai semua guru menjalankan peran yang ini saja; mengukur kemampuan murid, memberi apresiasi, juga turut bahagia dengan kesuksesan muridnya, saya rasa wajah pendidikan akan lebih bercahaya.

Salam hormat untuk semua guru

Cijantung, 9 Maret 2012

Advertisements

6 thoughts on “Meskipun Guru Adalah Penjahatnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s