Balada Para Janda

Sepulang dari tugas Indonesia Mengajar ini beberapa hal berubah di tempat tinggal saya. Perubahan lebih banyak terjadi di komposisi penduduknya sih. Ada yang pindah ke tempat lain, ada yang datang. Ada yang meninggal, ada pula yang lahir. Khusus untuk yang meninggal biasanya keluarga saya akan memberitahukannya. Jadi, setelah pulang ini seringkali obrolan saya dengan mama adalah laporan beliau siapa saja yang meninggal dalam setahun kemarin.

Kebanyakan (atau semua ya?) tetangga saya yang meninggal adalah laki-laki, alias bapak-bapak. Dengan meninggalnya mereka tentu saja menambah daftar janda di kampung. Dan saya jadi paham kenapa dulu di sebuah iklan (entah iklan apa tapi yang pasti memakai suara Zainudin MZ) disebutkan bahwa masih banyak orang yang perlu bantuan di sekitar kita “janda-janda tua, orang-orang jompo yang tidak mampuâ€?. Iklan itu memilih janda tua, bukan duda, bukan nenek. Mungkin karena profil seorang janda memperlihatkan sosok yang, maaf, menyedihkan.

Meskipun di dalam keramaian, tetap ada kesepian di hati para janda itu. Pernah suatu hari saya diminta tolong untuk mengajarkan ibu-ibu kader posyandu mengukur tekanan darah, tentu saja habis itu saya didaulat untuk mengukur tekanan darah mereka juga. Satu orang ibu, dia termasuk janda yang tadi saya sebutkan. Suaminya meninggal ketika saya penugasan kemarin. Tensinya agak tinggi, padahal katanya biasanya tidak, dia juga heran. Saya memberi nasihat terkait diet, juga memberitahukan bahwa stres bisa memicu darah tinggi. Diapun menjawab “gimana ya mbak Pemi, kalau mau puasa gini ibu pasti keingetan bapak. Ibu kepikiran bapak terus,â€? katanya sambil berlinangan air mata. “ibu mikir aja disana bapak lagi ngapain,â€? tambahnya. Menurutnya suasana menjelang ramadhan ini adalah hari-hari yang berat untuknya, karena semua hal bisa memicu kenangannya bersama suaminya yang telah tiada.

Para janda itu telah hidup puluhan tahun bersama suaminya, kehilangan tentu tidaklah mudah bagi mereka. Bulik saya kehilangan Om menjelang ramadhan tahun kemarin. Saat ini dia tinggal sendirian di rumahnya. Rumah yang bisa saya bilang besar, lebih besar dari rumah bapak saya. Bulik saya diajak pindah ke rumah anaknya tidak mau, malah memilih tinggal sendiri. Sehari-hari tidur di lantai dua, karena kalau di lantai satu dia akan terus teringat suaminya. Ketika ramadhan kemarin, bulik saya sahur sendiri buka sendiri. Menjelang buka suka ada tetangga datang ke rumahnya untuk menjemput, mengundang untuk ikut berbuka di rumah agar bulik saya tidak sendirian.

Meskipun tidak semua kenangan adalah indah, kehilangan tetaplah menyakitkan. Ramadhan kemarin tetangga depan rumah yang sudah beberapa tahun terakhir ini kena stroke akhirnya meninggal. Kejadiannya tiba-tiba, awalnya karena tersedak, lalu kehilangan nafas. Sempat tertolong karena makanan yang menyumbat jalan napasnya berhasil dikeluarkan. Tapi setelah itu napasnya yang sudah kembali akhirnya pergi juga untuk selamanya. Keluarganya sempat histeris. Satu janda lagi di kampung saya. Di sebuah obrolan dengan mama, tetangga saya mengungkapkan beratnya tidak ada suami di sisinya. Dia bilang “meskipun sering digalakin, masih mending bu, masih ada yang bisa diajak curhatâ€?.

Budaya patriarki di Indonesia yang membuat seorang suami begitu tinggi posisinya. Sering saya lihat suami dzholim sama keluarga. Banyak saya lihat suami tidak memberi nafkah yang layak tapi tidak menyempurnakan ikhtiarnya. Bahkan sudah tidak memberi uang memukul pula. Saya lihat contohnya tidak hanya satu atau dua. Herannya para istri masih saja mau mendampingi lelaki macam begini. Si istri banting tulang, berdagang kesana kemari untuk menghidupi keluarga, sementara suami ongkang-ongkang kaki di rumah sambil merokok pula. Haugh. Tapi lihatlah ketika tiba-tiba si istri menjanda, gurat kesedihan terus menempel di wajahnya. Maka jangankan suami idola, yang bajinganpun akan ditangisi juga.

Saya mengobrol tentang topik ini dengan mama sambil bantu masak-masak hidangan lebaran kemarin. Sayapun melihat interaksi mama dan bapak selama ini. Menelusuri kebersamaan mereka, memang bukan hal yang sederhana. Misalnya ketika ramadhan, kalau saya tidak buka di rumah, mama dan bapak buka puasa berduaan saja. Padahal dulu sebelum kakak saya pada nikah suasana berbuka di rumah ramai sekali, berkurang satu demi satu hingga akhirnya kembali berdua. Waktu lebaran tahun kemarin katanya mama dan bapak berduaan aja. Si bapak bantuin bubutin ayam. Momen langka banget itu, tidak pernah terjadi kalau kami (anak-anak) ada di rumah.

Pasti begitulah yang membuat beratnya yang dirasakan para janda. Seperti tiba-tiba kehilangan sebuah sayap yang selama ini menempel di punggungnya, mau terbang jadi tidak bisa.

Advertisements

17 thoughts on “Balada Para Janda

  1. @ari
    sama sama mba. maafkan saya juga
    nikmati saja kebersamaannya mba ๐Ÿ™‚

    @didisederhana
    ember. heran memang sama perempuan. aku banyak cerita tentang anehnya perasaan perempuan yang lain

    @iqbal
    ko kaya twitnya si fajar ya bal?

  2. Mengenai perkara kehilangan, sejatinya kita tidak pernah kehilangan apa-apa, karena kita memang tidak memiliki apa-apa..
    *nyambungin komentnya Topan ๐Ÿ˜€

    Selamat Idul Fitri, maaf lahir batin ๐Ÿ™‚

  3. @iqbal
    owh..aku liatnya di twitter soalnya. trus aku komentar becanda disana, mengaitkannya dengan kehilangan berat badan :p

    @omtop
    lah emangnya disini aku bilang laki2 itu bagaimana? aku ga mengeneralisasi laki2 lho di tulisan ini

  4. topenkkeren said: etapiya, tidak semua lelaki begitu-itu, Te. tuh contohnya Iqbal.*bikin kontroversi*

    tapi iya, kehilangan memang ngga pernah sederhana. dalam case ini, baik bagi janda maupun duda, tidak pernah sederhana.
    hakikinya memang, sejatinya kita tidak kehilangan karena sejatinya pula tidak memiliki apa-apa. tapi masa2 dititipi anugrah oleh Yang Kuasa itu lah yang membuat ada rasa memiliki pada diri-diri kita.
    heu. ini aye ngomong apa dah -.-a

  5. topenkkeren said: etapiya, tidak semua lelaki begitu-itu, Te. tuh contohnya Iqbal.*bikin kontroversi*

    kalo nisa seringny ktmu janda2 hebat.
    dtinggal suaminy,sempet oleng kondisi ekonominy,tp cm bentar.bis itu mereka bngkit lg..dgn catering,usaha bkn sovenir,njait,dll..
    mereka brtahan wt anak2nya..

    klo para duda,kalo g cpt meninggal y menikah lg..

  6. topenkkeren said: etapiya, tidak semua lelaki begitu-itu, Te. tuh contohnya Iqbal.*bikin kontroversi*

    Perempuan lebih tahan terhadap stress. Karena itu usia harapan hidupnya lebih panjang. Sehingga lebih banyak janda. Alangkah baiknya kalau setiap istri punya keahlian – apa saja – agar bila tiba saat yang tidak diharapkan itu, ekonomi rumah tangga tidak terlalu goyah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s