Ketika Internet Bercerita Tentangmu

Stalking. Tahu kata ini pertama kali bukan dari belajar bahasa inggris di kelas, bukan lagi buka kamus, atau bukan lagi nonton film barat. Saya tahu kata ini pertama kali karena menemukan aktivitas stalking ini dalam kehidupan nyata saya. Eits, bukan, bukan saya yang jadi objeknya. Hm, sampai saat ini saya meyakini bahwa tidak ada orang yang pernah stalk saya. Penting amat menguntit gw kan? Heu. Tapi saya pernah menjadi teman orang yang lagi dikuntit orang. (mari kita ganti kata stalk dengan kuntit, gunakan bahasa indonesia. Hore)

Meskipun tidak dikuntit, tapi berinteraksi dengan orang yang dikuntit ternyata rasanya tidak enak juga. Kamu penasaran saya tahu darimana kalau teman saya lagi dikuntit? Ya tahu aja, intuisi. Hoho. Gejalanya begini, misalnya saya lagi “ngobrol” dengan teman di facebook. Sebutlah saya post tulisan disana dan mengetag teman-teman, lalu, tiba-tiba ada orang lain yang tidak saya tag, jarang interaksi juga ikutan komentar. Ini tidak terjadi sekali. Di lain waktu, saya sedang bales-balesan komen dengan teman saya, lalu tiba-tiba ada satu orang ikutan komen, nyamber aja. Padahal orang itu sebelumnya ga pernah komen di tempat saya begitupun sebaliknya. Ini berlaku pada orang yang sama. Tidakkah saya jadi curiga? Usut punya usut, saya tanya ke teman saya itu, dia membenarkan, memang si orang tadi suka ikut nyamber di pembicaraan dia dimana saja.

Risih. Karena si penguntit adalah laki-laki yang diduga kuat suka sama si temen saya yang perempuan. Padahal itu laki bukan suka sama saya, tapi sama teman saya, trus kenapa gw yang risih ya? Hehehe.

Pernah juga suatu hari saya bertemu seseorang yang saya tidak kenal. Eh ga taunya orang itu kenal dengan saya. Dia bilang “pemi kan?”. Saya tanya “kenal saya darimana?”. Dia jawab, “saya tau pemi, aktif di facebook”. Ya Allah, aktivis facebook, kaga ada yang lebih soleh gitu? aktif di masjid kek. Huhu. Itu orang sebenarnya bukan menguntit saya, tapi dia menguntit kakak saya, dia cari tahu semua hal tentang kakak saya, maka sampailah ke saya juga. Mungkin dia bingung mau jawab apa waktu ditanya kenal saya darimana, jadilah dia jawab saya aktif di facebook. Padahal orang itu temen facebook saya juga bukan lho.

Tidak siap ngetop. Mungkin itu yang membuat saya risih berdekatan dengan perkuntitan. Kesimpulan yang jauh ya? Kayanya tidak juga ah, artis ngetop itu kan suka dibuntutin sama paparazzi. Lagi makan dilihat, lagi belanja dilihat, lagi masuk wc umum juga dilihat. Karena mereka ngetop toh?

Beberapa waktu lalu sayapun jadi stalker kecil-kecilan. Tidak sampai benar-benar menguntit sih, cuma sekedar cari info agak lebih banyak. Jadi ceritanya ada seorang teman yang suka curhat tentang percintaan. Dia cerita kalau dia suka dengan seorang cewek, tapi dia tidak mau menyebut namanya. Saya juga awalnya tidak peduli, bukan urusan saya untuk tahu siapa si cewek yang dimaksud. Sampai pada suatu hari, teman saya yang lain ternyata tahu siapa cewek itu, dan sempat menyebut nama panggilannya di depan saya. Lalu nafsu penasaran saya muncul dan sayapun mulai berinvestigasilah.

Saya cari profile cewek itu di facebook, sebagai langkah yang paling mudah. Berhubung yang namanya unik tidak banyak di dunia ini saudara-saudara, tidak seperti mengetik “Pemi Ludi” di facebook atau google maka akan langsung ketemu profile saya doang, maka mengetik nama si cewek tersebut mengantarkan saya pada beberapa profile perempuan. Sayapun mulai pilah pilih kandidat mana yang paling cocok. Begitu ketemu profile facebook yang tepat, maka iapun mengantarkan saya ke tempat-tempat lainnya.

Saya buka profile, wall, juga foto-foto. Yang menarik adalah si cewek pernah masang profile picture (pp) tokoh kartun anak perempuan. Saya jadi mikir, ini cewek pasang gambar itu, sementara gw pernah pasang pp hiryuu, tokoh pendekar di pedang 7 bintang atau elric brothers dari full metal alchemist. Pantesan aja yang gw suka dibilang maskulin. Haha. Lalu saya telusuri blognya, lihat-lihat twitternya. Ehem, begini ya aktivitas pencarian orang.

Ketika saya baca blognya, ternyata isinya journal banget. Cerita sehari-hari, dari mulai aktivitas kuliah, nyeritain ibunya, sampai yang agak alay, cuma beberapa huruf yang artinya “aku cinta padamu”. Aih. Hanya bermodalkan jaringan internet saya bisa tahu banyak tentang seseorang. Dan sayapun bergidik sendiri. Internet ini telah berkata terlalu banyak. Atau kitanya yang berkata terlalu banyak di internet? Dan kalau ternyata pernah ada yang pernah menguntit saya di internet, aih *bergidik lagi*.

 

~tapi satu hal yah, baca blog itu cewek bikin kangen juga, udah lama kayanya ga ngisi blog dengan cerita-cerita dan gaya bercerita kaya gitu. gw juga pernah melalui masa itu ko, ngisi blog kaya abg ngisi journal harian. Kapan-kapan bikin kaya gitu ah, pemanasan dulu dengan tulisan ini. haha

Advertisements

11 thoughts on “Ketika Internet Bercerita Tentangmu

  1. pernah murid nisa nyapa n blg kalo dy lg gugling n nyampeny dblog nisachem05.awalny malu,krn bnyk gejenya.tp konsekuensi..internet bkn terkenal..siapin diri,di..hehehetkait stalking,kalo silent reader masuk stalking g y?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s